TAKENGON | SAGOE TV — Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah terus menyalurkan bantuan pangan kepada korban bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Sumatra, khususnya masyarakat terdampak di Aceh Tengah. Bantuan berupa beras tersebut disalurkan dalam periode 26 November hingga 17 Desember 2025, dengan total 373.045 kilogram beras telah didistribusikan kepada warga terdampak.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Aceh Tengah, Mustafa Kamal, mengatakan bahwa dalam proses penyaluran bantuan tersebut masih ditemukan berbagai keluhan dari masyarakat, terutama terkait kualitas dan jumlah beras yang diterima.
“Banyak warga mengeluhkan beras yang dibagikan. Pemerintah daerah juga tidak bisa berbuat banyak karena hal itu sangat bergantung pada suplai yang masuk,” ujar Mustafa Kamal dalam wawancara, Kamis (18/12/2025).
Ia menjelaskan, hingga saat ini masih terdapat sekitar 80 kampung yang belum dapat dijangkau dari pusat kota Takengon akibat akses jalan yang terputus. Keterbatasan alat berat milik pemerintah daerah menjadi salah satu kendala utama dalam membuka jalur darat menuju wilayah terisolasi. Meski demikian, masyarakat bersama pemerintah terus berupaya membuka akses jalan secara bertahap.
Selain itu, tercatat sebanyak 78 titik pengungsian masih menampung warga terdampak bencana. Kebutuhan mendesak para pengungsi meliputi pangan, sandang seperti pakaian dan selimut, serta obat-obatan.
Mustafa Kamal menambahkan, pasokan bantuan pangan selama ini dilakukan secara reguler melalui jalur udara, terutama beras bantuan bencana alam dari Bulog. Namun, keterbatasan jumlah pasokan menyebabkan distribusi bantuan kepada masyarakat belum dapat dilakukan secara optimal.
“Secara reguler memang dipasok dari udara, terutama beras bantuan bencana alam dari Bulog. Tapi karena jumlah pasokan terbatas, jumlah yang dibagi ke warga juga tidak bisa optimal,” jelasnya.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah berharap adanya tambahan pasokan bantuan serta dukungan lintas sektor agar kebutuhan dasar para korban bencana dapat terpenuhi secara merata, terutama bagi masyarakat yang masih berada di wilayah terisolasi.[]




















