JAKARTA | SAGOE TV – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah telah mendapatkan investor untuk pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah (crude storage) di Indonesia.
Proyek strategis tersebut bertujuan memperkuat ketahanan energi nasional dengan meningkatkan kapasitas cadangan minyak dari kondisi saat ini menjadi setara kebutuhan 90 hari. Langkah ini juga menjadi bagian dari antisipasi terhadap memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
“Investasinya sudah ada, investornya sudah ada,” ujar Bahlil melalui keterangan resmi, Rabu (4/3/2025).
Menurut Bahlil, pendanaan proyek tersebut berasal dari skema campuran antara investor domestik dan asing. Namun, ia menegaskan bahwa investor asing yang terlibat bukan berasal dari Amerika Serikat.
“Investasinya dicampur dari dalam negeri dan dari luar, tetapi bukan AS. Yang membangun (storage) swasta,” ucap dia.
Pemerintah menargetkan pembangunan fasilitas tersebut dapat meningkatkan kapasitas maksimal penyimpanan minyak mentah Indonesia dari sekitar 25–26 hari menjadi setara 90 hari atau tiga bulan kebutuhan nasional.
Bahlil mengatakan percepatan pembangunan fasilitas penyimpanan itu merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kemandirian energi nasional.
“Bapak Presiden (Prabowo Subianto) memberikan arahan agar segera bangun (storage). Kita butuh survival. Kalau tidak, nanti kita tergantung terus,” ucap Bahlil.
Rencana pembangunan fasilitas penyimpanan minyak ini juga menjadi perhatian di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pada Sabtu (28/2/2026), Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran.
Serangan tersebut kemudian dibalas Iran dengan peluncuran rudal ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi konflik tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama setelah muncul laporan media Iran yang menyebut Selat Hormuz telah “secara efektif” ditutup, meski belum ada pengumuman resmi terkait blokade jalur tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia atau sekitar 20 juta barel per hari, serta menjadi rute penting ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab.[]




















