Oleh: Risnawati Ridwan
ASN pada Dinas Sosial Kota Banda Aceh
“Universitas dan kantor bagus memang penting. Namun, membentuk martabat dan kepribadian sebagai manusia lebih penting. Jika tidak bisa jadi orang baik, jangan jadi orang jahat.”
“Mintalah pertolongan. Pertolongan akan datang jika kau meminta tolong.”
“Kesempatan itu bukan diberikan, tetapi itu akan datang jika kau menginginkannya.”
Kalimat-kalimat tersebut bukan sekadar dialog dalam film Teach You a Lesson, tetapi seperti tamparan halus bagi banyak orang dewasa yang sering merasa paling tahu tentang kehidupan anak-anak. Kalimat-kalimat inilah yang menjadi ruh dari film ini. Film ini menyampaikan pesan yang jauh lebih besar daripada persoalan pendidikan di sekolah. Ia berbicara tentang luka, ambisi, ketidakadilan, dan ironi bahwa terkadang yang paling membutuhkan pendidikan justru bukan anak-anak, melainkan orang dewasa yang membesarkan mereka.
Selama ini, kita terlalu mudah menempatkan anak sebagai pihak yang harus diperbaiki. Anak yang nakal harus didisiplinkan, anak yang melawan harus diajari sopan santun, anak yang gagal harus dipaksa lebih keras belajar. Namun, jarang sekali kita bertanya, bagaimana kondisi emosional orang dewasa yang mendidik mereka? Sudahkah para orang tua menyelesaikan luka masa lalunya sendiri?
Salah satu bagian paling menyayat menurut saya dalam Teach You a Lesson adalah ketika seorang ibu memaksakan anaknya untuk masuk jurusan kedokteran elit. Demi ambisi tersebut, sang anak dipaksa mengonsumsi obat psikostimulan yang biasa digunakan untuk terapi ADHD agar mampu belajar tanpa henti. Atas nama cinta dan masa depan, batas antara pengorbanan dan kekerasan menjadi kabur. Saya seperti bercermin ke diri sendiri. Saya menginginkan anak saya menjadi A, B dan C namun saya tidak memperhatikan kemampuan dan keinginan anak-anak.
Fenomena ini sesungguhnya tidak asing di sekitar kita. Banyak orang tua yang mengatakan, “Semua ini demi kebaikan anak.” Kalimat itu terdengar mulia, tetapi tidak selalu dapat diterjemahkan secara harfiah. Sebab, bisa jadi yang sedang diperjuangkan bukan masa depan anak, melainkan mimpi masa lalu orang tua yang belum pernah tercapai.
Ada inner child yang belum sembuh, ada cita-cita yang kandas karena keterbatasan ekonomi, kondisi keluarga, atau kesempatan hidup yang berbeda. Luka itu kemudian dibawa hingga dewasa dan tanpa sadar diwariskan kepada anak-anak. Anak dipaksa menjadi dokter karena dulu ayahnya gagal masuk fakultas kedokteran. Anak dipaksa menjadi pegawai negeri karena ibunya dahulu tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Anak akhirnya menjadi perpanjangan tangan dari ambisi masa lalu orang tuanya.
Padahal anak lahir pada zaman yang berbeda. Mereka memiliki minat, bakat, tantangan, dan impian yang tidak sama dengan generasi sebelumnya. Memaksakan mimpi lama kepada anak sama saja dengan menolak kenyataan bahwa dunia telah berubah. Bahkan Ali bin Abi Thalib telah berpesan, “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya”.
Di sisi lain, Teach You a Lesson juga mengangkat persoalan kekerasan dan geng di lingkungan sekolah. Tema ini terasa sangat relevan dengan kondisi Indonesia. Kita masih mengingat berbagai kasus tawuran dan kekerasan pelajar yang merenggut nyawa. Kasus meninggalnya seorang siswa SMP di Cilacap akibat penganiayaan teman sekolahnya pada tahun 2023, berbagai aksi geng motor yang melibatkan remaja di Bandung, Medan, dan Makassar, hingga fenomena kelompok perundungan di sekolah menjadi bukti bahwa kekerasan di kalangan anak bukan sekadar persoalan kenakalan biasa. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah, dari mana anak-anak belajar tentang kekerasan?
Anak tidak lahir dengan membawa kebencian atau kekerasan. Mereka belajar menjadi demikian. Mereka adalah miniatur yang meniru dunia orang dewasa di sekelilingnya. Mereka belajar tentang kekerasan dari rumah, belajar tentang superioritas dari lingkungan sosial, dan belajar tentang pembenaran perilaku salah dari contoh yang mereka lihat setiap hari.
Karena itulah, menjadi PR besar dalam mendidik anak, ada beberapa hal yang sesungguhnya perlu dibereskan terlebih dahulu oleh orang dewasa sehingga proses pengasuhan dan pendidikan yang diberikan ke anak menjadi lebih baik. Pertama, inner child orang tua yang belum tuntas. Banyak orang dewasa sesungguhnya masih membawa luka masa kecil yang belum mengering. Trauma pengasuhan yang keras, tuntutan berlebihan, kurangnya kasih sayang, atau kegagalan mewujudkan impian masa lalu terus menghantui hingga usia dewasa. Luka itu kemudian menjelma menjadi ambisi terhadap anak-anak mereka.
Kedua, gengsi yang tumbuh di lingkungan orang dewasa. Saat ini, dengan cepatnya pergeseran informasi, persaingan tumbuh tanpa jeda. Rivalitas yang diharapkan malahan muncul negative progress yang tidak disadari. Akibatnya banyak orang tua sebenarnya menjadi korban dari standar sosial yang mereka ciptakan sendiri. Mereka takut dianggap gagal jika anak tidak masuk universitas ternama. Mereka khawatir dipandang rendah jika anak memilih profesi yang tidak populer. Mereka berlomba-lomba memamerkan prestasi anak sebagai simbol status sosial. Padahal, orang dewasa yang tidak mampu menyaring gengsi sesungguhnya adalah korban. Namun, karena tidak mau mengakui dirinya sebagai korban, mereka justru menjadikan anak-anak sebagai pelampiasan tekanan sosial tersebut.
Ketiga, manajemen emosi yang belum matang. Tidak sedikit orang tua yang secara fisik telah menua, tetapi secara emosional masih bersikap kekanak-kanakan. Mereka mudah marah, sulit menerima kritik, memaksakan kehendak, dan menggunakan kekuasaan sebagai alat untuk mengontrol anak. Dalam kondisi seperti itu, anak tidak mendapatkan teladan tentang bagaimana menjadi manusia dewasa yang sehat secara emosional. Mereka justru belajar bahwa kemarahan adalah cara menyelesaikan masalah, bahwa kekuasaan boleh digunakan untuk memaksa, dan bahwa pendapat anak tidak memiliki nilai. Sedangkan contoh teladan adalah hal yang paling mudah ditiru dibandingkan ribuan nasehat.
Di hari peringatan Hari Anak Nasional ini, Teach You a Lesson seharusnya menjadi cermin besar bagi kita semua. Film ini mengingatkan bahwa mendidik anak sesungguhnya dimulai dengan mendidik diri sendiri. Sebelum menuntut anak berubah, orang tua perlu bertanya, apakah saya sudah menjadi contoh yang baik? Apakah luka masa lalu saya sudah selesai? Apakah ambisi saya benar-benar untuk anak, atau sekadar untuk memenuhi kekosongan dalam diri saya sendiri?
Karena itu, pelajaran terbesar dari Teach You a Lesson bukanlah tentang bagaimana mendisiplinkan anak, melainkan bagaimana orang dewasa belajar menjadi manusia yang lebih utuh. Sebab, terkadang yang sesungguhnya perlu dididik bukanlah anak-anak, melainkan orang dewasa yang membesarkan mereka. Selamat Hari Anak Nasional. Mari menjadi pribadi yang dapat menjadi teladan bagi anak-anak negeri ini. []




















