• Tentang Kami
Thursday, August 20, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Krisis Identitas Generasi Muda Aceh, Terjebak Algoritma dan Kian Asing dengan Budaya Sendiri

SAGOE TV by SAGOE TV
June 30, 2026
in Podcast
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Krisis Identitas Generasi Muda Aceh, Terjebak Algoritma dan Kian Asing dengan Budaya Sendiri

Thumbnail YouTube Sagoetv

Share on FacebookShare on Twitter

BANDA ACEH | SAGOETV — Generasi muda Aceh saat ini dinilai sedang menghadapi krisis identitas yang semakin mengkhawatirkan di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi. Di satu sisi, perkembangan teknologi membuka akses luas terhadap informasi dan budaya dunia. Namun di sisi lain, arus tersebut dinilai perlahan menggerus nilai-nilai lokal, bahasa daerah, dan identitas keacehan yang selama ini menjadi fondasi karakter masyarakat.

Fenomena ini menjadi pembahasan utama dalam podcast di kanal YouTube Sagoe TV yang menghadirkan dua tokoh pendidikan dan masyarakat, yakni Dr. Musriadi Aswad dan Eka Januar, M.Soc.Sc.

BACA JUGA

Jejak Persaudaraan Aceh-Banten, Sejarah Lama yang Menguatkan Persatuan Indonesia

Dunia Digital Kian Ruwet, Ulama dan Pakar Adat Aceh Serukan Penguatan ‘Pageu Gampong’ dan Benteng Keluarga

Dalam diskusi tersebut, akademisi Eka Januar menyoroti dilema identitas yang kini dialami generasi muda Aceh, khususnya kalangan Generasi Z dan Milenial. Menurutnya, media sosial telah menjadi instrumen dominan dalam membentuk pola pikir, karakter, hingga orientasi hidup anak muda.

“Anak muda kita hari ini mengalami dilema identitas. Mereka hafal tren TikTok, paham budaya viral global, tetapi semakin asing dengan warisan budayanya sendiri seperti hikayat, seudati, dan bahasa Aceh,” ujar Eka Januar.

Ia menilai, kondisi ini menjadi ironi karena di satu sisi banyak anak muda yang bangga menyebut dirinya orang Aceh, tetapi pada saat yang sama kehilangan esensi nilai keacehan dalam keseharian.

Menurut Eka, fenomena ini terlihat dari semakin berkurangnya penggunaan bahasa Aceh di ruang publik maupun dalam lingkungan keluarga. Bahkan, sebagian anak muda mulai merasa canggung menggunakan bahasa daerahnya sendiri.

“Algoritma media sosial perlahan mengambil alih peran orang tua dan sekolah dalam membentuk karakter. Kalau ini dibiarkan, generasi kita bisa tumbuh tanpa akar budaya yang kuat,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Dr. Musriadi Aswad, menegaskan bahwa krisis identitas generasi muda harus dijawab dengan penguatan ketahanan lokal melalui pendekatan budaya, agama, dan keluarga.

Menurutnya, penguatan identitas Aceh tidak cukup hanya dengan seruan moral, tetapi harus diwujudkan melalui langkah-langkah strategis yang konkret.

Beberapa langkah yang dinilai penting antara lain revitalisasi fungsi meunasah dan masjid sebagai pusat pendidikan karakter, penguatan peran gampong dalam pembinaan sosial, optimalisasi keluarga sebagai basis utama pendidikan agama, pembiasaan penggunaan bahasa Aceh di rumah, serta penguatan pemahaman sejarah dan karakter sejak usia dini.

“Ketahanan lokal harus diperkuat. Anak-anak muda kita harus dibekali dengan identitas yang kokoh agar tidak mudah larut dalam arus global yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai Aceh,” kata Musriadi.

Ia menambahkan, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan tidak bisa hanya mengedepankan larangan tanpa solusi. Menurutnya, perlu ada kolaborasi aktif untuk masuk ke ruang-ruang digital, membangun narasi edukatif, dan memanfaatkan teknologi sebagai instrumen penguatan identitas.

Kedua narasumber sepakat bahwa potensi besar generasi muda Aceh tidak boleh terjebak hanya menjadi konsumen budaya global. Sebaliknya, mereka harus didorong menjadi agen perubahan yang mampu memadukan modernitas dengan akar budaya lokal.

Di tengah dunia yang semakin tanpa batas, menjaga identitas bukan berarti menolak kemajuan, tetapi memastikan bahwa generasi muda tetap mengenal siapa dirinya, dari mana asalnya, dan nilai apa yang harus dijaga untuk masa depan Aceh.

Tags: AcehAlgoritmaBudayagenerasi mudaIndonesiaKewaspadaankrisis identitas
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Jejak Persaudaraan Aceh-Banten, Sejarah Lama yang Menguatkan Persatuan Indonesia
Podcast

Jejak Persaudaraan Aceh-Banten, Sejarah Lama yang Menguatkan Persatuan Indonesia

by SAGOE TV
August 3, 2026
Dunia Digital Kian Ruwet, Ulama dan Pakar Adat Aceh Serukan Penguatan Pageu Gampong dan Benteng Keluarga
Podcast

Dunia Digital Kian Ruwet, Ulama dan Pakar Adat Aceh Serukan Penguatan ‘Pageu Gampong’ dan Benteng Keluarga

by SAGOE TV
June 30, 2026
Darurat Predator Digital dan Lonjakan HIV di Banda Aceh
Podcast

Darurat Predator Digital dan Lonjakan HIV di Banda Aceh

by SAGOE TV
June 30, 2026
Jangan Asal Pamer KTP dan Paspor! Diskominfotik Banda Aceh Ingatkan Ancaman Pencurian Data
Podcast

Jangan Asal Pamer KTP dan Paspor! Diskominfotik Banda Aceh Ingatkan Ancaman Pencurian Data

by SAGOE TV
June 26, 2026
Di Tengah Stigma Intoleran, Banda Aceh Ternyata Miliki Dua Desa Sadar Kerukunan
Podcast

Di Tengah Stigma Intoleran, Banda Aceh Ternyata Miliki Dua Desa Sadar Kerukunan

by SAGOE TV
June 25, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Cek Kesehatan Gratis Andalan Menjaga Raga

Cek Kesehatan Gratis Andalan Menjaga Raga

August 17, 2026
21 Tahun Damai Refleksi dan Koreksi untuk Masa Depan yang Lebih Baik

21 Tahun Damai: Refleksi dan Koreksi untuk Masa Depan yang Lebih Baik

August 15, 2026
Rita Khathir

Arti Kemerdekaan

August 18, 2026
Sesudah Damai, Apa Lagi Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh_Muhammad Akmal

Sesudah Damai, Apa Lagi? Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh

August 18, 2026
21 Tahun Damai Refleksi dan Koreksi untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Glorifikasi Munafik Ini Dibangun dengan Sengaja: Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan

August 17, 2026
Ari J. Palawi Praktisi dan Akademisi Seni, Aneuk Mukim Kayee Adang, Banda Aceh

Setelah Damai, Siapa yang Membentuk Kita?

August 17, 2026
Siapa yang Kenyang, Siapa yang Masih Lapar? Refleksi 21 Tahun Perdamaian Aceh

Siapa yang Kenyang, Siapa yang Masih Lapar? Refleksi 21 Tahun Perdamaian Aceh

August 15, 2026
SPS Revival: Ketika Praktik Kreatif Mulai Menemukan Bentuknya

SPS Revival: Ketika Praktik Kreatif Mulai Menemukan Bentuknya

August 18, 2026
Kericuhan Hari Damai Aceh Dibahas Forkopimda, Persoalan Bendera Bintang Bulan Dibawa ke Mendagri

Kericuhan Hari Damai Aceh Dibahas Forkopimda, Persoalan Bendera Bintang Bulan Dibawa ke Mendagri

August 16, 2026

EDITOR'S PICK

Badan Pangan Nasional Beri Penghargaan untuk Dinas Pangan Aceh Besar

Badan Pangan Nasional Beri Penghargaan untuk Dinas Pangan Aceh Besar

April 20, 2026
Relasi Pertahanan Semesta (Cosmic Defense) dengan ‘Gerobak Pengetahuan’ Lokal di Nusantara

Apa Keistimewaan Johan Georg Hamann Bagi Isaiah Berlin?

March 20, 2025
BUMG dan BUMGBersama Jadi Pilar Ekonomi Gampong di Aceh Besar

BUMG dan BUMGBersama Jadi Pilar Ekonomi Gampong di Aceh Besar

February 6, 2025
Beasiswa PJJ Dibuka hingga 31 Mei 2026, Guru Pesantren dan LPQ Bisa Kuliah Gratis

Beasiswa PJJ Dibuka hingga 31 Mei 2026, Guru Pesantren dan LPQ Bisa Kuliah Gratis

May 1, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.