Oleh: Muhammad Jais, S.E., M.Sc.IBF
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) dan Alumni S2 Islamic Banking and Finance di International Islamic University Malaysia (IIUM).
Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026 di Medan bukan sekadar agenda rutin para kepala daerah. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang lahirnya gagasan besar tentang masa depan kota-kota di Indonesia. Mengusung tema “Kota Tangguh, Bangsa Berdaulat”, Rakernas menghasilkan sepuluh rekomendasi strategis yang menyentuh hampir seluruh aspek pembangunan perkotaan, mulai dari transformasi digital, penguatan ekonomi lokal, ketahanan lingkungan, hingga peningkatan kualitas pelayanan publik.
Bagi Kota Banda Aceh, keikutsertaan dalam forum ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar menghadiri rapat nasional. Rakernas menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa Banda Aceh sedang bergerak menuju kota yang semakin modern tanpa kehilangan identitas sebagai Serambi Mekkah. Kehadiran Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal dalam berbagai forum strategis menunjukkan komitmen bahwa pembangunan kota tidak lagi dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Di era persaingan global, keberhasilan sebuah kota justru ditentukan oleh kemampuannya membangun kolaborasi, berbagi inovasi, serta belajar dari praktik terbaik daerah lain.
Komitmen tersebut tercermin dalam aksi simbolis penanaman pohon kenanga khas Aceh bersama para kepala daerah. Banyak orang mungkin melihatnya hanya sebagai kegiatan seremonial. Padahal, di balik pohon yang ditanam tersimpan pesan penting bahwa pembangunan kota harus berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan. Kota yang maju bukan hanya dipenuhi gedung tinggi dan jalan yang lebar, tetapi juga ruang hijau yang mampu menjaga kualitas hidup masyarakat di tengah ancaman perubahan iklim.
Namun, wajah Banda Aceh di Rakernas tidak hanya hadir melalui isu lingkungan. Kota ini juga tampil memukau melalui Karnaval Budaya Nusantara. Di tengah hujan deras, delegasi Banda Aceh tetap menampilkan tarian tradisional yang memikat perhatian ribuan penonton. Penampilan tersebut membuktikan bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan aset strategis yang mampu membangun citra kota di tingkat nasional.
Di sisi lain, keberhasilan stan Dekranasda Banda Aceh dalam Indonesia City Expo memperlihatkan bahwa produk-produk UMKM Aceh telah memiliki daya saing yang semakin kuat. Parfum lokal, bordir khas Aceh, dan berbagai produk kreatif lainnya berhasil menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah hingga mencatat omzet puluhan juta rupiah selama pameran berlangsung. Prestasi ini menunjukkan bahwa ekonomi lokal akan tumbuh lebih cepat apabila diberikan ruang promosi yang tepat serta didukung oleh jejaring pemasaran nasional.
Inilah pelajaran penting yang seharusnya dibawa pulang dari Rakernas APEKSI. Kota tidak lagi cukup hanya membangun infrastruktur fisik. Kota juga harus membangun ekosistem inovasi, memperkuat ekonomi kreatif, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memanfaatkan teknologi digital dalam pelayanan publik.
Bagi Banda Aceh, rekomendasi Rakernas dapat menjadi kompas pembangunan lima tahun ke depan. Penguatan tata kelola pemerintahan digital akan mempercepat pelayanan masyarakat. Ketahanan lingkungan akan memperkuat posisi Banda Aceh sebagai kota yang nyaman dihuni. Pengembangan ekonomi lokal akan membuka lapangan kerja baru bagi generasi muda. Sementara kolaborasi antarkota akan mempercepat transfer inovasi sehingga pembangunan tidak lagi dimulai dari nol.
Lebih jauh lagi, visi Banda Aceh sebagai kota kolaboratif sangat selaras dengan cita-cita menjadikan ibu kota Provinsi Aceh ini sebagai pusat peradaban Islam modern yang unggul, religius, berbudaya, dan berdaya saing. Kota ini memiliki modal besar berupa sejarah, budaya, sumber daya manusia, serta posisi strategis sebagai gerbang Indonesia di bagian barat. Modal tersebut akan memberikan hasil maksimal apabila dipadukan dengan jejaring kerja sama nasional maupun internasional.
Karena itu, keberhasilan Banda Aceh dalam Rakernas APEKSI hendaknya tidak berhenti sebagai dokumentasi kegiatan ataupun publikasi media. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seluruh gagasan, jejaring, dan pengalaman yang diperoleh mampu diterjemahkan menjadi kebijakan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Kolaborasi hari ini adalah investasi masa depan. Ketika pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat bergerak bersama, Banda Aceh tidak hanya akan menjadi kota yang nyaman untuk ditinggali, tetapi juga menjadi kota yang diperhitungkan di tingkat nasional bahkan internasional.
Rakernas APEKSI telah usai. Kini saatnya Banda Aceh membuktikan bahwa semangat kolaborasi bukan sekadar slogan, melainkan fondasi menuju kota yang lebih maju, berkelanjutan, berbudaya, dan menyejahterakan seluruh warganya.[]




















