BANDA ACEH | SAGOE TV – Sejumlah mahasiswa internasional program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Syiah Kuala (USK) mempelajari sejarah dan warisan budaya Aceh melalui aplikasi digital bernama Lentera saat mengunjungi situs bersejarah Gunongan dan Taman Sari di Banda Aceh, Rabu (4/11/2026).
Para mahasiswa asing tersebut merupakan penerima beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB), Darmasiswa, dan The Indonesian Aid Scholarship (TIAS) tahun akademik 2026/2027. Mereka berasal dari delapan negara, yakni Afghanistan, Zimbabwe, Uganda, Nigeria, Jepang, Fiji, Vanuatu, dan Pakistan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Kelas Budaya BIPA USK yang dikelola oleh Global Engagement Office (GEO) USK. Di lapangan, para mahasiswa asing diajak mengakses informasi sejarah secara praktis dengan memindai kode QR yang terpasang di area peninggalan bersejarah tersebut.
Ketua Tim Pengembang Aplikasi Lentera (Lensa Tembus Era) sekaligus dosen pendamping dari Fakultas Teknik USK, Rahmad Dawood, menjelaskan bahwa aplikasi ini dirancang oleh dua mahasiswa Teknik Komputer USK, Heru Sunanda dan M. Syahru Ramadhan, untuk menghidupkan cara baru dalam mempelajari sejarah.
“Aplikasi Lentera diciptakan untuk menjembatani peninggalan masa lalu dengan teknologi masa kini. Meskipun masih dalam tahap pengujian dan pengembangan, kami ingin memberikan pengalaman belajar yang interaktif. Pengunjung, termasuk mahasiswa asing, bisa langsung memindai kode QR di lokasi untuk membaca serta memahami narasi sejarah situs tersebut secara mandiri dan praktis melalui gawai mereka,” ujar Rahmad dalam keterangannya, Jumat (6/11).
Pengalaman memadukan eksplorasi lapangan dan teknologi ini disambut antusias oleh para peserta BIPA. Salah satu mahasiswa internasional penerima beasiswa KNB asal Zimbabwe, Farai, mengaku terkesan dengan sejarah Aceh dan cara pembelajarannya yang inovatif.
“Ini pengalaman pertama saya berkunjung ke Gunongan dan melihat langsung arsitektur peninggalan Kesultanan Aceh yang sangat indah. Kehadiran aplikasi pemindai ini sangat membantu kami sebagai mahasiswa asing untuk memahami jalan cerita dan nilai filosofis bangunan bersejarah ini dengan lebih mudah,” tutur Farai.
Kegiatan Kelas Budaya ini tidak hanya memperkuat pemahaman mahasiswa internasional terhadap warisan budaya Aceh, tetapi juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 9 terkait Inovasi Teknologi, serta SDG 11 mengenai Pelestarian Kota dan Warisan Budaya.




















