• Tentang Kami
Wednesday, August 12, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Etnografi Kematian Selama Pandemi Covid-19

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad by Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
March 24, 2025
in Artikel
Reading Time: 3 mins read
A A
0
pandemi covid19
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam beberapa bulan terakhir, hampir setiap hari kita mendengarkan berita kematian. Salah satu sebabnya adalah kematian yang diakibatkan oleh Covid-19.

Namun, dalam artikel pendek ini saya ingin memahami bagaimana kematian dimaknai oleh sebagian masyarakat. Dalam bahasa Aceh, mati diistilahkan dengan mate. Biasanya dimaknai sebagai kembali kepada Allah. Untuk mengabarkan kematian, biasanya diungkapkan dengan kalimat “si fulan ka geutinggai geutanyoe” atau “si fulan ka geuwoe bak Allah.” Makna disini lebih diartikan seseorang telah meninggalkan orang yang masih hidup atau seseorang sudah pulang menuju Allah Swt.

Karena itu, mate (mati) dalam budaya orang Aceh sesuatu yang menyedihkan tetapi tidak berlarut-larut hingga harus meratapi. Karena seseorang yang meninggal, rupanya dia yang berangkat terlebih dahulu. Di sini ruhnya yang berangkat menuju alam barzakh. Masyarakat di sekitar akan berdatangan untuk bertakziah atau sekedar untuk fardhu kifayah.

Demikiankalah potret fenomenan kematian di dalam masyarakat Aceh. Namun ada hal yang menarik ketika kematian selama Covid 19. Kematian ini seolah-olah bersahut-sahutan. Kendati belum dipastikan karena Covid-19, namun dalam dua bulan terakhir, meunasah atau masjid, kerap menyiarkan berita kematian.

BACA JUGA

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

Masyarakat kerap bertanya, soe lom yang meninggai (siapa lagi yang meninggal). Apakah meninggal karena  Covid-19. Pernyataan ini menyiratkan tentang berita kematian menjadi informasi yang paling banyak juga dibagikan di media sosial. Berita yang saling bersahut-sahutan ini lantas memberikan sinyal bahwa kematian, jangan-jangan sudah seperti hal yang lumrah selama pandemic Covid-19. Berita kematian agak sedikit berbeda dengan masa konflik, dimana kematian selalu menakutkan dan menyedihkan. Terkadang mayat diletakkan di pinggir jalan. Tidak sedikit pula jenazah yang menjadi sasaran peluru. Kematian saat konflik di Aceh seolah-olah menjadi teror bagi masyarakat.

Sebaliknya, berita kematian di media sosial menjadi hal baru. Sebab, berita tersebut terkadang memberikan pesan kedukaan secara virtual.  Dulu orang meninggal ditandai dengan tabuhan beduh. Setelah itu, berita kematian disampaikan di meunasah atau masjid. Hanya warga setempat yang tahu tentang berita kematian. Ada juga saat berita kematian harus dikirimkan melalui telegram atau via kendaraan. Terkadang, berita kematian sampai ke yang dituju setelah beberapa hari jenazah dikebumikan di kampung.

Sekarang, setiap ada berita kematian di media sosial, kita seperti wajib untuk meresponnya. Bahkan ada fenomena-fenomena, semakin besar pengaruh orang yang meninggal, semakin banyak yang mengucapkan ucapan belasungkawa. Sebaliknya, jika yang meninggal orang biasa atau tidak memiliki penagruh, maka ucapan belasungkawa tidak begitu banyak.

Ucapan belasungkawa pun tidak cukup dengan ucapan lisan, perlu ucapan tulisan dan tidak menutup kemungkinan perlu diberikan papan bunga. Terkadang, keluarga yang sedang berduka, sedikit terhibur dengan papan bunga yang datang dari pejabat, pengusaha, dan kelompok elit sosial lainnya. Jadi, terkadang kematian pun menjadi ajang untuk memperlihatkan status sosial seseorang.

Inilah kemudian yang mengindikasikan bahwa kematian tidak sesederhana yang dibayangkan. Ada banyak aspek dalam berita kematian dewasa ini. Terlebih lagi dalam masa pandemic Covid-19. Ada jenazah yang sudah diketahui positif terjangkiti penyakit ini. Ada pula mayit yang belum diketahui hasil pemeriksaan Covid-19, tetapi dimakamkan secara protokol kesehatan. Tidak sedikit pula yang dikebumikan secara protokol kesehatan, namun hasil pemeriksaannya adalah negatif. Intinya, kematian dan penyebabnya ternyata menjadi bagian konflik sosial saat ini. Kondisi kematian harus menyesuaikan dengan protokol kesehatan. Di sini, persoalan kesehatan pun berhadapan dengan persoalan keagamaan, khususnya dalam persoalan fardhu kifayah.

Karena itu, etnografi kematian menjadi topik baru dalam penelitian sosial antropologi di Aceh. Terlebih lagi jika dikaitkan dengan Acehnologi (Studi Keacehan).

Sebab, kajian kematian di Aceh memang belum banyak dilakukan oleh para peneliti. Bagaimana mate  (mati) dimaknai oleh masyarakat Aceh. Apa yang menjadi dasar pemahaman orang Aceh tenta.ng kehidupan paska-kematian.

Data untuk etnografi kematian memang tidak begitu sulit, karena tinggal mengikuti setiap ada ritual kematian di dalam masyarakat. Ada yang ingin menyegerakan untuk mengkebumikan jenazah, tanpa menanti sanak famili yang ingin melihat wajah mayit untuk terakhir kali. Tidak sedikit pula, jenazah harus ditunda untuk ditandu, karena persoaan teknis; menukar uang untuk membayar jama’ah yang akan shalat jenazah, menunggu imam kampung yang belum hadir, dan menunggu salah satu anggota  keluarga yang masih dalam perjalanan.

Masalah-masalah di atas tentu akan memperkaya pemahaman kita tentang berita kematian yang sedang melanda masyarakat kita, tidak hanya di Aceh, tetapi juga di seantero Nusantara. Pemahaman yang dimaksud adalah cara berpikir masyarakat ketika menghadapi berita kematian selalam pandemic Covid-19. Persoalan Covid-19 pun sudah melebar pada wilayah ekonomi, politik, agama, dan pertahanan keamanan bangsa Indonesia. Jadi, mau tidak mau, persoalan berita kematian pun tidak akan luput dari persoalan tersebut.

Bayangkan saja seorang yang bekerja di istana, harus mengomentari berita kematian di rumah sakit, jangan sampai dicovidkan. Demikian pula, seorang dokter tidak bosan-bosan menyampaikan pencerahan tentang Covid-19, hingga kita agak sudah memahami, apakah dia masih rasional atau emosional. Persoalan memandikan jenazah pun sudah menjadi isu nasional saat ini di Indonesia.

Demikianlah narasi singkat tentang bagaimana wajah kematian selama pandemic Covid-19 dalam beberapa bulan terakhir di republik ini. Kematian menjadi berita lokal hingga internasional. Hanya saja, kita belum ada survei tentang keadaan rumah tangga yang anggota keluarga mereka meninggal dunia, akibat Covid-19.

Tentu saja persoalan paska-kematian lebih komplek, dibandingkan dengan saat berita kematian itu sendiri. Tidak sedikit anak-anak menjadi yatim atau piatu.

Demikian pula, angkat janda dan duda yang meningkat tajam. Persoalan ekonomi di dalam keluarga pun menjadi hal baru yang harus dihadapi oleh keluarga tersebut. Singkat kata, berita kematian selama pandemi Covid-19 benar-benar telah mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan di sekitar kita. Mungkin ini yang disebut dengan new-normal.

Tags: covid-19pandemi
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad adalah Antropolog. Berdomisili di Aceh.

Related Posts

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO
Artikel

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

by SAGOE TV
June 11, 2026
Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Artikel

Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?

by SAGOE TV
July 5, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Kemiskinan di Aceh Naik Jadi 12,34 Persen, Jumlah Penduduk Miskin Bertambah 10.400 Orang

Kemiskinan di Aceh Naik Jadi 12,34 Persen, Jumlah Penduduk Miskin Bertambah 10.400 Orang

August 6, 2026
Ketika Banyak Orang Mengeluh, SPS Revival Memilih Membangun

Ketika Banyak Orang Mengeluh, SPS Revival Memilih Membangun

August 7, 2026
Calvin Ho

Paradoks Aceh: Mengapa Kekayaan Alam Tidak Menjadi Kemakmuran?

August 7, 2026
Makna Cinta, di Antara Cut Nyak Dhien & Kahlil Gibran

Makna Cinta, di Antara Cut Nyak Dhien & Kahlil Gibran

August 6, 2026
MTsN 2 Banda Aceh Luncurkan Tujuh Buku Karya Siswa dan Guru, Cetak Generasi Penulis Sejak Dini

MTsN 2 Banda Aceh Luncurkan Tujuh Buku Karya Siswa dan Guru, Cetak Generasi Penulis Sejak Dini

August 8, 2026
Bahlil Lantik Mawardi Nur sebagai Kepala BPMA, Pimpin Pengelolaan Migas Aceh

Bahlil Lantik Mawardi Nur sebagai Kepala BPMA, Pimpin Pengelolaan Migas Aceh

August 5, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Prodi Ekonomi Syariah UIA Jalani Asesmen LAMEMBA, Dorong Peningkatan Mutu Dosen dan Lulusan

Prodi Ekonomi Syariah UIA Jalani Asesmen LAMEMBA, Dorong Peningkatan Mutu Dosen dan Lulusan

August 11, 2026
USK Jajaki Kolaborasi dengan Mubadala Energy, Fokus Pengembangan SDM dan Mahasiswa

USK Jajaki Kolaborasi dengan Mubadala Energy, Fokus Pengembangan SDM dan Mahasiswa

August 7, 2026

EDITOR'S PICK

Menaker Yassierli Tugas Magang Harus Relevan dengan Pendidikan, Ini Alasannya

Menaker Yassierli: Tugas Magang Harus Relevan dengan Pendidikan, Ini Alasannya

April 23, 2026
Simeulue Bersiap Jadi Kekuatan Ekonomi Kelas Dunia, Perlu Bandara Kargo untuk Dorong Ekonomi Maritim dan Pariwisata

Simeulue Bersiap Jadi Kekuatan Ekonomi Kelas Dunia, Perlu Bandara Kargo untuk Dorong Ekonomi Maritim dan Pariwisata

November 1, 2025
gubernur aceh muzakir manaf (mualem) bersama presiden prabowo

Prabowo Resmikan Bendungan Keureuto dan Rukoh, Mualem: Sangat Bermanfaat bagi Aceh

July 11, 2026
Wagub Aceh Tinjau Muara Dangkal Kuala Idi, Nelayan Keluhkan Sulit Keluar Masuk Pelabuhan

Wagub Aceh Tinjau Muara Dangkal Kuala Idi, Nelayan Keluhkan Sulit Keluar Masuk Pelabuhan

November 8, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.