BANDA ACEH | SAGOE TV — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Universitas Syiah Kuala (USK) tahun ini tidak hanya diisi dengan seremoni, tetapi juga dengan refleksi yang lebih mendasar mengenai arah pendidikan tinggi Indonesia hari ini.
Melalui Inkubator Seni (IS) Universitas Syiah Kuala, USK akan menyelenggarakan Diskusi Nasional Pendidikan Seni se-Indonesia pada Sabtu, 2 Mei 2026, di Ruang Teater Mini Adnan Ganto, Perpustakaan Abdullah Ali USK, Banda Aceh. Forum ini dilaksanakan secara hybrid dan melibatkan partisipasi berbagai perguruan tinggi penyelenggara pendidikan seni dari berbagai wilayah Indonesia.
Mengangkat tema “Menjaga Masa Depan Pendidikan Seni di Tengah Transformasi Pendidikan Tinggi Nasional,” kegiatan ini lahir dari kegelisahan yang mulai dirasakan banyak kalangan akademik: ketika pendidikan tinggi bergerak semakin cepat menuju sistem yang serba terukur, administratif, dan berbasis indikator, ruang bagi pembentukan manusia dan kebudayaan justru perlahan menyempit.
Ketua Inkubator Seni USK, Ari J. Palawi, menyebut bahwa pendidikan tinggi hari ini sedang menghadapi tantangan penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembangunan dan mandat kemanusiaan pendidikan itu sendiri.
“Kampus tentu harus maju, produktif, dan relevan terhadap perkembangan zaman. Tetapi pendidikan tidak boleh kehilangan dimensi manusianya. Pendidikan seni mengingatkan kita bahwa manusia tidak hidup hanya dengan efisiensi dan angka, tetapi juga dengan imajinasi, empati, refleksi, dan kebudayaan,” ujarnya.
Menurut Ari, pendidikan seni sering kali berada pada posisi yang rentan karena bekerja pada wilayah yang tidak selalu mudah diukur secara ekonomi jangka pendek. Padahal, justru di situlah pendidikan seni memainkan peran penting dalam membangun sensitivitas sosial, kreativitas, dan kemampuan manusia memahami kehidupan secara lebih utuh.
“Yang ingin dijaga sebenarnya bukan hanya program studi seni, tetapi cara pendidikan memandang manusia,” katanya.
Sementara itu, Divisi Kurikulum dan Akademik Inkubator Seni USK, Dr. Mukhsin Putra Hafid, menjelaskan bahwa forum ini juga menjadi bagian dari perjalanan lahirnya Inkubator Seni USK sendiri.
Menurut Mukhsin, Inkubator Seni dibangun bukan semata sebagai komunitas kegiatan seni kampus, tetapi sebagai ruang akademik dan kultural yang mencoba mempertemukan seni, riset, pengetahuan, dan sistem pendidikan tinggi secara lebih terintegrasi.
“Hardiknas seharusnya bukan hanya momentum mengenang sejarah pendidikan, tetapi juga kesempatan untuk bertanya kembali: pendidikan ini sedang membawa kita ke mana?” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pembentukan Inkubator Seni USK berangkat dari kesadaran bahwa aktivitas seni di kampus selama ini sebenarnya hidup dan aktif, tetapi sering kali belum terbaca sebagai bagian penting dari sistem pengetahuan universitas.
“Kegiatan seni sering dianggap sekadar aktivitas tambahan, padahal di dalamnya ada produksi pengetahuan, data budaya, ruang belajar, riset, bahkan potensi pengembangan ekonomi kreatif. Dari situlah Inkubator Seni mulai dibangun—agar seni tidak berdiri di luar sistem pendidikan tinggi, tetapi menjadi bagian aktif dari pengembangannya,” kata Mukhsin.
Menurutnya, forum nasional ini juga menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pengalaman kampus dalam menghadapi perubahan pendidikan tinggi yang berlangsung sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir.
Diskusi nasional ini akan menghadirkan empat pemrasaran utama, yakni Edward Christian Van Ness sebagai arts activist yang telah lama mengikuti perkembangan pendidikan seni Indonesia; Prof. Bahrun, Guru Besar Filsafat dan Pendidikan FKIP USK; Prof. Melani Budianta, Anggota Komisi Kebudayaan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI); serta Prof. Triyono Bramantyo PS, Guru Besar Pendidikan Musik ISI Yogyakarta.
Sambutan pembukaan akan disampaikan oleh Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. Mirza Tabrani.
Format forum dirancang sederhana dan substantif. Masing-masing pemrasaran akan menyampaikan pandangan awal selama sekitar 10 menit, dilanjutkan dengan dialog terbuka bersama peserta dari berbagai perguruan tinggi, institusi seni, FKIP, Fakultas Bahasa dan Seni, hingga komunitas budaya dari berbagai daerah Indonesia.
Selain sebagai forum akademik, kegiatan ini juga dipandang sebagai langkah awal membangun jejaring dan konsolidasi pendidikan seni nasional yang selama ini tersebar dalam berbagai bentuk kelembagaan.
“Kami berharap forum ini menjadi ruang percakapan yang jujur, terbuka, dan konstruktif. Pendidikan tinggi harus terus berkembang, tetapi jangan sampai kehilangan kemampuan untuk menjaga manusia dan kebudayaannya sendiri,” tutup Ari.
Diskusi Nasional Pendidikan Seni se-Indonesia akan berlangsung pada Sabtu, 2 Mei 2026, pukul 10.00 WIB dan terbuka bagi pimpinan perguruan tinggi, dosen, peneliti, mahasiswa, pegiat seni, dan masyarakat umum.[]




















