Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi, Etnomusikolog & Akademisi Seni Universitas Syiah Kuala
Di universitas, ada gagasan yang lahir sebagai program. Ada pula yang tumbuh perlahanmelalui percakapan panjang, eksperimen kecil, kegiatan mahasiswa, hingga pertemuan-pertemuan informal antar kolega yang sama-sama percaya bahwa sesuatu yang lebih besar sedang mungkin terjadi.
Upaya memperkuat posisi seni dalam ekosistem akademik di Universitas Syiah Kuala tidak muncul sebagai proyek mendadak, tetapi sebagai perjalanan yang terbentuk dari banyak langkah kecil yang saling menyambung.
Sejak sekitar tahun 2003, berbagai diskusi akademik, kegiatan artistik mahasiswa, serta kerja lintas komunitas telah mencoba membuka ruang yang lebih jelas bagi seni dalam kehidupan akademik kampus. Sejumlah inisiatif bahkan mulai menemukan bentuknya sejak pertengahan 2000-an. Namun seperti banyak gagasan lintas disiplin di universitas, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan lurus. Ia bergerak maju, berhenti sejenak, kemudian bergerak lagi melalui orang-orang yang terus merawatnya.
Hari ini, perjalanan panjang itu menemukan momentum baru.
Kepemimpinan universitas yang baru Profesor Dr. Mirza Tabrani kiranya menjadi peluang ruang ikhtiar, untuk menata kembali berbagai potensi yang sebenarnya telah lama ada dan mengarahkannya menuju bentuk institusional yang lebih jelas. Bukan untuk memulai dari nol, melainkan untuk mengkonsolidasikan sesuatu yang selama ini hidup sebagai energi intelektual dan kultural di kampus.
Seni sebagai Pengetahuan
Perkembangan pendidikan tinggi global menunjukkan perubahan penting dalam cara universitas memahami seni. Seni tidak lagi dilihat semata sebagai kegiatan kultural atau ekspresi estetika, tetapi juga sebagai bagian dari produksi pengetahuan.
Pendekatan yang dikenal sebagai artistic research atau practice-based research memungkinkan praktik artistik pertunjukan, komposisi musik, karya visual, hingga proses kreatif menjadi metode penelitian yang sahih. Dalam pendekatan ini, karya dan proses kreatif tidak hanya menjadi objek kajian, tetapi juga medium untuk memahami realitas sosial, sejarah, dan pengalaman manusia.
Bagi Aceh, perspektif ini sangat relevan. Banyak praktik seni yang hidup di masyarakat mengandung lapisan pengetahuan yang kaya: memori sejarah, struktur sosial, nilai spiritual, hingga refleksi atas perubahan zaman. Namun sebagian besar pengetahuan tersebut masih lebih sering hidup di ruang komunitas daripada di ruang akademik.
Universitas memiliki kapasitas untuk menjembatani ruang itu menghubungkan praktik seni, penelitian, dan pendidikan dalam kerangka yang lebih sistematis.
Fondasi yang Sudah Tumbuh
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa pengembangan seni di universitas harus dimulai dari awal. Padahal jika dilihat dengan jujur, banyak fondasi awal sebenarnya telah lama tumbuh.
Mahasiswa secara konsisten menciptakan kegiatan seni di berbagai ruang kampus. Sejumlah dosen memiliki praktik artistik yang serius dan jaringan dengan komunitas seni. Beberapa pusat studi juga telah lama bekerja pada isu-isu budaya, masyarakat, dan ekspresi kreatif.
Artinya, energi awal sebenarnya sudah ada.
Yang belum sepenuhnya terbentuk adalah kerangka yang mampu menghubungkan berbagai energi tersebut secara strategis. Kegiatan seni masih tersebar di berbagai unit tanpa platform yang memungkinkan mereka bekerja sebagai satu ekosistem yang saling menguatkan.
Di titik inilah kebutuhan untuk menata kembali posisi seni di universitas menjadi penting.
Dari Inisiatif ke Ekosistem
Gagasan yang sedang berkembang di antara sejumlah kolega lintas fakultas pada dasarnya sederhana: mengubah berbagai inisiatif yang tersebar menjadi ekosistem seni universitas.
Ekosistem ini dibayangkan bergerak melalui tiga jalur yang saling terhubung.
Pertama, jalur akademik. Di sini fokusnya adalah penguatan riset artistik, pengembangan mata kuliah lintas disiplin, serta persiapan pembukaan Program Magister Seni sebagai ruang akademik formal bagi praktik dan penelitian seni.
Kedua, jalur kelembagaan. Salah satu gagasan yang sedang disiapkan adalah pembentukan sebuah platform kolaborasi yang sementara disebut Inkubator Seni USK. Inkubator ini tidak dimaksudkan sebagai lembaga besar yang birokratis, tetapi sebagai ruang kerja bersama yang memungkinkan dosen, mahasiswa, dan komunitas seni mengembangkan proyek lintas disiplin secara lebih terstruktur.
Ketiga, jalur ekosistem publik. Universitas dapat memperkuat hubungannya dengan masyarakat melalui program seperti festival seni universitas, residensi seniman, serta pengembangan arsip digital seni Aceh yang dapat menjadi sumber penting bagi penelitian dan pendidikan.
Ketiga jalur ini saling melengkapi. Jalur akademik memberi legitimasi ilmiah, jalur kelembagaan memberi stabilitas organisasi, sementara jalur ekosistem publik memberi energi sosial dan kultural.
Langkah Operasional yang Realistis
Transformasi semacam ini tentu tidak dapat dilakukan sekaligus. Karena itu pendekatan yang dirancang justru menekankan langkah-langkah yang realistis dan dapat segera dikerjakan.
Dalam dua tahun pertama, fokus utama adalah membangun fondasi melalui beberapa langkah operasional: pembentukan tim kerja lintas fakultas, peluncuran Inkubator Seni sebagai platform kolaborasi, pengembangan arsip digital seni Aceh sebagai proyek riset dan dokumentasi, serta penyelenggaraan festival seni universitas sebagai ruang pertemuan antara kampus dan masyarakat.
Pada saat yang sama, proses akademik untuk pengembangan Program Magister Seni dapat mulai dipersiapkan melalui penyusunan kurikulum, konsolidasi sumber daya dosen, serta pengembangan jaringan kolaborasi dengan institusi seni dan budaya.
Langkah-langkah ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam praktik universitas justru inilah fase yang paling menentukan. Ia membangun struktur kerja yang memungkinkan inisiatif bertahan lebih lama daripada satu periode kepemimpinan.
Seni, Universitas, dan Masa Depan
Penguatan seni di universitas sering kali disalahpahami sebagai proyek kultural semata. Padahal implikasinya jauh lebih luas.
Seni membuka ruang bagi kolaborasi lintas disiplin antara humaniora, teknologi, pendidikan, hingga ilmu sosial. Ia memperkaya metode penelitian, memperluas cara universitas memahami masyarakat, sekaligus membuka kemungkinan baru bagi kreativitas mahasiswa.
Pada saat yang sama, seni juga memperkuat hubungan universitas dengan masyarakat. Festival, residensi seniman, atau arsip budaya bukan sekadar kegiatan artistik, tetapi juga bentuk pengabdian pengetahuan kepada publik.
Bagi Universitas Syiah Kuala, penguatan seni dapat menjadi salah satu cara untuk mempertegas identitasnya sebagai universitas yang berakar pada kebudayaan Aceh sekaligus terbuka pada percakapan global.
Sebuah Kerja Bersama
Yang menarik dari proses ini adalah bahwa ia tidak lahir dari satu individu atau satu unit tertentu. Ia merupakan hasil percakapan panjang yang melibatkan banyak pihak dosen, mahasiswa, komunitas seni, serta berbagai pusat studi yang selama ini bergerak dalam bidang budaya.
Karena itu keberhasilannya juga tidak mungkin bergantung pada satu orang saja. Ia hanya dapat tumbuh sebagai kerja bersama universitas.
Momentum kepemimpinan baru Profesor Dr. Mirza Tabrani membuka kesempatan penting untuk mengkonsolidasikan energi kolektif tersebut menjadi program dan kebijakan yang lebih terstruktur.
Jika langkah ini berhasil, maka penguatan seni di Universitas Syiah Kuala bukan sekadar melahirkan kegiatan baru. Ia dapat menandai lahirnya sebuah ekosistem pengetahuan yang tumbuh dari kebudayaan Aceh sendiri dan menjadi kebanggaan bersama bagi universitas, masyarakat, serta kepemimpinan yang berani membuka ruang bagi kemungkinan baru.[]




















