• Tentang Kami
Wednesday, July 22, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Ketika Orang Baik Mudah Diadu Domba, Kenapa?

SAGOE TV by SAGOE TV
March 20, 2025
in Resensi
Reading Time: 6 mins read
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
Antropolog UIN Ar-Raniry.

Dalam artikel ini, saya tertarik untuk mengupas dua tema penting yaitu mengapa orang baik selalu muda diadu domba. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mencoba menjelaskannya melalui alasan-alasan orang saleh/taat yang selalu dapat diadu domba. Di sini, juga menarik untuk dijelaskan tentang psikologi kebodohan ( the psychology of stupidity).

BACA JUGA

Membaca Kembali Strategi Mengawal Undang-Undang Pemerintahan Aceh

Membaca Ulang Otonomi Khusus Aceh di Persimpangan Sejarah

Dalam hal ini, ada dua buku yang menarik perhatian saya, yaitu The Righteous Mind: Why Good People Are Divided by Politics and Religion, karya Jonathan Haidt dan The Psychology of Stupidity, diedit oleh Jean-Francois Marmion. Dua buku ini terbit pada tahun yang berbeda. Buku pertama berisi hasil riset mendalam Jonathan Haidt (2013). Sementara buku kedua merupakan kumpulan tulisan yang berasal dari bahasa Perancis, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris (2020).

Saya menemukan korelasi yang menarik antara kedua buku ini. Paling tidak, ketika ditemukan beberapa hal menarik dalam buku Psikologi Kebodohan. Misalnya, bagaimana seorang yang cukup pintar masih memercayai sesuatu yang tidak masuk akal. Demikian pula, bahwa internet rupanya lebih banyak menyebarkan kebodohan, daripada kepintaran. Sesuatu yang pasti akan menyebabbkan kebodohan, sementara ketidakpastian akan menyebabkan kegilaan. Lebih menarik lagi adalah ketika kebodohan berkoneksi dengan kepintaran atau kejeniusan, maka yang menang adalah stupidity.

Kebodohan

Tampaknya, kajian tentang kebodohan sama sekali tidak berhubungan dengan jenjang pendidikan, tetapi memang perilaku kebodohan itu sendiri dapat dihadapi oleh siapapun, tidak terkecuali mereka yang sudah memiliki pendidikan yang cukup tinggi. Patrick Moreau mengatakan bahwa:

Sometimes we do stupid things, but more often we say them. Most of the time, they are transmitted through language.

Karena itu, ketika ada peristiwa besar dalam kehidupan manusia, lebih banyak disebabkan karena kebodohan yang melanda mereka, bukan karena kepintaran atau kebijaksanaan.

Dari paparan di atas, ingin dikaitkan jika orang baik kemudian memilih kesalehan, kemudian dikerjai oleh orang jahat yang cerdas. Maka inilah sebenarnya petaka kehidupan yang terjadi selama ini. Mari kita jabarkan secara sederhana, bagaimana orang baik mudah diadu domba. Jonathan Haidt mengatakan bahwa ada tiga tema moral yang dikenal sebagai etika otonomi, komunias, dan divinitas.

Etika Otonomi, Komunias, dan Divinitas

Adapun penjelasan ketiga etika tersebut adalah :

The ethic of autonomy is based on the idea that people are, first and foremost, autonmous individuals with wants, needs, and preference.

The ethic of community is based on the idea that people are, first and foremost, member of larger entities such as families, teams, armies, companies, tribes, and nations.

The ethic of divinity is based on the idea that people are, first and foremost, temporary vessels within which a divine soul have been implanted.

Tiga etika di atas dimasukkan ke dalam diri manusia untuk menjalani kehidupan, sebagai individu, anggota sosial, dan memiliki keterhubungan dengan sesuatu yang bersifat keilahian.  Setiap individu akan menjalani kehidupan mereka untuk mempertahankan ketiga hal tersebut, bahkan sampai pada tahapan melakukan kekerasan sekalipun.

Orang yang mementingkan yang pertama, akan selalu membenarkan apa yang diyakininya benar dan memberikan ruang yang kecil pada tahapan negosiasi. Sementara yang kedua, akan melahirkan orang-orang yang hanya memikirkan kelompoknya sendiri. Sementara yang berada di ketiga, akan melahirkan kelompok-kelompok pejuang kebenaran atas apa yang mereka yakini secara kerohanian.

Strategi Iblis

Disinilah mereka kemudian dikelola melalui Strategi Iblis (Devil Strategy), sebagaimana dijelaskan dalam buku On Strategy karya Lawrence Freedman. Buku ini digambarkan bagaimana Iblis mengelola keinginan mereka ketika berdiskusi untuk menaklukkan Kerajaan Langit.  Dialog Iblis dalam buku ini mempertegas bahwa orang baik paling mudah dikelola atau dijahati, ketimbang orang bodoh atau orang jahat.

Hal ini disebabkan, orang jahat yang mengaku baik, akan mudah untuk memanipulasi ketiga etika di atas, untuk kepentingan tertentu. Misalnya, orang jahat yang mengaku akan berbuat kebaikan, akan mengatur strategi bagaimana mengelola orang-orang yang mengaku baik atau bahkan sama sekali orang saleh. Karena itu, ketika ada anggapan untuk mengeluarkan orang saleh dari kerumunan politik atau kegiatan ekonomi, dimana orang jahat yang mengaku baik, saling menjalankan strategi mereka, maka mau tidak mau, para orang saleh atau gerejawan, dipaksa masuk ke dalam gereja, untuk mendengar keluh kesah setiap individu yang bermasalah dengan ketiga etika di atas.

Orang baik lantas dianggap sebagai pendakwah atau pendoa, karena aspek etika keilahian, dapat mereka komunikasikan dengan alam ghaib. Begitu juga orang jahat yang mengaku sebagai orang baik, cenderung akan menggunakan strategi Iblis, supaya mereka dapat menaklukkan mereka yang orang yang mengakui baik.

Pengakuan terhadap jati diri bahwa dia seorang yang baik merupakan hal yang sering kita jumpai. Orang baik menggetarkan mimbar, namun ketika turun mimbar, etika otonomi individualnya terganggu, maka segala yang dia sampaikan di atas mimbar, mendadak menjadi amnesia. Pola amnesia terhadap kebaikan, memang menggejala, di kalangan siapapun yang belum terpuaskan kebutuhan mereka dalam etika otonomi, komunitas, dan divinitas.

Kesalehan, Kejahatan, dan Kemenderitaan Sosial

Dari uraian di atas, saya ingin memvisualisasikan beberapa hal yang unik ketika mengamati perilaku manusia dan persoalan politik. Pertama, semakin saleh seseorang dalam kancah politik, akan semakin banyak pula hal yang dia lakukan sebagai kesalahan.  Kedua, perilaku orang jahat yang mengakui baik, akan semakin terorganisir, jika mereka memiliki kekuasaan dan otoritas yang tidak terbatas. Ketiga, semakin orang memerlukan pengakuan di tiga domain (individu, sosial, dan keilahian), akan semakin banyak kejahatan yang mereka lakukan secara etika dan moral.

ALSO READ  What are the important lessons for Indonesian from the war in Ukraine?

Rakyat yang paling bawah akan dikelola rasionalitas dan emosionalitas mereka, oleh mereka yang mengaku orang baik padahal orang jahat. Orang jahat yang mengaku baik ini hanya memikirkan dua hal, yaitu kepuasan diri dan kelompok mereka. Sementara orang yang mengaku dirinya baik, akan dikelola oleh orang jahat yang mengaku baik sebagai alat untuk memasukkan keilahian atau relasi emosional kepada rakyat bawah.

Mereka memerlukan kitab suci untuk membenarkan apa yang menjadi kepentingan utama orang jahat yang mengaku baik. Saya banyak menemukan orang-orang seperti ini yang cenderung memperjuangkan kepentingan kelompok, kemudian berpura-pura memperjuangkan kemanusiaan. Ayat dan kutipan magik digunakan untuk mengikat kesadaran religi audien. Panggung mimbar bergoyang, seakan-akan pesan langit, sudah selesai dia sampaikan kepada ummat.

Karena itu, kelompok-kelompok orang saleh atau baik, yang belum menjadi orang jahat yang mengaku baik, cenderung akan musnah dalam satu kurun tertentu. Sebab, orang saleh tersebut telah digunakan kesalehan mereka untuk menjadi legitimasi sosial bagi kalangan yang berpura-pura baik, padahal mereka adalah orang jahat.

Akibatnya, kondisi sosial selalu rapuh, sebab kebaikan dan keburukan, akhirnya hanya menjadi fatamorgana sosial. Sebab, semakin diperjuangan kebaikan, maka dia akan terus bergeser dari orang yang mencarinya. Inilah kenapa partai-partai politik yang menjanjikan kebaikan dan perubahan dalam masyarakat, amat sulit dipercayai, jika bukan sebagai pengkhianat nilai-nilai kemanusiaan.

Drama politik itu ibarat satu panggung catur. Apapun kegiatan politik tentu sudah ada yang mengatur. Semua hasil yang diperjuangkan akan dilakukan secara teratur. Disinilah orang baik cenderung saling terbentur.  Sumber: https://kba13.com/mengapa-orang-baik-selalu-mudah-di-adu-domba/

Tags: adu dombaorang baikpsikologi
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Membaca kembali Strategi Mengawal Undang-Undang Pemerintahan Aceh
Resensi

Membaca Kembali Strategi Mengawal Undang-Undang Pemerintahan Aceh

by Anna Rizatil
February 13, 2026
Membaca Ulang Otonomi Khusus Aceh di Persimpangan Sejarah
Resensi

Membaca Ulang Otonomi Khusus Aceh di Persimpangan Sejarah

by Anna Rizatil
February 11, 2026
Membaca ACEH 2024: Membangun Martabat Politik dengan Politik Bermartabat
Resensi

Membaca ACEH 2024: Membangun Martabat Politik dengan Politik Bermartabat

by Anna Rizatil
February 7, 2026
Banda Aceh dalam Harmoni: Resensi Buku 1 Kota 5 Agama di Aceh
Resensi

Banda Aceh dalam Harmoni: Resensi Buku 1 Kota 5 Agama di Aceh

by Anna Rizatil
February 6, 2026
Merawat Intelektualitas dan Karakter: Membaca Jejak Profesor Abdi
Resensi

Merawat Intelektualitas dan Karakter: Membaca Jejak Profesor Abdi

by Anna Rizatil
February 4, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

July 21, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

July 16, 2026
Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

July 18, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

July 20, 2026
Kardo National Qualifier Dari Arena Kompetisi Menuju Ruang Baru Kreativitas Anak Muda Aceh

Kardo National Qualifier: Dari Arena Kompetisi Menuju Ruang Baru Kreativitas Anak Muda Aceh

July 21, 2026
Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang

Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang

July 17, 2026
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 13, 2026
Muhammad Dahlan, Praktisi Migas Asal Aceh yang Mendunia

Muhammad Dahlan, Praktisi Migas Asal Aceh yang Mendunia

March 11, 2025

EDITOR'S PICK

Pesan Mualem untuk Jemaah Haji Aceh Kloter Pertama: Ikhlas dan Sabar

Pesan Mualem untuk Jemaah Haji Aceh Kloter Pertama: Ikhlas dan Sabar

June 2, 2025
Miftahul Hamdi Jadi Man of The Match, Bersyukur Persiraja Menang atas PSMS

Jadwal Laga Perdana Persiraja di Babak 8 Besar Liga 2 Diundur Dua Hari

January 17, 2025
AMSI Aceh Gelar UKW dan Seminar Nasional, Bahas Kebangkitan Ekosistem Bisnis Media Pascabencana

AMSI Aceh Gelar UKW dan Seminar Nasional, Bahas Kebangkitan Ekosistem Bisnis Media Pascabencana

April 15, 2026
Kapal Pesiar Crystal Symphony Bawa 206 Turis Asing Singgah di Sabang

Kapal Pesiar Crystal Symphony Bawa 206 Turis Asing Singgah di Sabang

March 11, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.