BANDA ACEH | SAGOE TV – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Aceh mengalami deflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m) pada Januari 2026 dibandingkan Desember 2025. Deflasi ini menunjukkan adanya penurunan harga sejumlah komoditas, terutama pada kelompok kebutuhan pokok masyarakat.
Kepala Bagian Umum BPS Provinsi Aceh, Tasdik Ilhamudin, menjelaskan bahwa kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi bulanan tertinggi. Kelompok ini mengalami deflasi sebesar 2,01 persen dengan andil 0,79 persen terhadap deflasi Aceh.
“Terdapat beberapa komoditas yang memengaruhi deflasi bulanan, yaitu telur ayam ras, cabai merah, beras, bahan bakar rumah tangga, serta minyak goreng,” ujar Tasdik dalam konferensi pers BPS Aceh pada Senin, 2 Februari 2026.
Meski secara bulanan terjadi penurunan harga, BPS mencatat masih terdapat komoditas yang memicu inflasi bulanan, seperti nasi dengan lauk, emas perhiasan, daging ayam ras, cabai rawit, dan mie.
Sementara itu, secara tahunan (year-on-year/y-on-y), Provinsi Aceh justru mengalami inflasi sebesar 6,69 persen. Artinya, harga barang dan jasa secara umum meningkat rata-rata 6,69 persen dibandingkan Januari tahun sebelumnya.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penyumbang inflasi tahunan tertinggi dengan andil sebesar 2,46 persen. Inflasi y-on-y terutama didorong oleh kenaikan harga tarif listrik, emas perhiasan, beras, nasi dengan lauk, serta sigaret kretek mesin (SKM).
Namun demikian, terdapat pula sejumlah komoditas yang menahan laju inflasi tahunan, di antaranya cabai merah, kentang, cabai hijau, biaya Sekolah Menengah Atas (SMA), dan biaya Sekolah Menengah Pertama (SMP).
BPS Aceh melakukan penghitungan inflasi di lima daerah di Aceh, yakni Banda Aceh, Lhokseumawe, Meulaboh, Aceh Tengah, dan Aceh Tamiang. Pada Januari 2026, inflasi tahunan terjadi di seluruh wilayah tersebut. Inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Aceh Tengah sebesar 8,60 persen, sedangkan yang terendah terjadi di Meulaboh sebesar 5,55 persen.
Adapun secara bulanan, inflasi m-to-m terjadi di Aceh Tamiang dan Kota Lhokseumawe, sementara tiga daerah lainnya mengalami deflasi. Inflasi bulanan tertinggi terjadi di Kota Lhokseumawe sebesar 0,86 persen, sedangkan deflasi terdalam tercatat di Kota Banda Aceh sebesar 0,81 persen. []




















