• Tentang Kami
Tuesday, July 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Sultan Muhammad Daud Syah

SAGOE TV by SAGOE TV
February 9, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Sultan Muhammad Daud Syah

Akademisi Dr. Tgk H M. Adli Abdullah, SH, MCL. Foto: dok. Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: M. Adli Abdullah

Saya tertarik menulis artikel ini setelah membaca sebuah flyer yang diterbitkan Yayasan Sultan Alaiddin Mansyursyah dalam rangka memperingati 87 tahun mangkatnya Sultan Muhammad Daud Syah Dhilullah Fil ‘Alam (6 Februari 1939 – 6 Februari 2026). Peringatan itu seakan menjadi pengingat bahwa Aceh pernah memiliki seorang raja yang memilih jalan perlawanan, bukan kenyamanan, jalan pengasingan, bukan kompromi.

Sultan Muhammad Daud Syah wafat dalam pembuangan di Pulau Jawa. Ia dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda ke luar Aceh pada 24 Desember 1907 karena dianggap tidak dapat diajak bekerja sama. Bersama keluarga inti kerajaan, termasuk putranya Tuanku Raja Ibrahim dan Teungku Bungsu serta para pengikut setianya, ia diasingkan dari tanah kelahirannya, pertama dibuang ke Bandung, dari sana diasingkan ke Ambon, karena disana tetap melawan pemerintah kolonial dia intenir Jatinegara, Jakarta, untuk modal di kontrol.

BACA JUGA

Film Teach You a Lesson: Sebab yang Perlu Dididik Kadang Bukan Anak, tetapi Orang Dewasa

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Di Jatinegara inilah Sultan Aceh terakhir ini menghembuskan napas terakhir pada Senin, 6 Februari 1939, dan dimakamkan di TPU Utan Kayu, Rawamangun, Jakarta Timur, tidak jauh dari Kampus Universitas Negeri Jakarta.

Penulis beberapa kali menziarahi makamnya. Tidak sulit menemukan pusara Sultan Muhammad Daud Syah, terlebih setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memugar kawasan makam tersebut pada 2021.

Pada batu nisannya tertulis: “Toeankoe Sultan Muhammad Daoed ibnal Marhoem Toeankoe Zainal Abidin Alaiddin Syah, wafat hari Senen 6 Februari 1939.” Sebuah penanda sederhana bagi seorang pemimpin besar yang hidupnya jauh dari kemewahan.

Berbeda dengan banyak raja di Nusantara yang memilih berdamai dengan kolonialisme dan menikmati kemegahan istana hingga turun-temurun, Sultan Muhammad Daud Syah justru sejak ditabalkan hidup dalam pelarian. Sejak usia belia, ia memimpin kerajaan dalam kondisi perang. Hutan-hutan Aceh menjadi istananya, perjuangan menjadi napas hidupnya.

Pada Februari 1901, Gubernur Militer Belanda Joannes Benedictus van Heutsz melancarkan ekspedisi besar ke Samalanga untuk memburu Sultan. Hingga tahun itu, Batee Iliek menjadi pusat perlawanan sengit antara pasukan Belanda dan tentara Kerajaan Aceh. Setelah pertempuran berdarah pada 1–2 Februari 1901, pertahanan Aceh di Batee Iliek jatuh. Namun Sultan berhasil dikeluarkan dari benteng oleh pimpinan perang Tgk Syeikh Abdurrahim. Bersamanya turut diselamatkan Abdullah bin Syeikh Yahyauddin—orang tua penulis—yang saat itu masih berusia 13 tahun, sebelum kemudian diungsikan ke Mekkah untuk menyelamatkan keturunan tidak syahid semua.

Sultan terus bergerilya hingga akhirnya ditangkap Belanda pada 20 Januari 1903. Meski demikian, ia tidak pernah menyerahkan kedaulatan Aceh dan tidak pernah dimakzulkan secara adat. Ia adalah sultan yang sah hingga akhir hayatnya.

Sultan Muhammad Daud Syah lahir pada 1871, dua tahun sebelum agresi Belanda ke Aceh pada 26 Maret 1873. Ia ditabalkan sebagai Sultan Aceh pada usia tujuh tahun di Masjid Indrapuri, 26 Desember 1878, menggantikan Sultan Alaiddin Mahmud Syah yang wafat akibat wabah kolera—wabah yang menurut catatan sejarah dibawa oleh Belanda dan menjadi salah satu bentuk awal penggunaan senjata biologis dalam perang kolonial.

Sejak awal pemerintahannya, Sultan didampingi para ulama dan pembesar Aceh: Tuanku Hasyem Banta Muda, Teuku Panglima Polem Muda Kuala, dan Teungku Syiek di Tanoh Abee. Pada 1880, Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman—sepulang dari Mekkah—bergabung dan diangkat sebagai amirul harb (menteri peperangan).

Kolaborasi ulama dan sultan inilah yang membuat perlawanan Aceh bertahan puluhan tahun. Pada 26 November 1902, Belanda menyandera Teungku Putroe Gambo Gadeng dan putranya Tuanku Raja Ibrahim yang masih berusia enam tahun. Tekanan ini dimaksudkan agar Sultan menyerah. Sultan datang ke Sigli dan kemudian dibawa menghadap Van Heutsz di Kuta Raja. Namun harapan Belanda kandas. Sultan menolak menandatangani perjanjian damai; bahkan draf perjanjian itu dirobeknya di hadapan Van Heutsz.

Meski kemudian ditempatkan dalam tahanan rumah di Kampung Kedah, Banda Aceh, Sultan tetap memberi dukungan kepada gerilyawan. Intelijen Belanda mencatat peran Sultan dalam serangan kilat ke markas Belanda di Kuta Raja pada 6 Maret 1907 (Ibrahim Alfian, 1999).

Karena pengaruhnya yang tak pernah padam, Gubernur Aceh Van Daalen mengusulkan agar Sultan dibuang dari Aceh. Maka pada 24 Desember 1907, Sultan Muhammad Daud Syah diasingkan ke Batavia. Dari sana, ia bahkan sempat menyurati Kaisar Jepang untuk meminta bantuan melawan Belanda sebuah bukti bahwa perlawanan itu tak pernah padam, meski raganya dibelenggu.

Sejarah Sultan Muhammad Daud Syah adalah sejarah pengorbanan. Ia meninggalkan istana agar Aceh tidak kehilangan kehormatannya.

Hari ini, ketika istana dan kekuasaan justru menjadi rebutan, kisah Sultan dan para ulama Aceh seharusnya menjadi i’tibar bagi para pemimpin dan generasi muda.

Kepahitan perjuangan mereka telah kita nikmati hasilnya hari ini. Namun ironi muncul ketika kisah sebesar ini perlahan memudar dari ingatan kolektif Aceh. Raja Aceh itu telah wafat, tetapi nilai perjuangannya seharusnya tetap hidup.

Pertanyaannya kini, apakah pemimpin Aceh hari ini masih setia pada nilai-nilai yang dahulu dipertahankan dengan darah dan air mata oleh Sultan Muhammad Daud Syah?[]

Penulis adalah pemerhati sejarah dan budaya Aceh, email bawarith@gmail.com

Tags: acehMakin Tahu AcehMakin Tahu IndonesiaopiniSagoe TVsejarah AcehSultan Muhammad Daud Syah
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Risnawati Ridwan ASN Pada Dinas Sosial Kota Banda Aceh
Opini

Film Teach You a Lesson: Sebab yang Perlu Dididik Kadang Bukan Anak, tetapi Orang Dewasa

by SAGOE TV
July 21, 2026
Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas
Opini

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

by SAGOE TV
July 18, 2026
Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang
Opini

Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang

by SAGOE TV
July 17, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh
Opini

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

by SAGOE TV
July 16, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi
Opini

Tentang Media dan Perhatian Publik

by SAGOE TV
July 14, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

July 21, 2026
Ruang Perjumpaan #001 SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

July 15, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas

Ketika Meu-en Batee menjadi Olahraga

February 6, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

July 16, 2026
Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

July 18, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi

Tentang Media dan Perhatian Publik

July 14, 2026
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 13, 2026
ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

July 20, 2026

EDITOR'S PICK

Apakah Seni Harus Dibisniskan? Dari Inkubator Seni USK, Kampus Mulai Membaca Kreativitas Secara Lebih Serius

Apakah Seni Harus Dibisniskan? Dari Inkubator Seni USK, Kampus Mulai Membaca Kreativitas Secara Lebih Serius

May 21, 2026
Etika Digital untuk Generasi Emas Aceh

Etika Digital untuk Generasi Emas Aceh

March 15, 2025
Gubernur Muzakir Manaf Lantik Bupati dan Wakil Bupati Aceh Singkil

Gubernur Muzakir Manaf Lantik Bupati dan Wakil Bupati Aceh Singkil

February 15, 2025
Dibalik Gemerlapnya Dunia K-Pop, Ternyata Artisnya Punya Beban di Kehidupan Nyata

Dibalik Gemerlapnya Dunia K-Pop, Ternyata Artisnya Punya Beban di Kehidupan Nyata

March 20, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.