Banda Aceh | Sagoe TV — Penanganan bencana hidrometeorologi di Provinsi Aceh masih menghadapi tantangan besar. Hingga kini, sebanyak 103 titik longsor belum dapat ditangani, terutama karena lokasi longsoran yang saling berurutan dan sulit diakses.
Hal tersebut disampaikan dalam pembaruan penanganan tanggap bencana Provinsi Aceh oleh Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan (Pusdatinkom) BNPB, Abdul Muhari, bersama Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (Satker P2JN) BPJN Aceh, Fikri Afsal, Selasa (16/12/2025).
Dalam laporan tersebut, tercatat 1.050 jiwa meninggal dunia akibat bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Rinciannya, Aceh 449 jiwa, Sumatera Utara 360 jiwa, dan Sumatera Barat 224 jiwa. Selain itu, 206 orang dinyatakan hilang, sementara 608.980 jiwa terpaksa mengungsi.
Bencana ini juga berdampak serius terhadap infrastruktur transportasi. Dari total 116 ruas jalan nasional, sebanyak 38 ruas terdampak, meliputi jalur Lintas Timur, Lintas Tengah, Lintas Barat, dan lintas penghubung. Selain itu, 16 unit jembatan nasional dilaporkan terputus, serta terdapat 171 titik longsonr dan 303 titik badan jalan terputus atau hilang.
“Dari 16 titik jembatan nasional yang terputus, saat ini kami masih menangani lima titik yang merupakan akses masuk ke ruas jalan atau lokasi yang terputus,” ujar Fikri Afsal.
Untuk wilayah Lintas Timur, dua jembatan dilaporkan sempat terputus. Salah satunya, Jembatan Krueng Merdu di Kabupaten Pidie Jaya, telah kembali fungsional sejak 12 Desember 2025.
Sementara itu, Lintas Tengah menjadi kawasan dengan dampak terparah. Akses menuju Takengon dan Kabupaten Aceh Tengah, baik dari arah Lintas Timur maupun Lintas Barat, hingga kini masih belum dapat dilalui akibat banyaknya titik longsor dan kerusakan jalan.
“Dari total 171 titik longsor, sebanyak 68 titik sudah ditangani, sementara 103 titik belum dapat ditangani karena longsor terjadi secara berurutan,” jelas Fikri.
Ia menjelaskan, penanganan longsor harus dilakukan secara bertahap, dimulai dari titik awal longsoran. Setelah satu titik tertangani, barulah alat berat dan tim bisa mengakses titik longsor berikutnya.
“Untuk pembukaan akses menuju Takengon melalui Lintas Tengah, saat ini kami bekerja dari tiga arah secara bersamaan,” tambahnya.
Pemerintah bersama instansi terkait terus mengupayakan percepatan penanganan agar akses transportasi dan distribusi logistik ke wilayah terdampak dapat segera pulih.[]




















