• Tentang Kami
Tuesday, April 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 4)

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad by Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
March 20, 2025
in Reportase
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 1)
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad.
Dosen Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Kopelma Darussalam, Banda Aceh.

Setelah pergantian dan perbaikan selesai, kami langsung menuju ke Jemabatan Suramadu.  Tujuan saya ke jembatan yang menghubungkan antara Surabaya dengan Madura ini adalah ingin makan siang di Bebek Sinjay, restoran yang sangat terkenal di Pulau Madura. Restoran ini pernah saya datangi 10 tahun yang lalu. Awalnya, saya agak khawatir ke restoran ini, karena terkadang harus mengantri yang agak cukup lama, hanya untuk sekedar satu piring nasi yang ditemani oleh bebek goreng.

BACA JUGA

63 Peneliti Bahas Masyarakat Hukum Adat di USK

Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 3)

Ketika melewati jembatan Suramadu, saya lantas membayangkan bagaimana jika jembatan serupa ada di Aceh, yang menghubungkan Banda Aceh dengan Pulau Weh (Sabang).  Terlebih lagi, jika ada jembatan yang menghubungkan antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Jembatan Suramadu kami lewati secara lancar. Bagi saya Pulau Madura memiliki terkesan tersendiri, karena beberapa guru saya berasal dari pulau tersebut. Oleh sebab itu, saya memiliki hubungan emosional dengan Pulau Madura. Bahkan beberapa karib saya berasal dari Pulau Madura.

Diaspora Madura memang amat luar biasa. Di Surabaya ada tiga kelompok besar masyarakatnya, yakni Mataram, Arek, dan Madura. Begitulah dulu dikabari oleh seorang karib tentang pengelasan masyarakat di Madura. Ketika berjumpa mereka di bandara-bandara di Pulau Jawa, ciri khas orang Madura memang tidak dapat ditutupi, dimana mereka bersarung dan berpeci, serta memakai bahasa daerah mereka, ketika berkomunikasi antara satu sama lain. Karena itu, tidak sulit mengenali orang Madura. Setelah kami menikmati makan siang di Bebek Sinjay, perjalanan dilanjutkan menuju kota Yogyakarta. Tujuannya adalah untuk bersilaturrami dengan sahabat-sahabat di kota Gudeg tersebut.

Baca Juga:  Dosen UIA Jadi Juri Duta Guru CBP Rupiah Championship 2025

Namun, siang itu  jalanan yang begitu padat. Truk yang menghadang kami pun, terkadang mencapai 3 atau 4 di hadapan. Terus terang, belum pernah pengalaman saya menyalip truk di jalanan dengan sepeda motor. Kehadiran truk di jalanan yang membuat jalanan banyak berlobang dan bergelombang mengindasikan bahwa di kawasan tersebut adalah daerah industri. Terlebih lagi, kota Surabaya menjadi hub untuk pengiriman barang-barang sembako ke wilayah timur Indonesia. Tidak mengejutkan jika mereka merajai jalanan di sekitar kota Surabaya.

Bagi pemotor yang sudah berpengalaman, mengendarai kendaraan di belakang truk adalah hal yang biasa. Salip menyalip adalah hal yang biasa. Tidak hanya truk, merayap di jalanan Pulau Jawa juga harus berhadapan dengan supir bus. Mereka benar-benar menguasai jalan raya. Tidak jarang, kami harus menepi di bahu jalan, jika bus yang mengambil secara paksa jalur kanan mereka. Di Pulau Jawa, bus-bus memang dikenal sebagai raja jalanan. Mereka melaju kencang, sambil membunyikan klakson.  Dalam satu kesempatan saya diberitahu alasan mengapa bus di pulau Jawa seperti preman jalanan. Di sini, supir dipaksa untuk mengejar waktu, supaya ketika sampai di terminal mereka bisa memiliki waktu yang agak lama untuk beristirahat. Semakin cepat mereka sampai di titik tertentu, maka akan semakin lama jatah mereka untuk beristirahat. Sebab, mereka terkadang mengendarai bus selama berjam-jam. Tentu saja, kelelahan melanda mereka. Belum lagi konsentrasi yang terkadang tidak bisa maksimal.

Tidak mengejutkan, selain kearena hobi mengendarai bus secara cepat dan tuntutan waktu istirahat, terkadang kecelakaan demi kecelakaan kerap terjadi. Bahkan di kalangan warga tempatan, beberapa merek bus menjadi “malaikat maut” bagi pengguna jalanan. Sebenarnya, tradisi bus yang ngebut memang bukan hanya monopoli bus di Pulau Jawa. Di Aceh pun tidak dapat dielakkan. Hanya saja, bus-bus di Aceh lebih banyak merajai jalanan pada malam hari. Walaupun kecelakaan juga sering terjadi, namun biasanya dikarenakan supir kelelahan atau mereka menabrak sesuatu saat di jalan raya Banda Aceh – Medan.

Baca Juga:  63 Peneliti Bahas Masyarakat Hukum Adat di USK

Bus, truk, dan sepeda motor memang menjadi bagian penting di dalam orkestra jalanan di Pulau Jawa. Lautan sepeda motor, dimana ada yang bekerja lintas kabupaten atau linta provinsi, menyebabkan kepadatan dan kemacetan yang amat luar biasa. Belum lagi kemunculan ojek online di pinggir jalan dan di jalanan, yang benar-benar menyebabkan muncul lautan sepeda motor. Namun demikian, ada lagi kelompok kendaraan yang begitu menakutkan yaitu angkutan kota (angkot). Mereka bebas parkir di bahu jalan, kapan mereka harus berhenti, baik menaikkan atau pun menurunkan penumpang. Kondisi ini dijumpai di beberapa kota besar, dimana terkadang angkot menjadi bagian memori yang menakutkan bagi saya yang mengendarai sepeda motor besar.  Hal ini sangat terasa ketika saya memasuki Kota Palembang dan Medan. Jadi, jalanan di Indonesia memang hampir mirip dengan jalanan di negara-negara berkembang lainnya. Jalanan menjadi etalase kehidupan rakyat Indonesia.  Pergerakan manusia cukup dinamis dan fantastis.

Hari itu, kami memutuskan untuk menginap di Kota Madiun.  Seperti biasa, kami mendapatkan penginapan yang murah meriah. Penginapan kami seperti kos-kosan yang ikut daftar di dalam aplikasi penginapan online. Karena kepenatan dengan jalanan yang cukup mengerikan selama dan dari kota Surabaya, kami memilih beristirahat lebih cepat.  Ketika sampai di penginapan saya lantas berpikir bagaimana situasi pulau Jawa jika saat mudik. Tentu perpindahan manusia akan terjadi secara besar-besaran. Istilah mudik menjadi begitu melekat di dalam setiap individu yang merantau di Indonesia. Saat menjelang lembaran, Indonesia memang memperlihatkan orkestra yang lebih dahsyat lagi.

Bagi mereka yang merantau, balik kampung adalah ritual yang tidak dapat diabaikan.  Merek a akan bersusah payah agar bisa mudik ke kampung halaman. Jika bulan puasa adalah bulan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka di 10 akhir bulan suci ini menjadi semacam festival jalanan di seluruh Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Namun, selama Covid-19 fenomena mudik tidak begitu terasa, karena ada intervensi pemerintah melarang mudik.  Tidak mengejutkan jika kemudian ada anggapan mudik merupakan salah satu kebudayaan di Nusantara yang akan terus dipelihara oleh rakyat Indonesia sampai kapan pun.

Baca Juga:  Strategi Ekonomi Aceh: Optimalisasi Potensi Lokal dan Ekspansi ke Pasar Global (bagian 2)

Jalan raya menjadi semacam lanskap sosial untuk memahami bagaimana kondisi kekinian di Indonesia. Di situ bisa menujukkan hubungan sosial, kekuatan ekonomi, sosial-politik, dan sosial kebudayaan.  Di setiap gerakan putaran roda dan tangan yang meminta sumbangan atau uluran tangan, memiliki makna tersendiri terhadap perjalanan bangsa ini.  Dari jalan raya menghubungkan masyarakat Indonesia secara luas. Inilah satu lanskap kehidupan bangsa ini yang tidak begitu mudah untuk dipahami, jika tidak pernah menjalaninya sebagai musafir di jalan raya di republik ini.[]

Tags: acehKeliling NusantaraPengetahuanTouring 3563 KM Bali-Banda Aceh
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad adalah Antropolog. Berdomisili di Aceh.

Related Posts

63 Peneliti Bahas Masyarakat Hukum Adat di USK
News

63 Peneliti Bahas Masyarakat Hukum Adat di USK

by SAGOE TV
August 24, 2022
Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 1)
Reportase

Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 3)

by Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
March 24, 2025
Kegilaan Orang Waras
Reportase

Agar Kopi Menginspirasi

by Zarkasyi Yusuf
March 24, 2025
Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 1)
Reportase

Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 2)

by Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
March 24, 2025
Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 1)
Reportase

Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 1)

by Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
March 20, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

April 16, 2026
Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

April 18, 2026
UIN Ar-Raniry Peringkat 1 Nasional Scimago 2026, Lampaui UI dan UGM di Bidang Riset

UIN Ar-Raniry Peringkat 1 Nasional Scimago 2026, Lampaui UI dan UGM di Bidang Riset

April 20, 2026
MagangHub Kemnaker Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku

MagangHub Kemnaker Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku

April 19, 2026
Imeum Mukim Tungkop Peusijuek 48 Calon Jamaah Haji

Imeum Mukim Tungkop Peusijuek 48 Calon Jamaah Haji

April 20, 2026
Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

April 17, 2026
Ustaz Habibi Aceh Juara AKSI 2026, Bawa Pulang Rp 150 Juta dan Paket Umrah

Ustaz Habibi Aceh Juara AKSI 2026, Bawa Pulang Rp 150 Juta dan Paket Umrah

March 20, 2026
Prof Eka Srimulyani kuliah tamu di Seoul National University, Korea Selatan, membahas riset generasi muda Muslim dan pengaruh budaya K-Pop.

Prof Eka Srimulyani Kuliah Tamu di Seoul National University, Bahas Generasi Muda Muslim dan K-Pop

April 18, 2026
Pemain Persiraja Banda Aceh

Persiraja vs Garudayaksa FC Malam Ini: Dek Gam Tekankan Harga Diri, Pemain Wajib Fight

April 19, 2026

EDITOR'S PICK

Jelang Persiraja vs PSPS, Panpel Pastikan Persiapan Sudah Matang

Persiraja vs PSPS di Babak 8 Besar Liga 2, Tekad Laskar Rencong Raih Poin Penuh

January 20, 2025
Sambut Hari Santri 2024, Dayah Insan Qurani Gelar Classic ke-9

Sambut Hari Santri 2024, Dayah Insan Qurani Gelar Classic ke-9

October 20, 2024
USK dan Dua Profesornya Raih Penghargaan Internasional di ICORAD dan ADPI Global Award 2025 Malaysia

USK dan Dua Profesornya Raih Penghargaan Internasional di ICORAD dan ADPI Global Award 2025 Malaysia

November 11, 2025
Sahlan Hanafiah

Menjadi ‘Politisi Dermawan’, Tantangan Berpolitik dalam Arena Politik Patronase

May 17, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.