• Tentang Kami
Tuesday, April 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Meugampong

Sulaiman Tripa by Sulaiman Tripa
March 24, 2025
in Artikel
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Meugampong
Share on FacebookShare on Twitter

Menulis tentang gampong bukan akhir-akhir ini mulai saya lakukan. Skripsi saya di program sarjana ilmu hukum, saya meneliti tentang gampong. Pembimbing saya waktu itu adalah Dahnil MS –dosen FH yang sudah pensiun, dan Dr. Taqwaddin Husin, yang sekarang memimpin Ombudsman Aceh. Saya melihat gampong dari sisi yuridis dan empirik –pendekatan yang di kalangan para sarjana hukum ada yang mempertanyakan-menolak dan sebagian mengaguminya.

Bagi saya, kajian tentang gampong itu penting. Tahun 2003, ketika saya menyelesaikan sarjana hukum, pertanyaannya saya mulai secara sederhana. Mengapa harus kembali ke gampong? Memangnya ada apa dengan desa? Apa yang paling substansial yang berbeda antara gampong dan desa?

Kolom ini tak hendak menjawab seluruh masalah itu. Hal kecil yang ingin saya tegaskan bahwa orang tua kita dulu, sengaja sangat memberi ruang untuk masing-masing lokal, disebabkan mereka sadar betul ada keberagaman dalam masyarakat. Keberagaman itu tidak mungkin ditolak, walau tak juga harus berarti dipaksakan. Gampong mewakili keniscayaan itu. Maka ketika konsep gampong dipaksanakan dengan konsep desa, imbasnya akan banyak dan mengganggu hal yang sudah berurat-akar.

BACA JUGA

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

Gampong dan desa –sama seperti wajah teritori yang lain: puak, kampung, nagari, sasi, dan sebagainya—adalah wajah dari keagungan kekayaan mereka masing-masing. Dengan wajah demikian membuat mudah bagi mereka sendiri.

Masalahnya adalah ketika berbicara gampong seolah berbicara tentang masa lalu. Maka konteks gampong yang dibicarakan, pada akhirnya terkesan seperti berbicara tentang meugampong. Ada dua konteks meugampong yang ingin dituntaskan. Pertama, meugampong dalam konteks berkehidupan gampong. Kedua, meugampong dalam konteks tertinggal, seolah-olah apa yang ada di gampong tidak konteks dengan kehidupan sekarang.

Dalam bahasa Indonesia, meugampong itu bisa dilihat dalam konteks yang namanya meu gampong (kata dengan makna berawalan me), dan ada konsep meugampong (kata dengan makna berawalan ber). Makna yang satu menunjuk hidup yang bernilai gampong.

Sementara satu lagi mempertegas hidup yang hanya berbatas (di) gampong. Tentu kedua makna tersebut berbeda jauh arahnya. orang berpersepsi seolah-olah mereka yang merantau jauh dengan kedua makna ini. Padahal tidak demikian. Orang-orang yang merantau, bukan berarti jauh dari meugampong atau meu gampong. Konsep pertama, ketika orang-orang tidak bisa berpikir lebih luas, makanya dikesankan sebagai orang yang mampu mampu berpikir menurut ukuran kampung.

Baca Juga:  Memaknai Ulang Islam sebagai 'Agama'

Saya tidak ingin memperlebar jarak pada bahasan kedua. Meugampong yang saya maksud adalah peneguhan pada nilai-nilai yang penting dalam masyarakat gampong –antara lain pada sisi komunalnya. Sisi komunal ingin dilawankan dengan sisi individual.

Sisi komunal dalam konteks keindonesiaan, selalu tidak terlepas dari bagaimana kaitannya dengan nilai agama. Selalu dalam berbagai sisi, tidak mungkin hal ini ditinggalkan.

Masalah ukuran berpikir ini bisa diperdebatkan. Orang-orang yang sudah pergi jauh, diharapkan akan berpikir luas, tidak seperti orang kampung. Penabalan istilah ini juga tidak adil, karena bukan berarti orang yang tinggal di kampung tidak bisa berpikir luas. Apalagi dengan bantuan internet selama ini, orang-orang yang di kampung paling ujung sekalipun, jika mau, akan mengetahui berbagai keadaan dunia dan global.

Dengan demikian orang yang hidup di gampong, dianggap sebagai orang yang tidak bisa berpikir luas –atau bahkan berpikir maju, juga tidak sepenuhnya benar. Hal ini berarti, bahwa orang yang sudah merantau kemana-mana, sudah bisa dianggap sebagai orang yang berpikir luas dan maju, juga tidak selamanya benar.

Orang yang sudah berjalan jauh, dianggap sepihak sebagai orang yang bisa berpikir luas, disebabkan karena daya jangkau mereka terhadap dunia sudah lebih luas. Dengan sudah melangkah ke banyak tempat, dengan demikian bisa melihat ruang dan tempat lebih banyak.

Dengan pengalaman demikian, maka bahan perbandingan dalam hal melakukan sesuatu, juga sudah lebih banyak bandingannya. Secara sederhana, konsep banyak berjalan, itu dalam makna tempat, yang sekali lagi, ketika ukuran itu lalu kita bandingkan dengan dunia informasi dan komunikasi sekarang ini yang sangat terbuka, maka yang ada di kampung pun dapat berada dalam posisi banyak melihat semacam itu.

Baca Juga:  Gubernur Aceh Ultimatum Tambang Ilegal: Dua Minggu Alat Berat Harus Angkat Kaki dari Hutan

Satu lagi makna di atas adalah masalah nilai kampung, yang seyogianya memang dijaga. Nilai kampung ini, juga mungkin tidak selamanya masih aktif di kampung. Nilai kebersamaan, nilai kegotongroyongan, dan semacamnya, mewakili dari makna nilai gampong ini. Masalahnya nilai ini tidak lagi murni masih aktif di kampung.

Pengalaman saya mengunjungi banyak tempat di kampung-kampung kita, sejumlah nilai yang dianggap nilai kampung, kenyataannya bergeser ke kota. Apa yang saya ungkapkan ini bisa diverifikasi sendiri di lapangan. Misalnya dalam hal bagaimana sekelompok orang yang tinggal bersama di kawasannya, ketika berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain. Nilai-nilai ini menjadi tantangan untuk dipupuk kembali untuk kita yang ada di gampong.

Akhir-akhir saya banyak sangsi, jangan-jangan apa yang kita klaim sebagai gampong, sudah tidak lagi berada di kampung-kampung, melainkan sudah bergeser ke tempat lain, yang sesungguhnya tidak kita perkirakan: ke kota-kota. Dalam konteks interaksi sosial, fenomena demikian bukan sesuatu yang mustahil.

 

Tags: acehKearifan LokaKebudayaanNasionalSosial
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Sulaiman Tripa

Sulaiman Tripa

Sulaiman Tripa adalah analis sosial legal dan kebudayaan. Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala.

Related Posts

Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Artikel

Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?

by SAGOE TV
July 5, 2025
Misteri Lonjakan Kasus HIV di Banda Aceh Fakta yang Jarang Diketahui!
Artikel

Misteri Lonjakan Kasus HIV di Banda Aceh: Fakta yang Jarang Diketahui!

by SAGOE TV
July 3, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

April 16, 2026
Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

April 18, 2026
UIN Ar-Raniry Peringkat 1 Nasional Scimago 2026, Lampaui UI dan UGM di Bidang Riset

UIN Ar-Raniry Peringkat 1 Nasional Scimago 2026, Lampaui UI dan UGM di Bidang Riset

April 20, 2026
MagangHub Kemnaker Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku

MagangHub Kemnaker Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku

April 19, 2026
Imeum Mukim Tungkop Peusijuek 48 Calon Jamaah Haji

Imeum Mukim Tungkop Peusijuek 48 Calon Jamaah Haji

April 20, 2026
Prof Eka Srimulyani kuliah tamu di Seoul National University, Korea Selatan, membahas riset generasi muda Muslim dan pengaruh budaya K-Pop.

Prof Eka Srimulyani Kuliah Tamu di Seoul National University, Bahas Generasi Muda Muslim dan K-Pop

April 18, 2026
Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

April 17, 2026
Pemain Persiraja Banda Aceh

Persiraja vs Garudayaksa FC Malam Ini: Dek Gam Tekankan Harga Diri, Pemain Wajib Fight

April 19, 2026
6 Universitas Sepakat Kembangkan Riset Konservasi Gajah Sumatra di Lansekap Peusangan

6 Universitas Sepakat Kembangkan Riset Konservasi Gajah Sumatra di Lansekap Peusangan

April 17, 2026

EDITOR'S PICK

Usai Pencairan Bonus Atlet, KONI Aceh Fokus Genjot Persiapan Menuju Pra-PORA hingga PON 2028

Usai Pencairan Bonus Atlet, KONI Aceh Fokus Genjot Persiapan Menuju Pra-PORA hingga PON 2028

November 16, 2025
Pemerintah Aceh Diminta Maksimalkan Potensi Gas South Andaman untuk Kesejahteraan Daerah

Pemerintah Aceh Diminta Maksimalkan Potensi Gas South Andaman untuk Kesejahteraan Daerah

March 11, 2025
Mahasiswa PPG Unimal Bersama MGMP Kimia Bireuen Kenalkan 3 Media Pembelajaran Inovatif

Mahasiswa PPG Unimal Bersama MGMP Kimia Bireuen Kenalkan Tiga Media Pembelajaran Inovatif

May 3, 2025
UIN Ar-Raniry Tetapkan 4 Bakal Calon Rektor 2026-2030

UIN Ar-Raniry Tetapkan 4 Bakal Calon Rektor 2026-2030

April 17, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.