BANDA ACEH | SAGOETV — Perkembangan dunia digital dan media sosial di era modern kian menghadirkan tantangan serius bagi kehidupan sosial masyarakat, khususnya generasi muda Aceh. Di satu sisi, teknologi memberi kemudahan dalam akses informasi, komunikasi, dan pendidikan. Namun di sisi lain, ruang digital juga menjadi pintu masuk berbagai ancaman moral seperti judi online, penyebaran hoaks, pornografi, hingga konten-konten yang bertentangan dengan nilai syariat Islam.
Kondisi ini menjadi perhatian serius sejumlah tokoh Aceh. Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh, Tgk. H. Syibral Malasyi, bersama akademisi Dr. M. Adli Abdullah, menegaskan pentingnya sinergi antara agama, adat, dan keluarga sebagai benteng utama dalam menghadapi derasnya arus digitalisasi.
Pandangan itu mengemuka dalam podcast bincang-bincang yang disiarkan kanal YouTube Sagoe TV, yang membahas tantangan moral di tengah perkembangan teknologi yang semakin kompleks.
Dalam perbincangan tersebut, Tgk. Syibral Malasyi menegaskan bahwa penanganan kemerosotan moral di era digital bukan hanya menjadi tugas ulama atau MPU semata, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat.
“Perilaku masyarakat hari ini bukan lagi sekadar tugas MPU. Ini ranah kita bersama. Qanun syariat sudah sangat jelas mengatur, tinggal bagaimana keseriusan para eksekutor di lapangan menjalankannya agar krisis moral dan akhlak ini tidak semakin parah,” ujar Tgk. Syibral.
Menurutnya, masifnya konten negatif yang dikonsumsi dan bahkan diproduksi masyarakat tidak terlepas dari lemahnya pengawasan dalam keluarga. Ia menilai, krisis moral sering kali berawal dari rumah, ketika orang tua gagal menjadi teladan bagi anak-anaknya.
Senada dengan itu, Dr. M. Adli Abdullah menekankan bahwa dalam konteks Aceh, adat dan agama Islam merupakan dua unsur yang tidak bisa dipisahkan, layaknya “zat dan sifat.” Karena itu, ia menilai pendekatan dakwah dan penguatan adat juga harus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.
“Institusi adat dan ulama tidak bisa lagi hanya mengandalkan ceramah konvensional. Mereka harus masuk ke ruang digital, memproduksi konten-konten positif, dan merebut ruang narasi di media sosial,” kata Adli.
Ia juga mengkritik fenomena sebagian orang tua yang justru menjadi contoh buruk bagi anak-anak dengan ikut memproduksi konten negatif atau perilaku tidak pantas di media sosial.
“Ini ironi. Anak-anak melihat langsung perilaku orang tuanya di media sosial. Kalau orang tua tidak bisa menjaga marwah, bagaimana anak bisa dibentuk dengan baik?” tambahnya.
Lebih jauh, Adli menyoroti semakin lunturnya budaya kepedulian sosial di tengah masyarakat. Sikap individualistis dinilai semakin menguat, padahal dalam tradisi Aceh terdapat konsep Pageu Gampong atau pagar desa yang selama ini menjadi sistem pengawasan sosial berbasis komunitas.
Menurutnya, Pageu Gampong harus dihidupkan kembali sebagai mekanisme deteksi dini terhadap berbagai penyimpangan sosial, termasuk pengaruh negatif dunia digital.
“Bukan hanya orang tua yang berkewajiban mendidik anak, tetapi masyarakat sekitar juga harus hadir. Lingkungan harus kembali menjadi ruang kontrol sosial yang aktif,” tegasnya.
Kedua tokoh sepakat bahwa keluarga tetap menjadi benteng pertahanan pertama dan paling kuat dalam menghadapi dampak negatif globalisasi dan digitalisasi. Peran ibu dalam pembinaan karakter, serta ruang-ruang sederhana seperti kebiasaan makan bersama di rumah, dinilai sebagai fondasi penting dalam membangun komunikasi, nilai, dan kedekatan emosional dengan anak.
Di akhir diskusi, masyarakat Aceh diimbau untuk lebih arif dan bijak dalam menyaring informasi, memperkuat pendidikan agama di lingkungan keluarga, serta tidak menutup mata terhadap krisis moral yang perlahan menggerus generasi muda.
Penguatan nilai agama, revitalisasi adat, serta kebangkitan kembali semangat Pageu Gampong dinilai menjadi kunci untuk menjaga marwah Aceh di tengah dunia digital yang semakin ruwet dan tak terbendung.



















