• Tentang Kami
Monday, August 10, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Mengantar Si Perantau Cilik: Sebuah Perjalanan Melepaskan, Sebuah Pelajaran Mengikhlaskan

SAGOE TV by SAGOE TV
June 26, 2026
in Opini
Reading Time: 5 mins read
A A
0
Risnawati Ridwan ASN Pada Dinas Sosial Kota Banda Aceh

Risnawati Ridwan. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Risnawati Ridwan
ASN pada Dinas Sosial Kota Banda Aceh

Awal tahun baru Hijriah kali ini terasa berbeda bagi keluarga kami. Biasanya pergantian tahun hanya diisi dengan doa-doa sederhana dan harapan agar kehidupan menjadi lebih baik. Namun kali ini, ada sebuah keputusan besar yang harus kami ambil. Keputusan yang tidak hanya menguras pikiran, tetapi juga menguji hati kami sebagai orang tua.

Si bungsu, anak perempuan kami yang selama ini selalu berada dalam pelukan keluarga, akan melanjutkan pendidikan di sebuah pondok putri di Jawa Timur. Jarak antara Kota Banda Aceh dan Jawa Timur mencapai sekitar 2.376 kilometer. Angka itu mungkin hanya terlihat sebagai deretan digit di peta. Namun bagi kami, angka itu adalah gambaran tentang ribuan kilometer kerinduan yang akan terbentang di antara kami dan anak kami.

BACA JUGA

Pengadilan Digital dan Krisis Literasi Ketenagakerjaan

Memutus Mata Rantai Korupsi dari Hulu Demokrasi

Tidak mudah mengambil keputusan tersebut. Berkali-kali kami berdiskusi. Berkali-kali pula muncul keraguan. Mampukah ia hidup jauh dari rumah? Mampukah kami menahan rasa rindu? Namun di balik semua pertanyaan itu, kami sadar bahwa ada masa depan yang harus diperjuangkan. Ada pendidikan dan karakter yang ingin kami titipkan kepada sebuah lembaga yang kami percaya. Perjalanan pun dimulai jauh sebelum kami benar-benar berangkat.

Sebagai orang tua yang berstatus abdi negara pada instansi pemerintah daerah, perjalanan lintas pulau bukanlah perkara sederhana. Kami harus berhitung cermat. Biaya transportasi menjadi salah satu pertimbangan terbesar. Berhari-hari kami membandingkan berbagai pilihan perjalanan. Setelah mempertimbangkan waktu, biaya, dan kenyamanan, akhirnya kami memilih kombinasi transportasi udara dan kereta api. Pilihan kereta api menjadi sesuatu yang menarik. Bagi kami mungkin biasa saja karena sudah pernah mengalami, tetapi bagi si bungsu, ini adalah pengalaman pertama dalam hidupnya. Selama ini ia hanya melihat kereta api melalui televisi, buku pelajaran, atau video di internet. Kini ia akan merasakan sendiri sensasi duduk di dalam gerbong yang melaju di atas rel.

Sepanjang perjalanan, wajahnya tampak penuh rasa ingin tahu. Ia berkali-kali menatap keluar jendela, memperhatikan pemandangan yang terus berganti. Sawah, perkampungan, sungai, hingga deretan rumah-rumah yang melintas cepat menjadi tontonan yang tidak membosankan baginya. Mungkin saat itu ia belum sepenuhnya memahami bahwa perjalanan tersebut bukan sekadar perjalanan wisata. Itu adalah awal dari babak baru kehidupannya.

Sesampainya di kota tujuan, culture shock pertama langsung menyapa. Perbedaan waktu terasa sangat nyata. Jika di Aceh kami biasa bangun untuk salat Subuh sekitar pukul 05.30 pagi, maka di sini azan Subuh telah berkumandang sekitar pukul 03.45. Pada pagi pertama, kami terbangun dengan perasaan bingung.

“Ini sudah Subuh?” Kami saling berpandangan.

Rasanya seperti dibangunkan untuk sahur pada bulan Ramadan. Langit masih sangat gelap. Udara dingin menyelimuti. Namun suara azan yang menggema dari berbagai arah memastikan bahwa hari memang sudah dimulai. Hal sederhana seperti waktu ternyata mampu membuat kami merasa benar-benar berada di tempat yang berbeda.

Karena tiba di pondok pada malam hari, kami memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu di penginapan yang banyak tersedia di sekitar pondok. Penginapan-penginapan itu unik. Sebagian besar merupakan rumah pribadi milik warga yang disulap menjadi tempat menginap bagi wali santri. Rumah-rumah tradisional Jawa yang luas disekat menjadi beberapa kamar sederhana.

Bagi kami yang berasal dari Aceh, suasana tersebut terasa sangat berbeda. Rumah-rumah itu didominasi kayu dengan lorong panjang ke belakang. Dinding bermotif, warna cat menyerupai kayu alami, serta pencahayaan yang temaram menciptakan suasana khas pedesaan Jawa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Kamar mandi biasanya berada di bagian paling belakang rumah. Untuk mencapainya harus melewati lorong panjang yang membuat kami seolah sedang berjalan menembus waktu menuju masa lalu. Meski sederhana, suasana itu justru menghadirkan kehangatan tersendiri.

Keesokan harinya, agenda utama dimulai. Kami membawa berbagai barang yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari dari kampung halaman. Tas, koper, kardus, dan berbagai perlengkapan lainnya memenuhi kendaraan yang kami tumpangi menuju pondok.

Saat itulah saya menyadari sesuatu. Beberapa tahun sebelumnya, saya pernah mengantar abang si bungsu masuk pondok. Saya mengira pengalaman tersebut akan membuat proses kali ini lebih mudah. Ternyata saya salah. Menyiapkan kebutuhan santri putri jauh berbeda dibandingkan santri putra. Jika kebutuhan santri putra bisa diringkas dalam beberapa koper, maka kebutuhan santri putri seolah memiliki daftar tanpa akhir. Mulai dari pakaian, perlengkapan ibadah, perlengkapan mandi, alat tulis, hingga berbagai pernak-pernik kecil yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Setiap kali kami merasa daftar sudah lengkap, selalu ada tambahan baru. Dan entah bagaimana, semua barang itu dianggap penting.

Proses pendaftaran berlangsung di aula lantai satu masjid yang berada di dalam kompleks pondok. Syukurlah kami telah melakukan pendaftaran online sejak beberapa waktu sebelumnya sehingga sebagian besar proses administrasi menjadi lebih mudah. Kami langsung menuju meja pemberkasan. Berkas hardcopy diserahkan dan dicocokkan dengan dokumen yang telah diunggah secara daring. Setelah itu kami menyelesaikan berbagai tahapan administrasi lain, mulai dari pembayaran, penentuan asrama, hingga pembuatan berbagai kartu. Ada kartu tabungan santri. Ada kartu paket. Ada kartu SPP. Ada kartu laundry. Dan masih ada beberapa kartu lainnya yang membuat kami sempat bercanda bahwa menjadi santri ternyata juga membutuhkan sistem administrasi yang cukup kompleks. Setelah semua selesai, kami melanjutkan dengan membeli berbagai kebutuhan logistik seperti kasur, bantal, seragam sekolah, dan buku pelajaran. Namun sesungguhnya, semua proses itu hanyalah pemanasan.

Bagian tersulit justru datang setelahnya. Saat anak kami harus memasuki asrama. Di pondok ini, orang tua tidak diperbolehkan memasuki area asrama, kamar santri, maupun ruang kelas. Kebijakan tersebut tentu menimbulkan berbagai reaksi di kalangan wali santri. Sebagian mendukung. Sebagian lainnya merasa keberatan. Namun pondok tetap konsisten menjalankan aturan tersebut. Ananda dan beberapa teman-temanya didampingi asatidz berjalan meninggalkan pelataran masjid menuju asrama yang jauh di belakang. Kami bersama orang tua lainnya melihat mereka berjalan menuju mimpinya merasa ada kepingan yang hilang di hati. Air mata tidak terbendung melihat mereka, seakan-akan tidak akan bertemu kembali. Padahal anak-anak masih bisa berjumpa dengan orang tuanya setelah membereskan barang-barang di asramanya.

Bagi kami, aturan itu terasa berat. Sebagai orang tua, ada dorongan alami untuk memastikan tempat tidur anak nyaman, lemarinya rapi, atau sekadar melihat kondisi kamarnya. Tetapi kali ini kami harus belajar melepaskan. Belajar percaya. Belajar bahwa ada proses pendidikan yang membutuhkan ruang bagi anak untuk tumbuh mandiri. Selama tiga hari masa pendampingan, kami tinggal di Balai Penerimaan Tamu atau yang lebih dikenal dengan Bapenta.

Tempat ini menjadi rumah sementara bagi ratusan wali santri. Ruangan besar tersebut menyediakan tempat beristirahat, area menginap, hingga fasilitas kamar mandi yang cukup memadai. Semuanya dapat digunakan secara gratis. Di sinilah kami bertemu dengan banyak orang tua lain dari berbagai daerah di Indonesia. Meski berbeda suku dan bahasa, kami memiliki kesamaan perasaan, sama-sama sedang belajar merelakan anak-anak kami. Pertemuan dengan santri pun dibatasi sesuai jadwal yang telah ditentukan. Anak-anak hanya dapat datang ke Bapenta pada waktu tertentu, seperti saat makan siang, makan malam, atau waktu istirahat dari kegiatan belajar.

Setiap kali si bungsu muncul di pintu Bapenta, kami langsung mencari wajahnya di antara kerumunan santri. Setiap kali waktu kunjungan berakhir, kami kembali belajar menahan rasa berat saat melihatnya berjalan kembali menuju asrama.

Lalu tibalah hari yang paling kami hindari. Hari perpisahan. Hari ketika kami benar-benar harus meninggalkan anak kami di pondok. Pada saat itulah kami kembali mengingat filosofi yang selalu disampaikan pimpinan pondok kepada para wali santri: TITIP.

Tega, karena orang tua harus berani berpisah dan menahan kerinduan.

Ikhlas, karena anak harus diberi kesempatan untuk dididik dan ditempa.

Tawakal, karena setelah ikhtiar dilakukan, perlindungan terbaik datang dari Allah SWT.

Ikhtiar, karena dukungan dan doa tidak boleh berhenti meskipun jarak memisahkan.

Percaya, karena pondok berusaha membentuk anak-anak menjadi pribadi yang berilmu, mandiri, dan bermanfaat.

Lima kata sederhana itu terdengar mudah saat diucapkan. Namun ketika tiba waktunya meninggalkan anak di gerbang pondok, kami baru memahami betapa berat maknanya. Perjalanan pulang terasa jauh lebih sunyi dibandingkan perjalanan berangkat. Kursi yang sebelumnya ditempati si bungsu kini kosong. Tidak ada lagi suara pertanyaannya yang tiada habisnya. Tidak ada lagi celotehnya sepanjang perjalanan. Yang tersisa hanyalah doa-doa yang terus kami panjatkan dalam diam.

Setelah perjalanan panjang yang menguras tenaga, emosi, dan pikiran, kami akhirnya kembali ke kampung halaman. Namun sesungguhnya, perjalanan itu belum selesai. Ia baru saja dimulai. Karena menjadi orang tua ternyata bukan hanya tentang membesarkan anak di rumah. Kadang-kadang, menjadi orang tua berarti berani melepaskan mereka pergi jauh demi masa depan yang lebih baik. Dan di antara ribuan kilometer yang memisahkan kami dengan si perantau cilik, kami terus berharap dan berdoa semoga seluruh ikhtiar ini menjadi jalan yang mengantarkan anak-anak kami tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan salehah, berilmu, berakhlak, serta kelak mampu memberi manfaat bagi banyak orang.

Tags: AnakopiniPelajaranPerantauanPesantrenpondoksantri
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Pengadilan Digital dan Krisis Literasi Ketenagakerjaan_Risnawati Ridwan
Opini

Pengadilan Digital dan Krisis Literasi Ketenagakerjaan

by SAGOE TV
August 3, 2026
Memutus Mata Rantai Korupsi dari Hulu Demokrasi
Opini

Memutus Mata Rantai Korupsi dari Hulu Demokrasi

by SAGOE TV
August 1, 2026
LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh
Opini

LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

by SAGOE TV
July 29, 2026
Putri Saleh ASN Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh Bidang perlindungan Khusus Anak.
Opini

Jangan Biarkan Masa Depan Anak Berjalan Sendiri

by SAGOE TV
July 30, 2026
Risnawati Ridwan ASN Pada Dinas Sosial Kota Banda Aceh
Opini

Film Teach You a Lesson: Sebab yang Perlu Dididik Kadang Bukan Anak, tetapi Orang Dewasa

by SAGOE TV
July 21, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Kemiskinan di Aceh Naik Jadi 12,34 Persen, Jumlah Penduduk Miskin Bertambah 10.400 Orang

Kemiskinan di Aceh Naik Jadi 12,34 Persen, Jumlah Penduduk Miskin Bertambah 10.400 Orang

August 6, 2026
Ketika Banyak Orang Mengeluh, SPS Revival Memilih Membangun

Ketika Banyak Orang Mengeluh, SPS Revival Memilih Membangun

August 7, 2026
Calvin Ho

Paradoks Aceh: Mengapa Kekayaan Alam Tidak Menjadi Kemakmuran?

August 7, 2026
Bahlil Lantik Mawardi Nur sebagai Kepala BPMA, Pimpin Pengelolaan Migas Aceh

Bahlil Lantik Mawardi Nur sebagai Kepala BPMA, Pimpin Pengelolaan Migas Aceh

August 5, 2026
Makna Cinta, di Antara Cut Nyak Dhien & Kahlil Gibran

Makna Cinta, di Antara Cut Nyak Dhien & Kahlil Gibran

August 6, 2026
MTsN 2 Banda Aceh Luncurkan Tujuh Buku Karya Siswa dan Guru, Cetak Generasi Penulis Sejak Dini

MTsN 2 Banda Aceh Luncurkan Tujuh Buku Karya Siswa dan Guru, Cetak Generasi Penulis Sejak Dini

August 8, 2026
Kemarau Picu Krisis Air Bersih di Aceh Besar, Perumdam Tirta Mountala Siapkan Solusi Jangka Panjang

Kemarau Picu Krisis Air Bersih di Aceh Besar, Perumdam Tirta Mountala Siapkan Solusi Jangka Panjang

August 5, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Sangerday Fest 2026 Digelar di Museum Tsunami Aceh, Ini Jadwal dan Rangkaian Acaranya

Sangerday Fest 2026 Digelar di Museum Tsunami Aceh, Ini Jadwal dan Rangkaian Acaranya

August 8, 2026

EDITOR'S PICK

Fatwa Radikal

Fatwa Radikal

March 20, 2025
Zaman Batu dalam Perang Narasi AS-Iran

Zaman Batu dalam Perang Narasi AS-Iran

April 5, 2026
Pemantauan Hilal Awal Ramadhan Aceh

Hilal Awal Ramadhan 1446 H di Aceh Penuhi Kriteria Imkanur Rukyat MABIMS

February 28, 2025
Pengangguran di Aceh Capai 157 Ribu Orang

Pengangguran di Aceh Capai 157 Ribu Orang

August 8, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.