BANDA ACEH | SAGOE TV – Universitas Syiah Kuala (USK) mengembangkan pendekatan distribusi logistik dan pengelolaan dapur umum berbasis data serta partisipasi masyarakat dalam respons pascabencana Senyar di Aceh. Inisiatif ini dijalankan melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) USK bersama Satgas USK Respons Bencana Senyar sejak akhir November 2025, Jumat (2/1/2026).
Pendekatan tersebut diterapkan di sejumlah wilayah terdampak, antara lain Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Bener Meriah, dan Aceh Tamiang. Wilayah-wilayah ini mengalami gangguan akses akibat kerusakan infrastruktur serta keterbatasan layanan dasar pascabencana.
Dalam pelaksanaannya, Tim PKM USK melakukan pemetaan kebutuhan logistik dengan melibatkan pemerintah daerah, BPBD, relawan, dan masyarakat setempat. Hasil pemetaan tersebut menjadi dasar pengembangan sistem WebGIS logistik, yang memuat informasi sebaran posko, dapur umum, jalur distribusi, serta hambatan akses di lapangan.
Hingga pertengahan Desember 2025, sistem WebGIS ini digunakan untuk memantau penyaluran bantuan di tujuh kabupaten/kota dengan tujuh titik posko dan tujuh dapur umum aktif.
Ketua Tim Logistik USK, Prof. Dr. Muksin, mengatakan bahwa distribusi bantuan pada situasi darurat memerlukan data yang terintegrasi agar penyaluran berjalan adil dan efisien.
“Distribusi bantuan tanpa basis data yang kuat berisiko menimbulkan ketimpangan dan inefisiensi,” ujarnya.
Selain penguatan sistem distribusi, USK juga mengembangkan pengelolaan dapur umum berbasis partisipasi masyarakat. Warga dilibatkan sebagai pengelola dapur, sementara tim kampus berperan memastikan ketersediaan bahan pangan serta dukungan operasional. Setiap dapur umum yang didukung USK mampu melayani sekitar 200 hingga 500 porsi makanan per hari bagi masyarakat terdampak.
Keterbatasan akses di sejumlah lokasi turut mendorong lahirnya inovasi teknis di lapangan. Tim USK memanfaatkan drone untuk pemetaan awal wilayah terdampak serta memasang sling baja sebagai jalur darurat distribusi logistik di daerah terisolasi. Inovasi ini diterapkan di Desa Blang Rakal, Kabupaten Bener Meriah, yang tidak dapat dijangkau kendaraan darat.
USK menilai peran perguruan tinggi dalam penanganan bencana tidak hanya terbatas pada riset dan keterlibatan relawan, tetapi juga mencakup pengelolaan sistem distribusi bantuan dan penguatan kapasitas masyarakat. Ke depan, USK merekomendasikan integrasi sistem pemetaan logistik kampus dengan pemerintah daerah dan BPBD sebagai model yang dapat direplikasi secara nasional dalam penanganan bencana. []




















