Oleh: Zulfikar Akbar.
Konten Kreator, Domisili di Jakarta.
Seorang ibu dengan anak usia 1,5 tahun melewati sungai deras hanya dengan tali sling di satu desa di Ketol, Aceh Tengah. Ia menepikan takutnya, karena lebih takut jika anaknya berlama-lama sakit dan lapar di desa yang masih terisolir.
Ia sama sekali tak berharap ada tongkat Nabi Musa. Namun di tengah keadaan tidak ada lagi yang bisa diharapkan, ibu muda itu hanya berharap pada tangannya sendiri. Sekaligus, menegaskan bahwa jika penguasa dengan kekuasaannya tak berani bertindak cepat, ia sebagai perempuan masih mampu memberesinya sendiri. Hanya dengan ini, kalaupun mereka tak bisa membantu, setidaknya bisa punya rasa segan kepada rakyat.
Terlebih seorang ibu memang jauh lebih patut disegani karena ialah pemilik rahim yang melahirkan anak-anak rakyat pemberani. Dari rahim ibu seperti inilah keberanian itu sekaligus dilahirkan. Sampai penguasa pun kelak membuka matanya, menghargai anak-anak rakyat yang lahir dari ibu pemberani. Segan.
Rakyat mesti disegani oleh penguasa. Ini penting, agar mereka yang berada di puncak kekuasaan tak menjadikan kekuasaannya hanya untuk mengejar kebanggaan. Banjir melanda Sumatra menjadi start penting mengembalikan harga diri rakyat.
Itu dibuktikan masyarakat Linge dan Rusip di Aceh Tengah. Lewat jembatan mereka bangun sendiri, hingga jalan-jalan yang mereka buka sendiri. Menegaskan harga diri dengan cara-cara tradisional; meuseuraya, alang tulung, atau besinte.
Ketika lumpur-lumpur nyaris sebulan mengubur rumah-rumahnya, warga Pidie Jaya hingga Bireuen menggali sendiri lumpur yang mengering. Di Aceh Tamiang, ketika tenda darurat saja tak kunjung didapat, seorang ayah membuatkan tenda sendiri di atas puing-puing rumahnya, di sela-sela tumpukan kayu raksasa. Di Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, warga membuat sendiri tenda-tenda dari terpal seadanya.
Mereka sudah berusaha dengan tangan sendiri sebelum penguasa berbusung dada menolak bantuan negara lain. Di negara yang berdiri hanya untuk elite, dan hanya memberikan remahan untuk rakyatnya, akhirnya hanya rakyat jelata yang benar-benar paham makna harga diri.
Seperti kata sebuah anekdote, jangan berharap pada pemerintah untuk menyelesaikan masalah.
Sebab, pemerintah sendiri adalah masalah. Orang-orang desa di pedalaman Aceh tanpa buku-buku berat dan berharga mahal sudah memahami itu. Dibuktikan dengan berusaha bangkit sendiri.
Di Tamiang, tiga anak masih berusia di bawah 10 tahun, hanya bertiga saja, membersihkan musala di kampungnya. Di Pidie Jaya, guru-guru yang tergugah dengan anak-anak yang butuh sekolah, turun tangan sendiri membersihkan sekolahnya dari lumpur nyaris setinggi pinggang. Bahkan guru-guru perempuan pun menunjukkan bahwa mereka bukan manusia lemah, mengayunkan cangkul dan sekop, menggali lumpur dan membuangnya dari kelas-kelas yang biasanya dipenuhi suara ceria murid-muridnya,
Mereka adalah rakyat yang menguasai sepenuhnya pelajaran tentang harga diri. Julian Barnes, penulis asal Inggris, pun menegaskan hal serupa dalam buku “Flaubert’s Parrot” tentang posisi rakyat dan penguasa, juga patriotisme yang sebenarnya. “The greatest patriotism is to tell your country when it is behaving dishonorably, foolishly, viciously.” Bahwa, itulah sebenar-benar sikap patriot, membuka mata negara ketika di sana penguasanya semakin tidak paham harga diri, tidak sadar kebodohannya sendiri, dan kekejamannya.
Namun di pedalaman Aceh, mereka tak punya banyak kesempatan mengetik atau menulis dengan teoritis. Mereka bicara tentang harga diri dan membuka mata penguasa melampaui sekadar kata-kata. Langsung lewat tangan sendiri, di sela kelelahan membereskan lumpur di rumahnya sendiri, masih bisa melakukan sesuat7 yang berguna bagi banyak orang: membuka jalan, membangun jembatan.
Tadi malam dan juga kemarin, Rabu 24 Desember 2025, ketika air naik lagi, banjir kembali datang, mereka pun tak menunggu pemerintah. Mereka turun tangan sendiri di Meureudu membantu kendaraan lewat agar tak diseret banjir lagi. Di Batee Iliek mereka saling mengabari bahwa banjir kembali mengganas. Di Bireuen, warga yang memiliki rumah lebih tinggi membuka pintu lebar-lebar agar tetangganya masuk dan selamat bersama mereka di sana.
Mereka sama sekali tak menunggu tongkat Nabi Musa. Juga tak berharap kemampuan ahli sihirnya Firaun. Sekali lagi, hanya tangan sendiri.
Sebagai rakyat, mereka memang peka sekali. Ketika penguasa mengatakan “kami mampu mengurus sendiri” bukan berarti mereka akan melakukan segalanya membantu rakyat. Melainkan rakyat sendiri yang harus mengurus diri masing-masing. Bagi penguasa, mimpi mereka sendiri jauh lebih penting daripada mementingkan kenyataan dihadapi rakyat.
Semua catatan ini tentu saja keliru, jika saja penguasa bisa membuktikan sebaliknya. Kapan mereka buktikan? Ini yang masih dinanti-nanti masyarakat di Aceh sampai hari ini.*[]




















