BANDA ACEH | SAGOE TV – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat penurunan harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Desember 2025 menjadi 61,10 dolar AS per barel. Angka tersebut turun 1,73 dolar AS dibandingkan ICP November 2025 yang berada di level 62,83 dolar AS per barel.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyatakan penurunan ICP dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap kondisi kelebihan pasokan (over supply) minyak dunia, terutama akibat tingginya produksi minyak Amerika Serikat.
“Penurunan angka ICP pada Desember 2025 diakibatkan kekhawatiran pasar akan narasi super glut atau kelebihan pasokan, serta kondisi over supply minyak dunia yang dipengaruhi oleh produksi Amerika Serikat yang tinggi,” ujar Laode dilansir Infopublik, Jumat (16/1/2026).
Selain produksi AS, tekanan terhadap harga minyak global juga berasaHAl dari peningkatan produksi negara-negara anggota OPEC+. Pada November 2025, produksi OPEC+ tercatat mencapai 43,1 juta barel per hari (bph), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) turut merevisi proyeksi pertumbuhan produksi negara non-OPEC+ pada 2025. Dalam laporan Desember 2025, pertumbuhan produksi non-OPEC+ diperkirakan naik 40 ribu bph dibandingkan proyeksi bulan sebelumnya, menjadi 0,95 juta bph.
Di sisi permintaan, S&P Global merevisi proyeksi pertumbuhan konsumsi minyak dunia tahun 2025 menjadi 730 ribu bph, turun 16 ribu bph dibandingkan proyeksi sebelumnya. Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan surplus minyak global pada 2026 sebesar 3,7 hingga 4 juta bph, level yang disebut melampaui stok pada masa pandemi COVID-19.
Faktor geopolitik juga turut memengaruhi pelemahan harga minyak. Risiko konflik Rusia-Ukraina dinilai berpotensi mereda seiring munculnya wacana pembatalan aspirasi Ukraina untuk bergabung dengan NATO. Di saat yang sama, Rusia memproyeksikan peningkatan produksi minyak pada 2025 menjadi 10,36 juta bph dan kembali naik pada 2026 hingga 10,54 juta bph.
“Penurunan ICP bulan Desember disebabkan oleh peningkatan suplai minyak dunia,” kata Laode.
Untuk kawasan Asia Pasifik, pergerakan harga minyak mentah juga dipengaruhi oleh penurunan crude throughput China. Pada November 2025, kapasitas pengolahan minyak China tercatat turun 0,9 persen secara bulanan (month on month/mom) menjadi 14,86 juta bph, level terendah dalam enam bulan terakhir.
Penetapan ICP Desember 2025 sebesar 61,10 dolar AS per barel resmi tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 10.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Bulan Desember 2025. []




















