Oleh Dr. Sehat Ihsan Shadiqin.
Dosen Sosiologi Agama UIN Ar Raniry Banda Aceh.
Hari ini saya janjian dengan seorang kawan untuk minum kopi pagi. Kawan ini seorang ustaz dengan jadwal ceramah yang lumayan padat. Meskipun kami sering bersua, baru kali ini kami merencanakan minum kopi pagi.
“Kita ngopi di mana?” tanya saya.
“Saya biasanya di warung kopi premium di depan kantor dinas,” katanya.
Saya segera menuju warung kopi dimaksud. Saya pernah ngopi di sana sebelumnya sehingga tidak terlalu asing. Seperti kebanyakan warung kopi lain, warung ini berupa dua pintu toko yang digabungkan. Di depannya (yang seharusnya menjadi tempat parkir) dibangun kanopi panjang. Saya dan pengunjung lain harus memarkir kendaraan di badan jalan.
Ustaz meminta maaf karena agak terlambat. Di rumahnya listrik masih padam dan air belum mengalir. Sejak banjir Aceh 27 November lalu, kehidupan belum sepenuhnya normal, bahkan di Banda Aceh yang tidak terdampak banjir.
“Kupi phet sikhan,” pesan saya kepada pelayan setelah duduk.
Warung kopi ini dipenuhi kursi plastik murah berwarna biru. Mejanya lumayan bagus, terbuat dari besi stainless tebal dan mengilap. Pagi itu hampir semua kursi terisi. Mungkin karena kawasan warung kopi ini mendapat giliran hidup listrik. Orang-orang datang bukan hanya untuk ngopi, tetapi juga untuk mengecas ponsel, laptop, menyalakan kipas, lampu darurat, dan berbagai peralatan elektronik lainnya.
Saat pelayan mengantarkan pesanan saya, seorang kawan lain, Pak Din, datang dan bergabung di meja. Ia memesan kopi yang sama dan berkata kepada pelayan, “Neuba kuweh beh” (bawa kue juga ya). Namun ketika pesanan datang, tidak ada kue. Kata pelayan, kue-kue sudah habis.
Beberapa menit kemudian ustaz tiba. Setelah meminta maaf karena terlambat, ia duduk di salah satu kursi. Dua menit setelah itu, segelas sanger datang ke meja. Ia berkata kepada pelayan, “Neuba kuweh beh.” Pelayan segera pergi dan kembali membawa beberapa piring kue.
Pak Din langsung merespons, “Bagaimana bisa tiba-tiba ada kue ketika ustaz datang, padahal dari tadi kami minta katanya sudah habis?”
Ustaz tersenyum.
“Saya minum kopi di sini hampir setiap pagi, sudah beberapa tahun. Saya memesan minuman yang sama dan duduk di tempat yang sama. Tidak perlu mengatakan apa-apa kepada pelayan, dia sudah tahu,” kata ustaz menjelaskan.
“Lihatlah,” kata Pak Din. “Sekarang semua butuh ordal ‘orang dalam’. Di warung kopi saja seperti itu, bagaimana kalau di luar sana?”
Di jalan-jalan sekarang banyak orang menunggu gas. Antrian memanjang jauh lebih panjang dari kenangan. Orang-orang berdiri di samping tabung, menunggu giliran menukarkannya dengan yang telah berisi. Mereka tidak sedang menunggu barang gratis bantuan pemerintah, melainkan membelinya dengan harga resmi. Mereka juga tidak meminta diskon. Namun hasilnya, mereka harus menahan lelah dan sakit.
Gas teramat penting saat ini. Ia yang membuat dapur kembali mengepul. Panas, hujan, bahkan geulanteu tidak membuat barisan ini bubar. Mereka tetap bertahan sampai tabung itu terisi. Manajemen yang buruk, pasokan terbatas, dan kongkalikong aparat bejat yang serakah membuat ribuan orang harus menderita.
Pak Din bercerita tentang tetangganya yang tidak mengantri sama sekali. Siang kemarin ia menelepon Pak Anu dan bilang butuh gas: dua tabung besar dan empat tabung kecil. Pak Anu menyuruhnya mengantar tabung ke rumah. Sore hari sudah bisa diambil semuanya terisi.
“Harganya?” tanya saya.
“Sama-sama maklum lah,” katanya. “Itulah gunanya ada orang dalam.”
Kami duduk di warung kopi itu lebih dari satu jam. Sepanjang waktu itu saya mendengarkan cerita tentang bagaimana “orang dalam” bekerja di masa sulit ini. Mereka bekerja untuk dirinya, keluarganya, dan sisa-sisa tenaganya untuk orang-orang yang membayar pajak yang membiayai gaji dan fasilitas hidup mereka. Namun untuk kelompok terakhir itu, Pak Anu akan meminta bayaran lebih, atau ya… ikut antre di terik itu.
“Jadi, kue ini perlu bayar lebih?” tanya saya kepada ustaz, sebab ia memesan kue sebagai “orang dalam”.
“Tidak perlu. Hari ini saya yang traktir,” katanya.
Lalu kami pun bubar, menuju tempat kerja masing-masing.
Di dalam mobil, saya mulai berpikir: bagaimana caranya punya orang dalam?[]



















