• Tentang Kami
Monday, July 13, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Momentum Baru bagi Universitas Syiah Kuala: Menata Kembali Tempat Seni dalam Ekosistem Akademik

Anna Rizatil by Anna Rizatil
March 20, 2026
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Momentum Baru bagi Universitas Syiah Kuala: Menata Kembali Tempat Seni dalam Ekosistem Akademik

Ari J. Palawi Praktisi, Etnomusikolog & Akademisi Seni Universitas Syiah Kuala. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi, Etnomusikolog & Akademisi Seni Universitas Syiah Kuala

Di universitas, ada gagasan yang lahir sebagai program. Ada pula yang tumbuh perlahanmelalui percakapan panjang, eksperimen kecil, kegiatan mahasiswa, hingga pertemuan-pertemuan informal antar kolega yang sama-sama percaya bahwa sesuatu yang lebih besar sedang mungkin terjadi.

Upaya memperkuat posisi seni dalam ekosistem akademik di Universitas Syiah Kuala tidak muncul sebagai proyek mendadak, tetapi sebagai perjalanan yang terbentuk dari banyak langkah kecil yang saling menyambung.

BACA JUGA

Ketika Sebuah Peradaban Kehilangan Cara Mewariskan Dirinya

Ekosistem adalah Karya Seni Terbesar Kita

Sejak sekitar tahun 2003, berbagai diskusi akademik, kegiatan artistik mahasiswa, serta kerja lintas komunitas telah mencoba membuka ruang yang lebih jelas bagi seni dalam kehidupan akademik kampus. Sejumlah inisiatif bahkan mulai menemukan bentuknya sejak pertengahan 2000-an. Namun seperti banyak gagasan lintas disiplin di universitas, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan lurus. Ia bergerak maju, berhenti sejenak, kemudian bergerak lagi melalui orang-orang yang terus merawatnya.

Hari ini, perjalanan panjang itu menemukan momentum baru.

Kepemimpinan universitas yang baru Profesor Dr. Mirza Tabrani kiranya menjadi peluang ruang ikhtiar, untuk menata kembali berbagai potensi yang sebenarnya telah lama ada dan mengarahkannya menuju bentuk institusional yang lebih jelas. Bukan untuk memulai dari nol, melainkan untuk mengkonsolidasikan sesuatu yang selama ini hidup sebagai energi intelektual dan kultural di kampus.

Seni sebagai Pengetahuan

Perkembangan pendidikan tinggi global menunjukkan perubahan penting dalam cara universitas memahami seni. Seni tidak lagi dilihat semata sebagai kegiatan kultural atau ekspresi estetika, tetapi juga sebagai bagian dari produksi pengetahuan.

Pendekatan yang dikenal sebagai artistic research atau practice-based research memungkinkan praktik artistik pertunjukan, komposisi musik, karya visual, hingga proses kreatif menjadi metode penelitian yang sahih. Dalam pendekatan ini, karya dan proses kreatif tidak hanya menjadi objek kajian, tetapi juga medium untuk memahami realitas sosial, sejarah, dan pengalaman manusia.

Bagi Aceh, perspektif ini sangat relevan. Banyak praktik seni yang hidup di masyarakat mengandung lapisan pengetahuan yang kaya: memori sejarah, struktur sosial, nilai spiritual, hingga refleksi atas perubahan zaman. Namun sebagian besar pengetahuan tersebut masih lebih sering hidup di ruang komunitas daripada di ruang akademik.

Universitas memiliki kapasitas untuk menjembatani ruang itu menghubungkan praktik seni, penelitian, dan pendidikan dalam kerangka yang lebih sistematis.

Fondasi yang Sudah Tumbuh

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa pengembangan seni di universitas harus dimulai dari awal. Padahal jika dilihat dengan jujur, banyak fondasi awal sebenarnya telah lama tumbuh.

Mahasiswa secara konsisten menciptakan kegiatan seni di berbagai ruang kampus. Sejumlah dosen memiliki praktik artistik yang serius dan jaringan dengan komunitas seni. Beberapa pusat studi juga telah lama bekerja pada isu-isu budaya, masyarakat, dan ekspresi kreatif.
Artinya, energi awal sebenarnya sudah ada.

Yang belum sepenuhnya terbentuk adalah kerangka yang mampu menghubungkan berbagai energi tersebut secara strategis. Kegiatan seni masih tersebar di berbagai unit tanpa platform yang memungkinkan mereka bekerja sebagai satu ekosistem yang saling menguatkan.

Di titik inilah kebutuhan untuk menata kembali posisi seni di universitas menjadi penting.

Dari Inisiatif ke Ekosistem

Gagasan yang sedang berkembang di antara sejumlah kolega lintas fakultas pada dasarnya sederhana: mengubah berbagai inisiatif yang tersebar menjadi ekosistem seni universitas.

Ekosistem ini dibayangkan bergerak melalui tiga jalur yang saling terhubung.

Pertama, jalur akademik. Di sini fokusnya adalah penguatan riset artistik, pengembangan mata kuliah lintas disiplin, serta persiapan pembukaan Program Magister Seni sebagai ruang akademik formal bagi praktik dan penelitian seni.

Kedua, jalur kelembagaan. Salah satu gagasan yang sedang disiapkan adalah pembentukan sebuah platform kolaborasi yang sementara disebut Inkubator Seni USK. Inkubator ini tidak dimaksudkan sebagai lembaga besar yang birokratis, tetapi sebagai ruang kerja bersama yang memungkinkan dosen, mahasiswa, dan komunitas seni mengembangkan proyek lintas disiplin secara lebih terstruktur.

Ketiga, jalur ekosistem publik. Universitas dapat memperkuat hubungannya dengan masyarakat melalui program seperti festival seni universitas, residensi seniman, serta pengembangan arsip digital seni Aceh yang dapat menjadi sumber penting bagi penelitian dan pendidikan.

Ketiga jalur ini saling melengkapi. Jalur akademik memberi legitimasi ilmiah, jalur kelembagaan memberi stabilitas organisasi, sementara jalur ekosistem publik memberi energi sosial dan kultural.

Langkah Operasional yang Realistis

Transformasi semacam ini tentu tidak dapat dilakukan sekaligus. Karena itu pendekatan yang dirancang justru menekankan langkah-langkah yang realistis dan dapat segera dikerjakan.

Dalam dua tahun pertama, fokus utama adalah membangun fondasi melalui beberapa langkah operasional: pembentukan tim kerja lintas fakultas, peluncuran Inkubator Seni sebagai platform kolaborasi, pengembangan arsip digital seni Aceh sebagai proyek riset dan dokumentasi, serta penyelenggaraan festival seni universitas sebagai ruang pertemuan antara kampus dan masyarakat.

Pada saat yang sama, proses akademik untuk pengembangan Program Magister Seni dapat mulai dipersiapkan melalui penyusunan kurikulum, konsolidasi sumber daya dosen, serta pengembangan jaringan kolaborasi dengan institusi seni dan budaya.

Langkah-langkah ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam praktik universitas justru inilah fase yang paling menentukan. Ia membangun struktur kerja yang memungkinkan inisiatif bertahan lebih lama daripada satu periode kepemimpinan.

Seni, Universitas, dan Masa Depan

Penguatan seni di universitas sering kali disalahpahami sebagai proyek kultural semata. Padahal implikasinya jauh lebih luas.

Seni membuka ruang bagi kolaborasi lintas disiplin antara humaniora, teknologi, pendidikan, hingga ilmu sosial. Ia memperkaya metode penelitian, memperluas cara universitas memahami masyarakat, sekaligus membuka kemungkinan baru bagi kreativitas mahasiswa.

Pada saat yang sama, seni juga memperkuat hubungan universitas dengan masyarakat. Festival, residensi seniman, atau arsip budaya bukan sekadar kegiatan artistik, tetapi juga bentuk pengabdian pengetahuan kepada publik.

Bagi Universitas Syiah Kuala, penguatan seni dapat menjadi salah satu cara untuk mempertegas identitasnya sebagai universitas yang berakar pada kebudayaan Aceh sekaligus terbuka pada percakapan global.

Sebuah Kerja Bersama

Yang menarik dari proses ini adalah bahwa ia tidak lahir dari satu individu atau satu unit tertentu. Ia merupakan hasil percakapan panjang yang melibatkan banyak pihak dosen, mahasiswa, komunitas seni, serta berbagai pusat studi yang selama ini bergerak dalam bidang budaya.

Karena itu keberhasilannya juga tidak mungkin bergantung pada satu orang saja. Ia hanya dapat tumbuh sebagai kerja bersama universitas.

Momentum kepemimpinan baru Profesor Dr. Mirza Tabrani membuka kesempatan penting untuk mengkonsolidasikan energi kolektif tersebut menjadi program dan kebijakan yang lebih terstruktur.

Jika langkah ini berhasil, maka penguatan seni di Universitas Syiah Kuala bukan sekadar melahirkan kegiatan baru. Ia dapat menandai lahirnya sebuah ekosistem pengetahuan yang tumbuh dari kebudayaan Aceh sendiri dan menjadi kebanggaan bersama bagi universitas, masyarakat, serta kepemimpinan yang berani membuka ruang bagi kemungkinan baru.[]

Tags: Ekosistem AkademikMakin Tahu IndonesiaopiniSeniUniversitas Syiah KualaUSK
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031
SENI

Ketika Sebuah Peradaban Kehilangan Cara Mewariskan Dirinya

by SAGOE TV
July 8, 2026
Pemulihan atau Proyek? Catatan Kritis atas Program Pemulihan Kebudayaan Pascabencana di Sumatera
SENI

Ekosistem adalah Karya Seni Terbesar Kita

by SAGOE TV
July 2, 2026
SPS Revival dan Darud Dunia Jajaki Kemitraan Bersama Disbudpar Aceh
SENI

SPS Revival dan Darud Dunia Jajaki Kemitraan Bersama Disbudpar Aceh

by SAGOE TV
June 26, 2026
Tubuh yang Menyintas, Jiwa yang Membaca Kebebasan: Monolog “Kurông” Meretas Batas Penjara Moralitas
SENI

Tubuh yang Menyintas, Jiwa yang Membaca Kebebasan: Monolog “Kurông” Meretas Batas Penjara Moralitas

by SAGOE TV
June 23, 2026
Ketika Warga Kota Kembali Duduk Bersama SPS Revival dan Ikhtiar Membangun Ruang Perjumpaan di Banda Aceh
SENI

Ketika Warga Kota Kembali Duduk Bersama: SPS Revival dan Ikhtiar Membangun Ruang Perjumpaan di Banda Aceh

by SAGOE TV
June 19, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 13, 2026
Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak Analisis Postur Anggaran Terhadap Janji Visi & Program Muzakir Manaf-Fadhlullah

Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak

July 11, 2026
Jejak Pusaka (Heritage Trail) Sebagai Media Membaca Kembali Cita-Cita Darussalam

Jejak Pusaka (Heritage Trail) Sebagai Media Membaca Kembali Cita-Cita Darussalam

July 8, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Yang Belum Dibawa Arus: Catatan Delapan Bulan Pascabanjir Aceh

Yang Belum Dibawa Arus: Catatan Delapan Bulan Pascabanjir Aceh

July 8, 2026
Horor Perjalanan Belum Berakhir

Horor Perjalanan Belum Berakhir

July 10, 2026
Risman Rachman.

Manajemen Solusi, Bagaimana Menerapkannnya?

March 15, 2025
Dari Medan Menuju Banda Aceh Mendunia: Saatnya Kolaborasi Menjadi Jalan Baru Membangun Kota

Dari Medan Menuju Banda Aceh Mendunia: Saatnya Kolaborasi Menjadi Jalan Baru Membangun Kota

July 6, 2026
BPMA dan Polda Aceh Perkuat Pengamanan Blok A Medco E&P Malaka

BPMA dan Polda Aceh Perkuat Pengamanan Blok A Medco E&P Malaka

July 10, 2026

EDITOR'S PICK

Pj Sekda Pimpin Gladi Kotor Penyambutan Kontingen PON XXI

Pj Sekda Pimpin Gladi Kotor Penyambutan Kontingen PON XXI

August 24, 2024
Wagub Fadhlullah Kunjungi Warga Terdampak Banjir di Aceh Tengah

Wagub Fadhlullah Kunjungi Warga Terdampak Banjir di Aceh Tengah

December 1, 2025
Wagub Aceh Temui Sekjen MUI Bahas Tanah Wakaf Blang Padang

Wagub Aceh Temui Sekjen MUI Bahas Tanah Wakaf Blang Padang

July 23, 2025
Mahasiswa UIN Ar-Raniry Serukan Penyelamatan Ekosistem Gambut Rawa Tripa

Mahasiswa UIN Ar-Raniry Serukan Penyelamatan Ekosistem Gambut Rawa Tripa

June 3, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.