Oleh: Muhammad Jais, S.E., M.Sc.IBF
Warga Kota Banda Aceh dan pencinta olahraga sepak bola
Suasana di kawasan Jalan Tgk H Daud Beureueh, Banda Aceh, pada Minggu pagi lalu, 12 Juli 2026, memancarkan energi yang tak biasa. Ribuan warga tumpah ruah dalam gelaran Car Free Day (CFD). Di satu sudut, masyarakat sibuk berolahraga, sementara di sudut lain, geliat ekonomi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berdetak kencang. Puncak kemeriahannya bermuara pada satu titik, yaitu nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2026 yang di ikuti 48 negara yang menyatukan semua mata, tanpa sekat, tanpa perbedaan kasta.
Fenomena ini bukanlah sekadar kumpul-kumpul akhir pekan. Di balik sorak-sorai dan canda tawa warga, terbentang sebuah kanvas besar tentang bagaimana sebuah kota seharusnya dibangun. Ruang-ruang publik yang dihidupkan melalui olahraga dan hiburan rakyat sejatinya adalah instrumen paling efektif untuk meluruhkan polarisasi.
Dalam konteks inilah, visi yang diusung oleh Illiza Sa’aduddin Djamal dan Afdhal menemukan relevansinya. Keduanya memahami betul bahwa membangun Kota Banda Aceh tidak cukup hanya dengan mendirikan infrastruktur fisik atau memutar roda birokrasi, tetapi juga harus menyentuh jiwa warganya. Olahraga dipilih sebagai jalan tengah, sebuah bahasa universal yang mampu menghapus perbedaan dan menyatukan langkah.
Olahraga Sebagai Medium Egaliter
Ketika Illiza membaur bersama warga di halaman Gedung Bank Syariah Nasional (BSN), membagikan kuis interaktif, dan menyapa anak-anak, batas antara pemimpin dan yang dipimpin menjadi lebur. Momen ini merepresentasikan visi kepemimpinan Illiza dan Afdhal yang inklusif. Mereka ingin mengembalikan ruang publik kepada pemilik sahnya yaitu masyarakat.
Kolaborasi apik antara Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Banda Aceh, TVRI Aceh, BSN, hingga ADABI Indonesia menunjukkan bahwa semangat kegotongroyongan itu masih menyala. Lebih jauh lagi, olahraga mengajarkan kita tentang fair play atau sportivitas. Di lapangan hijau, siapa pun yang bermain baik akan menang, terlepas dari latar belakangnya. Visi Illiza dan Afdhal berusaha mengejawantahkan nilai sportivitas ini ke dalam kehidupan sosial warga Banda Aceh. Jika masyarakat terbiasa menjunjung tinggi sportivitas, niscaya gesekan sosial, perbedaan pandangan politik, atau sentimen kelompok dapat diredam.
Inspirasi dari Lapangan Hijau untuk Pembangunan Kota
Pesan senada juga menggema dari Stadion Harapan Bangsa saat warga tumpah ruah menyaksikan laga perempat final antara Argentina melawan Swiss. Inisiasi Pemerintah Kecamatan Banda Raya yang berkolaborasi dengan berbagai elemen membuktikan bahwa kecintaan pada sepak bola bisa menjelma menjadi ajang silaturahmi yang masif.
Seperti yang ditegaskan oleh Ketua DPRK Banda Aceh, Irwansyah ST, olahraga bukanlah sekadar tontonan banal. Ada nilai-nilai luhur seperti kedisiplinan, kerja keras, dan semangat pantang menyerah yang harus ditularkan. Banda Aceh, dalam visi Illiza dan Afdhal, diarahkan untuk mengadopsi etos kerja para atlet ini. Kota ini butuh warganya untuk bekerja keras tanpa kenal lelah, disiplin dalam menjaga ketertiban, dan pantang menyerah dalam menghadapi tantangan zaman. Mengarahkan generasi muda pada aktivitas produktif seperti ini juga menjadi tameng ampuh dari berbagai pengaruh negatif pergaulan modern.
Malam Puncak: Harmoni Duniawi dan Ukhrawi
Kini, warga Kutaraja bersiap menanti laga pamungkas. Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina yang akan digelar pada Minggu, 19 Juli 2026, pukul 23.00 WIB di Halaman Kantor Wali Kota Banda Aceh bukan sekadar perayaan penutup turnamen. Ada makna yang lebih dalam di balik susunan acaranya.
Kehadiran bazar UMKM, hiburan, dan pembagian doorprize akan menjadi katup pelepas penat sekaligus pendorong ekonomi lokal. Namun, yang paling esensial dan merepresentasikan identitas Banda Aceh seutuhnya adalah agenda penutupnya yaitu Salat Subuh berjamaah.
Di sinilah visi Illiza dan Afdhal terasa begitu membumi dan kultural. Euforia dan gegap gempita duniawi tidak lantas membuat warga melupakan Sang Pencipta. Menyatukan gemuruh semangat olahraga dengan kekhusyukan spiritual adalah keseimbangan yang ingin terus dirawat di Banda Aceh.
Pada akhirnya, entah Spanyol atau Argentina yang akan mengangkat trofi, pemenang sesungguhnya adalah warga Kota Banda Aceh. Melalui olahraga, kepemimpinan Illiza dan Afdhal telah membuka jalan bagi terciptanya masyarakat yang lebih sehat, suportif, dan bersatu padu membangun kota, berdiri sama tinggi tanpa memandang perbedaan.




















