BANDA ACEH | SAGOE TV – Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI, Romo R. Muhammad Syafi’i, mendorong pemerintah daerah di Aceh mengalokasikan beasiswa pendidikan kedokteran bagi putra-putri daerah. Dorongan tersebut disampaikan saat meresmikan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, sebagai salah satu solusi untuk mengatasi ketimpangan distribusi dokter, terutama di wilayah terpencil.
Peresmian Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry pada Kamis (5/11/2026), ditandai dengan pemotongan pita dan penandatanganan prasasti, dilanjutkan dengan peninjauan sejumlah fasilitas laboratorium.
Menurut Romo Syafi’i, persoalan utama pelayanan kesehatan di Indonesia bukan hanya menyangkut ketersediaan tenaga medis, melainkan juga pemerataan distribusinya. Sejumlah daerah masih kekurangan dokter dan dokter spesialis, sementara konsentrasi tenaga medis masih banyak berada di kota-kota besar.
Karena itu, ia mengusulkan pemerintah provinsi serta kabupaten dan kota di Aceh menjadikan beasiswa kedokteran sebagai salah satu program prioritas daerah. Beasiswa tersebut dapat diberikan sejak pendidikan sarjana hingga spesialis, dengan ketentuan penerima kembali mengabdi di daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan.
“Jalan keluarnya adalah beasiswa, supaya yang betul-betul dibiayai itu anak daerah. Setelah tamat, mereka kembali bertugas di daerahnya,” ujar Romo Syafi’i.
Ia menilai putra-putri daerah memiliki potensi lebih besar untuk menetap dan mengabdi di wilayah asal. Dengan pola beasiswa yang disertai ikatan dinas, pemerintah daerah dapat menyiapkan kebutuhan dokter secara lebih terencana dan berkelanjutan.
Selain pembiayaan pendidikan, Wamenag menekankan pentingnya jaminan fasilitas dan kesejahteraan bagi dokter yang bertugas di wilayah terpencil dan tertinggal. Dukungan itu dapat berupa rumah dinas, kendaraan dinas, hingga tunjangan khusus.
“Dokter itu tidak mengenal jam kerja. Ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, mereka harus siap memberikan pelayanan. Karena itu, sudah sewajarnya dokter yang mengabdi di daerah terpencil mendapatkan fasilitas dan penghargaan yang layak,” katanya.
Minta Dukungan Kementerian Kesehatan
Dalam kesempatan tersebut, Wamenag juga mendorong sinergi lintas kementerian untuk mempercepat pengembangan Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan, termasuk peralatan laboratorium.
Ia meminta pihak universitas menyusun proposal kebutuhan secara terukur agar dapat dikoordinasikan dengan Kementerian Agama dan Kementerian Kesehatan.
“Kalau ada kebutuhan seperti yang disampaikan Pak Rektor, saya kira buat saja proposalnya dengan jelas. Nanti, selain dari Kementerian Agama, kita minta dukungan Kementerian Kesehatan untuk merealisasikan kebutuhan mendesak Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry,” ujarnya.
Syafi’i mengatakan pemerintah memberikan perhatian terhadap percepatan pemenuhan kebutuhan dokter nasional, salah satunya melalui pengembangan fakultas kedokteran di berbagai perguruan tinggi, termasuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).
Menurut dia, kehadiran Fakultas Kedokteran di UIN Ar-Raniry merupakan bagian dari perluasan kontribusi perguruan tinggi Islam dalam pembangunan nasional, khususnya sektor kesehatan.
Ia juga mengaitkan pengembangan fakultas tersebut dengan transformasi perguruan tinggi Islam menjadi universitas. Transformasi itu, kata dia, merupakan upaya mengembangkan pemahaman Islam secara menyeluruh atau kaffah melalui integrasi ilmu keislaman dan ilmu pengetahuan umum.
Dalam konteks tersebut, ilmu kedokteran memiliki peran penting karena berkaitan langsung dengan upaya menjaga kehidupan dan kemaslahatan manusia.
Rektor UIN Ar-Raniry, Mujiburrahman, mengatakan pendirian Fakultas Kedokteran merupakan langkah strategis universitas untuk memperluas pengembangan keilmuan sekaligus berkontribusi memenuhi kebutuhan tenaga medis di Aceh.
Pada penerimaan mahasiswa tahun pertama, fakultas tersebut memperoleh kuota 50 mahasiswa dari Kementerian Pendidikan Tinggi. Seluruh kuota itu berhasil terpenuhi. Menariknya, sembilan mahasiswa yang diterima merupakan penghafal Al-Qur’an 30 juz.
“Alhamdulillah, tahun ini dengan kuota yang diberikan sebanyak 50 mahasiswa, kami mendapatkan full 50 mahasiswa. Dari jumlah tersebut, sembilan mahasiswa kami hafal 30 juz Al-Qur’an. Ini luar biasa,” kata Mujiburrahman.
Ia menjelaskan, proses pendirian Fakultas Kedokteran telah dimulai sejak 2023. Pada tahap awal, rencana tersebut sempat menghadapi keraguan karena UIN Ar-Raniry dinilai belum memiliki sumber daya manusia dan fasilitas yang memadai untuk menyelenggarakan pendidikan kedokteran.
Namun, universitas terus melakukan berbagai persiapan, mulai dari pemenuhan sarana laboratorium, konsultasi dengan pihak terkait, hingga evaluasi dan visitasi oleh lembaga berwenang.
Menurut Mujiburrahman, proses perizinan berjalan relatif cepat. Setelah melalui tahapan evaluasi dan visitasi, izin pembukaan Program Studi Kedokteran diperoleh pada 31 Agustus tahun sebelumnya.
“Alhamdulillah, seluruh proses berjalan lancar dan sangat cepat. Ini tentu berkat ikhtiar, dukungan berbagai pihak, dan pertolongan Allah SWT,” ujarnya.
Untuk memastikan kesiapan fasilitas pembelajaran, pihak universitas juga mengajak orang tua mahasiswa melihat langsung gedung fakultas dan laboratorium sejak awal penerimaan mahasiswa.
Laboratorium Permanen Dibangun Mulai 2027
Meski telah memiliki laboratorium untuk memenuhi persyaratan perizinan, pengembangan fasilitas pendidikan kedokteran masih membutuhkan dukungan pemerintah.
Mujiburrahman mengatakan sejumlah peralatan laboratorium dan perangkat pembelajaran medis modern masih perlu dilengkapi. Salah satunya manekin elektronik yang digunakan untuk mendukung simulasi praktik kedokteran.
Adapun pembangunan laboratorium permanen Fakultas Kedokteran direncanakan melalui proyek Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) periode 2027–2031. Fasilitas tersebut akan dibangun di kawasan kampus agar berdekatan dengan gedung Fakultas Kedokteran.
“Kami mohon dukungan Pak Wakil Menteri agar Kementerian Agama dapat membantu melengkapi peralatan laboratorium. Kami ingin seluruh proses pembelajaran berjalan dengan baik, didukung sarana yang lengkap, modern, dan sesuai standar,” kata Mujiburrahman.
Ia berharap dukungan Kementerian Agama dan pemerintah daerah dapat mempercepat pengembangan Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry. Dengan demikian, fakultas tersebut diharapkan mampu melahirkan dokter yang kompeten, berintegritas, memiliki karakter keislaman, serta siap mengabdi untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Peresmian Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry turut dihadiri Pj Sekda Aceh Taufik, Sekretaris Daerah Kabupaten Pidie Samsul Azhar, Staf Ahli Menteri Agama Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia Faisal Ali Hasyim, jajaran pimpinan UIN Ar-Raniry, serta sejumlah pejabat dan pimpinan rumah sakit di Aceh.




















