BANDA ACEH | SAGOE TV – Profesor Mujiburrahman kembali memimpin Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh untuk periode 2026-2030. Usai dilantik Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar bersama tiga pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKIN) lainnya di Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026, Mujiburrahman menghadapi tantangan untuk menghadirkan perubahan dan terobosan dalam 100 hari pertama kepemimpinannya.
Pelantikan tersebut menandai dimulainya periode kedua Mujiburrahman sebagai Rektor UIN Ar-Raniry setelah memimpin kampus itu pada 2022-2026. Dalam kesempatan tersebut, Menag Nasaruddin meminta para pimpinan PTKN yang baru segera bekerja dan menghadirkan perubahan sejak awal kepemimpinan.
Menag menilai 100 hari pertama menjadi momentum penting untuk menunjukkan inovasi dan terobosan bagi kemajuan kampus.
“Hari ini adalah hari yang berbahagia, terutama bagi yang telah dilantik. Hari ini argo sudah mulai berjalan. Seratus hari ke depan harus sudah bisa dihitung apa yang akan dilakukan. Berikan kejutan bagi institusi yang Saudara pimpin,” kata Menag.
Nasaruddin juga mengingatkan para pimpinan perguruan tinggi agar memahami regulasi sebelum mengambil kebijakan. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki komunitas akademik yang kritis sehingga setiap kebijakan harus dipertimbangkan secara matang.
“Pelajari aturan dengan baik agar tidak keliru dalam mengambil kebijakan,” ujarnya.
Selain itu, Nasaruddin Umar meminta para rektor bersiap menghadapi berbagai dinamika sosial dan politik menjelang pemilu yang berpotensi berdampak terhadap kehidupan kampus.
“Kalian menjadi rektor pada saat yang kritis karena menjelang pemilu. Tahun depan mungkin sudah mulai terasa. Siapkan mental menghadapi berbagai dinamika yang mungkin muncul,” sebutnya.
Menurut Nasaruddin, pimpinan PTKN tidak hanya bertanggung jawab terhadap capaian akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dan keagamaan kepada masyarakat.
“Kita tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab keagamaan. Belum tentu sesuatu yang menurut kita baik otomatis diterima masyarakat. Karena itu, persembahkan yang terbaik bagi masyarakat dan umat,” ujarnya.
Ia juga mendorong para pimpinan PTKN memperkuat hubungan dengan masyarakat dan tokoh agama di daerah masing-masing agar kampus dapat menjadi pusat pencerahan dan penguatan kehidupan beragama.
Memasuki periode kedua, Mujiburrahman membawa agenda transformasi UIN Ar-Raniry menuju perguruan tinggi Islam yang berkelas dunia.
Visi tersebut diarahkan untuk menjadikan UIN Ar-Raniry sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam yang maslahat dan cerdas menuju Indonesia Emas 2045.
Sejumlah agenda disiapkan, mulai dari penguatan kualitas akademik, internasionalisasi kampus, transformasi digital, pengembangan riset kolaboratif, hingga pembangunan kampus yang inklusif dan berkelanjutan.
Salah satu program besar yang akan dijalankan ialah modernisasi infrastruktur melalui proyek yang didukung pendanaan Pinjaman/Hibah Luar Negeri (PHLN) periode 2026-2030.
Program tersebut mencakup pembangunan Fakultas Kedokteran, Laboratorium Halal Science and Technology, Islamic Center dan Pusat Kajian Manuskrip, serta pembangunan masjid yang didukung Pemerintah Uni Emirat Arab.
Di bidang internasionalisasi, UIN Ar-Raniry menargetkan revitalisasi International Office, perluasan kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri, peningkatan jumlah mahasiswa internasional, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia dan layanan digital kampus.
Sementara di bidang akademik, UIN Ar-Raniry akan mempersiapkan reakreditasi institusi untuk mempertahankan predikat Unggul. Kampus juga menargetkan peningkatan akreditasi internasional program studi, penguatan Ma’had Jami’ah dan lembaga bahasa, serta peningkatan kompetensi lulusan melalui sertifikasi profesi dan kerja sama dengan perguruan tinggi internasional.
Transformasi kelembagaan juga diarahkan pada pengembangan konsep Green Campus dengan mengintegrasikan prinsip keberlanjutan, efisiensi sumber daya dan ekoteologi. Penguatan kesetaraan gender, inklusi disabilitas, dan akses pendidikan yang setara turut menjadi bagian dari agenda tersebut.
Di sisi tata kelola, penguatan Badan Layanan Umum (BLU) dan optimalisasi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) menjadi salah satu fokus untuk meningkatkan kualitas layanan dan mendukung pengembangan akademik.
Dengan periode kedua ini, Mujiburrahman menghadapi tantangan untuk mempertahankan capaian yang telah diraih sekaligus mempercepat transformasi UIN Ar-Raniry.
Pesan Menteri Agama mengenai target perubahan dalam 100 hari pertama menjadi tantangan awal bagi Mujiburrahman untuk menunjukkan arah kepemimpinan baru UIN Ar-Raniry periode 2026-2030.[]




















