• Tentang Kami
Tuesday, September 15, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Bencana yang Berulang: Saatnya Aceh dan Sumatra Memutus Lingkaran Lama

SAGOE TV by SAGOE TV
December 3, 2025
in BENCANA SUMATERA 2025, Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Bencana yang Berulang Saatnya Aceh dan Sumatra Memutus Lingkaran Lama

Bencana banjir dan longsor di Aceh akhir November 2025. Foto: dok. Adi G

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Ari J. Palawi
Penyintas Tsunami Aceh 2004

Banjir bandang dan longsor besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada penghujung 2025 seakan membuka kembali bab lama yang belum pernah benar-benar kita selesaikan. Dalam hitungan hari, desa-desa terendam, jembatan terputus, rumah hanyut, dan ratusan nyawa melayang. Ribuan keluarga kini tinggal di tenda darurat, menunggu cuaca membaik, sembari bertanya-tanya: mengapa ini terus terjadi?

BACA JUGA

Hari Literasi, AI, dan Cara Berpikir

Lulusan Seni 2026-2030: Menghubungkan Pendidikan, Profesi, dan Kebudayaan Aceh

Ini bukan sekadar karena hujan ekstrem. Ini soal bagaimana kita memperlakukan tanah ini, hutan ini, sungai ini, dan ingatan kita sendiri. Bencana kali ini menunjukkan bahwa persoalan kita bukan hanya alam yang berubah, tetapi juga cara kita memahami dan merawat ruang hidup.

Dua Puluh Tahun Setelah Tsunami—Pelajaran Itu Masih Tertinggal
Sebagai penyintas tsunami 2004, saya merasakan langsung bagaimana suara gemuruh laut bisa mengubah seluruh hidup dalam sekejap. Pengalaman itu saya tulis dalam “The 2004 Tsunami: A Survivor’s Story”—sebuah pengingat bahwa bencana tak hanya merobohkan bangunan, tapi juga mengguncang rasa aman dan arah hidup.
Tsunami 2004 memberi kita pelajaran besar:
• bahwa manusia dan alam harus hidup berdampingan,
• bahwa solidaritas dan meuseuraya (gotong-royong) menyelamatkan lebih cepat daripada alat berat,
• bahwa memori kolektif adalah benteng pertama sebelum sirene peringatan dini berbunyi.

Namun kini, dua puluh tahun kemudian, ketika banjir dan longsor kembali menghantam Sumatra, kita melihat bahwa pelajaran itu belum menjadi bagian dari cara kita merancang pemukiman, membangun kota, atau mendidik generasi baru.

Terkadang, bencana bukan datang karena kita tidak tahu — tetapi karena kita lupa.

Dua Persoalan Besar yang Muncul Bersamaan
1. Ruang Hidup Kita Terlalu Rapuh
Hutan digunduli, lereng curam dihuni, dan sungai diuruk demi lahan cepat guna. Banyak perumahan tumbuh di area yang bahkan oleh tanahnya sendiri tidak diizinkan untuk ditempati.

Ketika hujan ekstrem datang, tanah yang seharusnya menahan air justru ikut turun. Sungai yang dahulu lega berubah sempit. Dan air, seperti manusia yang kehilangan jalan pulang, mencari jalannya sendiri—menghancurkan apa pun yang dilewatinya.

2. Ingatan Kita Terkikis Pelan-Pelan
Generasi pasca-2005—yang kini sudah remaja dan dewasa—tidak mengalami langsung tsunami. Tanpa narasi yang kuat, tanpa pendidikan bencana yang memadai, tanpa warisan cerita tentang bagaimana alam bergerak dan bagaimana manusia seharusnya bersiap, kewaspadaan pun perlahan memudar.

Kita tidak bisa berharap masyarakat siap menghadapi bencana, jika pelajarannya tidak pernah sungguh-sungguh diwariskan.

Dari Luka ke Harapan: Apa yang Sebenarnya Bisa Kita Lakukan?
Peristiwa 2004 dan 2025 memberi kita satu pesan penting: kita tidak boleh memisahkan bencana dari cara kita hidup.

Jika ingin benar-benar berubah, ada tiga hal yang perlu kita bangun bersama:
1. Menghidupkan Kembali Memori sebagai Penjaga Masa Depan
• Memori bencana bukan untuk ditakuti—tetapi untuk dijadikan kompas.
• Cerita penyintas harus direkam dan dibagikan.
• Museum dan monumen harus menjadi ruang belajar, bukan tempat foto saja.
• Sekolah dan keluarga harus membicarakan bencana, bukan sekadar saat terjadi.
• Media lokal dan seniman harus terus menuturkan narasi yang memperkuat kesadaran risiko.

Memori adalah bentuk kesiapsiagaan yang paling jujur.

2. Membangun Tata Ruang yang Menghargai Alam dan Manusia
• Kita perlu pembangunan yang mengutamakan keselamatan:
• menghentikan pembangunan di zona rawan longsor,
• memulihkan hutan yang rusak,
• memperkuat drainase,
• merancang kota dan desa dengan peta risiko yang jelas,
• memastikan izin pembangunan tidak sekadar formalitas.

Pembangunan yang bijak tidak hanya memikirkan hari ini, tetapi masa depan anak-anak kita.

3. Memperkuat Solidaritas dan Modal Sosial
Pada 2004, kami selamat karena saling menyelamatkan.
Pada 2025 pun, banyak nyawa tertolong karena gerak cepat warga.

Modal sosial ini perlu terus dirawat:
• komunitas harus dilibatkan dalam simulasi dan pendidikan bencana,
• lembaga adat dan tokoh lokal harus diberi ruang memimpin,
• bantuan dan pemulihan harus adil, transparan, dan tepat sasaran,
• relawan, pemuda, dan perempuan perlu diberdayakan dalam seluruh fase kebencanaan.

Ketangguhan bukan hanya soal struktur beton, tetapi tentang manusia yang saling menjaga.

Kenapa Kita Harus Bergerak Sekarang
Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk mengingatkan: kita tidak boleh terus menunggu bencana datang untuk belajar.

Banjir dan longsor 2025 adalah panggilan untuk berubah:
• bagi pemerintah: agar kebijakan lebih berpihak pada keselamatan dan keberlanjutan,
• bagi sekolah dan komunitas: agar pendidikan risiko menjadi budaya sehari-hari,
• bagi media dan pelaku seni: agar memori kolektif terus terjaga,
• bagi generasi muda: agar mereka menjadi pewaris yang lebih siap dan lebih bijak.

Bencana mungkin tidak bisa kita hentikan sepenuhnya, tetapi cara kita hidup bisa membuat dampaknya jauh lebih kecil.

Kini, saatnya Aceh dan Sumatra memutus lingkaran lama ini—dengan memori yang hidup, ruang hidup yang dijaga, dan komunitas yang bergerak bersama.

Karena tanah kita tidak hanya butuh pembangunan, tetapi juga kebijaksanaan. []

Tags: AcehBanjirbencanaBencana Sumatera 2025LongsorSumatera
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Hari Literasi, AI, dan Cara Berpikir
Opini

Hari Literasi, AI, dan Cara Berpikir

by SAGOE TV
September 9, 2026
Lulusan Seni 2026-2030 Menghubungkan Pendidikan, Profesi, dan Kebudayaan Aceh
Opini

Lulusan Seni 2026-2030: Menghubungkan Pendidikan, Profesi, dan Kebudayaan Aceh

by SAGOE TV
September 7, 2026
Risnawati Ridwan
Opini

Desil di Atas Kertas, Akses Pendidikan dan Kesehatan menjadi Taruhan

by SAGOE TV
September 6, 2026
Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026
Opini

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026

by SAGOE TV
September 2, 2026
Setelah Dislokasi Epistemik Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK
Opini

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

by SAGOE TV
August 31, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

67 Pejabat UIN Ar-Raniry Dilantik, Reza Idria Jadi Wakil Rektor dan Hendra Kurniawan Plt Dekan Kedokteran

67 Pejabat UIN Ar-Raniry Dilantik, Reza Idria Jadi Wakil Rektor dan Hendra Kurniawan Plt Dekan Kedokteran

September 11, 2026
Dari Harvard ke UIN Ar-Raniry, Reza Idria Kini Jadi Wakil Rektor

Dari Harvard ke UIN Ar-Raniry, Reza Idria Kini Jadi Wakil Rektor

September 11, 2026
Kenapa Tol Padang Tiji-Seulimeum Ditutup Sementara Ini Alasan dan Jadwal Dibuka Kembali

Kenapa Tol Padang Tiji-Seulimeum Ditutup Sementara? Ini Alasan dan Jadwal Dibuka Kembali

September 10, 2026
Mahasiswa PKK USK Belajar Pendidikan Kuliner dan Pariwisata dari Akademisi Malaysia

Mahasiswa PKK USK Belajar Pendidikan Kuliner dan Pariwisata dari Akademisi Malaysia

September 12, 2026
Prof Teuku Zulfikar Jadi Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Ini Fokus yang Akan Diperkuat

Prof Teuku Zulfikar Jadi Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Ini Fokus yang Akan Diperkuat

September 12, 2026
Mahasiswa USK Soroti Pemulihan Pascabencana Aceh, Plt Sekda Buka Ruang Dialog

Mahasiswa USK Soroti Pemulihan Pascabencana Aceh, Plt Sekda Buka Ruang Dialog

September 11, 2026
Mujiburrahman Terpilih Jadi Ketua ICMI Aceh, Unggul 13 Suara dalam Muswil VIII

Mujiburrahman Terpilih Jadi Ketua ICMI Aceh, Unggul 13 Suara dalam Muswil VIII

September 12, 2026
Jejak Syekh Yusuf al-Makassari di Aceh dan Jaringan Samudra Hindia Dibahas UIN Ar-Raniry

Jejak Syekh Yusuf al-Makassari di Aceh dan Jaringan Samudra Hindia Dibahas UIN Ar-Raniry

September 14, 2026
Dua Kampus Besar Aceh Kembali Perkuat Kerja Sama untuk Majukan Pendidikan

Dua Kampus Besar Aceh Kembali Perkuat Kerja Sama untuk Majukan Pendidikan

September 11, 2026

EDITOR'S PICK

Inflasi Aceh Juli 2026 Tercatat 0,24 Persen, Kenaikan Harga Beras hingga Semen Jadi Penyebab

Inflasi Aceh Agustus 2026 Capai 0,28 Persen, Nilai Tukar Petani Naik 0,59 Persen

September 1, 2026
Gebyar Ramadhan di Gampong Kuta Karang Aceh Besar

Gebyar Ramadhan di Gampong Kuta Karang, Aceh Besar

March 22, 2025
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Embarkasi Aceh Dilantik, Diminta Layani Jemaah Sebaik-baiknya

Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Embarkasi Aceh Dilantik, Diminta Layani Jemaah Sebaik-baiknya

April 22, 2025
Percepat Sertifikasi Tanah Wakaf di Aceh, Kejati-BPN-Kemenag Perkuat Kolaborasi Cegah Sengketa Hukum

Percepat Sertifikasi Tanah Wakaf di Aceh, BPN-Kejati-Kemenag Perkuat Kolaborasi Cegah Sengketa Hukum

April 14, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.