BANDA ACEH | SAGOE TV – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry berkolaborasi dengan Baitul Mal Aceh kembali menggelar Aceh International Symposium on Zakat and Waqf (AISZAWA) untuk keempat kalinya.
Kegiatan akademik yang mempertemukan akademisi dan praktisi zakat serta wakaf dari sejumlah negara itu akan berlangsung selama dua hari mulai 17-18 September 2026 di kampus UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Koordinator kegiatan AISZAWA ke-4, Prof. Hafas Furqani, mengatakan, kegiatan tersebut merupakan forum akademik yang memadukan konferensi internasional dengan pemaparan hasil penelitian dan makalah yang disubmit oleh para akademisi.
Melalui kegiatan ini nantinya diharapkan bakal menghasilkan rekomendasi kebijakan bagi pengembangan zakat dan wakaf di Aceh.
“Ini kali keempat kita laksanakan. Kegiatan ini sifatnya akademis, kombinasi antara konferensi internasional dan pemaparan makalah-makalah yang dikumpulkan atau disubmit ke konferensi ini,” ujarnya.
Pada hari pertama, kegiatan menghadirkan enam narasumber dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Mereka akan membahas tema Islamic Social Finance dalam sesi yang berlangsung dari pagi hingga sore.
Sementara itu, hari kedua akan diisi dengan sesi call for paper. Para akademisi akan mempresentasikan hasil penelitian mereka secara luring maupun daring.
Menurut Hafas, 95 paper akan dipresentasikan dalam sesi tersebut. Presentasi secara luring berlangsung di Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), sedangkan peserta daring mengikuti kegiatan melalui Zoom.
Jadi Dasar Rekomendasi Kebijakan
Hafas mengatakan, AISZAWA ke-4 tidak hanya ditujukan sebagai forum pertukaran pengetahuan akademik. Hasil penelitian dan diskusi dalam konferensi tersebut akan dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan.
“Targetnya adalah untuk menjadi dasar pengambilan kebijakan-kebijakan oleh Baitul Mal Aceh khususnya, integrasi zakat dan wakaf dalam pembangunan yang inklusif,” ujarnya.
Menurut dia, berbagai pemaparan dari akademisi dan praktisi nantinya juga akan menjadi bahan untuk menyusun sejumlah poin rekomendasi. Hasil penelitian yang memiliki bukti empiris diharapkan dapat diterjemahkan menjadi masukan kebijakan bagi Baitul Mal Aceh dan Pemerintah Aceh.
“Jadi dari pemaparan pemateri, kita ambil poin-poin rekomendasi. Kemudian hasil-hasil penelitian yang dilakukan para akademisi menjadi poin policy yang akan disusun untuk direkomendasikan kepada Baitul Mal, untuk menjadi kebijakan Pemerintah Aceh,” katanya.
Hafas menilai, Aceh memiliki potensi besar dalam pengelolaan zakat dan wakaf. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya diwujudkan dalam bentuk program yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Menurut dia, salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah keterbatasan inovasi produk serta pola distribusi zakat dan wakaf yang masih konvensional.
“Zakat potensinya besar, wakaf juga besar, tapi untuk realisasinya, untuk menunjukkan bukti nyata dampak, kita masih kurang,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hafas mengatakan Aceh masih membutuhkan inovasi dalam pemanfaatan dana zakat dan wakaf, termasuk untuk membantu mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dana zakat dan wakaf, kata dia, tidak semestinya hanya dipandang sebagai sumber bantuan bagi masyarakat kurang mampu. Pengelolaannya juga dapat diarahkan untuk meningkatkan kapasitas UMKM, pedagang kecil, serta kelompok masyarakat yang secara ekonomi masih lemah.
“Kita masih ketinggalan dalam hal inovasi produk, produk-produk yang bisa ditawarkan dengan menggunakan zakat dan wakaf. Kemudian pola-pola distribusi yang masih sangat biasa,” katanya.
Karena itu, melalui AISZAWA, FEBI UIN Ar-Raniry bersama Baitul Mal Aceh ingin mempelajari berbagai inovasi pengelolaan zakat dan wakaf yang telah diterapkan di daerah maupun negara lain.
Pengalaman dari berbagai daerah di Indonesia, Malaysia, hingga sejumlah negara lainnya akan menjadi bahan pembelajaran untuk mencari model pengelolaan zakat dan wakaf yang lebih berdampak bagi masyarakat Aceh.
Kolaborasi FEBI dan Baitul Mal Aceh
AISZAWA ke-4 diselenggarakan melalui kolaborasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) dengan Baitul Mal Aceh. Kolaborasi ini merupakan bagian dari kontribusi FEBI dalam mendorong pembangunan daerah melalui pendekatan akademik dan berbasis penelitian.
Melalui AISZAWA, FEBI dan Baitul Mal Aceh berupaya mempertemukan pengalaman praktis dengan hasil penelitian akademik. Hasil pertemuan ini diharapkan dapat melahirkan gagasan dan rekomendasi yang relevan untuk memperkuat peran zakat dan wakaf sebagai bagian dari pembangunan ekonomi dan sosial di Aceh.
Hafas berharap, pengelolaan zakat dan wakaf di Aceh tidak hanya berorientasi pada aspek operasional penyaluran dana, tetapi juga didukung riset sehingga program yang dijalankan dapat memberikan dampak yang lebih besar.
“Konferensi ini tiap tahun kita kolaborasi bersama Baitul Mal. Jadi Baitul Mal juga sedikit demi sedikit kita giring ke ranah akademis. Agar operasionalisasi zakat dan wakaf juga harus ada risetnya, sehingga penyalurannya lebih berdampak,” ujarnya.




















