Oleh: Adnan Daud
Diaspora Aceh yang bermukim di Denmark
Perang antara Iran dan Israel/Amerika Serikat kali ini menempatkan negara-negara Teluk – seperti Saudi Arabia, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait dan Bahrain, dalam posisi yang sangat sulit. Iran, melalui Menteri luar negerinya kemarin, sudah memberikan peringatan keras bahwa jika negara-negara Teluk mengizinkan wilayah mereka digunakan oleh Amerika Serikat untuk melancarkan serangan terhadap Iran, maka infrastruktur vital di kawasan tersebut kemunginan dapat menjadi target balasan oleh Iran.
Ancaman yang dimaksud bukan sekadar serangan militer konvensional terhadap pangkalan militer. Iran kemungkinan menyerang infrastruktur penting lainnya seperti bandara, kilang minyak, fasilitas desalinasi air laut, serta jaringan energi. Infrastruktur ini adalah tulang punggung kehidupan di negara-negara Teluk.
Berbeda dengan banyak negara lain, sebagian besar wilayah negara Teluk memiliki kondisi geografis yang keras, gersang dan tandus. Air tawar sangat langka dan terbatas, sehingga masyarakat sangat bergantung pada fasilitas penyulingan air laut (desalinasi). Begitu pula dengan pasokan pangan, yang sebagian besar harus diimpor dari luar negeri.
Karena itu, kerusakan pada pelabuhan, bandara, atau fasilitas desalinasi (penyulingan air bersih) dapat menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap kehidupan sehari-hari. Tanpa air bersih dan tanpa jalur logistik untuk memasukkan makanan, kota-kota modern yang megah di kawasan Teluk tersebut dapat dengan cepat menghadapi krisis kemanusiaan. Dalam skenario ekstrem, populasi sipil mungkin terpaksa mengungsi besar-besaran (exodus) atau meninggalkan wilayah tersebut ketempat yang lebih aman.
Di sisi lain, Iran kelihatan memiliki ketahanan sosial yang lebih tinggi terhadap tekanan jangka panjang. Selama puluhan tahun berada di bawah sanksi ekonomi, masyarakat Iran telah terbiasa dengan kondisi ekonomi yang sulit. Faktor ini sering dilihat sebagai bagian dari strategi psikologis Iran dalam menghadapi konflik: menunjukkan bahwa mereka lebih siap menanggung penderitaan jangka panjang dibandingkan negara-negara yang sangat bergantung pada stabilitas ekonomi global.
Hal ini menggambarkan bagaimana perang modern tidak lagi hanya soal kekuatan militer. Perang juga menjadi pertarungan ketahanan ekonomi, ketahanan logistik, dan kemampuan masyarakat untuk bertahan dalam situasi krisis.
Pada akhirnya, konflik di kawasan Teluk akan selalu memiliki dampak yang jauh melampaui medan tempur. Infrastruktur sipil, rantai pasokan global, dan stabilitas ekonomi regional menjadi bagian dari medan perang itu sendiri. Dalam konteks ini, pertanyaan yang sering muncul bukan hanya siapa yang lebih kuat secara militer, tetapi juga siapa yang paling siap menghadapi penderitaan yang panjang.[]




















