CARACAS | SAGOE TV – Ketegangan geopolitik di Venezuela memasuki fase baru yang dramatis dan menegangkan setelah intervensi militer Amerika Serikat (AS) mengubah lanskap politik negara minyak itu secara drastis.
Pada 3 Januari 2026, militer AS melancarkan operasi besar di ibu kota Caracas, yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Dalam operasi yang dinamai Operation Absolute Resolve, pasukan Amerika Serikat menembus pertahanan Venezuela dan berhasil membawa kedua pemimpin itu keluar dari negara tersebut dan diterbangkan ke New York, di mana mereka kini menghadapi dakwaan atas dugaan keterlibatan dalam jaringan narkotika internasional menurut otoritas AS.
Langkah militer ini merupakan intervensi paling langsung yang dilakukan AS di Amerika Latin dalam beberapa dekade. Operasi diwarnai serangan udara terhadap fasilitas militer Venezuela dan diikuti dengan penangkapan Maduro, yang pemerintahan sebelumnya telah dikritik keras oleh Washington selama bertahun-tahun atas dugaan otoritarianisme dan korupsi. Pemerintah AS menyatakan langkah ini sebagai bagian dari upaya penegakan hukum internasional terhadap tindak kriminal transnasional.
Namun, dampaknya sudah dirasakan jauh melampaui arena hukum. Sejumlah negara mengecam tindakan AS tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan nasional dan hukum internasional. Dalam sesi darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), berbagai negara seperti Rusia, China, Brazil, dan beberapa negara Amerika Latin menyebut langkah AS sebagai tindakan agresi yang berpotensi memicu ketidakstabilan regional. Sekjen PBB pun memperingatkan bahwa operasi itu bisa memperlemah tata aturan internasional dan memperluas konflik jika tidak diselesaikan melalui dialog damai.
Di dalam negeri Venezuela, situasinya tetap genting. Oposisi dan kalangan yang masih loyal kepada Maduro mengecam penangkapan tersebut sebagai “penculikan politik” dan terus menuntut pembebasan pemimpin mereka. Sementara itu, pemerintahan sementara yang ditunjuk oleh lembaga tinggi negara menyatakan keinginan untuk bekerja sama dengan AS dalam agenda pembangunan dan stabilitas negara, menunjukkan dinamika yang kompleks antara tekanan domestik dan pengaruh asing.
Operasi ini juga berdampak pada dinamika ekonomi global. Harga komoditas seperti emas sempat mengalami lonjakan karena pasar bereaksi terhadap ketidakpastian geopolitik yang meningkat dan risiko gangguan pasokan minyak. Venezuela sendiri memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia, yang menjadikan situasi politiknya bukan hanya soal internal, tetapi juga strategis bagi keamanan energi global.
Sementara pendapat publik di AS pun terbelah hasil survei menunjukkan hanya sekitar satu dari tiga warga Amerika yang menyetujui tindakan militer tersebut banyak yang khawatir bahwa operasi ini dapat membuka babak baru ketidakpastian yang panjang bagi Venezuela dan kawasan Amerika Latin.
Perkembangan selanjutnya akan menjadi penentu arah politik Venezuela pasca intervensi, termasuk bagaimana peran aktor regional dan internasional dalam meredakan ketegangan serta upaya menuju penyelesaian damai yang menghormati kedaulatan negara dan hak rakyat Venezuela. [DBS]



















