• Tentang Kami
Sunday, April 19, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Sultan Muhammad Daud Syah

SAGOE TV by SAGOE TV
February 9, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Sultan Muhammad Daud Syah

Akademisi Dr. Tgk H M. Adli Abdullah, SH, MCL. Foto: dok. Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: M. Adli Abdullah

Saya tertarik menulis artikel ini setelah membaca sebuah flyer yang diterbitkan Yayasan Sultan Alaiddin Mansyursyah dalam rangka memperingati 87 tahun mangkatnya Sultan Muhammad Daud Syah Dhilullah Fil ‘Alam (6 Februari 1939 – 6 Februari 2026). Peringatan itu seakan menjadi pengingat bahwa Aceh pernah memiliki seorang raja yang memilih jalan perlawanan, bukan kenyamanan, jalan pengasingan, bukan kompromi.

Sultan Muhammad Daud Syah wafat dalam pembuangan di Pulau Jawa. Ia dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda ke luar Aceh pada 24 Desember 1907 karena dianggap tidak dapat diajak bekerja sama. Bersama keluarga inti kerajaan, termasuk putranya Tuanku Raja Ibrahim dan Teungku Bungsu serta para pengikut setianya, ia diasingkan dari tanah kelahirannya, pertama dibuang ke Bandung, dari sana diasingkan ke Ambon, karena disana tetap melawan pemerintah kolonial dia intenir Jatinegara, Jakarta, untuk modal di kontrol.

BACA JUGA

Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

Di Jatinegara inilah Sultan Aceh terakhir ini menghembuskan napas terakhir pada Senin, 6 Februari 1939, dan dimakamkan di TPU Utan Kayu, Rawamangun, Jakarta Timur, tidak jauh dari Kampus Universitas Negeri Jakarta.

Penulis beberapa kali menziarahi makamnya. Tidak sulit menemukan pusara Sultan Muhammad Daud Syah, terlebih setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memugar kawasan makam tersebut pada 2021.

Pada batu nisannya tertulis: “Toeankoe Sultan Muhammad Daoed ibnal Marhoem Toeankoe Zainal Abidin Alaiddin Syah, wafat hari Senen 6 Februari 1939.” Sebuah penanda sederhana bagi seorang pemimpin besar yang hidupnya jauh dari kemewahan.

Berbeda dengan banyak raja di Nusantara yang memilih berdamai dengan kolonialisme dan menikmati kemegahan istana hingga turun-temurun, Sultan Muhammad Daud Syah justru sejak ditabalkan hidup dalam pelarian. Sejak usia belia, ia memimpin kerajaan dalam kondisi perang. Hutan-hutan Aceh menjadi istananya, perjuangan menjadi napas hidupnya.

Baca Juga:  Menjemput Fajar Investasi Aceh: Dari Narasi Potensi ke Realitas Ekonomi Baru

Pada Februari 1901, Gubernur Militer Belanda Joannes Benedictus van Heutsz melancarkan ekspedisi besar ke Samalanga untuk memburu Sultan. Hingga tahun itu, Batee Iliek menjadi pusat perlawanan sengit antara pasukan Belanda dan tentara Kerajaan Aceh. Setelah pertempuran berdarah pada 1–2 Februari 1901, pertahanan Aceh di Batee Iliek jatuh. Namun Sultan berhasil dikeluarkan dari benteng oleh pimpinan perang Tgk Syeikh Abdurrahim. Bersamanya turut diselamatkan Abdullah bin Syeikh Yahyauddin—orang tua penulis—yang saat itu masih berusia 13 tahun, sebelum kemudian diungsikan ke Mekkah untuk menyelamatkan keturunan tidak syahid semua.

Sultan terus bergerilya hingga akhirnya ditangkap Belanda pada 20 Januari 1903. Meski demikian, ia tidak pernah menyerahkan kedaulatan Aceh dan tidak pernah dimakzulkan secara adat. Ia adalah sultan yang sah hingga akhir hayatnya.

Sultan Muhammad Daud Syah lahir pada 1871, dua tahun sebelum agresi Belanda ke Aceh pada 26 Maret 1873. Ia ditabalkan sebagai Sultan Aceh pada usia tujuh tahun di Masjid Indrapuri, 26 Desember 1878, menggantikan Sultan Alaiddin Mahmud Syah yang wafat akibat wabah kolera—wabah yang menurut catatan sejarah dibawa oleh Belanda dan menjadi salah satu bentuk awal penggunaan senjata biologis dalam perang kolonial.

Sejak awal pemerintahannya, Sultan didampingi para ulama dan pembesar Aceh: Tuanku Hasyem Banta Muda, Teuku Panglima Polem Muda Kuala, dan Teungku Syiek di Tanoh Abee. Pada 1880, Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman—sepulang dari Mekkah—bergabung dan diangkat sebagai amirul harb (menteri peperangan).

Kolaborasi ulama dan sultan inilah yang membuat perlawanan Aceh bertahan puluhan tahun. Pada 26 November 1902, Belanda menyandera Teungku Putroe Gambo Gadeng dan putranya Tuanku Raja Ibrahim yang masih berusia enam tahun. Tekanan ini dimaksudkan agar Sultan menyerah. Sultan datang ke Sigli dan kemudian dibawa menghadap Van Heutsz di Kuta Raja. Namun harapan Belanda kandas. Sultan menolak menandatangani perjanjian damai; bahkan draf perjanjian itu dirobeknya di hadapan Van Heutsz.

Baca Juga:  AI, Kegelapan, dan Harapan

Meski kemudian ditempatkan dalam tahanan rumah di Kampung Kedah, Banda Aceh, Sultan tetap memberi dukungan kepada gerilyawan. Intelijen Belanda mencatat peran Sultan dalam serangan kilat ke markas Belanda di Kuta Raja pada 6 Maret 1907 (Ibrahim Alfian, 1999).

Karena pengaruhnya yang tak pernah padam, Gubernur Aceh Van Daalen mengusulkan agar Sultan dibuang dari Aceh. Maka pada 24 Desember 1907, Sultan Muhammad Daud Syah diasingkan ke Batavia. Dari sana, ia bahkan sempat menyurati Kaisar Jepang untuk meminta bantuan melawan Belanda sebuah bukti bahwa perlawanan itu tak pernah padam, meski raganya dibelenggu.

Sejarah Sultan Muhammad Daud Syah adalah sejarah pengorbanan. Ia meninggalkan istana agar Aceh tidak kehilangan kehormatannya.

Hari ini, ketika istana dan kekuasaan justru menjadi rebutan, kisah Sultan dan para ulama Aceh seharusnya menjadi i’tibar bagi para pemimpin dan generasi muda.

Kepahitan perjuangan mereka telah kita nikmati hasilnya hari ini. Namun ironi muncul ketika kisah sebesar ini perlahan memudar dari ingatan kolektif Aceh. Raja Aceh itu telah wafat, tetapi nilai perjuangannya seharusnya tetap hidup.

Pertanyaannya kini, apakah pemimpin Aceh hari ini masih setia pada nilai-nilai yang dahulu dipertahankan dengan darah dan air mata oleh Sultan Muhammad Daud Syah?[]

Penulis adalah pemerhati sejarah dan budaya Aceh, email bawarith@gmail.com

Tags: acehMakin Tahu AcehMakin Tahu IndonesiaopiniSagoe TVsejarah AcehSultan Muhammad Daud Syah
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global
Opini

Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

by Anna Rizatil
April 17, 2026
Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz
Opini

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

by Anna Rizatil
April 10, 2026
Bagaimana Memahami Kemenangan Iran
Opini

Bagaimana Memahami Kemenangan Iran?

by Anna Rizatil
April 8, 2026
Zaman Batu dalam Perang Narasi AS-Iran
Opini

Zaman Batu dalam Perang Narasi AS-Iran

by SAGOE TV
April 5, 2026
Spiritualitas Iran Membentuk Masa Depan Dunia
Opini

Spiritualitas Iran Membentuk Masa Depan Dunia

by Anna Rizatil
April 4, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

April 16, 2026
Film Hikayatussistance Tayang di CineDocx dan Bakaba Sinema, Ini Jadwal Lengkapnya

Film Hikayatussistance Tayang di CineDocx dan Bakaba Sinema, Ini Jadwal Lengkapnya

April 13, 2026
Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

April 18, 2026
PSAP Sigli Juara Liga 4 Aceh 2025/2026, Kalahkan Al Farlaky FC 2-0 di Final

PSAP Sigli Juara Liga 4 Aceh 2025/2026, Kalahkan Al Farlaky FC 2-0 di Final

April 12, 2026
Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

April 11, 2026
Mualem Minta Dana Otsus Aceh Abadi 2,5 Persen di Hadapan Baleg DPR RI, Ini Responsnya

Mualem Minta Dana Otsus Aceh Abadi 2,5 Persen di Hadapan Baleg DPR RI, Ini Responsnya

April 17, 2026
Prof Eka Srimulyani kuliah tamu di Seoul National University, Korea Selatan, membahas riset generasi muda Muslim dan pengaruh budaya K-Pop.

Prof Eka Srimulyani Kuliah Tamu di Seoul National University, Bahas Generasi Muda Muslim dan K-Pop

April 18, 2026
Baleg DPR RI Sepakat Perpanjang Dana Otsus Aceh, Berlaku Lagi Setelah 2027?

Baleg DPR RI Sepakat Perpanjang Dana Otsus Aceh, Berlaku Lagi Setelah 2027?

April 16, 2026
Persiraja Kalah Dramatis 3-4 dari Adhyaksa FC, Jaya Hartono Soroti Tambahan Waktu

Persiraja Kalah Dramatis 3-4 dari Adhyaksa FC, Jaya Hartono Soroti Tambahan Waktu

April 13, 2026

EDITOR'S PICK

May Day di Banda Aceh, Jurnalis Gowes Bersama Suarakan Hak Pekerja Media

May Day di Banda Aceh, Jurnalis Gowes Bersama Suarakan Hak Pekerja Media

May 1, 2025
sulaiman tripa

Malam Puasa 22, Mati Bukan Soal Usia

March 21, 2025
USK dan WH Banda Aceh Gelar Sosialisasi Busana Syar’i di Lingkungan Kampus

USK dan WH Banda Aceh Gelar Sosialisasi Busana Syar’i di Lingkungan Kampus

October 1, 2025
Tantangan Dunia Ketiga

Tantangan Dunia Ketiga

March 20, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.