• Tentang Kami
Friday, November 6, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Meutaloe; Ketika Banda Aceh Mulai Belajar Bersama

SAGOE TV by SAGOE TV
August 3, 2026
in SENI
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Meutaloe; Ketika Banda Aceh Mulai Belajar Bersama

Seorang peserta berseloroh demikian menjelang SPS Revival Vol. 11 berakhir di Arena Skate Lamprit, Banda Aceh, Sabtu, 1 Agustus 2026. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

“Ini sudah seperti Jogja, Pak. Terasa vibes kreativitasnya.”

Seorang peserta berseloroh demikian menjelang SPS Revival Vol. 11 berakhir di Arena Skate Lamprit, Banda Aceh, Sabtu, 1 Agustus 2026. Bukan karena Banda Aceh berubah menjadi Yogyakarta. Yang terasa justru suasananya. Orang-orang dari latar berbeda berkumpul tanpa sekat, saling mengamati, saling belajar, lalu menciptakan sesuatu bersama.

Seorang santri tampil membawakan monolog. Musisi mengisi ilustrasi secara spontan. Saksofon menyusul. Rapa’i diperkenalkan. Skater bertahan hingga acara usai. Warga yang semula hanya melintas ikut berhenti menyaksikan. Tidak ada tiket. Tidak ada transaksi. Bahkan belum ada spanduk yang menandai kegiatan ini. Seluruh acara berjalan atas gotong royong individu dan komunitas yang percaya bahwa ruang seperti ini perlu terus hidup.

BACA JUGA

Seungue Lam Kayee, Film Sineas Aceh tentang Ingatan dan Kehilangan Pascabanjir

Kita Bangga pada Budaya Aceh–Seberapa Banyak Kita Memahaminya?

Pemandangan seperti itu masih jarang dijumpai di Banda Aceh. Kota ini semakin ramai oleh berbagai aktivitas, tetapi belum banyak ruang terbuka yang mempertemukan orang tanpa kepentingan komersial. Padahal, kota kreatif tidak tumbuh hanya dari gedung, festival, atau agenda seremonial. Kota kreatif tumbuh ketika warganya terbiasa bertemu, bertukar pengalaman, dan mengembangkan gagasan bersama.

Jawaban atas kebutuhan itu mulai terlihat bahkan sebelum pertunjukan pertama dimulai.

Di salah satu sudut arena, seorang santri yang akan membawakan monolog AENG/ALIMIN berkata kepada temannya, “Kami latihan terus selama ini di pesantren, Pak. Waktu Pak Guru Firman ngajak main di sini, wah, senang sekali. Ada panggung untuk kami.”

Kalimat itu sederhana, tetapi menggambarkan kenyataan yang lebih luas. Banyak sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi memiliki peserta didik dengan kemampuan artistik yang baik. Mereka berlatih dengan disiplin dan menyiapkan karya secara serius. Namun, tidak semua memiliki ruang untuk menguji hasil latihan di hadapan publik dan berdialog dengan pelaku seni dari berbagai bidang.

Sebelum monolog dimulai, para santri memanfaatkan setiap kesempatan untuk belajar. Mereka menghampiri Bang Kobong, mengamati perangkat tata suara, lalu bertanya bagaimana sistem audio bekerja dalam sebuah pertunjukan. Ketika kamera dokumentasi dikeluarkan, mereka bergantian melihat, memegang, dan menanyakan proses pengambilan gambar. Di sudut lain, guru pendamping merampungkan rias wajah pemain dengan beberapa garis sederhana yang mempertegas karakter tokoh. Semua berlangsung di ruang terbuka, tanpa fasilitas khusus, tetapi dikerjakan dengan kesungguhan.

Keseriusan itu tampak ketika monolog dimulai. Selama sekitar 20 menit, tokoh Alimin menghidupkan pergulatan seorang narapidana yang menunggu eksekusi mati melalui dialog-dialog imajiner tentang keadilan, moral, dan kemanusiaan. Penguasaan panggung terasa mantap. Bangku sederhana berubah menjadi bagian penting dari dramatika. Gerak, intonasi, dan ekspresi terjaga hingga akhir pertunjukan. Tepuk tangan panjang yang menutup penampilan itu menjadi penghargaan atas proses latihan yang mereka bangun di pesantren.

Pola yang sama muncul pada sesi bersama Azhari, putra muda pembuat rapa’i dari Aceh Utara. Melalui jejaring SPS Reviva, panitia mengetahui ia sedang berada di Banda Aceh membantu perawatan sejumlah rapa’i. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk mengundangnya berbincang bersama peserta.

Dipandu Taufik Maroe, percakapan berkembang dari teknik pembuatan rapa’i menuju persoalan yang lebih besar: nilai rapa’i sebagai identitas budaya Aceh, proses belajar dari para senior, hingga tantangan regenerasi para perajin. Diskusi itu mengingatkan bahwa tradisi tidak hanya bertahan karena dimainkan, tetapi juga karena terus dibuat, dirawat, dan diwariskan.

Menjelang penutupan, Galuh pada saksofon, Yanis pada cajón, Coach Sandi Islamanda pada vokal, dan saya pada gitar mengeksplorasi Bungong Jeumpa tanpa latihan maupun aransemen. Tidak ada yang berusaha menjadi pusat perhatian. Masing-masing mendengar, merespons, lalu memberi ruang kepada yang lain. Di situlah tema “Meutaloe-Menautkan Karya, Merawat Perjumpaan” benar-benar bekerja.

SPS Revival Vol. 11 menunjukkan bahwa membangun ekosistem kreatif tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Yang lebih mendasar adalah menghadirkan ruang yang memungkinkan pengetahuan berpindah, jejaring tumbuh, dan generasi muda belajar langsung dari para pelaku. Praktik seperti ini melengkapi pendidikan formal yang memiliki keterbatasan ruang, waktu, dan kurikulum.

Karena itu, ruang-ruang semacam ini layak dipandang sebagai investasi sosial dan kebudayaan. Gagasan Dana Abadi Ekosistem Kreatif Aceh bukan sekadar soal membiayai kegiatan, melainkan memastikan proses belajar, regenerasi, dokumentasi, dan kolaborasi terus berlangsung. Infrastruktur fisik dapat dibangun dalam waktu singkat. Infrastruktur sosial membutuhkan ketekunan yang jauh lebih panjang.

Mungkin minggu depan belum ada spanduk. Panggungnya pun masih sederhana. Namun selama semakin banyak anak muda menemukan ruang untuk belajar, pengetahuan terus berpindah antargenerasi, dan kolaborasi terus lahir, Banda Aceh sedang membangun sesuatu yang lebih penting daripada sebuah acara. Kota ini sedang membangun fondasi ekosistem kreatifnya sendiri. | Ari J. Palawi

Tags: Banda AcehBelajarKebudayaanPerguruan TinggiSeniSenimanSPS Revival
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Seungue Lam Kayee, Film Sineas Aceh tentang Ingatan dan Kehilangan Pascabanjir
SENI

Seungue Lam Kayee, Film Sineas Aceh tentang Ingatan dan Kehilangan Pascabanjir

by SAGOE TV
November 5, 2026
Kita Bangga pada Budaya Aceh–Seberapa Banyak Kita Memahaminya
SENI

Kita Bangga pada Budaya Aceh–Seberapa Banyak Kita Memahaminya?

by SAGOE TV
October 28, 2026
Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances
SENI

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

by SAGOE TV
October 11, 2026
Pameran Seni Internasional di USK Hadirkan Karya Seniman dari Belasan Negara
SENI

Pameran Seni Internasional di USK Hadirkan Karya Seniman dari Belasan Negara

by SAGOE TV
October 10, 2026
Kenduri Sastra Aceh 2026 Hidupkan Kembali Karya Maestro hingga Ali Hasjmy untuk Generasi Muda
SENI

Kenduri Sastra Aceh 2026 Hidupkan Kembali Karya Maestro hingga Ali Hasjmy untuk Generasi Muda

by SAGOE TV
September 28, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Komite MIN 13 Aceh Besar Diminta Hadirkan Generasi Sehat

Komite MIN 13 Aceh Besar Diminta Hadirkan Generasi Sehat

November 4, 2026
Bandar Publishing-IKAPI Aceh Gelar Diskusi Buku Dr Baun, Sekaligus Lepas Tugas ke Kepri

Bandar Publishing-IKAPI Aceh Gelar Diskusi Buku Dr Baun, Sekaligus Lepas Tugas ke Kepri

November 3, 2026
Tgk Faisal Ali Anggota Majelis Masyayikh

Tgk Faisal Ali Dikukuhkan Jadi Anggota Majelis Masyayikh

November 3, 2026
Kendaraan Listrik Makin Diminati

Kendaraan Listrik Makin Diminati

October 31, 2026
Melihat Indigenous Knowledge Menjelajah Jejak Keuneunong Aceh dan Kalender Aborigin Australia

Melihat Indigenous Knowledge: Menjelajah Jejak Keuneunong Aceh dan Kalender Aborigin Australia

November 4, 2026
Sebelum Punya Gedung, Fakultas Ini Sudah Punya Grup Percakapan

Sebelum Punya Gedung, Fakultas Ini Sudah Punya Grup Percakapan

November 2, 2026
Mualem Temui Prabowo, Dana Otsus hingga Persoalan Bendera Aceh Dibahas

Mualem Temui Prabowo, Dana Otsus hingga Persoalan Bendera Aceh Dibahas

November 4, 2026
Pihak Swasta Ditantang Membangun SPKLU

Pihak Swasta Ditantang Membangun SPKLU

November 2, 2026
Seungue Lam Kayee, Film Sineas Aceh tentang Ingatan dan Kehilangan Pascabanjir

Seungue Lam Kayee, Film Sineas Aceh tentang Ingatan dan Kehilangan Pascabanjir

November 5, 2026

EDITOR'S PICK

Indonesia Punya Peluang Jadi Tuan Rumah Olimpiade 2036

Indonesia Punya Peluang Jadi Tuan Rumah Olimpiade 2036

October 3, 2024
Muharram Journalism College (MJC) Wisuda Angkatan ke-18, Cetak Jurnalis Muda Beretika di Era Digital

MJC Wisuda Angkatan ke-18, Cetak Jurnalis Muda Beretika di Era Digital

November 9, 2025
10 Tahun Aceh Culinary Festival, Kini Bangkit Lewat Gerakan Kolektif

10 Tahun Aceh Culinary Festival, Kini Bangkit Lewat Gerakan Kolektif

September 11, 2026
SPS Revival Volume 17 “Bijèh”: Membuka Ruang Bertemu, Bermain, dan Menciptakan Bersama

SPS Revival Volume 17 “Bijèh”: Membuka Ruang Bertemu, Bermain, dan Menciptakan Bersama

September 2, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.