• Tentang Kami
Sunday, May 10, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Model Permodalan Alternatif, Solusi Perekonomian Masyarakat Aceh

SAGOE TV by SAGOE TV
March 15, 2025
in Artikel
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Jabal Ali Husin Sab

Jabal Ali Husin Sab

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Jabal Ali Husin Sab
Analisis Kebijakan Publik Saman Strategic Indonesia.

Salah satu faktor yang menjadi stimulus utama dalam aktivitas ekonomi; baik dalam upaya menaikkan taraf perekonomian, memberantas kemiskinan maupun dalam upaya mendorong tumbuhnya kewirausahaan (entrepreneurship) adalah permodalan atau pembiayaan dari bank atau lembaga keuangan lainnya.

BACA JUGA

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

Jika kita merujuk kepada pola pembiayaan lembaga keuangan konvensional, baik bank pemerintah, bank swasta maupun lembaga keuangan lain yang meminjamkan sejumlah uang, maka kita akan menemukan sejumlah hal yang bisa dikatakan menjadi kendala, khususnya bagi usahawan yang belum dan baru memulai usaha, maupun kalangan penduduk dari taraf kehidupan paling miskin yang hendak membangun sebuah usaha.

Pinjaman bank pada umumnya mensyaratkan agunan atau jaminan untuk dapat meminjam sejumlah uang dengan mekanisme pembayaran uang harus diangsur sejak bulan pertama setelah sejumlah uang dipinjamkan dengan lama pembayaran angsuran yang relatif terbatas.

Bank atau lembaga keuangan lain juga mensyaratkan usaha yang telah berjalan untuk dapat meminjam sejumlah uang. Sistem pembiayaan seperti ini tidak akan melahirkan usahawan yang benar-benar baru, melainkan hanya mengembangkan usaha milik usahawan atau pelaku UMKM yang telah memulai usahanya. Padahal kita menginginkan lahirnya banyak usahawan baru, menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan taraf hidup penduduk miskin dengan memberi kesempatan bagi mereka menjalankan usaha.

Jika pinjaman uang hanya diberikan atas jaminan agunan, tentu sedikit sekali kelompok masyarakat yang mampu. Sudah pasti model pinjaman seperti ini hanya menguntungkan bagi mereka yang punya aset ataupun mereka yang mampu, hanya saja tidak punya aset cair.

Baca Juga:  Bantuan Alsintan dari Kementan Disalurkan untuk Petani 3 Kabupaten di Aceh

Pembiayaan Mikro (Microfinance)
Untuk itu disini saya terinspirasi dengan Grameen Bank yang didirikan oleh Muhammad Yunus di Bangladesh. Grameen Bank memberikan pinjaman kepada penduduk miskin untuk menjalankan usaha dengan pinjaman yang relatif kecil atau disebut dengan microfinance atau pembiayaan mikro. Di Bangladesh, Grameen Bank telah berhasil menghidupkan banyak usaha baru dan efektif dalam menanggulangi kemiskinan di negara tersebut.

Kira-kira satu tahun lalu, saya mendengar di YouTube bahwa Ray Dalio, seorang milyuner, investor sukses dan tokoh filantropi di Amerika Serikat mempromosikan konsep microfinance ini melalui Grameen Bank America.

Menariknya, Grameen Bank yang awalnya didirikan di Bangladesh kemudian ditiru konsepnya dan didirikan di Amerika Serikat dengan pendanaan melalui filantropi. Ray Dalio sendiri menjadi salah satu founder dan board di Grameen Bank America.

Di Amerika Serikat, setidaknya mereka telah meminjamkan uang sejumlah 2 miliar US Dollar dengan rata-rata peminjam mendapatkan pinjaman sebesar 4.200 US Dollar atau setara dengan 65 juta rupiah. Uniknya, tingkat pengembalian pinjaman mencapai 99 persen, lebih besar dari pengembalian pinjaman dari kredit-kreditnya para konglomerat.

Ray Dalio menjelaskan bahwa pinjaman yang diberikan tersebut jumlahnya sebesar yang dibutuhkan untuk memulai suatu usaha. Misal, memberikan pinjaman sebesar yang dibutuhkan untuk membeli mesin cuci bagi yang ingin memulai bisnis laundry. Sesederhana itu.

Hanya saja selama ini perhatian lembaga keuangan untuk memberikan pinjaman mikro yang bermaksud mengembangkan usaha mikro terbilang kecil. Penduduk miskin yang tidak memiliki aset apapun untuk dijadikan agunan tidak mendapat kesempatan mengakses pembiayaan dari bank.

Kemudian dalam microfinance di Grameen Bank America, lama tenor atau masa pinjaman pun dipanjangkan agar uang terus berputar di masyarakat. Lama pinjaman bisa mencapai hingga 10 tahun. Dengan makin lama tenor pinjaman, maka si peminjam bisa terus memanfaatkan pinjamannya untuk terus diputar dan digunakan dalam membangun usahanya. Disamping itu, beban harian untuk membayar tagihan pun terbilang menjadi relatif kecil karena beban waktu peminjaman lama.

Baca Juga:  Yusril Dukung Daud Beureu’eh Jadi Pahlawan Nasional: Pejuang RI Sejati

Jika memang bank-bank daerah kita, semisal Bank Aceh dan BPR Mustaqim membuat sebuah layanan perbankan baru berupa pembiayaan mikro atau microfinance semacam model Grameen Bank seperti yang telah saya jelaskan di atas, atau memang dibangun bank perkreditan khusus mikro lainnya, saya percaya bahwa masalah kemiskinan di Aceh dapat teratasi dengan melahirkan banyak usahawan baru, meningkatkan jumlah UMKM dan juga berkontribusi dalam menekan jumlah pengangguran.

Lembaga Keuangan Khusus Sektor Pertanian: Bank Tani

Salah satu masalah lain terkait pembiayaan perbankan adalah bahwa sistem pembiayaan perbankan mengharuskan peminjam untuk membayar pinjaman sebulan setelah pinjaman diterima. Model pembiayaan seperti ini kurang cocok bagi petani.

Petani membutuhkan uang sebagai modal pada masa tanam untuk membeli kebutuhan seperti pupuk, benih dan yang lainnya. Sementara petani baru mendapatkan uang untuk membayar pinjamannya adalah ketika masa panen, saat hasil panennya terjual.

Untuk itu harus ada sistem pembiayaan khusus yang menyesuaikan dengan pola kerja petani. Maka perlu diinisiasi lembaga keuangan khusus untuk memberi pinjaman bagi petani dalam memenuhi kebutuhan pertaniannya. Mungkin kita bisa menyebutnya dengan Bank Tani.

Dengan mendirikan lembaga keuangan khusus bagi petani, hal ini berpotensi untuk mendongkrak produktivitas hasil pertanian kita. Dengan adanya ketersediaan modal, maka sektor pertanian kita dipastikan akan bergairah.

Sebagai provinsi yang bertumpu pada sektor pertanian, dimana salah satu kendala bagi petani selama ini, sebagaimana saya temukan dalam pengkajian dan wawancara adalah masalah modal. Petani seringkali tidak punya modal pada masa tanam dan terpaksa berurusan dengan rentenir untuk dapat melakukan proses tanam dengan konsekuensi hasil tani dibeli rentenir dengan harga yang lebih rendah. Akhirnya petani mendapatkan keuntungan yang relatif minim.

Baca Juga:  Universalitas Nilai-Nilai Syariah dalam Kebijakan Publik

Menyesuaikan Dengan Syariat Islam

Salah satu hal yang harus dihindari dari sebuah kegiatan ekonomi adalah proses-proses yang dilarang oleh syariat, salah satunya adalah riba.

Apabila bank atau lembaga keuangan meminjamkan sejumlah uang dalam tempo tertentu dan dibayar dengan jumlah lebih dari yang dipinjamkan, maka bank mengambil manfaat dari pinjaman dan hal ini dikategorikan sebagai riba.

Untuk menghindari transaksi riba, pembiayaan mikro maupun bank tani yang saya sebutkan sebelumnya, dapat menyesuaikan pola pembiayaannya sesuai dengan syariat. Caranya adalah, bank tidak memberikan pinjaman uang, melainkan peminjam membeli kebutuhan usahanya dari bank dengan harga yang memberi keuntungan bagi bank namun juga terjangkau bagi nasabah, dengan dibayar cicil. Maka akad yang dipakai adalah jual beli dengan pembayaran cicil. Hal ini terbilang sah secara syariat dan terhindar dari riba.

Maka melalui tulisan ini, apabila pemerintah di level provinsi maupun kabupaten/kota mencoba melahirkan alternatif pembiayaan perbankan melalui pembiayaan mikro bagi UMKM dan Bank Tani bagi petani sebagaimana yang telah dijelaskan, saya yakin kebijakan ini akan mampu menggenjot pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya di sektor riil. Yang mana dampaknya akan langsung dirasakan masyarakat dengan peningkatan taraf penghasilan dan memberikan peluang terciptanya lapangan kerja serta melahirkan banyak usahawan baru.

Tags: acehIndonesiaPerekonomianPermodalan
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Artikel

Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?

by SAGOE TV
July 5, 2025
Misteri Lonjakan Kasus HIV di Banda Aceh Fakta yang Jarang Diketahui!
Artikel

Misteri Lonjakan Kasus HIV di Banda Aceh: Fakta yang Jarang Diketahui!

by SAGOE TV
July 3, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Inkubasi Seni sebagai Praktik Publik: Membangun Ekosistem Hidup Seni, Pengetahuan, dan Ruang Kampus

Inkubasi Seni sebagai Praktik Publik: Membangun Ekosistem Hidup Seni, Pengetahuan, dan Ruang Kampus

May 6, 2026
3.811 Peserta UTBK SNBT 2025 Lolos di USK, Jalur Mandiri Masih Dibuka

Jalur Mandiri USK 2026 Dibuka hingga 11 Juni, Ini Kesempatan Terakhir Masuk PTN

May 5, 2026
Dari Banda Aceh, Pendidikan Seni Dibaca Ulang sebagai Infrastruktur Kemanusiaan

Dari Banda Aceh, Pendidikan Seni Dibaca Ulang sebagai Infrastruktur Kemanusiaan

May 3, 2026
Mahasiswa USK Jalankan Program Pengelolaan Sampah untuk Mitigasi Banjir di Bireuen

Mahasiswa USK Jalankan Program Pengelolaan Sampah untuk Mitigasi Banjir di Bireuen

May 4, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025
Mualem Gelar Silaturahmi dengan Ulama

Mualem Gelar Silaturahmi dengan Ulama

May 9, 2026
Minim Komunikasi Antarprofesi, Keselamatan Pasien Bisa Terancam

Minim Komunikasi Antarprofesi, Keselamatan Pasien Bisa Terancam

May 7, 2026
4 Bakal Calon Rektor UIN Ar-Raniry Resmi Diserahkan ke Menag

4 Bakal Calon Rektor UIN Ar-Raniry Resmi Diserahkan ke Menag

May 4, 2026
Pewarta Foto Aceh Chaideer Mahyuddin Raih APFI 2026 lewat Foto Cerita “The Last Hope”

Pewarta Foto Aceh Chaideer Mahyuddin Raih APFI 2026 lewat Foto Cerita “The Last Hope”

May 9, 2026

EDITOR'S PICK

Qurbani Akbar, Menghidupkan Kenangan Melalui Seni

Qurbani Akbar, Menghidupkan Kenangan Melalui Seni

March 15, 2025
Aceh Tambah 27 Medali di PON XXI 2024

Aceh Tambah 27 Medali di PON XXI 2024

September 13, 2024
Sekda Aceh Tekankan Percepatan Realisasi APBA 2025 untuk Perpanjangan Dana Otsus

Sekda Aceh Tekankan Percepatan Realisasi APBA 2025 untuk Perpanjangan Dana Otsus

August 25, 2025
Musik, Syariat, dan Ruang Publik: Mengapa Aceh Perlu Menata, Bukan Menolak

USK, Publik Aceh, dan Retaknya Relasi yang Dulu Membentuk Darussalam

December 27, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.