• Tentang Kami
Friday, June 5, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Dari Gayo hingga Tamiang; Pelajaran Harga Diri untuk Penguasa dari Desa Terisolasi

SAGOE TV by SAGOE TV
February 1, 2026
in Analisis
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Dari Gayo hingga Tamiang; Pelajaran Harga Diri untuk Penguasa dari Desa Terisolasi

Foto: Dokumen Zulfikar Akbar

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Zulfikar Akbar.
Konten Kreator, Domisili di Jakarta.

Seorang ibu dengan anak usia 1,5 tahun melewati sungai deras hanya dengan tali sling di satu desa di Ketol, Aceh Tengah. Ia menepikan takutnya, karena lebih takut jika anaknya berlama-lama sakit dan lapar di desa yang masih terisolir.

Ia sama sekali tak berharap ada tongkat Nabi Musa. Namun di tengah keadaan tidak ada lagi yang bisa diharapkan, ibu muda itu hanya berharap pada tangannya sendiri. Sekaligus, menegaskan bahwa jika penguasa dengan kekuasaannya tak berani bertindak cepat, ia sebagai perempuan masih mampu memberesinya sendiri. Hanya dengan ini, kalaupun mereka tak bisa membantu, setidaknya bisa punya rasa segan kepada rakyat.

BACA JUGA

Soekarno, Hasan Tiro, Ayatullah Khamenei, dan Islam Perlawanan

Apa Pentingnya Cara Pandang Bencana?

Terlebih seorang ibu memang jauh lebih patut disegani karena ialah pemilik rahim yang melahirkan anak-anak rakyat pemberani. Dari rahim ibu seperti inilah keberanian itu sekaligus dilahirkan. Sampai penguasa pun kelak membuka matanya, menghargai anak-anak rakyat yang lahir dari ibu pemberani. Segan.

Rakyat mesti disegani oleh penguasa. Ini penting, agar mereka yang berada di puncak kekuasaan tak menjadikan kekuasaannya hanya untuk mengejar kebanggaan. Banjir melanda Sumatra menjadi start penting mengembalikan harga diri rakyat.

Itu dibuktikan masyarakat Linge dan Rusip di Aceh Tengah. Lewat jembatan mereka bangun sendiri, hingga jalan-jalan yang mereka buka sendiri. Menegaskan harga diri dengan cara-cara tradisional; meuseuraya, alang tulung, atau besinte.

Ketika lumpur-lumpur nyaris sebulan mengubur rumah-rumahnya, warga Pidie Jaya hingga Bireuen menggali sendiri lumpur yang mengering. Di Aceh Tamiang, ketika tenda darurat saja tak kunjung didapat, seorang ayah membuatkan tenda sendiri di atas puing-puing rumahnya, di sela-sela tumpukan kayu raksasa. Di Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, warga membuat sendiri tenda-tenda dari terpal seadanya.

Mereka sudah berusaha dengan tangan sendiri sebelum penguasa berbusung dada menolak bantuan negara lain. Di negara yang berdiri hanya untuk elite, dan hanya memberikan remahan untuk rakyatnya, akhirnya hanya rakyat jelata yang benar-benar paham makna harga diri.
Seperti kata sebuah anekdote, jangan berharap pada pemerintah untuk menyelesaikan masalah.

Sebab, pemerintah sendiri adalah masalah. Orang-orang desa di pedalaman Aceh tanpa buku-buku berat dan berharga mahal sudah memahami itu. Dibuktikan dengan berusaha bangkit sendiri.
Di Tamiang, tiga anak masih berusia di bawah 10 tahun, hanya bertiga saja, membersihkan musala di kampungnya. Di Pidie Jaya, guru-guru yang tergugah dengan anak-anak yang butuh sekolah, turun tangan sendiri membersihkan sekolahnya dari lumpur nyaris setinggi pinggang. Bahkan guru-guru perempuan pun menunjukkan bahwa mereka bukan manusia lemah, mengayunkan cangkul dan sekop, menggali lumpur dan membuangnya dari kelas-kelas yang biasanya dipenuhi suara ceria murid-muridnya,

Mereka adalah rakyat yang menguasai sepenuhnya pelajaran tentang harga diri. Julian Barnes, penulis asal Inggris, pun menegaskan hal serupa dalam buku “Flaubert’s Parrot” tentang posisi rakyat dan penguasa, juga patriotisme yang sebenarnya. “The greatest patriotism is to tell your country when it is behaving dishonorably, foolishly, viciously.” Bahwa, itulah sebenar-benar sikap patriot, membuka mata negara ketika di sana penguasanya semakin tidak paham harga diri, tidak sadar kebodohannya sendiri, dan kekejamannya.

Namun di pedalaman Aceh, mereka tak punya banyak kesempatan mengetik atau menulis dengan teoritis. Mereka bicara tentang harga diri dan membuka mata penguasa melampaui sekadar kata-kata. Langsung lewat tangan sendiri, di sela kelelahan membereskan lumpur di rumahnya sendiri, masih bisa melakukan sesuat7 yang berguna bagi banyak orang: membuka jalan, membangun jembatan.

Tadi malam dan juga kemarin, Rabu 24 Desember 2025, ketika air naik lagi, banjir kembali datang, mereka pun tak menunggu pemerintah. Mereka turun tangan sendiri di Meureudu membantu kendaraan lewat agar tak diseret banjir lagi. Di Batee Iliek mereka saling mengabari bahwa banjir kembali mengganas. Di Bireuen, warga yang memiliki rumah lebih tinggi membuka pintu lebar-lebar agar tetangganya masuk dan selamat bersama mereka di sana.

Mereka sama sekali tak menunggu tongkat Nabi Musa. Juga tak berharap kemampuan ahli sihirnya Firaun. Sekali lagi, hanya tangan sendiri.

Sebagai rakyat, mereka memang peka sekali. Ketika penguasa mengatakan “kami mampu mengurus sendiri” bukan berarti mereka akan melakukan segalanya membantu rakyat. Melainkan rakyat sendiri yang harus mengurus diri masing-masing. Bagi penguasa, mimpi mereka sendiri jauh lebih penting daripada mementingkan kenyataan dihadapi rakyat.

Semua catatan ini tentu saja keliru, jika saja penguasa bisa membuktikan sebaliknya. Kapan mereka buktikan? Ini yang masih dinanti-nanti masyarakat di Aceh sampai hari ini.*[]

Tags: Aceh TamiangBencana AcehGayoMakin Tahu AcehMakin Tahu Indonesia
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa
Analisis

Soekarno, Hasan Tiro, Ayatullah Khamenei, dan Islam Perlawanan

by SAGOE TV
March 8, 2026
Sulaiman Tripa
Analisis

Apa Pentingnya Cara Pandang Bencana?

by Anna Rizatil
February 2, 2026
Nada Terakhir Negara di Ruang Ilmu: Membaca 35 Persen Suara Menteri di Universitas Syiah Kuala
Analisis

Nada Terakhir Negara di Ruang Ilmu: Membaca 35 Persen Suara Menteri di Universitas Syiah Kuala

by Anna Rizatil
January 2, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas
Analisis

Sabar Bukan Diam: Refleksi Etika dan Kebijakan dalam Penanggulangan Bencana Aceh

by Anna Rizatil
January 2, 2026
Ketika Kepemimpinan Diuji oleh Krisis dan Keterbukaan
Analisis

Ketika Kepemimpinan Diuji oleh Krisis dan Keterbukaan

by Anna Rizatil
December 30, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

June 3, 2026
Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

June 3, 2026
IKAPI Aceh Tawarkan Aceh Book Fair di Konkernas

IKAPI Aceh Tawarkan Aceh Book Fair di Konkernas

June 4, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (2)

June 3, 2026
Dari Meja yang Sama

Dari Meja yang Sama

June 3, 2026
Muniru (Kehangatan dan Keakraban) Masyarakat Gayo

Muniru (Kehangatan dan Keakraban) Masyarakat Gayo

September 12, 2025
12.648 Peserta UTBK SNBT 2026 Ikuti Ujian di USK, Rektor Ingatkan Jangan Salah Lokasi

3.886 Peserta Lulus SNBT 2026 di USK, Ini Daftar Prodi Paling Diminati

May 26, 2026
3.811 Peserta UTBK SNBT 2025 Lolos di USK, Jalur Mandiri Masih Dibuka

Jalur Mandiri USK 2026 Dibuka hingga 11 Juni, Ini Kesempatan Terakhir Masuk PTN

May 5, 2026
Skate Park Stage Volume 1-8 Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

Skate Park Stage Volume 1-8: Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

May 25, 2026

EDITOR'S PICK

Pemangku Kepentingan Diajak untuk Jadikan Aceh Laboratorium Ekonomi Syariah di Indonesia

Pemangku Kepentingan Diajak untuk Jadikan Aceh Laboratorium Ekonomi Syariah di Indonesia

October 25, 2024
pelunasan biaya haji jemaah indonesia

Pelunasan Biaya Haji Diperpanjang hingga 25 April 2025, karena 4 Provinsi Belum 100 Persen

April 19, 2025
Museum Tsunami Aceh Tingkatkan Kesiapsiagaan Generasi Muda lewat ‘Smong Box’

Museum Tsunami Aceh Tingkatkan Kesiapsiagaan Generasi Muda lewat ‘Smong Box’

July 30, 2025
sekeping surga tersembunyi di labuhan haji aceh selatan

Sekeping Surga Tersembunyi di Labuhan Haji Aceh Selatan

February 26, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.