• Tentang Kami
Tuesday, July 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Mudik 275 Km; Pulang untuk Menemukan

SAGOE TV by SAGOE TV
March 25, 2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Mudik 275 km dari Banda Aceh ke Lhokseumawe bukan sekadar perjalanan jarak, tapi perjalanan batin untuk kembali ke akar, nilai, dan romantisme kampung halaman.

Persiapan mudik. Foto: Mukhlisuddin Ilyas

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Mukhlisuddin Ilyas
Founder Sagoetv dan Bandar Publishing

Mudik sejatinya bukan soal jarak. Ia bukan sekadar perjalanan 275 kilometer dari satu Kota Banda Aceh ke kota Lhokseumawe, bukan pula tentang berapa lama waktu yang kita tempuh di jalan atau berapa banyak energi yang terkuras. Mudik adalah perjalanan batin, kembali ke asal, kembali ke akar, kembali kepada nilai-nilai yang membentuk siapa kita hari ini. Terlalu banyak romantisme di kampung.

Setiap tahun, jutaan orang melakukan perjalanan yang sama, dengan cerita yang berbeda. Namun satu hal yang menyatukan semuanya adalah kerinduan, dan merajut silaturrahmi. Rindu pada suasana rumah, merenung drama-drama kecil setiap pagi menjelang sekolah, rindu lampung halaman, rindu orang tua, rindu masa kecil yang pernah mengisi hari-hari tanpa beban. Mudik adalah cara manusia menjaga hubungan dengan masa lalunya, sekaligus merawat identitasnya di tengah perubahan zaman.

BACA JUGA

Film Teach You a Lesson: Sebab yang Perlu Dididik Kadang Bukan Anak, tetapi Orang Dewasa

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Bagi kita yang masih memiliki orang tua, mudik adalah keberuntungan yang tak ternilai. Ia bukan hanya kesempatan untuk bertemu, tetapi juga untuk mencintai secara nyata, dengan hadir, dengan duduk bersama, dengan makan sepiring nasi yang mungkin sederhana namun penuh makna. Waktu bersama orang tua tidak pernah benar-benar cukup, dan mudik menjadi ruang untuk memperpanjang kebersamaan itu, walau hanya beberapa hari.

Namun bagi yang orang tuanya telah tiada, mudik tidak kehilangan maknanya. Justru, ia menjadi lebih dalam. Mudik menjadi perjalanan sunyi yang penuh refleksi, kembali ke rumah asal, rumah yang pernah menjadi saksi tangis pertama, tawa masa kecil, dan langkah awal kehidupan.

Rumah asal itu adalah “learning centre” paling awal, tempat kita belajar tentang cinta, disiplin, rendah hati, toleransi, kesederhanaan, dan makna hidup.

Sebagai seorang ayah dengan empat anak, mudik adalah rutininas kewajiban dan pembelajaran untuk mereka. Mengenal akar ayah dan ibunya. Memperkuat daya tahan. Perjalanan mudik bukan hanya soal pulang, tetapi juga soal mewariskan nilai. Tahun ini menjadi momen yang istimewa. Anak pertama kami  selangkah lagi ke perguruan tinggi, sebuah fase baru dalam hidup kami orang tua, kami mulai tua.

Namun, di tengah perubahan itu, tradisi mudik tetap dijaga. Belum pernah absen. Karena di sanalah anak-anak belajar tentang asal-usulnya ayah dan ibunya, tentang kampung halaman ayah dan ibunya, tentang identitas yang tidak boleh terputus oleh modernitas.

Mudik tahun ini terasa sedikit berbeda. Ada keterlambatan yang tak biasa, karena pekerjaan yang harus dituntaskan di Banda Aceh. Namun justru dari situ, perjalanan terasa lebih bermakna. Tidak tergesa, tidak sekadar rutinitas, tetapi benar-benar dinikmati sebagai proses.

Perjalanan dimulai pada 28 Ramadan menuju Samalanga, Bireuen. Di sana, beberapa malam diisi dengan kebersamaan sederhana, berbuka puasa dan sahur bersama Mak. Tidak ada kemewahan, tetapi ada kehangatan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun. Duduk melingkar, berbagi cerita, tertawa, dan saling menguatkan, itulah inti dari mudik yang sesungguhnya.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Tumpok Teungoh, Kota Lhokseumawe, kampung halaman istri. Di sana, suasana mudik semakin terasa lengkap. Tidak hanya keluarga, tetapi juga sahabat dan kawan lama menjadi bagian dari perjalanan silaturahmi. Malam dihabiskan dengan ngopi bersama di Taufik Kupi Kuta Blang, berbincang hingga larut, bahkan hampir menyentuh dini hari. Dalam secangkir kopi, plus mie tumis telor, dan obrolan ringan, termasuk obsesi jurnal yang kami dirikan di Lhokseumawe bisa tembus sinta 2 tahun ini, semuanya tersimpan makna kebersamaan yang sulit ditemukan di hari-hari biasa.

Pagi hari Idul Fitri menjadi puncak dari perjalanan mudik ini. Shalat Id dilaksanakan di masjid setempat, Mesjid Muchlisin Tumpok Teungoh, sebuah tempat yang memiliki kedekatan emosional tersendiri. Dalam khutbahnya, khatib mengingatkan tentang makna kembali ke fitrah, kembali menjadi manusia yang bersih, yang berusaha tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pesan yang sederhana, namun sangat dalam untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.

Idul Fitri bukan hanya tentang pakaian baru atau hidangan istimewa, tetapi tentang pembaruan diri. Tentang komitmen untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dan mudik menjadi momentum yang tepat untuk merenungkan semua itu.

Setelah shalat, perjalanan dilanjutkan dengan ziarah ke makam ibu mertua. Di sana, doa-doa dipanjatkan, ayat-ayat suci dibacakan, membaca yasin, dan kenangan-kenangan dihidupkan kembali. Ziarah bukan sekadar ritual, tetapi juga pengingat bahwa hidup ini sementara. Bahwa pada akhirnya, semua akan kembali. Dan yang tersisa hanyalah amal dan kenangan baik.

Lebaran pun diisi dengan berbagai kegiatan sosial. Bersilaturahmi, saling memaafkan, dan berbagi kebahagiaan. Mudik menjadi sarana untuk memperkuat jaringan sosial yang mungkin selama ini terputus oleh kesibukan. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri, kebahagiaan sejati sering kali datang dari hubungan yang tulus dengan orang lain.

Hari kedua lebaran, perjalanan kembali dilanjutkan ke Samalanga, Bireuen. Kali ini, untuk merajut kembali hubungan dengan keluarga saya. Tradisi yang tidak pernah terlewatkan adalah ziarah ke makam ayah. Sebuah tempat yang begitu dekat, bahkan berada di depan pintu rumah.

Setiap pulang, selalu ada satu langkah yang tidak pernah dilupakan, singgah di kuburan ayah. Ayah meninggal ketika saya sebagai anak pertama berusia 12 tahun. Membaca doa, mengingat jasa-jasanya, dan merasakan kehadirannya dalam keheningan. Meski raga telah tiada, nilai-nilai yang ditanamkan tetap hidup dalam diri.

Kenangan ke sawah, ceumacah, memelihara kerbau, tradisi mengaji setelah magrib dan rotannya. Selalu tergiang-giang. Alfatihah untuk Ayah.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kiran, Jangka Buya, Pidie Jaya. Disana melanjutkan tradisi ziarah ke makam saudara-saudara Ayah. Ini bukan sekadar kunjungan, tetapi bentuk penghormatan terhadap akar keluarga. Anak-anak belajar sejarah asalnya. Sebuah cara untuk menjaga ingatan kolektif, agar generasi berikutnya tidak kehilangan jejaknya.

Mudik pada akhirnya bukan tentang sampai di tujuan, tetapi tentang proses yang dilalui tentang setiap perhentian, setiap pertemuan, setiap doa, dan setiap kenangan yang tercipta. Ia adalah perjalanan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu garis yang utuh.

Dalam dunia yang semakin cepat dan individualistik, mudik menjadi pengingat bahwa ada hal-hal yang tidak boleh hilang, keluarga, kampung halaman, dan nilai-nilai kehidupan. Ia mengajarkan tentang kesederhanaan, tentang rasa syukur, dan tentang pentingnya menjaga hubungan.

Ini bukan mudik virtual. Mudik 275 kilometer ini mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang. Namun di balik angka itu, tersimpan perjalanan yang luar biasa, konsistensi, perjalanan dua hati, perjalanan makna, dan perjalanan menuju diri yang lebih utuh.

Karena pada akhirnya, mudik bukan hanya tentang pulang. Tetapi pulang untuk menemukan kembali siapa kita sebenarnya.[]

Tags: 275 KmacehIdulfitriIndonesiaLebaranMakin Tahu IndonesiaMudikMukhlisuddin Ilyas
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Risnawati Ridwan ASN Pada Dinas Sosial Kota Banda Aceh
Opini

Film Teach You a Lesson: Sebab yang Perlu Dididik Kadang Bukan Anak, tetapi Orang Dewasa

by SAGOE TV
July 21, 2026
Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas
Opini

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

by SAGOE TV
July 18, 2026
Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang
Opini

Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang

by SAGOE TV
July 17, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh
Opini

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

by SAGOE TV
July 16, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi
Opini

Tentang Media dan Perhatian Publik

by SAGOE TV
July 14, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

July 21, 2026
Ruang Perjumpaan #001 SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

July 15, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas

Ketika Meu-en Batee menjadi Olahraga

February 6, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

July 16, 2026
Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

July 18, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi

Tentang Media dan Perhatian Publik

July 14, 2026
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 13, 2026
ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

July 20, 2026

EDITOR'S PICK

Kemenag Aceh Lantik 78 PPPK Optimalisasi dan 292 PPPK Paruh Waktu Secara Serentak

Kemenag Aceh Lantik 78 PPPK Optimalisasi dan 292 PPPK Paruh Waktu Secara Serentak

November 27, 2025
 Masa Depan Peradilan Adat

 Masa Depan Peradilan Adat

March 20, 2025
Politik Aceh Besar Menuju Pemilu 2024

Politik Aceh Besar Menuju Pemilu 2024

April 10, 2022
Kemdiktisaintek Luncurkan Program Penelitian dan Pengabdian Masyarakat 2025

Kemdiktisaintek Luncurkan Program Penelitian dan Pengabdian Masyarakat 2025

March 4, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.