• Tentang Kami
Friday, September 4, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Manusia dan Kerusakan Lingkungan

Sulaiman Tripa by Sulaiman Tripa
March 20, 2025
in Artikel
Reading Time: 4 mins read
A A
0
sulaiman tripa

Dr Sulaiman Tripa

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Sulaiman Tripa.
Dosen FH Unsyiah, Kopelma Darussalam, Banda Aceh.

Setiap memperingati hari bumi, ada satu hal krusial yang sering didiskusikan, yakni mengenai keberadaan manusia dengan segenap kebutuhan sumber dayanya. Hal ini tentu tidak sederhana, karena bertambahnya penduduk dengan berlipat ganda. Kemarin dalam kolom ini, saya sebut betapa pertambahan penduduk sangat luar biasa dalam setengah abad terakhir.

Pertambahan penduduk dengan berlipat ganda ini bisa kita lihat dalam pertambahan penduduk yang terjadi dari tahun ke tahun. Penduduk dunia, kini sudah lebih 7 miliar. Pada tahun 2025 diperkirakan penduduk mencapai 8,3 miliar. Tahun 800 SM, penduduk dunia hanya 5 juta. Tahun 1650 sudah mencapai 500 juta. Angka 1 miliar didapat sejak 1830. Satu abad kemudian (1930), penduduk bumi mencapai 2 miliar. Hanya berselang 30 tahun (1960), sudah mencapai 3 miliar. Lalu berturut-turut 4 miliar (1975), dan 5 miliar (1987).

BACA JUGA

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

Dengan jelas tergambar, betapa di awal-awal pertambahan penduduk 500 juta harus dilalui dalam waktu 1500 tahun. Namun coba lihat diakhir, pertambahan 1 miliar penduduk dunia hanya berlangsung dalam waktu sekitar 12 tahun saja.

Di Indonesia sendiri, pertambahan penduduk juga luar biasa. Pada tahun 1900, jumlah penduduk Indonesia sejumlah 40 juta. Berturut-turut menjadi 60 juta (1930), 95 juta (1960), 180 juta (1990), 210 juta (2000), 235 (2010), dan diperkirakan pada 2035 sudah mencapai 400 juta.

Tulisan ini tidak ingin melihat lebih jauh dalam perspektif politik dan ideologis, namun difokuskan pada masalah pengaruh budaya konsumtif dalam kerusakan lingkungan.

Dalam konteks politik, bisa jadi ada ketimpangan yang luar biasa sedang berlangsung antara negara maju dengan negara berkembang. Regulasi global lebih banyak ”mengorbankan” negara berkembang demi kepentingan global. Artinya negara berkembang lebih banyak memasang badan untuk menyelamatkan bumi.

Demikian juga dalam konteks ideologis, misalnya program-program pembatasan ketat penduduk hanya berlaku pada masyarakat ideologi tertentu. Dalam lingkup yang lebih yang lebih luas, konteks ideologi ini juga berhubungan dengan politik demografi global.

Tulisan ini ingin mengenyampingkan persoalan tersebut. Ada kenyataan yang tidak bisa ditepis, bahwa ”ledakan” penduduk sedang terjadi –terlepas apa dan bagaimana diskusi yang berlangsung di belakang proses pelipatgandaan penduduk tersebut.

Bila saja pelipatgandaan ini tidak bersentuhan dengan berbagai aspek lain, maka sungguh ”ledakan” penduduk bukanlah hal yang perlu dicemaskan. Masalahnya adalah, pertambahan penduduk memiliki konsekuensi kepada meningkatnya berbagai kebutuhan bagi manusia dalam kehidupannya. Masalah yang berkaitan dengan tulisan ini lebih khusus, bukan saja pada kebutuhan, tapi pada ’ketamakan’ konsumtif manusia, di mana untuk kebutuhan seorang bisa sebanding dengan puluhan orang lainnya.

Kebutuhan paling penting dalam hidup manusia adalah pangan, sandang, dan papan. Peningkatan penduduk membawa pengaruh langsung terhadap peningkatan kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Sebagaimana kita tahu, bahwa pangan, sandang, dan papan, berkaitan erat dengan kondisi lingkungan.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan, manusia cenderung berperilaku seperti ”catok” (cangkul). Proses pemenuhan kebutuhan ini berlangsung seperti sebuah laga, sebuah tanding yang keinginan akhir adalah dapat memenuhi kebutuhannya secara maksimal. Namun bila dihitung-hitung, kebutuhan maksimal manusia ini lebih kentara berkaitan dengan gaya hidup manusia. Orang berusaha sekuat tenaga bukan karena butuh makan, pakaian, dan tempat tinggal. Semakin banyak orang menginginkan kemewahan karena persoalan ”pertarungan” gaya hidup.

Corak kehidupan manusia seperti ini, hakikat dari mengentalnya budaya konsumtif dalam kehidupan kita. Perilaku seperti inilah yang kemudian akan turut mempercepat proses kerusakan lingkungan. Peningkatan kerusakan akan semakin gila-gilaan dengan semakin meningkatnya orang yang memiliki tingkat konsumtif tinggi.

Barangkali, disadari atau tidak, betapa banyak orang-orang yang memiliki tabiat makan berlebihan, rumah supermewah, maupun pakaian yang serba mahal. Untuk memasak makanan di restoran seorang berkantong tebal, bisa saja setara dengan kebutuhan orang sekampung. Beriring dengan itu, kebutuhan energi untuk pendingin dan lampu ruangan di rumah mewah, barangkali sebanding dengan kebutuhan listrik orang semukim.

Di samping itu, banyak rumah-rumah besar itu hanya berpenghuni dua hingga empat orang, dengan menghabiskan energi setara dengan kebutuhan pendudukan satu kecamatan. Barangkali sudah dianggap wajar bila kebutuhan satu orang dengan tipe konsumtif, setara dengan kebutuhan banyak orang di sekelilingnya.

Pada akhirnya, penyelamatan lingkungan harus berjalan seiring dengan penataan pola hidup juga. Orang yang mengkampanyekan lingkungan, harus benar-benar berkomitmen tidak melakukan perbuatan yang bisa membawa ke arah yang merusak lingkungan.

Dalam dunia yang didominasi oleh politik hiburan, kenyataan kondisi jiwa yang terbelah sering terjadi. Kampanye lingkungan hidup terus dilakukan dengan melibatkan orang-orang ternama. Kampanye lingkungan disandingkan dengan selebritas. Tidak jarang, orang-orang yang dijadikan simbol kampanye lingkungan, sebenarnya memiliki mental perusak lingkungan yang nomor wahid.

Konsep perusakan lingkungan juga terus didatarkan. Seolah-olah yang termasuk perusak hanya para pelaku saja. Padahal dari bahan yang diproduksi dari sumberdaya lingkungan hidup, akan dipakai oleh manusia kebanyakan.

Di sinilah kaitannya antara budaya konsumtif dan kerusakan lingkungan. Orang-orang yang memiliki kekayaan, mengisi pernak-pernik rumahnya dari sesuatu yang berbahan kayu pilihan. Dapat dibayangkan betapa besar kebutuhan kita dari kayu sebagai bahan dasarnya.

Lebih memilih untuk memakai tissue daripada sapu tangan, bukan karena persoalan praktis –satu kata yang semakin keras terdengar dalam era ini, melainkan juga karena ada persoalan gaya hidup. Orang yang memakai sapu tangan sudah tampak seperti orang ketinggalan zaman. Kira-kira, contoh ini persis seperti orang-orang yang pergi ke pasar menenteng keranjang. Sekarang ini, semuanya bisa diisi dengan kantong berbahan plastik –dan lagi-lagi tampak bahwa orang yang rajin menenteng keranjang sudah ketinggalan zaman. Sementara plastik yang memenuhi bumi beresiko kepada tidak bisa berlangsungnya proses penguraian.

Ada semacam kegundahan terhadap dicap sebagai ketinggalan zaman bila memakai produk-produk daur ulang. Padahal tanpa melakukan daur ulang, sesungguhnya sedang terjadi perilaku yang mengeksploitasi alam terus-menerus.

Orang yang tidak dominan memakai produk daur ulang, bukan karena tidak menyadari betapa pentingnya menyelamatkan lingkungan di masa depan. Perilaku tersebut lebih berkaitan dengan gaya hidup, agar tidak dicap sebagai orang-orang yang ”murahan” karena memakai barang-barang yang harganya lumayan murah.

Akhir-akhir ini, menjadi semacam momentum untuk selalu mengingatkan kita agar terus berusaha melakukan revolusi dalam penyelamatan lingkungan. Revoluasi itu bisa dilakukan secara sederhana, yakni menahan diri dari godaan gaya hidup. Kita bisa membayangkan bila satu orang saja bisa mengurangi sepertiga kebutuhannya dari hasil yang bisa merusak alam, betapa besar usaha penyelamatan yang telah kita lakukan.[]

Tags: kerusakanlingkunganManusia
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Sulaiman Tripa

Sulaiman Tripa

Sulaiman Tripa adalah analis sosial legal dan kebudayaan. Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala.

Related Posts

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO
Artikel

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

by SAGOE TV
June 11, 2026
Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Artikel

Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?

by SAGOE TV
July 5, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

August 28, 2026
Kabar Baru untuk Calon Dokter di Aceh, UIN Ar-Raniry Resmi Buka Prodi Kedokteran

Kabar Baru untuk Calon Dokter di Aceh, UIN Ar-Raniry Resmi Buka Prodi Kedokteran

September 2, 2026
Haji Uma Minta RUU Migas Tak Geser Kewenangan Aceh dalam Pengelolaan Migas

Haji Uma Minta RUU Migas Tak Geser Kewenangan Aceh dalam Pengelolaan Migas

August 31, 2026
Bank Aceh Syariah Rombak Direksi, Syahrul Diberhentikan dari Jabatan Direktur Operasional

Bank Aceh Syariah Rombak Direksi, Syahrul Diberhentikan dari Jabatan Direktur Operasional

September 3, 2026
9 Ulama Terpilih Jadi AHWA Muktamar ke-35 NU, Ada Rais Syuriyah PWNU Aceh

9 Ulama Terpilih Jadi AHWA Muktamar ke-35 NU, Ada Rais Syuriyah PWNU Aceh

August 31, 2026
Merdeka Versi Wirausaha Muda, Hubbika House Creative Ajak Pelajar Banda Aceh Belajar Bisnis

Merdeka Versi Wirausaha Muda, Hubbika House Creative Ajak Pelajar Banda Aceh Belajar Bisnis

August 31, 2026
SPS Revival Usung Meutaloe Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut

SPS Revival Diversifikasi Program lewat SPS Talk #1: Membaca Seni di Ruang Publik

August 31, 2026
Bahasa Aceh Terancam Kehilangan Ruang di Kalangan Generasi Muda, Pemerintah Aceh Perkuat Pelestarian

Bahasa Aceh Terancam Kehilangan Ruang di Kalangan Generasi Muda, Pemerintah Aceh Perkuat Pelestarian

August 12, 2026
Setelah Dislokasi Epistemik Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

August 31, 2026

EDITOR'S PICK

Update Korban Ledakan KMP Aceh Hebat 2: Enam Orang Masuk Kamar Operasi

Update Korban Ledakan KMP Aceh Hebat 2: Enam Orang Masuk Kamar Operasi

June 13, 2026
Kakak Beradik Asal Pidie Ini Nikmati Ibadah Haji di Usia Muda

Kakak Beradik Asal Pidie Ini Nikmati Ibadah Haji di Usia Muda

July 7, 2025
BPS Catat Aceh Alami Deflasi 0,15 Persen pada Januari 2026

BPS Catat Aceh Alami Deflasi 0,15 Persen pada Januari 2026

February 6, 2026
PPTIM Surati Presiden Prabowo Minta Batalkan Kepmendagri dan Kembalikan 4 Pulau ke Aceh

PPTIM Surati Presiden Prabowo Minta Batalkan Kepmendagri dan Kembalikan 4 Pulau ke Aceh

June 17, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.