Oleh: Andri Safrizal, S.AB
Cara Gen Z Merawat Damai Aceh
Judul Buku : Cara Gen Z Merawat Damai Aceh
Penulis :Nurul Hidayati, Nasywa Difa Batuah, Quinsha Ayatul Husna, Alifa Humaira, Aliya Masthura, Aqil Mufazhal, Fajar Rasuna Said, Febi Safitri, Izad Ramadhan, Kayla Farasyifa, Khalizazia, Madingin Simanjuntak, Nirza Amirul Adli Zalda, Nurul Hasimah Rahmah Wahyuni, Raihan Al Fatih, Rania Cahaya, Ruslan Siti Hidayah, Sufardi, Syifa Ulchayra, Syifaul Husna, Vanisa Noura.
Editor : Sulaiman Tripa, Ihan Nurdin, Mukhlisuddin Ilyas
Penerbit : Bandar Publishing
ISBN : 978-623-449-676-5
Cetak : Pertama, Desember 2025
Jumlah Halaman : viii, 146 Halaman
Pemesanan Buku : +62811-688-801
Para penulis buku, Cara Gen Z Merawat Damai Aceh adalah generasi Z asal Aceh yang tumbuh dan besar dalam suasana perdamaian pasca konflik. Mereka memang tidak mengalami langsung masa konflik bersenjata, tetapi kehidupan mereka tetap dibentuk oleh cerita, ingatan kolektif, dan dampak dari sejarah konflik Aceh. Dari posisi inilah mereka melihat perdamaian bukan sebagai sesuatu yang sudah selesai, melainkan sebagai kondisi yang perlu terus dijaga dan dirawat.
Sebagai anak muda Aceh, para penulis menghadirkan cara pandang yang segar dan dekat dengan realitas keseharian. Mereka berbicara tentang damai melalui pengalaman hidup, relasi sosial, serta peran media digital yang akrab dengan generasi mereka. Tulisan-tulisan dalam buku ini menjadi suara Gen Z Aceh yang menunjukkan kepedulian dan tanggung jawab untuk memastikan perdamaian tetap hidup dan bermakna bagi masa depan.
Anak-anak muda penulis buku ini mengingatkan kembali apa yang secara hakikatnya pernah disampaikan Johan V. Galtung, melihat damai dalam konsep yang luas. Melihat damai yang tidak berhenti pada sekedar tidak meletus senjata. Damai harus masuk dalam semua lini kehidupan dan ruang keadilan sosial bagi suatu masyarakat di mana damai itu berlangsung(Sulaiman Tripa, Akademisi).
Saya optimistis, Gen Z yang kritis mampu menerjemahkan pesan-pesan perdamaian dengan sudut pandang mereka yang super kreatif. Gen Z adalah para digital native yang hidup di tengah-tengah perkembangan teknologi informasi yang super cepat (Ihan Nurdin, Jurnalis).
Buku ini memperlihatkan cara berpikir dan sudut pandang Generasi Z dalam memaknai serta merawat perdamaian Aceh. Melalui gagasan-gagasan yang disajikan, pembaca diajak melihat bagaimana Gen Z memahami damai Aceh yang telah berlangsung lebih dari dua dekade pasca konflik. Perdamaian dalam buku ini tidak diposisikan sebagai sesuatu yang selesai, melainkan sebagai proses yang terus dijaga dan diperkuat seiring perubahan zaman.
Upaya para penulis dalam menggali perspektif generasi muda ini menjadi sangat relevan. Generasi yang tidak lahir pada masa konflik Aceh perlu dipahami pandangannya terhadap sejarah konflik tersebut, sekaligus bagaimana mereka membangun kesadaran untuk menjaga dan merawat perdamaian. Dari sinilah buku ini menunjukkan pemikiran Gen Z dalam merumuskan harapan, sikap dan langkah konkrit agar perdamaian Aceh tetap terpelihara secara berkelanjutan.
Menariknya, buku ini tidak hanya berbicara tentang perdamaian sebagai konsep besar, tetapi juga menghadirkannya dalam kisah, gagasan, dan refleksi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak muda Aceh. Pembaca akan menemukan bagaimana damai dipahami melalui ruang kelas, pergaulan, komunitas, hingga media sosial. Dengan bahasa yang lugas dan jujur, buku ini mengajak pembaca, khususnya generasi muda, untuk ikut merenungkan peran mereka dalam menjaga Aceh tetap damai dan harmonis di masa depan. []




















