• Tentang Kami
Friday, September 25, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Dari Konflik ke Damai, Wali Nanggroe Bawa Pelajaran Aceh ke Forum Dunia

SAGOE TV by SAGOE TV
September 25, 2026
in News
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Dari Konflik ke Damai, Wali Nanggroe Bawa Pelajaran Aceh ke Forum Dunia

Wali Nanggroe Aceh, Teungku Malik Mahmud Al-Haythar, membawa pelajaran perdamaian Aceh dari konflik menuju dialog, perundingan, kesepakatan damai dan rekonsiliasi, ke forum internasional Global Town Hall 2026. Foto: dok. LWN

Share on FacebookShare on Twitter

BANDA ACEH | SAGOE TV – Wali Nanggroe Aceh, Teungku Malik Mahmud Al-Haythar, membagikan pengalaman Aceh dalam mengakhiri konflik bersenjata melalui dialog politik, perundingan dan rekonsiliasi dalam forum internasional Global Town Hall 2026.

“Wali Nanggroe mengikuti forum tersebut secara daring dari Penang, Malaysia, dan tampil sebagai Discussant pada Session 7 bertajuk No Justice, No Humanity = No Peace,” kata Kabag Humas dan Kerjasama Wali Nanggroe, Zulfikar Idris, dalam keterangannya, Kamis, 24 September 2026.

BACA JUGA

Tokoh Pers Aceh Sjamsul Kahar Meninggal Dunia, Mualem dan Dek Fadh Sampaikan Duka Cita

200 Sarjana FSH UIN Ar-Raniry Lulus, 100 di Antaranya Tanpa Skripsi

Ia menyampaikan bahwa Global Town Hall 2026 yang diikuti Wali Nanggroe diselenggarakan secara virtual oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) pada Sabtu, 19 September 2026.

Dalam forum tersebut, Wali Nanggroe menyampaikan refleksi berdasarkan pengalaman langsung Aceh dalam melewati perjalanan panjang dari konflik bersenjata menuju dialog politik, perundingan, kesepakatan damai dan rekonsiliasi.

Global Town Hall 2026 merupakan edisi ketujuh forum dialog internasional yang diselenggarakan FPCI dengan melibatkan lembaga pemikir, universitas, organisasi masyarakat sipil dan institusi internasional.

Forum tahun ini mengangkat tema “Calling for a Global U-Turn: Recentering Development, Reclaiming Humanity, Restoring Justice in a Crazi(er) World” dan diikuti lebih dari 8.300 peserta dari lebih 120 negara.

Dalam pembukaan forum, Dr. Dino Patti Djalal, Founder and Chairman of FPCI, menyampaikan keprihatinan bahwa perkembangan dunia semakin menjauh dari prinsip-prinsip yang selama ini menopang perdamaian dan kerja sama internasional.

Dino menyoroti semakin mudahnya aturan dan hukum internasional diabaikan, meningkatnya penggunaan kekuatan dalam perselisihan, serta bertambahnya konflik di berbagai belahan dunia.

Melalui gagasan “Global U-Turn”, FPCI menyerukan perlunya mengembalikan pembangunan, keadilan, kemanusiaan serta prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa ke pusat kehidupan dan kerja sama internasional.

Dalam konteks tersebut, pengalaman perdamaian Aceh menjadi salah satu perspektif yang dibawa ke dalam percakapan internasional.

Pada sesi No Justice, No Humanity = No Peace, Wali Nanggroe tampil bersama Pita Limjaroenrat, Senior Fellow di Harvard Kennedy School, dan Bob Deen, General Director pada Netherlands Institute of International Relations Clingendael. Diskusi dimoderatori Galip Dalay, Senior Research Fellow di Chatham House dan Co-Director Global Orders Programme, University of Oxford.

Wali Nanggroe tercantum dalam agenda resmi Global Town Hall sebagai “Wali Nanggroe & Former Prime Minister of Aceh Free Movement (GAM)” dan hadir sebagai salah seorang Discussant.

Berbeda dengan perspektif akademik mengenai konflik dan perdamaian, Wali Nanggroe membawa pengalaman langsung seorang pelaku sejarah yang menjalani proses transformasi Aceh dari konflik menuju perdamaian.

Sebelum perdamaian Aceh, Tgk. Malik Mahmud pernah mengemban tanggung jawab sebagai Menteri Negara dan kemudian Perdana Menteri Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Di bawah kepemimpinan Dr. Hasan Muhammad di Tiro, ia kemudian memimpin delegasi GAM dalam proses perundingan Helsinki.

Pada 15 Agustus 2005, Malik Mahmud menandatangani Memorandum of Understanding Helsinki atas nama Gerakan Aceh Merdeka, bersama Hamid Awaludin atas nama Pemerintah Republik Indonesia, dengan mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari sebagai saksi dan fasilitator proses perdamaian.

Lebih dari dua dekade kemudian, pengalaman tersebut menjadi dasar refleksi Malik Mahmud di Global Town Hall 2026 mengenai hubungan antara perdamaian, keadilan, kemanusiaan, dialog politik dan penghormatan terhadap komitmen.

Dalam komentarnya, Wali Nanggroe menegaskan bahwa pengalaman Aceh menunjukkan perdamaian tidak dapat dimaknai hanya sebagai berakhirnya konflik bersenjata.

“Peace is not simply the moment when weapons become silent. Peace begins when political courage makes dialogue possible, and it survives when justice, dignity and commitments are respected.”

Menurutnya, perdamaian yang berkelanjutan memerlukan keberanian politik untuk membuka dialog, kesediaan para pihak mendengar satu sama lain, penghormatan terhadap martabat manusia, serta konsistensi menjalankan komitmen yang telah disepakati.

Salah satu pelajaran penting dari perjalanan Aceh adalah bahwa konflik politik yang berkepanjangan pada akhirnya memerlukan jalan keluar politik. Ketika penggunaan kekuatan tidak menghasilkan penyelesaian berkelanjutan, para pihak harus memiliki keberanian untuk duduk bersama, berbicara, mendengar dan mencari titik temu.

“Negotiation is not surrender. Dialogue is not weakness. Compromise, when it protects dignity and opens a path away from violence, can be an act of political courage.”

Wali Nanggroe menjelaskan bahwa proses Helsinki membutuhkan keputusan politik yang tidak mudah dari para pihak. Peran mediasi yang kredibel juga penting. Martti Ahtisaari bersama Crisis Management Initiative (CMI) menyediakan ruang dan kerangka perundingan yang memungkinkan persoalan sulit dibicarakan secara serius.

Namun, menurut Malik Mahmud, mediator tidak dapat menciptakan perdamaian apabila para pihak sendiri tidak mempunyai kemauan politik. Keputusan meninggalkan konflik bersenjata dan memilih jalan damai harus lahir dari para pihak itu sendiri.

Karena itu, pengalaman Aceh bukan formula yang dapat diterapkan secara identik pada setiap konflik. Setiap konflik memiliki sejarah dan konteks masing-masing. Namun, konflik yang mempunyai akar politik memerlukan ruang politik yang kredibel untuk membicarakan keluhan, kepentingan, martabat dan masa depan para pihak.

Wali Nanggroe juga mengingatkan bahwa penandatanganan sebuah kesepakatan bukanlah akhir dari proses perdamaian.

“Signing a peace agreement can take a day. Building trust can take generations.”

Menurutnya, setelah kesepakatan ditandatangani dimulai tanggung jawab yang lebih panjang: membangun kepercayaan, memperkuat institusi, melakukan rekonsiliasi dan memastikan komitmen perdamaian dilaksanakan secara konsisten.

Implementasi kesepakatan perdamaian tidak boleh dipandang hanya sebagai persoalan administratif. Setiap komitmen yang dilaksanakan akan memperkuat kepercayaan, sementara persoalan yang belum terselesaikan perlu terus ditangani melalui dialog, kesabaran, mekanisme hukum dan tanggung jawab politik.

Bagi Aceh, menjaga perdamaian berarti terus merawat komunikasi dan kepercayaan yang menjadi fondasi transformasi dari konflik bersenjata menuju kehidupan politik yang damai dan demokratis.

Dalam refleksinya, Malik Mahmud juga menekankan bahwa rekonsiliasi tidak berarti menghapus sejarah atau meminta masyarakat melupakan penderitaan selama konflik.

Masyarakat yang pernah mengalami konflik tidak dapat diminta berpura-pura bahwa masa lalu tidak pernah terjadi. Namun, generasi setelah konflik mempunyai tanggung jawab memastikan penderitaan masa lalu tidak terus menentukan masa depan anak-anak dan generasi berikutnya.

Di sinilah, menurut Wali Nanggroe, keadilan dan kemanusiaan bertemu. Keadilan memberikan keyakinan bahwa martabat dan keluhan yang sah mendapat tempat dalam proses politik. Kemanusiaan memungkinkan pihak-pihak yang pernah berhadapan mengakui penderitaan dan martabat satu sama lain.

Sementara dialog menjadi jembatan yang memungkinkan perbedaan dan pertentangan diselesaikan melalui proses politik yang damai.

Pesan Wali Nanggroe memiliki keterkaitan dengan seruan “Global U-Turn” yang disampaikan Dr. Dino Patti Djalal. Jika Global Town Hall menyerukan dunia kembali menempatkan pembangunan, keadilan dan kemanusiaan di pusat hubungan internasional, pengalaman Aceh menunjukkan bagaimana dialog politik, penghormatan terhadap martabat dan pembangunan kepercayaan dapat menjadi bagian dari transformasi konflik.

Malik Mahmud menegaskan bahwa dialog tidak mengharuskan masyarakat menghapus sejarah. Rekonsiliasi tidak mengharuskan korban melupakan penderitaan, dan perdamaian tidak mengharuskan semua pihak mempunyai pandangan politik yang sama.

Yang dibutuhkan adalah kesediaan menempatkan masa depan bersama di atas keberlanjutan konflik.

Wali Nanggroe merangkum refleksi perdamaian Aceh melalui empat prinsip: Justice gives peace legitimacy. Humanity gives peace meaning. Dialogue makes peace possible. Faithful implementation keeps peace alive.

Partisipasi Wali Nanggroe dalam Global Town Hall 2026 membawa pengalaman perdamaian Aceh ke dalam percakapan internasional mengenai keadilan, kemanusiaan dan penyelesaian konflik.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa transformasi dari konflik menuju perdamaian bukan hanya mengenai penghentian kekerasan, tetapi juga keberanian politik untuk berdialog, penghormatan terhadap martabat, pembangunan kepercayaan dan kesungguhan menjaga komitmen perdamaian.

Pandangan yang disampaikan Wali Nanggroe merupakan refleksi berdasarkan pengalaman perjalanan perdamaian Aceh dan kontribusi terhadap dialog perdamaian internasional.

Tags: AcehDamaiduniaForumGlobalInternasionalkonflikPerdamaianWali Nanggroe
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Tokoh Pers Aceh Sjamsul Kahar Meninggal Dunia, Mualem dan Dek Fadh Sampaikan Duka Cita
News

Tokoh Pers Aceh Sjamsul Kahar Meninggal Dunia, Mualem dan Dek Fadh Sampaikan Duka Cita

by SAGOE TV
September 24, 2026
200 Sarjana FSH UIN Ar-Raniry Lulus, 100 di Antaranya Tanpa Skripsi
News

200 Sarjana FSH UIN Ar-Raniry Lulus, 100 di Antaranya Tanpa Skripsi

by SAGOE TV
September 24, 2026
Dosen USK Latih 46 Siswa SMKN 3 Banda Aceh Produksi Ecoprint dari Daun dan Bunga
News

Dosen USK Latih 46 Siswa SMKN 3 Banda Aceh Produksi Ecoprint dari Daun dan Bunga

by SAGOE TV
September 24, 2026
Aceh Dapat Dukungan Rp27 Miliar untuk Jaga Hutan, Dek Fadh Dorong Tata Kelola REDD+ Diperkuat
News

Aceh Dapat Dukungan Rp27 Miliar untuk Jaga Hutan, Dek Fadh Dorong Tata Kelola REDD+ Diperkuat

by SAGOE TV
September 24, 2026
Dulu Jalan Kaki 10 Km ke Sekolah, Kini Andriy Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun
News

Dulu Jalan Kaki 10 Km ke Sekolah, Kini Andriy Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun

by SAGOE TV
September 24, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

UIN Ar-Raniry Kukuhkan 9 Guru Besar, Jumlah Profesor Kini 65 Orang

UIN Ar-Raniry Kukuhkan 9 Guru Besar, Jumlah Profesor Kini 65 Orang

September 23, 2026
Sjamsul Kahar Berpulang, Pendiri Serambi Indonesia dan Tokoh Pers Aceh Tutup Usia 80 Tahun

Sjamsul Kahar Berpulang, Pendiri Serambi Indonesia dan Tokoh Pers Aceh Tutup Usia 80 Tahun

September 24, 2026
150 Peserta Ikuti Bimtek Literasi Informasi di Aceh Singkil, Ini Kemampuan yang Dilatih

150 Peserta Ikuti Bimtek Literasi Informasi di Aceh Singkil, Ini Kemampuan yang Dilatih

September 23, 2026
Momentum Baru bagi Universitas Syiah Kuala: Menata Kembali Tempat Seni dalam Ekosistem Akademik

Literasi dan Apresiasi Seni: Menghidupkan yang Nyaris Terbiasa Dilupakan

March 27, 2026
Ratusan Warga Aceh Besar Antusias Berobat Gigi Gratis di Aksi Kaninus 16 FKG USK

Ratusan Warga Aceh Besar Antusias Berobat Gigi Gratis di Aksi Kaninus 16 FKG USK

September 19, 2026
Aceh dan Krisis Jarak; Ketika Nilai Besar Semakin Jauh dari Kehidupan Sehari-hari

Aceh dan Krisis Jarak; Ketika Nilai Besar Semakin Jauh dari Kehidupan Sehari-hari

September 15, 2026
Aceh Raih Peringkat Keempat MTQ Nasional 2026, Dek Fadh Beri Bonus Rp200 Juta untuk Kafilah

Aceh Tembus 4 Besar MTQ Nasional 2026, Ini Daftar Lengkap Para Juara

September 23, 2026
3 Santriwati Insan Qurani Bawa Aceh Juara 1 Fahmil Qur’an MTQ Nasional 2026

3 Santriwati Insan Qurani Bawa Aceh Juara 1 Fahmil Qur’an MTQ Nasional 2026

September 23, 2026
FH USK Edukasi Hukum Pornografi bagi Siswa

FH USK Edukasi Hukum Pornografi bagi Siswa

September 23, 2026

EDITOR'S PICK

KIP Banda Aceh Tetapkan Illiza dan Afdhal Paslon Terpilih

KIP Banda Aceh Tetapkan Illiza dan Afdhal Paslon Terpilih

January 9, 2025
Pj Sekda Pimpin Gladi Kotor Penyambutan Kontingen PON XXI

Pj Sekda Pimpin Gladi Kotor Penyambutan Kontingen PON XXI

August 24, 2024
Aksi Heroik Siswa SD di Nagan Raya Panjat Tiang Bendera, Bupati Apresiasi

Aksi Heroik Siswa SD di Nagan Raya Panjat Tiang Bendera, Bupati Apresiasi

August 17, 2025
Dinamika Santri Generasi Alpha

Dinamika Santri Generasi Alpha

March 15, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.