SAGOE TV | BANDA ACEH – Membahas sejarah pengelolaan gas alam di PT Arun Lhokseumawe. Sagoe TV menghadirkan seorang profesional migas nasional asal Aceh, Mohammad Fahmi, ST., M.Sc., sebagai narasumber utama. Ia mengulas tuntas bagaimana proyek Arun menjadi salah satu kisah sukses terbesar industri energi Indonesia sekaligus menyimpan pelajaran mahal atas kegagalannya.
Dalam perbincangan bersama host Mukhlisuddin Ilyas, Fahmi menjelaskan bahwa lapangan gas Arun ditemukan oleh Mobil Oil pada tahun 1971 dan mulai diproduksi pada 1977, setelah melalui proses studi cadangan, perhitungan keekonomian, dan perencanaan pengembangan (Plan of Development/POD). Produksi berlangsung selama 38 tahun hingga resmi berhenti pada 2015.
“Cadangan awal diperkirakan 16 triliun kaki kubik. Tapi yang bisa diangkat ke permukaan hanya sekitar 13,5 TCF. Artinya, tidak semua potensi bawah tanah bisa dimanfaatkan karena faktor teknis dan keekonomian,” ujar Fahmi sebagaimana ditayangkan dalam Podcast Sagoe TV pada Sabtu (5/7/2025).
Fahmi yang telah berkarier selama lebih dari dua dekade di sektor migas nasional dan internasional, membeberkan sejumlah data menarik. Salah satunya, bahwa selama operasi berlangsung, Arun telah memproduksi sekitar 730 juta barel minyak ekuivalen, di samping produksi gas alam cair (LNG) yang diekspor ke Jepang dan negara lainnya.
“Secara kasar, investasi pengeboran 94 sumur di Arun bisa mencapai 940 juta dolar AS. Itu belum termasuk pembangunan fasilitas LNG, perkantoran, dan infrastruktur lainnya,” jelas Fahmi.
Ia menekankan bahwa salah satu kunci keberhasilan Arun adalah perencanaan matang dan kerja sama erat antara pemerintah Indonesia dan pihak operator. Namun, kegagalan juga tercatat, terutama dalam aspek keberlanjutan pasca-produksi, keterlibatan masyarakat lokal, dan manfaat ekonomi jangka panjang bagi daerah.
“Proyek ini menjadi studi kasus penting. Satu sisi sukses karena kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Tapi sisi lain, banyak PR yang belum tuntas terutama dari perspektif sosial dan dampak lokal,” imbuhnya.
Podcast ini menjadi ruang edukasi yang menarik dan mendalam, terlebih bagi generasi muda dan para pemangku kebijakan di Aceh yang tengah bersiap menyongsong gelombang baru eksplorasi dan investasi migas, termasuk oleh perusahaan seperti Mubadala Energy.
Di akhir tayangan, Fahmi mengajak seluruh elemen untuk mengambil pelajaran dari sejarah Arun. “Migas itu bukan sekadar bisnis besar. Ia adalah ruang multidisiplin yang menyerap tenaga kerja dari berbagai latar belakang. Butuh teknologi tinggi, manajemen risiko yang matang, dan yang terpenting: keberpihakan terhadap masyarakat sekitar,” tutupnya. []
Lebih lengkap dapat disimak video di link berikut ini:




















