Oleh: Mukhlisuddin Ilyas
Dosen Pascasarjana Universitas Almuslim dan Founder Bandar Publishing.
Saya mengenalnya sekitar lima tahun lalu, di sebuah warung kopi bernama Lhee Coffee, tak jauh dari kantor yang saya dirikan, Bandar Publishing di Lamgugob, Banda Aceh. Namanya Muhammad Ridha Agusni. Saya memanggilnya Bang Ridha.
Kami seumuran, hanya berselisih beberapa bulan. Ia lahir di Pidie, 17 Agustus 1980, tanggal yang bagi bangsa ini penuh makna kemerdekaan. Kelak saya baru menyadari, hidupnya pun adalah kisah kemerdekaan, merdeka dari kantor, merdeka dari jam kerja, merdeka dari batas geografis.
Setiap pagi, setelah antar anak sekolah, jika tak ada jadwal mengajar dan agenda lainnya. Saya selalu ngopi pagi. Pada jam-jam itulah Bang Ridha hampir selalu ada. Duduk di sudut, membuka laptop Mac-nya, diam, fokus, seperti seseorang yang sedang beribadah dalam sunyi.
Kawa-kawan lain akan menyusul setiap pagi, memang hampir tak pernah lengkap, Bang Lukman, Ari Juanda adiknya Bang Ridha, Sayuti, Mustafa, Jarnawi, Bang Adi, Awik, Om Aji, Bang Helmi, Bang Baun, dan Bang Syeh. Sebagian dari mereka pekerja kreatif digital. Warung kopi adalah kantor mereka. Cangkir kopi adalah jam dinding mereka. Laptop adalah ladang penghidupan. Seperti cangkul bagi seorang petani.

Sebagian dari mereka mendesain font. Font, bagi banyak orang sekadar rupa huruf. Tapi bagi mereka, font adalah dunia, menghasilkankan dolar. Pendapatannya jutaan, puluhan juta, hingga ada ratusan juta per bulan. Mereka anak Aceh.
Suatu waktu, saya pernah melihat rekening online mereka, Paypal. PayPal merupakan salah satu metode pembayaran yang mudah diterima oleh berbagai situs belanja online di seluruh dunia. PayPal ini bersifat global karena mampu melakukan transaksi jual beli antar negara. Saya terperangah, gaji mereka diatas gaji seorang profesor di kampus, diatas gaji Kepala Dinas di Pemerintahan Daerah.
Mereka dengan tekun menggambar satu per satu lengkung huruf, berat garis, dan karakter visual, lalu menjualnya di pasar global. Dunia membeli karya mereka. Dunia membayar dalam dolar.
Kembali ke Bang Ridha, ia adalah arsitek lulusan Universitas Syiah Kuala. Pernah bekerja di BRR Aceh–Nias (2006-2009), pernah menjadi konsultan proyek di NGO “Handicap Internasional” di Padang Sumatra Barat (2010), hingga ke Pulau Jawa. Tapi hidup membawanya kembali ke Banda Aceh, ke warkop, ke laptop, ke kesunyian yang produktif. Mencengakan dunia kreatif.
Bang Ridha mempunyai empat anak, Rizkia Aisha (siswi kelas 3 SMA Lab School USK), Maliq Azizi (santri kelas 2 SMP di Pesantren Modern Darul Qur’an Aceh), Amira Mardliah (siswi kelas 6 SD). Dan Ahmad Mubarak (masih PAUD) dari seorang istri yang guru Bahasa Indonesia di MTsN 4 Banda Aceh, kawasan Rukoh Darussalam.
Bang Ridha adalah tipe yang ramah, solutif, pekerja keras, loyal, tapi pendiam. Jika tidak diajak bicara, ia akan diam walau duduk satu meja. Dunia di layar laptopnya lebih riuh daripada obrolan warkop.
Pernah kami berdiskusi soal rumah saya. Kamar mandi merembes karena kesalahan tukang. Ia memberi solusi teknis yang sangat praktis. Sayangnya, solusi itu belum sempat saya kerjakan, dan kini, tak akan pernah bisa saya diskusikan lagi dengannya.
Kadang, jika pekerjaan agak longgar, kami main PlayStation. Bang Ridha suka memancing emosi lawan. Tangannya lincah menekan tombol, seperti jemarinya yang sabar menggambar huruf demi huruf. Ia paling suka melawan saya, entah kenapa.
Americano tanpa gula adalah pilihannya. Dua cangkir kopi Gayo bisa ia habiskan sekali duduk. Teman setianya keripik, sejak berhenti merokok dua atau tiga tahun terakhir ia suka keripik. Di rumah, kata Ari, ia justru gemar rebus-rebusan. Sederhana hidupnya.
Kami pernah berbincang serius soal kesehatan dan anak. Saya menunjukkan hasil cek kolesterol, gula darah, dan asam urat saya. Ia mendengar dengan serius. Setelah melihat kertas hasil lab itu, lalu ia bercerita pelan bahwa dirinya juga berdasarkan hasil lab yang pernah ia lakukan, gula darahnya tinggi hingga berpengaruh ke kondisi gusi+giginya yang mulai goyang semua.
Hasil konsultasi dengan dokter gigi, harus diturunkan dulu gula darahnya baru bisa diambil tindakan. Selebihnya, katanya masih baik-baik saja, bahkan mulai rajin olahraga walau masih ringan seperti jalan kaki dan lari-lari kecil. Serta mengurangi makanan manis dan porsi makan nasi.
Ia bercerita tentang anak sulungnya yang akan kuliah. Ia berharap anaknya kuliah di arsitektur, agar cepat mandiri secara finansial. Tapi anaknya lebih suka Sosiologi. Ia tak memaksa. “Biar anak yang pilih,” katanya. Kami duduk lama di meja paling belakang, meja kesayangannya.
Soal agama, Bang Ridha sangat hormat pada ulama. Ia pengikut tareqat, ia hafal nama-nama teungku dayah. Menurut Ari, abangnya memiliki kebiasaan baru, selepas magrib ia hampir tak pernah beranjak dari sajadah, zikir, meurateb, hingga waktu Isya tiba. Jika harus bekerja lagi, ia mulai setelah itu. Ia jarang terlihat kerja malam di warkop, lebih sering di rumah, dalam sunyi.
Belakangan ia juga sudah membuat marketplace atas nama anaknya. Karya-karyanya mulai diunggah satu per satu. Konsisten. Sunyi. Tak ada pamer.
Prinsip pekerja digital, katanya harus konsistensi, out of the box, dan tak ada istilah pensiun. Amati, tiru, modifikasi (ATM), cari celah yang belum ramai dikerjakan orang.
Saya belajar banyak dari mereka, termasuk dari Bang Ridha. Tentang dunia yang berubah. Tentang kreativitas. Tentang anak-anak muda Aceh yang duduk di warkop bukan karena malas, tapi karena bekerja. Digaji dengan dolar. Dibicarakan dunia. Tanpa pernah bertemu.
Bang Ridha termasuk yang terlambat masuk dunia font, dianggap generasi “old”. Awalnya diperkenalkan oleh adiknya, Ari. Ia terus belajar, termasuk belajar dengan Sirojuddin, pemilik market place lettersiro. Sering juga ia berdiskusi dengan Eko Bimantara, melalui grup WhatsApp font creator best team. Ia pembelajar sejati. Dalam waktu singkat, produktivitas dan kualitasnya melampaui banyak orang yang lebih dulu terjun.
Hingga 24 November 2025, ajal menjemputnya.
Ia pergi tiba-tiba. Tanpa sakit. Dua hari sebelumnya, Bang Lukman sempat berseloroh mengapa ia begitu fokus bekerja walau di warkop. Bang Ridha menjawab ringan:
“Lon, Bang Man hana jaga leumo kamèng disino.”
Saya, Bang Lukman, tidak menjaga lembo-kambing di sini.
Kami tertawa waktu itu. Kini kalimat itu terasa seperti pesan terakhir. Bang Lukman masih tergiang-giang sampai 44 hari kematiannya.
Pernah juga ia berkata, khusus kepada sesama kolega pekerja kreatif;
“Tanyoe hana harta. Harta geutanyoe nyan password, ka jaga beu get.”
Kita tidak punya harta. Harta kita adalah password. Jaga yang baik.
Benar adanya…Akun-akun digitalnya menjadi warisan. Toko-tokoh onlinenya di market place menjadi rujukan.
Keluarga sempat kebingungan, istri dan anak-anak tak tahu password laptop. Ari lalu membuka satu email lama. Semua tersimpan rapi. Laptop Mac itu menyimpan masa depan.
Bang Ridha wafat, tapi font-fontnya terus dibeli di pasar global.
Pada khanduri 44 hari meninggalnya, kami datang lengkap, kawan ngopi Bang Ridha. Rizkia kini belajar menyetir. Mobil Freed yang dulu sepi kini bergerak, anak perempuan mengambil peran ayahnya, mengantar ibu dan adik-adiknya.
Beberapa hari setelah wafatnya, salah satu font karya Bang Ridha menjadi peringkat pertama penjualan dunia di market place, Envato Elements. Terpopuler di dunia kreatif, dibeli oleh banyak orang. Nama fontnya grift. Semua terpana, itulah kekuatan dunia digital. Tokoh digital berubah semuanya.
Bang Ridha telah tiada. Tapi setiap huruf yang ia gambar masih bekerja di toko digitalnya. Menjadi warisan untuk anak-anaknya. Setiap unduhan masih mengalirkan rezeki. Seperti nama anaknya. Ia meninggalkan warisan yang tak bisa dilihat mata, tapi terasa dampaknya.
Untuk anak-anak muda Aceh lainnya. Belajar dan bekerja dengan konsistensi. Bekerjalah tanpa banyak bicara. Bangunlah warisan, bahkan dari layar laptop sekalipun.
Karena kelak, mungkin yang tersisa dari kita bukan tanah dan bangunan, melainkan password. Seperti warisan Bang Ridha. Selamat jalan sahabat, seorang pekerja kreatif kelas dunia dari Aceh.
Al-Fatihah untuk Bang Ridha, karya dan toko digital mu abadi disini, https://fontsources.com/.[]



















