PIDIE JAYA | SAGOE TV – Rumah warga penyintas banjir di Kabupaten Pidie Jaya belum sepenuhnya bersih dari lumpur. Sebagian dari mereka ada yang sudah pasrah dan juga tetap berusaha melakukan pembersihan secara mandiri menggunakan alat seadanya.
Jurnalis Sagoe TV mengelilingi sejumlah desa terdampak parah akibat banjir bandang akhir November 2025 yang ada di Kecamatan Meurah Dua dan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, selama dua hari 4-5 April 2026.
Secara fasilitas umum (fasum) khususnya jalan sudah bisa diakses kembali. Jalanan permukiman warga sudah terbuka meski belum terlalu bersih dan juga berdebu. Di beberapa titik, alat berat eskavator juga terlihat tengah bekerja membersihkan lumpur dan material kayu di jalanan.
Namun, sisa lumpur di rumah warga masih belum tertangani. Sebagian warga membersihkan rumahnya secara mandiri menggunakan alat seadanya seperti sekop, cangkul, dan juga gerobak sorong. Lumpur yang mereka bersihkan itu kemudian ditumpukkan di depan rumah atau pinggir jalan.
Seperti halnya dilakukan oleh Nurdin warga Meunasah Mancang. Rumah panggung milik orang tuanya yang mereka tempati masih berlumpur baik di dalam maupun di halaman. Nurdin membersihkan rumah itu bersama adik dan abangnya.
“Kami bersihkan sedikit-sedikit. Lumpurnya sangat tebal, kami bersihkan dengan kemampuan dan alat seadanya. Seperti inilah walaupun sudah empat bulan pascabencana, lumpur di rumah kami belum bersih,” katanya.
Nurdin tidak berharap lebih, dirinya hanya menginginkan adanya eskavator untuk membersihkan lumpur dari halaman rumah dan juga mengangkut lumpur yang sudah menumpuk.
“Kalau di dalam rumah biarlah kami bersihkan pelan-pelan. Tapi yang di halaman ini terlalu tebal. Belum lagi kalau hujan, lumpur yang sudah menumpuk pasti turun lagi ke halaman,” tuturnya.
Nurdin mengakui, untuk kondisi jalan permukiman memang sudah terbuka kembali, sehingga warga bisa akses keluar-masuk seperti sediakala meski berdebu. Namun demikian, dia berharap pengerjaan bisa dilakukan secara maksimal agar ketika hujan jalanan mereka tidak lagi tergenang air.
“Jangan dua kali kerja, kami berharap pengerjaannya bisa fokus dikerjakan secara terstruktur dan terarah,” tegasnya.
Berbeda halnya dengan Munzir, sebelum memasuki Ramadhan dia sudah berhenti dan tidak lagi menyentuh atau membersihkan lumpur yang ada di halaman. Sementara kondisi di dalam rumah sudah bisa dibentangkan tikar atau alas untuk tempat tidur.
“Tidak sanggup lagi kalau kita bersihkan sendiri,” katanya pasrah.
Munzir juga menyampaikan harapan yang sama, dia meminta pemerintah atau pihak terkait agar bisa membersihkan sisa lumpur dari halaman dan lingkungan rumah mereka, serta lumpur yang menumpuk di pinggir jalan.
“Itu saja yang kami mohon,” ujarnya.
Sementara itu warga Desa Manyang Cut, Nasruddin, mengatakan sampai saat ini penyintas banjir di Pidie Jaya masih belum bisa bergerak untuk bekerja. Dia mengakui warga sudah menerima bantuan seperti dana tunggu hunian (DTH) dan juga menempati huntara, namun saban hari mereka resah lantaran tidak ada penghasilan yang masuk.
“Alhamdulillah permukiman kami sekarang memang sudah bersih dan warga sudah mulai menempati huntara, tapi kalau untuk bekerja atau pemulihan ekonomi itu belum,” katanya.
Karena itu Nasruddin menagih janji pemerintah akan bantuan stimulan modal usaha agar roda ekonomi warga yang selama ini lumpuh perlahan bisa bangkit kembali.
“Bagaimana kami bangkit, pekerjaan tidak ada lagi. Sawah dan kebun masih tertimbun lumpur,” ujarnya.[]




















