SAGOETV | BANDA ACEH – Forum Komunikasi Doktor Aceh (FKDA) akan menggelar Forum Group Discussion (FGD) perdana sebagai langkah awal setelah terbentuknya organisasi ini. Ketua Panitia FGD, Dr. Muhammad Syarif, MA, mengungkapkan bahwa kegiatan ini akan berlangsung pada Selasa, 11 Februari 2025, bertempat di Pustaka Wilayah Aceh. Acara dijadwalkan berlangsung dari pukul 14.00 WIB hingga 17.00 WIB.
FGD ini dirancang sebagai wadah diskusi ilmiah yang akan diadakan secara rutin setiap bulan dengan fokus utama membedah visi-misi pemerintahan baru di Aceh. Kegiatan ini juga bertujuan untuk memberikan masukan konstruktif kepada Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih, Muzakir Manaf dan Fadhlullah (Mualem-Dek Fadh), demi kemajuan pembangunan daerah, terutama di sektor pendidikan.
Sebagai topik utama dalam FGD perdana ini, FKDA memilih tema pendidikan, mengingat perannya yang sangat penting dalam mencetak generasi unggul Aceh di masa depan. Untuk itu, panitia menghadirkan tiga narasumber yang memiliki keahlian di bidang pendidikan, masing-masing akan membahas aspek berbeda terkait pengembangan sistem pendidikan di Aceh.
Bahas Isu Strategis Pendidikan
Narasumber pertama, Prof. Dr. Saifullah Idris, MA, seorang akademisi senior dari UIN Ar-Raniry, akan menyampaikan konsep pengembangan pendidikan dayah sebagai bagian dari sistem pendidikan Aceh. Ia akan menyoroti strategi agar dayah tetap eksis dan memiliki tata kelola yang profesional, tanpa kehilangan nilai-nilai kearifan lokalnya sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Asia Tenggara.
Sementara itu, narasumber kedua, Dr. M. Syukur, M.Ag, seorang praktisi sekaligus pegawai Kementerian Agama Aceh, akan membahas pendidikan agama secara umum di Aceh. Fokus utama paparannya adalah bagaimana membangun sistem pendidikan agama yang lebih baik, yang dapat berintegrasi dengan sistem pendidikan nasional tanpa menghilangkan ciri khas keislaman Aceh.
Adapun narasumber ketiga, Dr. Mohd. Ilyas, M.Pd, akademisi dari Universitas Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Bireuen, akan membahas konsep pendidikan berbasis kearifan lokal. Sebagai mantan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, ia akan memaparkan gagasannya tentang bagaimana nilai-nilai budaya dan tradisi lokal dapat menjadi fondasi dalam kurikulum pendidikan di Aceh, guna memperkuat identitas dan daya saing generasi muda Aceh.
Kegiatan ini akan dihadiri oleh pengurus dan anggota FKDA, serta aktivis dan mahasiswa kependidikan dari berbagai perguruan tinggi di Banda Aceh. Hingga Minggu, 9 Februari 2025, panitia telah menerima banyak pendaftaran dari peserta yang antusias mengikuti diskusi ini. Syarif mengajak siapa pun yang berminat untuk segera mendaftar agar panitia dapat mengatur tempat dan konsumsi dengan baik.
“Bagi yang berminat mengikuti FGD ini, silakan mendaftar melalui nomor WhatsApp panitia di 085277204885. Dengan begitu, kami bisa memastikan ketersediaan tempat duduk, ruangan yang memadai, serta konsumsi untuk para peserta,” ujar Syarif yang juga merupakan akademisi Universitas Serambi Mekkah.
Selain peserta dari kalangan akademisi dan mahasiswa, panitia juga berharap Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih, Mualem-Dek Fadh, dapat hadir langsung dalam acara ini. Kehadiran mereka dinilai sangat penting agar dapat mendengar langsung berbagai rekomendasi dari para pakar pendidikan untuk memperbaiki sistem pendidikan di Aceh.
“Kami mengundang Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih agar dapat mendengar langsung diskusi perdana FKDA ini dari para ahlinya. Dengan demikian, rekomendasi yang muncul dalam FGD ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan pendidikan ke depan,” tambahnya.
FKDA merupakan forum akademisi yang terdiri dari para doktor di berbagai bidang keilmuan dari seluruh Aceh. Organisasi ini terbentuk sebagai wadah bagi para akademisi untuk berkontribusi dalam pembangunan Aceh melalui kajian ilmiah dan diskusi strategis. FKDA sebelumnya dikenal sebagai kelompok akademisi yang pada 19 September 2024 lalu mendeklarasikan dukungan kepada pasangan calon Mualem-Dek Fadh dalam Pemilihan Gubernur Aceh. Deklarasi tersebut berlangsung di Kriyad Hotel Banda Aceh dan dihadiri langsung oleh calon wakil gubernur, Fadhlullah, serta tim suksesnya.
Sebagai forum akademik, FKDA berkomitmen untuk tetap bersikap kritis dan objektif dalam memberikan masukan kepada pemerintah, termasuk melalui FGD bulanan yang akan menjadi agenda tetap mereka. Dengan adanya diskusi berkala ini, diharapkan berbagai persoalan penting di Aceh dapat dibahas dan diselesaikan melalui pendekatan ilmiah serta berbasis data.
Kegiatan FGD ini diharapkan dapat menjadi ruang diskusi yang produktif bagi berbagai kalangan, terutama dalam memberikan kontribusi nyata terhadap perbaikan sektor pendidikan di Aceh. Panitia berharap hasil dari diskusi ini dapat dirangkum dalam bentuk rekomendasi kebijakan yang nantinya dapat disampaikan kepada pihak eksekutif maupun legislatif di Aceh.
Dengan komitmen yang kuat dari akademisi serta keterlibatan aktif para pemangku kepentingan, FKDA optimistis bahwa pendidikan di Aceh dapat berkembang lebih baik, sesuai dengan kebutuhan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya dan agama yang menjadi identitas masyarakat Aceh.
“Kami ingin memastikan bahwa pendidikan di Aceh ke depan lebih maju, lebih terarah, dan berbasis pada nilai-nilai yang menjadi jati diri kita. Inilah tujuan utama FGD ini, dan kami berharap dukungan dari semua pihak untuk menyukseskannya,” tutup panitia. [CEM]