• Tentang Kami
Saturday, June 6, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Bukan Tentang SK

SAGOE TV by SAGOE TV
June 6, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Bukan Tentang SK
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi

Beberapa hari terakhir saya membaca ulang banyak percakapan yang muncul setelah sebuah ikhtiar yang kami jalani bersama akhirnya berhenti pada titik yang tidak pernah benar-benar kami rencanakan.

Menariknya, hampir tidak ada yang bertanya tentang struktur.
Tidak banyak yang memperdebatkan bentuk organisasi.
Tidak pula banyak yang membicarakan soal kedudukan, nomenklatur, atau status kelembagaan.

BACA JUGA

Prabowo Kritis, Aceh Sulit?

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

Yang muncul justru cerita-cerita manusia.

Ada yang merasa menemukan teman baru.
Ada yang merasa mendapatkan energi baru.
Ada yang mengenang masa kecilnya.
Ada yang teringat orang tuanya yang pernah hidup dalam dunia seni.
Ada yang bercerita bagaimana melukis pernah menolongnya melewati masa-masa sulit.

Ada yang mengatakan bahwa yang terpenting bukanlah SK, melainkan kesempatan untuk bertemu orang-orang baik dan kreatif yang membuat hidup terasa lebih hidup.

Di situlah saya mulai menyadari sesuatu.

Mungkin selama ini kita terlalu sering mengira bahwa yang sedang dibangun adalah sebuah organisasi. Sementara, yang sesungguhnya tumbuh adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih penting: rasa terhubung.

Sebab jika dipikir-pikir, Aceh sebenarnya tidak kekurangan orang-orang yang bekerja dengan tulus di bidangnya masing-masing.

Ada seniman.
Ada musisi.
Ada penulis.
Ada fotografer.
Ada videografer.
Ada skater.
Ada pegiat budaya.
Ada aktivis lingkungan.
Ada pelaku industri rumah kreatif.
Ada pekerja kemanusiaan.
Ada anak-anak muda yang terus mencoba berkarya dengan segala keterbatasannya.

Mereka ada.
Mereka nyata.
Mereka bekerja setiap hari.
Tetapi sering kali berjalan sendiri-sendiri.

Sesekali bertemu.
Sesekali berkolaborasi.

Lalu kembali ke lingkarannya masing-masing.

Akibatnya, banyak energi baik yang sebenarnya besar menjadi cepat habis karena harus terus-menerus memikul beban yang sama secara sendiri.

Mencari ruang.
Mencari dukungan.
Mencari teman seperjalanan.
Mencari cara agar karya dan gagasan dapat bertahan lebih lama daripada semangat sesaat.

Karena itu, semakin hari saya justru semakin yakin bahwa yang paling dibutuhkan bukanlah bangunan kelembagaan yang megah.

Yang lebih mendesak adalah memperbanyak ruang perjumpaan yang jujur.
Ruang di mana orang bisa datang tanpa harus menjadi siapa-siapa.

Tanpa harus membawa jabatan.
Tanpa harus mewakili institusi.
Tanpa harus sedang mengajukan proposal apa pun.

Cukup datang.
Berkenalan.
Bercerita.
Berkarya.
Bermain musik.
Membaca puisi.
Melukis.
Membuat film.
Berdiskusi.

Atau sekadar duduk mendengarkan.
Karena dari perjumpaan-perjumpaan seperti itulah biasanya sesuatu yang lebih besar lahir.

Bukan karena direncanakan secara sempurna.
Tetapi karena manusia menemukan manusia lainnya.

Beberapa hari terakhir, misalnya, muncul obrolan spontan dengan teman-teman skater, pegiat hiphop, pekerja kreatif, dan aktivis budaya yang selama ini bergerak di ruangnya masing-masing.

Tidak ada rapat resmi.
Tidak ada struktur.
Tidak ada target besar.
Tetapi justru di sana terasa sesuatu yang segar.

Ada kemungkinan-kemungkinan baru.
Ada kebebasan untuk mencoba.
Ada ruang yang terasa lebih cair.

Lebih organik.
Lebih dekat dengan kenyataan hidup sehari-hari.

Dan mungkin memang begitulah cara banyak hal baik tumbuh.
Tidak selalu dari meja rapat.

Kadang dari trotoar.
Kadang dari taman kota.
Kadang dari skate park.
Kadang dari secangkir kopi.
Kadang dari percakapan yang tidak direncanakan.

Saya juga sampai pada satu kesimpulan yang mungkin sederhana.

Tidak semua hal harus diperjuangkan melalui jalur yang sama.
Ada gagasan yang memang lebih sehat ketika tumbuh dari bawah.

Dari kebutuhan nyata.
Dari hubungan antarmanusia.
Dari kepercayaan yang dibangun perlahan.

Bukan dari keputusan administratif.
Karena keputusan dapat berubah.
Kebijakan dapat berganti.
Struktur dapat dibentuk lalu dibubarkan.

Tetapi persahabatan, pengetahuan, pengalaman, dan semangat berkarya memiliki cara hidupnya sendiri.
Ia sering kali menemukan jalan bahkan ketika tidak ada yang menyediakannya.
Mungkin karena itu saya tidak melihat beberapa bulan terakhir sebagai sesuatu yang gagal.

Justru sebaliknya.

Saya melihatnya sebagai cara hidup memperlihatkan sesuatu yang sebelumnya tidak terlalu terlihat.

Bahwa yang paling berharga ternyata bukan tujuan akhirnya.
Melainkan orang-orang yang ditemukan sepanjang perjalanan.

Bahwa yang paling penting bukanlah nama sebuah wadah.
Melainkan kehidupan yang tumbuh di dalamnya.

Dan bahwa kreativitas, seni, pengetahuan, olahraga, budaya, serta berbagai bentuk ekspresi manusia lainnya sesungguhnya selalu mencari hal yang sama: ruang untuk bertemu.
Ruang untuk tumbuh.
Ruang untuk merasa bahwa apa yang mereka kerjakan tidak sendirian.

Karena itu, mungkin untuk sementara kita tidak perlu terlalu sibuk memikirkan bentuk akhirnya.
Tidak perlu tergesa-gesa membangun sesuatu yang besar.

Tidak perlu pula merasa harus segera mengganti apa yang telah berakhir.
Mungkin cukup dengan menjaga agar perjumpaan tetap terjadi.

Agar percakapan tetap hidup.
Agar karya tetap lahir.
Agar semakin banyak orang menemukan alasan untuk kembali datang.
Sisanya, biarlah waktu yang bekerja.

Sebab sering kali masa depan tidak lahir dari rencana yang paling sempurna.
Ia lahir dari orang-orang yang tetap memilih hadir, bahkan ketika tidak ada lagi alasan formal yang mengharuskan mereka hadir.

Dan bagi saya, itu lebih dari cukup untuk membuat optimisme tetap menyala.

Dari Banda Aceh.

Untuk siapa saja yang masih percaya bahwa perjumpaan adalah awal dari banyak kemungkinan baik.

Tags: Ari J. PalawiopiniSeni
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Prabowo Kritis, Aceh Sulit?
Opini

Prabowo Kritis, Aceh Sulit?

by Mukhlisuddin Ilyas
June 6, 2026
Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan
Opini

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

by SAGOE TV
June 3, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup
Opini

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (2)

by SAGOE TV
June 3, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup
Opini

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

by SAGOE TV
June 3, 2026
Aceh dan Paradoks Kemakmuran: Mengapa Bantuan Sosial Tidak Akan Pernah Cukup Tanpa Industrialisasi
Opini

Aceh dan Paradoks Kemakmuran: Mengapa Bantuan Sosial Tidak Akan Pernah Cukup Tanpa Industrialisasi

by SAGOE TV
May 25, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

June 3, 2026
Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

June 3, 2026
Prabowo Kritis, Aceh Sulit?

Prabowo Kritis, Aceh Sulit?

June 6, 2026
IKAPI Aceh Tawarkan Aceh Book Fair di Konkernas

IKAPI Aceh Tawarkan Aceh Book Fair di Konkernas

June 4, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (2)

June 3, 2026
Agam Hana Raba Krèh

Agam Hana Raba Krèh

November 4, 2025
3.811 Peserta UTBK SNBT 2025 Lolos di USK, Jalur Mandiri Masih Dibuka

Jalur Mandiri USK 2026 Dibuka hingga 11 Juni, Ini Kesempatan Terakhir Masuk PTN

May 5, 2026
Dari Meja yang Sama

Dari Meja yang Sama

June 3, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025

EDITOR'S PICK

Pemantauan Hilal Awal Ramadhan Aceh

Hilal Awal Ramadhan 1446 H di Aceh Penuhi Kriteria Imkanur Rukyat MABIMS

February 28, 2025
Influencer Turki Tugba Kiara Tersentuh di Aceh Tamiang: Anak Korban Banjir Mengaku Butuh Al-Qur'an

Influencer Turki Tugba Kiara Tersentuh di Aceh Tamiang: Anak Korban Banjir Mengaku Butuh Al-Qur’an

December 15, 2025
Gubernur Aceh Dukung Swasembada Pangan Presiden Prabowo

Gubernur Aceh Dukung Swasembada Pangan Presiden Prabowo

June 12, 2025
THR ASN, PPPK, Hakim, TNI Polri, dan Pensiunan Cair Mulai 17 Maret

THR ASN, PPPK, Hakim, TNI Polri, dan Pensiunan Cair Mulai 17 Maret

March 12, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.