Oleh: ANDRI SAFRIZAL
Alumnus STIAPEN
Karya ini ditulis oleh para penulis muda yang tengah berada dalam proses pencarian dan pematangan bentuk keilmuan masing-masing. Sikap kritis dan ketajaman analisis menjadi ciri khas yang menandai tulisan-tulisan mereka. Gagasan yang dihadirkan lahir dari kegelisahan akademik yang jujur dan mendalam, tanpa dibebani kepentingan lain selain upaya memahami dan merespons realitas sosial yang mereka hadapi.
Melalui kata kunci “Islam” dan “Aceh”, para penulis berusaha menawarkan beragam perspektif atas dinamika sosial, budaya, dan keagamaan yang sedang berlangsung. Tulisan-tulisan dalam buku ini tidak dimaksudkan sebagai pemikiran yang final atau penutup dari perjalanan intelektual para penulis. Sebaliknya, karya ini lebih tepat dipahami sebagai rekam jejak proses berpikir, pengalaman intelektual, dan dialektika gagasan yang terus bergerak dan berkembang. Karena itu, pandangan-pandangan yang disampaikan bersifat terbuka, reflektif, dan memungkinkan untuk terus diperdebatkan serta diperkaya seiring waktu.
Tulisan-tulisan dalam buku ini menyoroti berbagai isu kekinian yang berkembang di Aceh. Pasca tsunami, setidaknya muncul tiga isu pokok yang terus membentuk dinamika sosial Aceh, yakni keislaman, keacehan dan keindonesiaan. Pola penyesuaian masyarakat terhadap ketiga ranah tersebut berlangsung secara kompleks dan dinamis, sering kali saling beririsan sekaligus memunculkan ketegangan.
Dalam konteks keislaman, perdebatan mengemuka mengenai bagaimana ajaran Islam dijalankan, dimaknai dan dilembagakan dalam kehidupan masyarakat Aceh. Sementara itu, diskursus keacehan membawa persoalan identitas ke permukaan, terutama terkait jati diri orang Aceh di tengah perubahan sosial dan politik. Adapun pada ranah keindonesiaan, isu integrasi antara Aceh dan Indonesia masih menjadi problem laten yang terus dipertanyakan dan dinegosiasikan.
Buku ini dapat dibaca sebagai kumpulan gagasan progresif dalam upaya memahami Aceh kontemporer secara lebih jernih dan mendalam. Ide-ide progresif yang ditawarkan tidak dimaksudkan untuk menentang tatanan masyarakat normatif yang telah ada, melainkan untuk mengisi ruang-ruang kosong dalam rekayasa budaya yang selama ini cenderung “diagamakan” secara formalistik. Para penulis berusaha menghadirkan tawaran pemikiran yang mendorong pembacaan ulang terhadap hubungan antara Islam, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat Aceh.
Dalam konteks ini, buku ini menyiratkan pentingnya kontribusi spirit Islam yang membumi, hadir sebagai nilai etis dan kesadaran moral, bukan semata-mata sebagai seperangkat aturan legal-formal. Regulasi dan formalisasi memang dapat membentuk masyarakat yang normatif, tetapi di tengah laju perubahan sosial yang semakin cepat, pendekatan tersebut kerap gagal menjangkau lapisan terdalam masyarakat Aceh, yakni dimensi batin dan kesadaran. Karena itu, gagasan-gagasan dalam buku ini mengajak pembaca untuk melihat Islam dan Aceh sebagai pengalaman hidup yang terus bergerak, bukan sekadar objek pengaturan hukum. Pemahaman inilah yang menjadi kunci ketika membuka halaman demi halaman buku ini, sebagai sebuah ajakan reflektif untuk meresapi makna Islam dan keacehan secara lebih substantif.
Judul Buku : Islam, Formalisasi Syariat Islam Dan Post-Islamisme Di Aceh
Penulis : Muhammad Alkaf, Mulyadi, Mukhlisuddin Ilyas, Fadhli Espece, Almuzanni, Zulfata, Zahlul Pasha, Khairul Akbar, Khairil Miswar, Yogi Febriandi, Ramli Cibro, M. Mirza Ardi, Zulfikar Riza Haris Pohan, Miswari, Noviandy, Muhammad Ansor, Muhammad Jafar Sulaiman
Pengantar : Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Ph.D
Penerbit : Bandar Publishing
ISBN : 978-623-7081-20-3
Cetakan : 2019
Jumlah Halaman : xviii + 211 Halaman
Pemesanan Buku : +62811-688-801




















