• Tentang Kami
Wednesday, August 5, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Ketika Warga Kota Kembali Duduk Bersama: SPS Revival dan Ikhtiar Membangun Ruang Perjumpaan di Banda Aceh

SAGOE TV by SAGOE TV
June 19, 2026
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Ketika Warga Kota Kembali Duduk Bersama SPS Revival dan Ikhtiar Membangun Ruang Perjumpaan di Banda Aceh
Share on FacebookShare on Twitter

Tidak banyak keputusan dihasilkan malam itu. Tidak ada panitia yang dibentuk. Tidak ada pula agenda festival yang ditetapkan. Namun selama beberapa jam di Sophie’s Sunset Library, Geuceu Komplek, Banda Aceh, Rabu (17/6/2026), sejumlah warga kota dari latar belakang yang berbeda duduk bersama, berbagi pengalaman, menyampaikan kegelisahan, dan membicarakan berbagai kemungkinan yang dapat dikerjakan secara bersama di masa depan.

Bagi sebagian orang, pertemuan itu mungkin tampak sederhana. Namun bagi mereka yang hadir, malam tersebut menjadi penanda kembali munculnya sebuah kebutuhan yang sudah lama dirasakan: ruang untuk saling bertemu.

BACA JUGA

Meutaloe; Ketika Banda Aceh Mulai Belajar Bersama

SPS Revival Usung “Meutaloe”: Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut

Pertemuan tersebut merupakan kelanjutan dari diskusi yang beberapa hari sebelumnya berlangsung dalam suasana kekeluargaan bersama Alumni SMAN 3 Banda Aceh Angkatan 1993 di Solong Premium Beurawe, Sabtu (13/6/2026). Dalam lingkup yang lebih terbatas, percakapan awal itu berkembang menjadi refleksi mengenai kondisi kebudayaan, kreativitas, literasi, pendidikan, serta ruang publik di Banda Aceh. Dari sana muncul keinginan untuk memperluas perjumpaan dengan melibatkan lebih banyak unsur masyarakat.

Di Sophie’s Sunset Library, lingkaran percakapan itu menjadi lebih beragam. Hadir pegiat seni, akademisi, pekerja media, ASN, pelaku usaha, aktivis sosial, penggerak komunitas, mahasiswa, serta generasi muda yang selama ini aktif dalam berbagai bidang kreativitas dan pemberdayaan masyarakat.

Di antara yang hadir tampak Din Saja, Salahuddin, Muda Belia, Jauhari Samalanga, Joel Kande, Dendy Montgomay, Qifty Reza Kesuma, T. Alviansyah, Raihan Lubis, Yasser, Yudi Amirul, Rahmat Sanjaya, Tuanku Radiyan Narukaya, Sandi Islamanda, Dr. Monalisa, Yuni Hendarmini, Ahmad Arif, Taufik Maroe, Bunai, Galuh Farera, serta sejumlah pegiat kreatif muda lainnya.

Secara tidak langsung, pertemuan tersebut juga merefleksikan keterhubungan berbagai jejaring yang selama ini aktif di Banda Aceh dan Aceh, mulai dari ISBI Aceh, Universitas Syiah Kuala, UIN Ar-Raniry, Universitas Bina Bangsa Getsempena, Radio Kontiki, Yayasan Geunta Seni Jauhari, Ruman Aceh, komunitas skate, komunitas literasi, media, sanggar seni, hingga berbagai ruang belajar dan komunitas kreatif lainnya. Sebagian peserta bahkan tetap terhubung dengan jaringan yang lebih luas di luar Aceh melalui komunitas, organisasi profesi, maupun hubungan personal yang telah lama terbangun.

Berbeda dengan forum resmi yang lazim dipenuhi presentasi dan sambutan, pertemuan malam itu berlangsung tanpa protokol yang kaku. Orang datang, duduk, berbincang, berpindah kelompok, lalu kembali berdiskusi. Percakapan mengalir dari persoalan seni ke pendidikan, dari literasi ke ekonomi kreatif, dari ruang publik ke masa depan generasi muda, hingga kebutuhan membangun hubungan yang lebih sehat antara komunitas, kampus, media, dunia usaha, dan pemerintah.

Muda Belia membuka suasana dengan senandung hikayat yang menghadirkan nuansa tradisi lisan Aceh di tengah ruang yang akrab dan santai. Setelah itu, beberapa peserta secara spontan menyumbangkan lagu, petikan gitar, musikalisasi puisi, serta berbagai cerita pengalaman yang memperkaya jalannya pertemuan. Ruman Aceh turut menghadiahkan sejumlah buku kepada peserta yang hadir sebagai bentuk berbagi pengetahuan dan memperluas tradisi literasi yang selama ini mereka jalankan.

Menjelang akhir pertemuan, sastrawan Aceh L.K. Ara tampil membacakan puisi Doa untuk Orang-Orang yang Menambang di Gunung. Puisi tersebut lahir dari kegelisahan terhadap berbagai persoalan ekologis yang belakangan menjadi perhatian masyarakat Aceh dan Sumatra. Pembacaan puisi itu sekaligus menjadi penanda berakhirnya perjumpaan malam tersebut.

Di tengah seluruh percakapan yang berkembang, satu kesadaran tampak berulang kali muncul. Persoalan utama yang dihadapi banyak komunitas dan inisiatif kreatif di Banda Aceh bukan semata kekurangan kegiatan atau minimnya gagasan. Yang sering kali belum cukup tersedia adalah ruang yang memungkinkan orang-orang dari latar belakang berbeda untuk saling mengenal, saling belajar, dan membangun kepercayaan.

Kesadaran itulah yang kemudian mengantarkan pembicaraan pada Skate Park Stage (SPS) Revival.

Bagi sebagian kalangan, SPS mungkin masih identik dengan kegiatan seni yang pernah berkembang melalui Inkubator Seni Universitas Syiah Kuala. Namun dalam diskusi tersebut, SPS Revival dipahami dalam konteks yang lebih luas. Ia tidak diarahkan sebagai festival, organisasi baru, ataupun sekadar agenda pertunjukan. SPS dipandang sebagai ruang perjumpaan yang memungkinkan lahirnya kolaborasi, pertukaran pengetahuan, pengembangan talenta, dokumentasi pengalaman, dan penguatan jejaring warga kota.

Perubahan orientasi itu lahir dari kenyataan yang dihadapi banyak pelaku kreatif hari ini. Tidak sedikit seniman, peneliti, guru, mahasiswa, pegiat literasi, pelaku UMKM, maupun komunitas muda yang sebenarnya memiliki kemampuan, karya, dan gagasan yang baik, tetapi masih bekerja sendiri-sendiri. Akibatnya, banyak potensi yang tidak pernah saling bertemu dan tidak berkembang secara optimal.

Karena itu, pembahasan malam tersebut tidak berakhir pada penyusunan agenda acara atau pembentukan kepanitiaan. Yang mengemuka justru kebutuhan untuk memperluas silaturahmi, memperkuat jejaring, hadir dalam kegiatan satu sama lain, dan membangun hubungan yang lebih sehat antarwarga kota.

Dalam konteks yang lebih panjang, percakapan juga menyinggung gagasan Darud Dunia yang selama beberapa waktu terakhir mulai diperkenalkan sebagai kerangka pengembangan ekosistem pengetahuan, kebudayaan, kreativitas, dan kolaborasi warga. SPS Revival dipandang sebagai salah satu pintu masuk yang memungkinkan proses tersebut tumbuh secara bertahap, dimulai dari hal yang paling mendasar: mempertemukan manusia.

Menjelang pertemuan berakhir, tidak ada target besar yang dicanangkan. Tidak ada pula ambisi untuk segera menghadirkan peristiwa berskala besar.

Kesepahaman yang muncul justru sederhana.

Masing-masing peserta diharapkan mulai dari lingkarannya sendiri. Mengunjungi kegiatan komunitas yang sedang berjalan. Menyapa anak-anak muda yang sedang berkarya. Membuka akses bagi yang membutuhkan. Menghubungkan orang-orang yang memiliki minat dan tujuan yang sama. Serta memberi dukungan bagi berbagai ikhtiar baik yang telah lebih dahulu tumbuh di tengah masyarakat.

Perhatian khusus juga diberikan kepada generasi muda yang dipandang sebagai salah satu sasaran utama SPS Revival. Ruang ini diharapkan dapat menjadi tempat bagi mereka untuk belajar, berkarya, berjejaring, mengembangkan kemampuan, serta menemukan peluang-peluang baru yang bermanfaat bagi masa depan mereka maupun bagi kota tempat mereka hidup.

Sebelum peserta meninggalkan lokasi, Dendy Montgomery selaku penggerak Sophie’s Sunset Library Banda Aceh kembali menegaskan komitmennya untuk membuka ruang tersebut bagi berbagai aktivitas seni, literasi, pengetahuan, dan kebudayaan yang memberi manfaat bagi masyarakat, tanpa memandang latar belakang komunitas maupun kelompok yang menggunakannya.

Malam itu tidak melahirkan organisasi baru. Tidak pula menghasilkan keputusan-keputusan besar.

Namun setidaknya, ia mengingatkan kembali satu hal yang sering terlupakan: sebuah kota tidak hanya dibangun oleh infrastruktur dan program pembangunan, tetapi juga oleh kemampuan warganya untuk saling bertemu, saling mendengar, saling belajar, dan saling percaya.

Diyakini, dari perjumpaan-perjumpaan sederhana seperti itulah berbagai kemungkinan baik bagi masa depan Banda Aceh akan terus menemukan jalannya.[]

Tags: Banda AcehKotaSeniSkate Park StageSPS RevivalWarga
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Meutaloe; Ketika Banda Aceh Mulai Belajar Bersama
SENI

Meutaloe; Ketika Banda Aceh Mulai Belajar Bersama

by SAGOE TV
August 3, 2026
SPS Revival Usung Meutaloe Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut
SENI

SPS Revival Usung “Meutaloe”: Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut

by SAGOE TV
July 31, 2026
Setelah Panggung Dibongkar
SENI

Setelah Panggung Dibongkar

by SAGOE TV
July 28, 2026
Kardo National Qualifier Dari Arena Kompetisi Menuju Ruang Baru Kreativitas Anak Muda Aceh
SENI

Kardo National Qualifier: Dari Arena Kompetisi Menuju Ruang Baru Kreativitas Anak Muda Aceh

by SAGOE TV
July 21, 2026
Ruang Perjumpaan #001 SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem
SENI

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

by SAGOE TV
July 15, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Mengapa Semen dan BBM Langka di Aceh? Pemerintah Turun Tangan Telusuri Penyebabnya

Mengapa Semen dan BBM Langka di Aceh? Pemerintah Turun Tangan Telusuri Penyebabnya

July 30, 2026
Memutus Mata Rantai Korupsi dari Hulu Demokrasi

Memutus Mata Rantai Korupsi dari Hulu Demokrasi

August 1, 2026
Pengadilan Digital dan Krisis Literasi Ketenagakerjaan_Risnawati Ridwan

Pengadilan Digital dan Krisis Literasi Ketenagakerjaan

August 3, 2026
Siswi SDN 50 Banda Aceh Raih Gelar Inong Cilik Aceh 2026

Siswi SDN 50 Banda Aceh Raih Gelar Inong Cilik Aceh 2026

July 31, 2026
Calvin Ho

Pariwisata Tanpa Kedaulatan: Skandal Struktural dari Bali dan Pelajaran bagi Aceh

July 30, 2026
Bahlil Lantik Mawardi Nur sebagai Kepala BPMA, Pimpin Pengelolaan Migas Aceh

Bahlil Lantik Mawardi Nur sebagai Kepala BPMA, Pimpin Pengelolaan Migas Aceh

August 5, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
SPS Revival Usung Meutaloe Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut

SPS Revival Usung “Meutaloe”: Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut

July 31, 2026
Balai Bahasa Aceh Hadirkan Pojok Buku Profesor Sulaiman Tripa, Wujud Pelestarian Karya dan Penguatan Literasi

Balai Bahasa Aceh Hadirkan Pojok Buku Profesor Sulaiman Tripa, Wujud Pelestarian Karya dan Penguatan Literasi

July 31, 2026

EDITOR'S PICK

PFI Aceh Siap Gelar Roadshow Pameran Foto Sumatera Bangkit

PFI Aceh Siap Gelar Roadshow Pameran Foto “Sumatera Bangkit”

July 21, 2026
Guru Besar FK USK Dianugerahi Excellence in Pain Management Award di UEA

Guru Besar FK USK Dianugerahi Excellence in Pain Management Award di UEA

April 15, 2025
Mualem Tegaskan Identitas Serambi Makkah, Tes Baca Al-Qur’an Bakal Jadi Syarat Wajib di Aceh

Mualem Tegaskan Identitas Serambi Makkah, Tes Baca Al-Qur’an Bakal Jadi Syarat Wajib di Aceh

November 2, 2025
Huntap Jadi Prioritas Pemulihan Pascabencana, Aceh Butuh Hampir 29 Ribu Unit

Huntap Jadi Prioritas Pemulihan Pascabencana, Aceh Butuh Hampir 29 Ribu Unit

May 25, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.