BANDA ACEH | SAGOE TV – Aceh kembali menjadi perhatian dunia dengan menjadi tuan rumah International Conference on Natural and Human Disaster. Dalam momentum ini, Ketua TP PKK Aceh, Marlina Muzakir atau yang akrab disapa Kak Na, menyoroti pentingnya peran arsitek dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Kak Na menegaskan, pemerintah dan seluruh masyarakat Aceh sangat berterima kasih serta mengapresiasi kontribusi para arsitek yang telah terlibat dalam membangun kembali Aceh pasca tsunami 2004 silam. Hal tersebut disampaikannya usai menghadiri welcome dinner bersama para peserta konferensi yang diselenggarakan oleh International Union of Architects di kawasan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Jumat (17/4/2026) sore.
“Pemerintah dan seluruh masyarakat Aceh tentu sangat mengapresiasi peran nyata para arsitek pada proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pasca tsunami. Atas peran saudara semua, Aceh kini bangkit dan menjadi lebih baik pembangunannya,” ujar Kak Na.
Ia menekankan bahwa peran arsitek tidak berhenti pada fase rekonstruksi semata. Menurutnya, tantangan ke depan menuntut para arsitek untuk terus beradaptasi dengan dinamika zaman, termasuk merancang pembangunan yang berkelanjutan, ramah lingkungan, serta tanggap dan tangguh terhadap bencana.
“Peran arsitek sangat diperlukan sesuai zaman, sepanjang zaman. Saat ini, tantangan nyata adalah bagaimana merumuskan pembangunan yang berkelanjutan, ramah lingkungan, serta tanggap dan tangguh bencana,” lanjutnya.
Kak Na juga menyampaikan optimismenya terhadap kehadiran para arsitek dari berbagai negara di Asia dalam konferensi tersebut. Ia berharap forum ini mampu melahirkan konsep pembangunan yang futuristik, selaras dengan perkembangan zaman, namun tetap memperhatikan aspek lingkungan.
Diketahui, Indonesia tahun ini ditunjuk sebagai tuan rumah International Conference on Natural and Human Disaster. Penunjukan Aceh sebagai lokasi penyelenggaraan menjadi bentuk penghormatan bagi para korban dan penyintas tsunami, sekaligus sebagai sarana pembelajaran mengenai peran besar arsitek dalam membangun kembali daerah pascabencana.
Pada kesempatan itu, Kak Na turut mengajak para peserta untuk mempromosikan potensi Aceh, mulai dari keindahan alam, keamanan, kuliner, hingga keramahan masyarakatnya, kepada dunia internasional.
“Pasca tsunami, kunjungan wisatawan menjadi salah satu tulang punggung perekonomian masyarakat. Dari sektor ini lahir industri kreatif skala kecil. Karena itu, kami berharap para peserta dapat menjadi duta yang mempromosikan potensi pariwisata Aceh sekembalinya ke negara masing-masing,” ujarnya.
Konferensi internasional ini diikuti oleh arsitek dan mahasiswa dari berbagai negara di Asia, dan dijadwalkan berlangsung hingga 19 April 2026 di salah satu hotel di Banda Aceh.[]



















