Oleh: M. Azril Ihksan
Anggota SPS Revival (Komunitas/lembaga/institusi budaya, seni, pendidikan, teknologi multimedia di Aceh)
Pengantar Kata, Teruntuk Esai ini.
Tulisan ini pada dasarnya ditulis dari buah rasa pengalaman penulis sendiri. Esai ini saya sajikan dalam bentuk perkawinan antara satu pengertian dengan pengertian lain, hingga melahirkan rasa pemahaman yang mungkin terasa indah, segar dan baru. Teurimöng gaséh untuk Lembaga Seni SPS Revival dan Media Sagoe TV yang telah menjadi wadah terbaik untuk saya menerbitkan esai ini.
“Enjoy this essay, may it leave a beautiful feeling in your heart.”
Siapa Nizami dan Kemana Hamzah Fansuri?
Nizami Ganjavi menulis karya monumental (ليلی و مجنون ) – Layli o Majnun. Bercerita di Gurun Najd, di bawah diamnya pasir panas yang dipenuhi dahaga rindu Qais yang mendinginkan aura gurun. Ia pangeran duka dari Bani Amir, Qays al-Mulawwah yang dijuluki Majnun/orang gila.
Sementara di Barus, di tanah Melayu-Aceh dengan dinginnya ombak Samudra Pasai, lahir seorang Syekh Al- Arif bernama Hamzah Fansuri yang nanti berkelana hingga ke Yerusalem. Demi kerinduannya pada kedekatan Ilahi.
Awal Mulanya, Majnun & Fansuri
Majnun memulai kata-kata merindu dengan mendiami panggung gurun pasir yang tandus. kepedihannya atas perpisahan kekasihnya, Layla dan penolakan hubungan mereka beralasan keputusan sempit keluarga. Asal mula kuatnya kerinduan yang meremukkan jiwanya berasal dari ikatan batin dengan tiga unsur:
“Keindahan Layla, Suara Layla, dan perpisahan dengan Layla.”
Hamzah Fansuri memulai kata-kata rindunya di Tanah sumatera. Ia mengais kerinduan rohani, memadukan syair puitis dan kedalaman risalah ilahi. Dari sana, Fansuri mendapat rasa mendalam akan hakikat laut ma’rifat dan makna rindu sejati.
Rumah Layla & Rumah Fansuri
Rumah Layla kala itu tenggelam di bawah tangan orang tuanya. Nama Majnun menjadi larangan di sana. Majnun merasakan sendiri getaran-getaran kerinduan gila yang merasukinya. Kerasukan rindu itu membawanya ke rumah Layla tanpa beralas kaki pun. Anjing yang mirip dengan mata Layla pun diciumnya diperjalanan. Jiwanya hanya terdiam, terpana, tertuju ke sana.
Hamzah Fansuri, kala itu berada di tepi Samudra Asia, India, & Arabia. Pujangga sufi itu berkelana ke timur & barat dunia. Pencariannya soal makna cinta & kerinduan ilahi tidak tanggung-tanggung. Dalam perjalanan yang sungguh memakau-pukau itu, ia menemukan rumah cinta & kerinduan yang indah, hakiki, dan manis.
Gesekan Halus Kerinduan
Majnun meneteskan kalimat sihir kerinduan dengan ratapan jiwa, pada tiap jengkal ingatannya kepada Layla di gurun. Pertemuannya dengan bayang-bayang Layla yang membelah kesadarannya serta kepunahan egonya. Dalam rindunya, ia menutur:
“Akulah Layla, tak ada lagi jarak antara cinta dan yang dicintai.”
Dalam adaptasi dari bahasa Persia ke Arabnya, berbunyi:
أَنَا لَيْلَى، فَمَا عَادَ هُنَاكَ مَسَافَةٌ بَيْنَ العَاشِقِ وَالمَعْشُوقِ.
(Ana Layla, fama ‘ada hunaka masafatun baynal-‘asyiqi wal-ma’syuq).
Sederhananya:
“Melenyaplah jiwanya pada teringat akan Layla, sebab kerinduan yang sangat merasukinya.”
Temannya yang tak sezaman, Hamzah Fansuri menerjang samudra pengetahuan dengan aura magisnya. Ia dengan bait syairnya tidak setengah-setengah menyelesaikan pencariannya, demi merobek tirai makna kerinduan yang sebenarnya. Melalui rahasia syairnya, ia berujar lembut tentang makna rindu:
“Hamzah fansuri di dalam makkah,
Mencari tuhan di bait al-ka’bah,
Dari Barus ke Quddus terlalu payah,
Akhirnya dapat di dalam rumah.”
Sederhananya:
Kerinduan yang sebenarnya terletak pada ikatan hati kepada pencipta, metafora ‘rumah’ yang dimaksudnya ialah hati.
Antara Hikmah dari Keduanya
Majnun menghikmahkan kerinduan lewat pergulatan jiwa di dalam ruang batinnya. Ia memilih melenyapkan diri dalam pengingatan kepada Layla di gurun pasir dan terus merindu. Hamzah Fansuri menghikmahkan kerinduan lewat pencarian makna cinta dan rindu ilahi yang sungguh menawan. Antara keduanya, mereka memaknai rindu sebagai sesuatu yang berasal dari separuh jiwa.[]
Referensi Pendukung:
Ganjavi, Nizami. (2020). Layla Majnun (Kisah Cinta Abadi). Tangerang Selatan: Javanica.
Hadi W.M., Abdul. (1995). Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-Puisinya. Bandung: Mizan.



















