• Tentang Kami
Monday, June 15, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Kritik Tulisan “Menyikapi Gelombang Pengungsi Etnis Rohingya” Terbit Kompas

SAGOE TV by SAGOE TV
December 28, 2023
in Artikel
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Kritik Tulisan “Menyikapi Gelombang Pengungsi Etnis Rohingya” Terbit Kompas
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Yogi Febriandi
Ketua Prodi Pemikiran Politik Islam, IAIN Langsa dan  Penulis memiliki pengalaman dalam penanganan pengungsi Rohingya di Kota Langsa Tahun 2015-2017.

Sikap Masyarakat Aceh yang menolak kehadiran pengungsi Rohingya saat ini sangat berbeda dengan tahun 2015. Pada tahun 2023, kehadiran pengungsi Rohingya mendapatkan respon negatif, karena banyaknya informasi keliru terkait status pengungsi, seperti soal status pengungsi, ancaman yang mungkin terjadi, dan agenda global terkait kedatangan pengungsi di Aceh.

BACA JUGA

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

Dalam situasi penolakan pengungsi Rohingya yang saat ini terjadi di Aceh, tulisan Prof. Hikmahanto Juhana pada tanggal 8 desember yang terbit di Kompas berjudul “Menyikapi Gelombang Pengungsi Etnis Rohingya” mematik perdebatan publik. Dalam tulisan yang mendorong pemerintah Indonesia untuk menolak pengungsi Rohingya tersebut, Prof. Hikmahanto keliru dalam banyak hal, mulai dari kesalahan data hingga pendekatan terhadap isu pengungsi luar negeri.

Sayangnya pendapat beliau yang terbit di Kompas tersebut, menjadi konsumsi publik luas dan digunakan oleh Masyarakat untuk menolak pengungsi Rohingya. Tulisan ini mencoba untuk memberi kritik terhadap tulisan tersebut, dan memberi tawaran berbeda dari yang beliau tawarkan.

Kurang tepat dalam data
Kesan pertama yang saya tangkap dari tulisan Prof. Hikmahanto Juhana ialah banyaknya generalisasi permasalahan yang memberi kesan kurangnya pengetahuan penulis teradap situasi pengungsi di Aceh. Misalnya, mengatakan kalau kedatangan Rohingya ke Aceh sudah “dimulai” pada tahun 2015. Padahal menurut data JRS Indonesia, kedatanan Indonesia sudah sejak tahun 2009. Atau menyebut 182 orang Rohingya yang kabur pada tahun 2015 berbaur dengan Masyarakat. Padahal, 182 orang yang kabur dari kamp penungsi memang sedari awal menuju ke Medan untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Malaysia. Tidak tepat mengatakan mereka “berbaur” dengan Masyarakat.

Ketidaktahuan penulis terkait situasi pengungsi Rohingya juga dapat dilihat dari melihat posisi UNHCR dalam penanganan kasus Rohingya. Menyandingkan istilah pendatang illegal dan tugas UNHCR serta menungkapkan bahwa UNHCR adalah faktor dari banyaknya pengungsi datang ke Indonesia. Selanjutnya meminta proses skrining berjalan dengan cepat untuk kemudian memutuskan status pengungsi tanpa melihat acuan kerja dan proses penentuan status yang Panjang dan penuh kehati-hatian.

Memang, penolakan yang terjadi di Aceh disebabkan karena adanya ketidaksukaan Masyarakat Aceh saat ini terhadap pengungsi Rohingya. Tapi, tidak semua cerita tentang kehadiran Rohingya di Aceh memberikan kerugian dan konflik di Masyarakat. Mengatakan kedatangan Rohingya mendatangkan konflik sosial hanya dari kasus-kasus yang bersifat negative untuk membahas seluruh keseluruhan yang terjadi di lapangan adalah cara berpikir yang sempit. Faktanya, pengelolaan pengungsi di Kota Langsa dan Aceh Timur pada tahun 2015 adalah contoh dimana pengungsi Rohingya dan Masyarakat dapat hidup berdampingan.

Terdapat banyak kisah-kisah persahabatan antara pengungsi dan Masyarakat Kota Langsa pada tahun 2015. Selain itu, ada efek-efek dari sisi ekonomi dan juga peningkatan sumber daya manusia Masyarakat setempat dengan kehadiran Rohingya. Dengan adanya Lembaga kemanusiaan internasional, banyak anak-anak muda di Kota Langsa yang mendapatkan pekerjaan di kamp pengungsian serta pelatihan professional yang dibuat oleh Lembaga internasional.

Pengabaian aspek kemanusiaan
Aspek lain yang perlu di kritik dalam tulisan tersebut ialah pernyataan untuk meminta pemerintah Indonesia untuk memulangkan etnis Rohingya tanpa pertimbangan situasi keamanan mereka di tempat asal. Prof. Hikmahanto sangat jelas mengenyampingkan aspek kemanusiaan dalam argumentasinya. Kondisi di Arakan, wilayah yang menjadi konflik di Myanmar dan mengharuskan Rohingya untuk keluar dari wilayah itu karena adanya diskriminasi dari pemerintah Myanmar merupakan sebuah fakta yang sangat jelas. Ada banyak laporan kemanusiaan dan tulisan yang mengabarkan situasi ini. Saya kira mempertanyakan ini merupakan kekeliruan yang sangat fatal.

Kekeliruan berikutnya ialah mengatakan bahwa Nasib pengungsi Rohingya saat ini bukanlah urusan pemerintah Indonesia. Memang, pernyataan Prof. Hikmahanto tentang Indonesia yang tidak meratifikasi konvenan pengungsi adalah benar. Namun, hanya karena Indonesia tidak meratifikasi konvenen pengungsi bukan berarti penyelamatan pengungsi Rohingya bukan menjadi urusan pemerintah Indonesia. Untuk hal ini sebenarnya SUAKA telah merilis pernyataan kekecewaan pada pernyataan Prof. Hikmahanto Juwana pada tanggal 27 November 2023, namun sayang sekali rilis ini tidak terbekas pada tulisan yang terbit di Kompas. Dalam rilis tersebut, SUAKA sudah membantah argument ini dengan mengatakan bahwa:

“Indonesia juga memiliki kewajiban untuk melakukan penyelamatan bagi kapal dalam keadaan darurat pada Pasal 98 ayat (1) Konvensi Hukum Laut/United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS). Selanjutnya, Pasal 98 ayat (2) UNCLOS juga memberikan kewajiban bagi negara-negara untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan di laut khususnya yang berkaitan dengan keamanan kapal. Sebagai catatan, Indonesia telah menjadi negara peratifikasi UNCLOS yang tertera dalam Undang-Undang No. 17 Tahun 1985. Pelaksanaan kewajiban negara berdasarkan UNCLOS dapat menjadi bentuk komitmen nyata pemerintah Indonesia dalam perlindungan HAM dan implementasi kemanusiaan bagi pengungsi Rohingya.”

Perlunya Kerjasama
Untuk itu, hal yang perlu dilakukan dalam menyikapi pengungsi Rohingya bukanlah dengan meminta kepada pemerintah untuk memulangkan pengungsi melainkan kerjasama antara berbagai elemen. Hal ini sebenarnya telah dilakukan di Kota Langsa pada tahun 2015. Pemerintah Kota Langsa saat itu merupakan daerah yang pertama sekali siap untuk menampung pengungsi Rohingya, meski belum ada SOP terkait kebijakan penampungan. Hal yang dilakukan oleh pemerintah kota langsa ialah membentuk Satgas (Satuan Penggagas) Pengungsi yang terdiri dari pejabat pemerintah daerah, Ngo dan masyarakat tempatan. Dalam kurun waktu 2015-2018 penanganan pengungsi Rohingya di Kota Langsa nyaris tanpa masalah karena pendekatan penanganan yang mempertimbangkan berbagai aspek.

Dengan visi penanganan yang mengedepankan kemanusiaan, tidak ditemukan persoalan konflik antara pengungsi dan Masyarakat karena intensnya Masyarakat tempatan terlibat dalam pengelolaan bantuan.

Meski adanya banyak kekeliruan, namun satu hal yang patut untuk dipertimbangkan secara serius dalam tulisan Prof. Hikmahanto Juwana ialah persoalan penyelundupan manusia yang sangat massif. Hal ini memang sudah menjadi persoalan sejak tahun 2015. Kita dapat menyalahkan lemahnya pemantauan dari UNHCR ataupun pengawasan dari apparat kepolisian, namun penyelundupan manusia menjadi persoalan yang rumit karena tidak ada kejelasan terkait Nasib pengungsi Rohingya di Indonesia. Mereka sadar tidak ada kesempatan yang berarti untuk mengubah Nasib mereka di Indonesia, makanya mereka tetap memilih Malaysia sebagai tujuan akhir perjalanan.

Bisnis penyelundupan ini tentunya tidak dibenarkan dalam hukum Indonesia, dan sangat merugikan Masyarakat Aceh mengingat rentannya Masyarakat Aceh dapat dituduh sebagai orang yang terlibat dalam bisnis ini. Dalam hal ini, memang perlu dicari jalan keluar terbaik untuk situasi ini.[]

Tags: acehIndonesiaKemanusianMahasiswa AcehMasyarakat AcehPengungsiRegulasi PengungsiRohingyaUNHCR
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO
Artikel

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

by SAGOE TV
June 11, 2026
Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Artikel

Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?

by SAGOE TV
July 5, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Aceh Butuh Tata Kelola, Bukan Sekadar Razia Kesenjangan Regulasi Hotel Syariah dan Jalan Keluarnya

Aceh Butuh Tata Kelola, Bukan Sekadar Razia: Kesenjangan Regulasi Hotel Syariah dan Jalan Keluarnya

June 10, 2026
Asrama Haji Aceh Siap Sambut Kepulangan Jemaah, Kloter Pertama Tiba 15 Juni 2026

Asrama Haji Aceh Siap Sambut Kepulangan Jemaah, Kloter Pertama Tiba 15 Juni 2026

June 10, 2026
Menyelamatkan Masa Depan LKMS: Membangun Kepercayaan dan Menguatkan Ekonomi Umat

Menyelamatkan Masa Depan LKMS: Membangun Kepercayaan dan Menguatkan Ekonomi Umat

June 8, 2026
Banda Aceh Kota Kolaborasi Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

Banda Aceh Kota Kolaborasi: Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

June 13, 2026
Dari Meja yang Sama

Ketika Darussalam Kehilangan Keberanian Mencari yang Terbaik

June 13, 2026
Mungkin yang kurang bukan acara Catatan tentang Banda Aceh, ruang perjumpaan, dan hal-hal yang terus dimulai dari awal

Mungkin Yang Kurang Bukan Acara

June 10, 2026
Pelantikan PWNU Aceh 2026-2031 Akan Dihadiri Rais 'Aam dan Ketua Umum PBNU

Pelantikan PWNU Aceh 2026-2031 Akan Dihadiri Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU

June 9, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025
3.811 Peserta UTBK SNBT 2025 Lolos di USK, Jalur Mandiri Masih Dibuka

Jalur Mandiri USK 2026 Dibuka hingga 11 Juni, Ini Kesempatan Terakhir Masuk PTN

May 5, 2026

EDITOR'S PICK

KISSPOL Aceh: Situasi Darurat Kemanusiaan Menuntut Keberanian Negara dan Solidaritas Global

KISSPOL Aceh: Situasi Darurat Kemanusiaan Menuntut Keberanian Negara dan Solidaritas Global

December 18, 2025
Timnas Indonesia Kini Sudah Bisa Dimainkan di Game Sepak Bola eFootball

Timnas Indonesia Kini Sudah Bisa Dimainkan di Game Sepak Bola eFootball

April 10, 2025
Skate Park Stage Hadirkan Eksplorasi Seni Bunyi Sederhana di Banda Aceh

Skate Park Stage Hadirkan Eksplorasi Seni Bunyi Sederhana di Banda Aceh

April 23, 2026
Omid Popalzay Jadi Amunisi Baru Persiraja Jelang Laga Lawan PSMS

Omid Popalzay Jadi Amunisi Baru Persiraja Jelang Laga Lawan PSMS

January 15, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.