LHOKSEUMAWE | SAGOE TV – Katahati Institute bersama Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh (Unimal), dengan dukungan Pegadaian Area Banda Aceh, mendorong pengelolaan limbah plastik berbasis ekonomi sirkular sebagai solusi untuk mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pengelolaan Lingkungan dan Pengolahan Limbah Plastik Berbasis Ekonomi Sirkular untuk Mendukung Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan Green Community” yang digelar di Aula Cut Meutia, Kampus Bukit Indah Universitas Malikussaleh (Unimal), Kota Lhokseumawe, Senin, 6 Juli 2026.
FGD ini mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, organisasi masyarakat, dan pegiat lingkungan untuk membangun kolaborasi dalam menghadapi tantangan pengelolaan limbah plastik melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Dalam sambutan Ketua Dekranasda Aceh, Marlina Muzakir, yang dibacakan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Aceh, kegiatan tersebut diapresiasi sebagai forum strategis yang memperkuat sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat dalam mencari solusi atas persoalan sampah plastik yang kian kompleks.
Dekranasda Aceh menilai ekonomi sirkular menawarkan paradigma baru dalam pengelolaan sumber daya melalui upaya mengurangi timbunan sampah, menggunakan kembali, mendaur ulang, serta mengolah limbah menjadi produk bernilai tambah. Pendekatan ini diyakini mampu menciptakan peluang usaha, lapangan pekerjaan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya bagi pelaku UMKM dan industri kreatif.
Narasumber dari Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, Prof. Ichwana, menjelaskan bahwa limbah plastik telah menjadi persoalan lingkungan yang serius. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah berdampak pada meningkatnya pencemaran lingkungan, masuknya mikroplastik ke dalam rantai makanan, pembakaran sampah yang menghasilkan zat berbahaya, hingga penyumbatan drainase yang memicu banjir di kawasan perkotaan.
Meski demikian, menurutnya limbah plastik juga memiliki nilai ekonomi apabila dikelola melalui pendekatan ekonomi sirkular. Limbah dapat diolah menjadi bahan baku industri, produk kreatif, hingga membuka peluang lahirnya lapangan kerja baru.
Ia menambahkan, Indonesia telah memiliki arah kebijakan melalui Peta Jalan SDGs Indonesia dan Peta Jalan Ekonomi Sirkular 2025-2045 yang menargetkan Nol Sampah Plastik pada 2040 serta Nol Sampah dan Nol Emisi pada 2050 melalui penerapan strategi 9R, yaitu Refuse, Rethink, Reduce, Reuse, Repair, Refurbish, Remanufacture, Repurpose, dan Recycle.
Ichwana juga menegaskan bahwa pengelolaan limbah plastik berkontribusi terhadap pencapaian berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan, mulai dari pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pembangunan kota berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, hingga aksi menghadapi perubahan iklim.
Sementara itu, Dr. Rozanna Dewi dari Center of Excellence (CoE) TechnoPlast Universitas Malikussaleh memaparkan berbagai tantangan sekaligus peluang inovasi dalam pengelolaan limbah plastik. Melalui riset yang telah dilakukan, tim peneliti Unimal berhasil mengembangkan plastik degradable berbahan dasar pati sagu yang berpotensi menjadi alternatif pengganti plastik konvensional.
Inovasi tersebut bahkan telah dikembangkan melalui perusahaan rintisan PT Plastik Sago Teknologi (PST) serta mendapat dukungan berbagai lembaga nasional, termasuk Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Ketua Badan Pengurus Katahati Institute, Chairul Muslim, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan FGD, khususnya Universitas Malikussaleh, Pemerintah Kota Lhokseumawe, dan Pegadaian Area Banda Aceh.
“FGD ini menjadi pondasi awal dalam membangun dan mengembangkan ekosistem ekonomi sirkular di masa depan, khususnya di Kota Lhokseumawe. Pengelolaan limbah plastik tidak lagi hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai peluang ekonomi baru yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Chairul, forum tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, di antaranya penyusunan rencana bisnis ekonomi sirkular di Kota Lhokseumawe, rekomendasi kebijakan bagi Pemerintah Kota Lhokseumawe, penguatan kemitraan antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha, serta pembentukan sekretariat bersama untuk memastikan keberlanjutan program ekonomi sirkular di daerah.
Bagi Katahati Institute, FGD ini memiliki makna istimewa karena bertepatan dengan peringatan 25 tahun berdirinya lembaga tersebut.
“Di usia ke-25 tahun, Katahati bersyukur dapat mempertemukan banyak pihak untuk membahas isu yang selama ini belum mendapatkan perhatian yang semestinya, yakni persoalan limbah plastik. Kami berharap forum ini menjadi awal gerakan bersama menuju lingkungan yang lebih bersih, ekonomi yang lebih inklusif, dan masyarakat yang semakin peduli terhadap keberlanjutan,” kata Chairul.
Melalui FGD ini, para peserta berharap lahir berbagai inovasi dan langkah konkret dalam pengelolaan limbah plastik yang tidak hanya mampu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat serta mempercepat terwujudnya Green Community di Kota Lhokseumawe dan Aceh secara umum.[]




















