• Tentang Kami
Friday, June 5, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Separuh Panggung yang Tak Pernah Ditempuh: Hambatan Perempuan dalam Dunia Seni Desa

SAGOE TV by SAGOE TV
August 3, 2025
in SENI
Reading Time: 5 mins read
A A
0
Separuh Panggung yang Tak Pernah Ditempuh: Hambatan Perempuan dalam Dunia Seni Desa

Cut Ulan Nazli. (Foto: dokumentasi pribadi)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Cut Ulan Nazli

Tulisan ini disarikan dari proposal skripsi penulis tentang hambatan perempuan menjadi seniman di Desa Darussalam. Gagasan dan data diambil dari kerangka penelitian yang tengah dikaji, lalu ditulis ulang dalam format esai populer untuk membuka ruang dialog. Asumsinya: perempuan menghadapi hambatan berlapis—norma sosial, budaya, dan tafsir agama—yang membatasi ruang ekspresi mereka dalam seni.

Di Antara Rapai dan Norma: Seni yang Tak Ramah Perempuan

Seni di Kampung Darussalam hidup bersama ritme harian masyarakat—menggema dalam tabuhan rapai, lantunan zikir, dan alunan tradisi yang mewarnai acara keagamaan maupun adat. Tapi denyut itu tak berdetak untuk semua. Di tengah semarak budaya itu, suara perempuan nyaris tak terdengar. Bukan karena mereka tak punya minat atau bakat, tapi karena ada sekat-sekat tak kasat mata yang membatasi langkah mereka untuk turut tampil sebagai pelaku seni.

BACA JUGA

Dari Meja yang Sama

Skate Park Stage Volume 1-8: Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

Seperti banyak kampung lain di Aceh, Darussalam masih memegang teguh adat dan norma agama sebagai tiang utama kehidupan sosial. Nilai-nilai itu, meski menjadi sumber kebanggaan, sering kali justru menempatkan perempuan dalam posisi pinggir—terutama dalam ranah kesenian. Seni pertunjukan publik masih dianggap “kurang pantas” bagi perempuan. Bahkan, tampil di depan umum bisa dicurigai sebagai tindakan yang mencederai kesopanan.

Padahal, seni adalah ruang ekspresi kultural yang lahir dari denyut pengalaman kolektif. Ia seharusnya terbuka untuk siapa saja yang ingin mencipta dan bersuara. Tapi kenyataan berbicara lain. Laki-laki lebih mudah diterima sebagai seniman—baik sebagai penabuh rapai, pemain drama, maupun pengelola kegiatan seni. Mereka bisa berlatih di tempat terbuka, tampil dengan percaya diri, dan mendapat pengakuan sosial. Sementara itu, perempuan justru ditekan oleh ekspektasi domestik: menjaga citra keluarga, tetap berada di ranah rumah, dan tidak sering-sering muncul di ruang publik.

Dalam iklim sosial seperti ini, perempuan dihadapkan pada dilema yang pelik. Hasrat berkesenian kerap terkubur oleh ketakutan akan pandangan tetangga, komentar dari keluarga, atau bahkan cibiran dari sesama perempuan. Ruang publik bukan sekadar tempat yang tak ramah, tapi juga penuh ranjau penghakiman.

Akibatnya, potensi mereka tak pernah tumbuh utuh. Dalam banyak kasus, perempuan yang berani berkesenian dicap sebagai “terlalu bebas”, “tak tahu diri”, atau “memalukan keluarga”. Label-label sosial itu menjadi beban yang tidak hanya mematikan semangat, tetapi juga menegaskan ketimpangan struktural antara laki-laki dan perempuan dalam ruang budaya lokal.

Di Balik Sekat Tak Kasat Mata: Mengapa Perempuan Tidak Diundang?

Mengapa seni terasa begitu jauh dari jangkauan perempuan di desa? Apakah ini hanya soal kurangnya minat atau kesempatan? Atau justru karena ada mekanisme sosial yang pelan-pelan tapi pasti, mendorong perempuan menjauh dari panggung?

Di kampung, kita tumbuh dengan narasi yang nyaris sama: laki-laki dibentuk untuk tampil dan memimpin, perempuan diarahkan untuk diam dan mendampingi. Dalam banyak keluarga, anak perempuan yang ingin ikut latihan rapai akan dianggap aneh. Anak perempuan yang menari terlalu luwes bisa dicap tak tahu malu. Dan ketika seorang gadis tampil menyanyi di depan umum, bahkan jika suaranya merdu sekalipun, tetap saja ada yang bergumam, “Kok nggak malu?”

Padahal, hambatan itu bukan soal bakat. Ia soal akses—siapa yang diberi izin, siapa yang diberi ruang, dan siapa yang diberi waktu. Linda Nochlin, seorang pemikir seni dari Barat, pernah menggugat sejarah seni yang tidak pernah menyebut nama-nama besar perempuan. Dalam esainya yang terkenal, Why Have There Been No Great Women Artists?, ia menyimpulkan bahwa ketidakhadiran perempuan dalam sejarah seni bukan karena mereka tak ada, tapi karena mereka tak diberi tempat.

Itulah yang terjadi juga di kampung kita. Ruang seni bukan tidak ada, tapi tidak terbuka untuk semua. Pelan-pelan, seni berubah jadi milik laki-laki, dan perempuan sekadar penonton—atau lebih sering, hanya disebut saat membawa nasi kenduri untuk para pemain.

Dalam kajian teori sosial, peran seperti ini tidak lahir begitu saja. Teori peran sosial yang dikemukakan oleh Eagly (1987) menjelaskan bahwa masyarakat membentuk ekspektasi tertentu pada laki-laki dan perempuan. Ketika perempuan bertindak di luar “pakem” itu—misalnya tampil di atas panggung atau menari di depan publik—mereka dianggap melanggar norma, bahkan jika tindakan itu sah dan berakar pada budaya sendiri.

Tekanan sosial ini makin berat ketika dibungkus oleh tafsir agama dan adat yang konservatif. Dalam studi Nurdin (2020), tubuh perempuan di ruang publik sering dianggap sebagai sumber fitnah. Aturannya tidak selalu tertulis, tapi sangat terasa: jangan terlalu sering ke luar rumah, jangan bepergian tanpa muhrim, jangan bersuara terlalu nyaring. Maka ketika perempuan menyanyi, menari, atau tampil dalam bentuk seni apa pun, yang pertama kali dipertanyakan bukan karyanya—tapi moralnya.

Di sinilah pentingnya kita memahami pendekatan interseksionalitas. Teori ini, yang dikembangkan oleh Kimberlé Crenshaw, menjelaskan bahwa pengalaman perempuan tidak bisa dilepaskan dari identitas-identitas lain yang melekat padanya—seperti latar sosial, agama, usia, bahkan tempat tinggal. Perempuan dari kota besar mungkin bisa menari dan bernyanyi tanpa banyak hambatan. Tapi perempuan desa? Hambatannya berlapis. Mereka tak hanya perempuan, tapi juga anak dari orang baik-baik, warga dari kampung yang taat, dan bagian dari keluarga yang dijaga nama baiknya siang malam.

Maka, banyak perempuan yang memilih diam. Bukan karena tak ingin bersuara, tapi karena tahu suaranya akan dipelintir, disalahkan, dan dihakimi. Mereka tahu panggung itu ada. Tapi mereka juga tahu, panggung itu bukan untuk mereka.

Merintis Jalan Pulang ke Panggung: Harapan yang Tidak Diam-Diam

Apa yang bisa kita harapkan dari semua ini? Apakah masih ada ruang bagi perempuan di kampung seperti Darussalam untuk ikut mencipta dan tampil sebagai seniman, tanpa harus dicurigai atau dibungkam?

Jawabannya mungkin belum terlalu jelas, tapi bukan berarti tidak ada. Perubahan sosial memang tidak terjadi secepat tepuk rapai. Tapi ia bisa dimulai dari hal kecil: dari percakapan di rumah, dari sikap seorang ibu yang tidak melarang anak perempuannya bernyanyi, dari tokoh adat yang memberi tempat latihan seni untuk semua, dari guru yang tidak hanya melatih teknik tapi juga menyemai keberanian.

Satu hal yang sangat penting adalah kehadiran ruang aman. Perempuan butuh tempat untuk belajar seni tanpa takut dinilai, dilabeli, atau diawasi dengan niat mengekang. Ruang ini tidak harus besar. Bahkan bisa dimulai dari teras rumah, dari pekarangan sekolah, atau dari komunitas kecil yang saling menguatkan. Yang dibutuhkan bukan kemewahan fasilitas, tapi kesediaan untuk membuka telinga dan hati.

Seni digital juga bisa jadi celah. Seperti ditunjukkan oleh Rahmawati (2022), banyak perempuan mulai berekspresi lewat media sosial, membagikan nyanyian, tarian, atau karya visual mereka kepada dunia yang lebih luas. Meski tantangan seperti seksisme daring tetap mengintai, dunia digital membuka kemungkinan baru yang tidak bergantung sepenuhnya pada restu lokal. Dunia maya, dengan segala problemnya, kadang bisa jadi pelarian yang menyelamatkan.

Namun, kita tidak bisa berharap semua perempuan kuat menghadapi stigma hanya karena ada YouTube atau TikTok. Justru tugas masyarakatlah menciptakan dukungan sosial yang nyata. Dukungan ini bisa datang dari keluarga, dari komunitas seni, dari lembaga pendidikan, bahkan dari pemerintah desa.

Perempuan di kampung bukan tidak bisa jadi seniman. Mereka hanya belum diberikan panggung yang cukup aman untuk melangkah. Dan bahkan ketika panggung itu mulai terbuka, masih ada terlalu banyak yang harus mereka bawa sendiri—keraguan, beban sosial, dan rasa bersalah yang tak semestinya mereka pikul.

Di titik ini, kita tidak sedang bicara soal emansipasi besar-besaran. Kita hanya sedang meminta satu hal sederhana: agar perempuan juga diizinkan mencintai seni dengan utuh, dan diakui haknya untuk berkarya tanpa harus merasa salah.

Seperti ditulis oleh Suryadi (2015), seni bukan sekadar hiburan atau estetika. Ia adalah ruang negosiasi makna, identitas, dan relasi sosial. Maka ketika perempuan dibungkam dalam seni, yang hilang bukan hanya satu suara, tapi satu perspektif tentang kehidupan.

Kalau seni memang cermin budaya, kita harus jujur bertanya: apakah kita ingin terus menatap cermin yang tak pernah memantulkan wajah perempuan secara utuh?

Sudah saatnya panggung itu diberi lampu yang terang. Bukan untuk menyorot perempuan sebagai tontonan, tapi untuk memberi mereka cahaya agar bisa tampil sebagai dirinya sendiri. Mungkin mereka belum datang ke panggung itu sekarang. Tapi jika kita mulai merintis jalannya hari ini, panggung itu akan terasa lebih dekat esok pagi. []

 
Tentang Penulis
Cut Ulan Nazli adalah mahasiswi Program Studi Sendratasik Universitas Syiah Kuala yang berasal dari Darussalam, Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen. Ia tumbuh di tengah tradisi kampung yang kental dengan nilai adat dan agama, namun tak pernah berhenti menyimpan kecintaan pada seni, terutama menyanyi. Melalui tulisan ini—yang disarikan dari proposal skripsinya—ia membuka suara tentang ketimpangan yang dihadapi perempuan dalam dunia seni desa. Dengan keberanian menulis dan refleksi yang jernih, Cut Ulan berupaya menjadikan pengalaman lokalnya sebagai pintu menuju perubahan sosial yang lebih inklusif dan adil.

Kurator naskah
Ari J.Palawi

Tags: acehArtikelDesaopiniperempuanSeniSeni Budaya
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Dari Meja yang Sama
SENI

Dari Meja yang Sama

by SAGOE TV
June 3, 2026
Skate Park Stage Volume 1-8 Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu
SENI

Skate Park Stage Volume 1-8: Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

by SAGOE TV
May 25, 2026
Tribute to Nyawöung Penghormatan untuk Legenda Musik Aceh Setelah 26 Tahun
SENI

Tribute to Nyawöung: Penghormatan untuk Legenda Musik Aceh Setelah 26 Tahun

by SAGOE TV
May 21, 2026
Apakah Seni Harus Dibisniskan? Dari Inkubator Seni USK, Kampus Mulai Membaca Kreativitas Secara Lebih Serius
SENI

Apakah Seni Harus Dibisniskan? Dari Inkubator Seni USK, Kampus Mulai Membaca Kreativitas Secara Lebih Serius

by Anna Rizatil
May 21, 2026
Menggunting dalam Lipatan
SENI

Menggunting dalam Lipatan

by Anna Rizatil
May 16, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

June 3, 2026
Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

June 3, 2026
IKAPI Aceh Tawarkan Aceh Book Fair di Konkernas

IKAPI Aceh Tawarkan Aceh Book Fair di Konkernas

June 4, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (2)

June 3, 2026
Dari Meja yang Sama

Dari Meja yang Sama

June 3, 2026
Muniru (Kehangatan dan Keakraban) Masyarakat Gayo

Muniru (Kehangatan dan Keakraban) Masyarakat Gayo

September 12, 2025
3.811 Peserta UTBK SNBT 2025 Lolos di USK, Jalur Mandiri Masih Dibuka

Jalur Mandiri USK 2026 Dibuka hingga 11 Juni, Ini Kesempatan Terakhir Masuk PTN

May 5, 2026
Skate Park Stage Volume 1-8 Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

Skate Park Stage Volume 1-8: Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

May 25, 2026
12.648 Peserta UTBK SNBT 2026 Ikuti Ujian di USK, Rektor Ingatkan Jangan Salah Lokasi

3.886 Peserta Lulus SNBT 2026 di USK, Ini Daftar Prodi Paling Diminati

May 26, 2026

EDITOR'S PICK

Sebulan Pascabencana, Warga Rimba Raya Bener Meriah Masih Hidup Tanpa Listrik

Sebulan Pascabencana, Warga Rimba Raya Bener Meriah Masih Hidup Tanpa Listrik

December 29, 2025
Aceh Besar Lepas Bibit Ikan, Dukungan Nyata Pelestarian Lingkungan dan Ketahanan Pangan

Aceh Besar Lepas Bibit Ikan, Dukungan Nyata Pelestarian Lingkungan dan Ketahanan Pangan

January 23, 2025
Presiden Prabowo Disambut WNI di Qatar, Diminta Dukung Timnas Indonesia U-17 di Piala Dunia

Presiden Prabowo Disambut WNI di Qatar, Diminta Dukung Timnas Indonesia U-17 di Piala Dunia

April 13, 2025
Gubernur Aceh Silaturahmi dengan Abuya Amran dan Ziarah Makam Abuya Muda Waly

Gubernur Aceh Silaturahmi dengan Abuya Amran dan Ziarah Makam Abuya Muda Waly

April 18, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.