• Tentang Kami
Sunday, April 19, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Talenta Digital dari Dayah: Harapan Baru Ekonomi Aceh

SAGOE TV by SAGOE TV
July 1, 2025
in Artikel
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Talenta Digital dari Dayah: Harapan Baru Ekonomi Aceh

Harjoni Desky. Foto for Sagoetv

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Harjoni Desky
Ketua Prodi S2 Ekonomi Syariah UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe

“Abang, bisa bantu desain logo untuk usaha saya?” tanya seorang pemilik Keude sembako di Lhokseumawe. Yang ditanya bukan mahasiswa desain grafis atau lulusan politeknik, melainkan santri dayah yang baru saja menyelesaikan kursus daring tentang Canva dan pemasaran digital. Ia belajar secara otodidak, di sela waktu mempelajari kitab kuning. Inilah potret baru generasi muda Aceh – santri yang bukan hanya ahli fikih, tapi juga mulai memahami dunia digital.

BACA JUGA

UIN Ar-Raniry Peringkat 1 Nasional Scimago 2026, Lampaui UI dan UGM di Bidang Riset

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

Aceh, daerah yang dikenal dengan identitas keislamannya dan basis pendidikan dayah (pesantren tradisional), kini tengah menghadapi tantangan besar: tingginya pengangguran muda dan stagnasi ekonomi lokal. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh tahun 2024, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pemuda usia 15–24 tahun mencapai 14,8%, salah satu yang tertinggi di Sumatera. Di sisi lain, ribuan santri lulus dari dayah setiap tahunnya, namun sebagian besar menghadapi keterbatasan akses ekonomi dan lapangan kerja.

Apakah mungkin santri menjadi ujung tombak kebangkitan ekonomi Aceh melalui dunia digital?

Dayah selama ini dikenal bukan hanya sebagai pusat pengajaran ilmu agama, tetapi juga sebagai benteng moral dan pembentuk karakter generasi muda Aceh. Pola pendidikan di dayah menanamkan disiplin tinggi, ketekunan, kesabaran, serta kesungguhan dalam menuntut ilmu. Nilai-nilai ini terpatri kuat dalam kehidupan santri sehari-hari, membentuk pribadi yang tangguh, sederhana, dan berjiwa mandiri. Inilah yang menjadikan dayah sebagai institusi pendidikan berbasis nilai yang tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Baca Juga:  Untuk Kepastian Hukum Qanun Bendera Dan Lambang Aceh: Mari Kita Dialog

Ketika para santri diberi akses terhadap teknologi dan literasi digital, mereka menunjukkan kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Kemampuan memahami alat dan platform digital tumbuh cepat, terlebih karena mereka terbiasa belajar secara mandiri dan intensif. Santri yang terbiasa membaca kitab kuning kini mulai terbiasa pula membaca data, mengolah visual, bahkan memproduksi konten dakwah yang menarik melalui media sosial.

Modal sosial yang telah dibangun dayah selama ini, jika disinergikan dengan keterampilan digital, akan melahirkan generasi baru santri yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga produktif secara ekonomi.Beberapa inisiatif telah dimulai. Di Bireuen, misalnya, sebuah lembaga pelatihan informal bekerja sama dengan dayah untuk mengajarkan dasar-dasar desain grafis dan pengelolaan media sosial. Hasilnya, santri tidak hanya bisa mengelola akun dakwah di TikTok atau Instagram, tapi juga mulai menerima pesanan desain, editing video, bahkan membuat konten promosi UMKM lokal. Ini adalah lompatan penting menuju integrasi ke ekonomi digital.

Meski potensinya besar, tantangan juga tidak kecil. Pertama, akses infrastruktur digital di banyak daerah Aceh masih sangat terbatas. Koneksi internet yang lambat atau tidak stabil menjadi penghalang utama untuk pembelajaran daring dan praktik keterampilan digital.

Kedua, kurikulum dayah umumnya belum mengintegrasikan aspek literasi teknologi. Fokus utama masih pada penguasaan ilmu-ilmu agama klasik. Meskipun penting, pendekatan ini perlu dilengkapi dengan wawasan dunia modern agar lulusannya relevan dengan kebutuhan zaman.

Ketiga, masih ada resistensi dari sebagian kalangan yang memandang bahwa keterlibatan santri di dunia digital bisa mengganggu keikhlasan dalam belajar agama atau bahkan membawa pengaruh buruk dari luar. Ini adalah tantangan kultural yang perlu dijawab dengan pendekatan bijak, bukan konfrontatif.

Baca Juga:  Akankah China-Rusia Bakal Masuk Jebakan Rawa Perang Asimetris dan Bom Waktu AS di Afghanistan?

Untuk menjawab tantangan transformasi digital di lingkungan dayah, diperlukan pendekatan yang kolaboratif dan lintas sektor. Tidak mungkin beban ini ditanggung oleh dayah seorang diri. Pemerintah daerah perlu mengambil peran sebagai fasilitator utama dengan merancang kebijakan afirmatif yang mendorong integrasi teknologi dalam pendidikan tradisional. Ini bisa diwujudkan melalui penganggaran program literasi digital untuk dayah, penyediaan infrastruktur internet di lingkungan pesantren, hingga pelatihan guru-guru agama agar mampu mengakses dan mengelola sumber-sumber pengetahuan digital.

Di sisi lain, sektor swasta, khususnya perusahaan-perusahaan teknologi dan lembaga keuangan syariah, dapat menjadi mitra strategis dalam pengembangan ekosistem talenta digital berbasis dayah. Melalui program CSR (Corporate Social Responsibility), mereka bisa mendanai pelatihan keterampilan digital, mentoring wirausaha berbasis teknologi, serta menyediakan akses perangkat lunak atau perangkat keras yang dibutuhkan. Dengan keterlibatan swasta, proses transformasi ini tidak hanya bersifat top-down, tetapi juga tumbuh dari sinergi kebutuhan industri dan potensi lokal.

Institusi pendidikan tinggi juga memiliki peran penting sebagai katalisator inovasi. Kolaborasi antara kampus dengan dayah dapat membuka ruang transfer pengetahuan dan teknologi secara terstruktur. Mahasiswa dan dosen bisa dilibatkan sebagai pendamping atau pelatih dalam program digitalisasi pesantren. Bahkan, dengan model pengabdian masyarakat yang terintegrasi, perguruan tinggi dapat menjadikan dayah sebagai laboratorium sosial untuk mengembangkan pendekatan pendidikan yang berbasis nilai, teknologi, dan pemberdayaan ekonomi. Bila semua pihak bergerak bersama, maka visi membangun talenta digital dari dayah bukan hanya wacana, melainkan agenda strategis pembangunan Aceh.

Bayangkan jika dalam lima tahun ke depan, dari 1000 dayah di Aceh, masing-masing meluluskan minimal 5 talenta digital. Itu berarti 5000 santri digital yang siap masuk ke pasar kerja global – mulai dari content creator, social media manager, UI/UX designer, hingga web developer. Lebih dari sekadar keterampilan teknis, santri digital juga membawa etika kerja dan nilai-nilai Islam yang menjadi pembeda – tanggung jawab, kejujuran, dan niat untuk maslahat.

Baca Juga:  Bunda PAUD Aceh Raih Penghargaan Nasional dari Kemendikdasmen RI

Aceh tidak kekurangan sumber daya. Yang kurang adalah desain strategis untuk mengoptimalkan potensi manusianya. Santri, yang selama ini hanya ditempatkan sebagai penjaga tradisi, sebenarnya memiliki daya dorong besar sebagai agen perubahan.

Jika selama ini Aceh dikenal karena warisan ulama, maka kini saatnya melahirkan generasi santri teknokrat – mereka yang mampu berdakwah lewat platform digital, membangun usaha lewat jejaring daring, dan membawa wajah baru Islam Aceh yang progresif dan solutif.

Digitalisasi bukan ancaman bagi nilai-nilai keislaman. Justru sebaliknya, ia bisa menjadi kendaraan dakwah dan penguatan ekonomi umat – bila dipandu dengan visi yang benar. Talenta digital dari dayah bukan lagi mimpi. Ia sedang tumbuh. Tinggal apakah kita mau menyiramnya, atau membiarkannya layu karena ketidakpedulian.

Karena pada akhirnya, masa depan Aceh tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam yang terus terkikis, melainkan oleh sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dan menciptakan nilai. Santri yang mampu membaca zaman, bukan hanya kitab; yang fasih berdakwah di mimbar, tapi juga di dunia maya. Inilah generasi yang kita tunggu – generasi yang akan menulis ulang narasi pembangunan Aceh, dengan tangan-tangan yang terampil, hati yang bersih, dan visi yang bercahaya. Jika dayah mampu melahirkan ulama besar masa lalu, maka ia juga mampu melahirkan arsitek peradaban digital masa depan. Semoga.

Tags: acehDayahEkonomiTalenta DigitalTransformasi
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

UIN Ar-Raniry Peringkat 1 Nasional Scimago 2026, Lampaui UI dan UGM di Bidang Riset
Artikel

UIN Ar-Raniry Peringkat 1 Nasional Scimago 2026, Lampaui UI dan UGM di Bidang Riset

by SAGOE TV
April 19, 2026
Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Artikel

Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?

by SAGOE TV
July 5, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

April 16, 2026
Film Hikayatussistance Tayang di CineDocx dan Bakaba Sinema, Ini Jadwal Lengkapnya

Film Hikayatussistance Tayang di CineDocx dan Bakaba Sinema, Ini Jadwal Lengkapnya

April 13, 2026
Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

April 18, 2026
MagangHub Kemnaker Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku

MagangHub Kemnaker Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku

April 19, 2026
PSAP Sigli Juara Liga 4 Aceh 2025/2026, Kalahkan Al Farlaky FC 2-0 di Final

PSAP Sigli Juara Liga 4 Aceh 2025/2026, Kalahkan Al Farlaky FC 2-0 di Final

April 12, 2026
Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

April 11, 2026
Mualem Minta Dana Otsus Aceh Abadi 2,5 Persen di Hadapan Baleg DPR RI, Ini Responsnya

Mualem Minta Dana Otsus Aceh Abadi 2,5 Persen di Hadapan Baleg DPR RI, Ini Responsnya

April 17, 2026
Prof Eka Srimulyani kuliah tamu di Seoul National University, Korea Selatan, membahas riset generasi muda Muslim dan pengaruh budaya K-Pop.

Prof Eka Srimulyani Kuliah Tamu di Seoul National University, Bahas Generasi Muda Muslim dan K-Pop

April 18, 2026
Donasi 500 Ton Warga Aceh di Malaysia Siap Dipulangkan, KBRI Tekankan Skema NGO to NGO

Donasi 500 Ton Warga Aceh di Malaysia Siap Dipulangkan, KBRI Tekankan Skema NGO to NGO

February 6, 2026

EDITOR'S PICK

Milad ke-50, Sulaiman Tripa Rilis Dua Buku Baru di Fakultas Hukum USK

Milad ke-50, Sulaiman Tripa Rilis Dua Buku Baru di Fakultas Hukum USK

April 2, 2026
DERITA ROHINGYA

DERITA ROHINGYA

January 10, 2023
Ketua PKK Aceh Dorong Percepatan Bantuan Rumah untuk Masyarakat dan Eks Kombatan GAM

Ketua PKK Aceh Dorong Percepatan Bantuan Rumah untuk Masyarakat dan Eks Kombatan GAM

April 11, 2025
Al-Nassr Tekuk Al-Zawraa 5-1, Ronaldo Catat Assist di Liga Champions Asia

Al-Nassr Tekuk Al-Zawraa 5-1, Ronaldo Catat Assist di Liga Champions Asia

December 25, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.