• Tentang Kami
Friday, July 31, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

TikTok, Streetwear, dan Musik Indie: Ekspresi Budaya Baru Generasi Z

SAGOE TV by SAGOE TV
July 24, 2025
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
TikTok, Streetwear, dan Musik Indie Ekspresi Budaya Baru Generasi Z

Galuh Tirta Juan Farera. (Foto: dokumentasi pribadi)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Galuh Tirta Juan Farera

Pernah nggak sih, lagi galau terus buka TikTok, terus nemu video dengan lagu indie yang kayaknya “gue banget”? Atau tiba-tiba pengen beli jaket oversized gara-gara liat outfit skena anak TikTok yang keren parah? Nah, ini bukan sekadar tren random. Di balik itu semua, Generasi Z lagi membangun budaya baru—dengan gaya, suara, dan caranya sendiri. Scroll terus, karena ini cerita tentang kamu (iya, kamu) dan dunia yang lagi kamu bentuk tiap hari.

Di era digital yang bergerak cepat, budaya populer mengalami perubahan yang nyaris tak terbendung. Salah satu pergeseran paling mencolok tampak pada bagaimana Generasi Z membentuk identitas dan mengekspresikan diri melalui media sosial, terutama TikTok. Platform ini bukan sekadar tempat untuk hiburan ringan atau tren sesaat. Ia telah menjelma menjadi ruang budaya baru—tempat tren fashion, musik, dan nilai sosial tidak hanya dibagikan, tetapi juga dikonstruksi ulang dengan cara yang segar dan sering kali mengejutkan.

Dengan konten yang mudah dibuat dan algoritma yang gesit menyebarkan video ke berbagai penjuru, TikTok memberi peluang luas bagi siapa pun untuk tampil, bersuara, dan menciptakan makna. Di dalamnya, anak muda bukan hanya penonton pasif; mereka adalah aktor utama yang aktif mengolah, merespons, dan membentuk budaya populer hari ini. Di kamar-kamar mereka, saat suasana hati berubah-ubah—sedih, riang, murung, atau galau—mereka memutar lagu-lagu indie, mengenakan outfit skena, dan merekam tarian sebagai bentuk pelampiasan emosi dan pencarian makna personal. Lagu-lagu indie, meski sederhana secara teknis, kerap membawa emosi yang lebih kuat dan autentik, lengkap dengan estetika vintage, minimalis, atau artsy yang sangat dekat dengan selera visual mereka.

BACA JUGA

SPS Revival Usung “Meutaloe”: Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut

Setelah Panggung Dibongkar

TikTok telah menjadi panggung budaya tempat identitas dinegosiasikan secara terbuka. Melalui tarian, lip-sync, gaya berpakaian, maupun cerita-cerita pendek yang dibagikan, generasi ini membentuk narasi mereka sendiri, lepas dari dominasi media arus utama. Berkat algoritma yang demokratis—di mana siapa pun bisa viral tanpa perlu modal besar—mereka menciptakan ekosistem budaya yang sangat cair, cepat, dan sering kali tidak terduga. Di titik ini, kita menyaksikan bagaimana ekspresi diri bukan lagi produk institusi besar, melainkan hasil dari interaksi harian yang spontan dan kreatif.

Salah satu ekspresi paling menonjol yang hidup dalam ruang ini adalah streetwear—gaya berpakaian yang awalnya lekat dengan komunitas skateboard dan hip-hop, kini menjadi simbol identitas urban generasi muda. Lewat TikTok, fashion tak lagi didefinisikan oleh majalah atau merek mewah, tetapi oleh para kreator lokal yang mencampurkan gaya global dengan karakter personal. Hoodie oversized, celana kargo, sneakers nyentrik, atau bucket hat bukan sekadar atribut estetika, melainkan cara mereka berkata, “Ini aku.” Bahkan di Indonesia, artis seperti Jefri Nichol, Vincent Rompies, hingga Iqbaal Ramadhan kerap dijadikan panutan fashion oleh pengikut budaya skena. Brand seperti Supreme dan Off-White berdampingan dengan merek lokal seperti Erigo, Screamous, dan Maternal dalam membentuk selera visual baru. Akun-akun seperti @sastra_silalahii dengan jargon “Gak kek gitu bro!!” atau @bachrul_alam yang menyindir gaya streetwear ‘nanggung’, memperlihatkan bagaimana humor dan kritik ringan menjadi bagian dari proses seleksi kultural internal komunitas ini.

Tak kalah penting dari fashion, musik indie juga menemukan jalur hidupnya yang unik di TikTok. Generasi Z menunjukkan ketertarikan besar terhadap karya-karya yang lebih jujur secara emosional—musik yang tidak selalu dipoles sempurna, tapi terasa nyata. Fiersa Besari dengan April-nya, Fourtwnty lewat lagu Mangu, dan Banda Neira dengan Sampai Jadi Debu, adalah contoh musisi yang karyanya viral karena digunakan sebagai latar dalam video-video personal yang menggambarkan kesedihan, rindu, atau pencarian makna. TikTok memungkinkan karya mereka menjangkau jutaan orang tanpa perlu promosi masif, cukup dengan satu video yang relatable.

Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran selera: dari sesuatu yang mengilap dan massal menjadi sesuatu yang personal dan autentik. Di ruang ini, musik bukan lagi sekadar hiburan, tetapi kanal emosi dan koneksi antarindividu. TikTok menjadi perantara yang mempertemukan pengalaman personal dengan ruang publik, memperkuat rasa keterhubungan yang sebelumnya hanya hadir dalam lingkaran kecil.

Identitas yang dibentuk Generasi Z di media sosial bersifat cair, adaptif, dan lintas batas. Mereka bebas memadukan elemen-elemen dari berbagai budaya: dari musik indie Korea hingga gaya anak jalanan Jakarta, dari gerakan sosial global hingga humor khas daerah. Dalam konten yang viral, kita bisa melihat bagaimana budaya lokal dan global tidak saling meniadakan, melainkan saling menegaskan. Lihat saja akun @aswindaaa yang menggabungkan tarian Jaipong dan Saman dengan musik K-pop atau EDM, menciptakan perpaduan yang unik sekaligus membanggakan. Di tangan kreator seperti ini, budaya tradisional bukan hanya lestari, tetapi tampil keren dan relevan di mata anak muda.

Pada saat yang sama, TikTok juga membuka ruang untuk diskusi sosial yang dulu sulit mendapat tempat. Tren seperti #DirumahAjaChallenge di awal pandemi COVID-19, misalnya, melahirkan konten reflektif tentang ketimpangan sosial, akses pendidikan, dan kondisi hidup sehari-hari. Video dari akun @sosialterkini yang membandingkan “belajar online di rumah mewah vs rumah sempit” menjadi contoh bagaimana kritik sosial bisa dikemas secara ringan namun tetap mengena. Demikian pula akun @nengsari.sunda yang mengajarkan filosofi di balik tari ronggeng atau kebaya tradisional, berhasil menarik perhatian generasi muda terhadap kekayaan budaya warisan yang sebelumnya mereka abaikan.

Namun, tak semua berjalan mulus. Ketika budaya lokal dipertemukan dengan tren global, sering muncul pertanyaan tentang batas antara appreciation dan appropriation budaya. Konten yang mencampuradukkan simbol-simbol tradisional tanpa pemahaman kontekstual bisa menuai kritik. Tapi di sinilah pentingnya literasi budaya dan etika digital—sebuah kesadaran baru yang justru tumbuh melalui perdebatan di ruang digital itu sendiri.

TikTok, streetwear, dan musik indie adalah lebih dari sekadar produk tren atau hiburan sesaat. Ketiganya merepresentasikan lanskap budaya yang sedang terus-menerus dibentuk dan dipertanyakan oleh generasi muda. Lewat layar kecil di tangan mereka, identitas tidak lagi diwariskan secara pasif, tetapi dikurasi dan dibagikan secara aktif. Dalam dunia yang berubah dengan cepat, Generasi Z menunjukkan bahwa menjadi bagian dari budaya bukan berarti mengikuti arus, tetapi menciptakan arus baru—yang lebih inklusif, jujur, dan berani.

Mungkin inilah pelajaran terpenting dari generasi hari ini: bahwa budaya tidak hidup karena diwariskan, tapi karena terus dihidupi. Dengan kreativitas, keberanian, dan kesadaran, mereka membuktikan bahwa setiap ekspresi, sekecil apa pun, punya daya untuk mengubah cara kita memandang dunia. []

Tentang Penulis

Galuh Tirta Juan Farera adalah mahasiswa Pendidikan Seni di Universitas Syiah Kuala yang dikenal penuh semangat dan ceria. Ia memiliki ketertarikan kuat pada dunia seni dan budaya, khususnya musik dan tarik suara, yang menjadi ruang ekspresi sekaligus refleksi emosional baginya. Terbuka pada pengalaman dan eksplorasi kreatif, Galuh meyakini bahwa seni bukan sekadar hiburan, melainkan medium untuk memahami dunia dan membangun jembatan antarbudaya.

Editor:

Ari J. Palawi

Tags: ArtikelGen ZGenerasi ZIndieMusikopiniSeniTikTok
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

SPS Revival Usung Meutaloe Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut
SENI

SPS Revival Usung “Meutaloe”: Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut

by SAGOE TV
July 31, 2026
Setelah Panggung Dibongkar
SENI

Setelah Panggung Dibongkar

by SAGOE TV
July 28, 2026
Kardo National Qualifier Dari Arena Kompetisi Menuju Ruang Baru Kreativitas Anak Muda Aceh
SENI

Kardo National Qualifier: Dari Arena Kompetisi Menuju Ruang Baru Kreativitas Anak Muda Aceh

by SAGOE TV
July 21, 2026
Ruang Perjumpaan #001 SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem
SENI

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

by SAGOE TV
July 15, 2026
Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031
SENI

Ketika Sebuah Peradaban Kehilangan Cara Mewariskan Dirinya

by SAGOE TV
July 8, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Mengapa Semen dan BBM Langka di Aceh? Pemerintah Turun Tangan Telusuri Penyebabnya

Mengapa Semen dan BBM Langka di Aceh? Pemerintah Turun Tangan Telusuri Penyebabnya

July 30, 2026
LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

July 29, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Setelah Panggung Dibongkar

Setelah Panggung Dibongkar

July 28, 2026
Putri Saleh ASN Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh Bidang perlindungan Khusus Anak.

Jangan Biarkan Masa Depan Anak Berjalan Sendiri

July 30, 2026
Ajakan Terbuka Menulis untuk Rubrik Seni SagoeTV.com

Ajakan Terbuka Menulis untuk Rubrik Seni SagoeTV.com

July 6, 2025
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

June 3, 2026
Balai Bahasa Aceh Hadirkan Pojok Buku Profesor Sulaiman Tripa, Wujud Pelestarian Karya dan Penguatan Literasi

Balai Bahasa Aceh Hadirkan Pojok Buku Profesor Sulaiman Tripa, Wujud Pelestarian Karya dan Penguatan Literasi

July 31, 2026
UIA dan IKDAR Malaysia Resmi Jalin Kerja Sama, Gelar International Guest Lecture

UIA dan IKDAR Malaysia Resmi Jalin Kerja Sama, Gelar International Guest Lecture

July 28, 2026

EDITOR'S PICK

Kemenag Aceh Targetkan Tanam 20 Ribu Pohon Produktif di Lahan Wakaf

Kemenag Aceh Targetkan Tanam 20 Ribu Pohon Produktif di Lahan Wakaf

December 14, 2024

Khanduri dan Pusaran Perubahan Sosial-Masyarakat di Pedesaan Aceh

January 12, 2023
Jejak Cinta Nabi Ibrahim AS dalam Ibadah Qurban dan Haji

Jejak Cinta Nabi Ibrahim AS dalam Ibadah Qurban dan Haji

June 6, 2025
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi

Ketika Darussalam Kehilangan Keberanian Mencari yang Terbaik

June 13, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.