• Tentang Kami
Wednesday, September 9, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Hari Literasi, AI, dan Cara Berpikir

SAGOE TV by SAGOE TV
September 9, 2026
in Opini
Reading Time: 5 mins read
A A
0
Hari Literasi, AI, dan Cara Berpikir

Ilustrasi Hari Literasi, AI, dan Cara Berpikir.

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Fajri, S.Pd.I, M.Ag, Gr
Guru dan Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry

Setiap 8 September dunia memperingati Hari Literasi Internasional. Tahun ini peringatannya terasa berbeda. UNESCO menandai enam dekade Hari Literasi Internasional dengan tema “Literacy for people, the planet and prosperity”. Enam puluh tahun setelah literasi ditempatkan sebagai agenda penting dunia, kita memasuki zaman ketika membaca dan menulis tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan kemampuan manusia, tetapi juga dengan mesin yang semakin pandai membaca, meringkas, menjelaskan, bahkan menghasilkan tulisan.

Di kelas, saya pernah meminta siswa membaca beberapa halaman buku, kemudian menuliskan kembali isinya dengan kalimat mereka sendiri. Tugas itu tampak sederhana. Namun ketika buku ditutup, sebagian siswa justru kesulitan menjawab pertanyaan paling mendasar: apa sebenarnya yang ingin disampaikan penulis?

BACA JUGA

Lulusan Seni 2026-2030: Menghubungkan Pendidikan, Profesi, dan Kebudayaan Aceh

Desil di Atas Kertas, Akses Pendidikan dan Kesehatan menjadi Taruhan

Ada yang menyalin kalimat dari buku. Ada yang memilih bagian paling panjang sebagai gagasan utama. Ada pula yang selesai membaca, tetapi kesulitan menceritakan kembali apa yang baru saja dibacanya.

Pengalaman sederhana itu membuat saya berpikir bahwa persoalan literasi mungkin tidak sesederhana membuat siswa mau membaca. Ada jarak antara membaca kata-kata dan memahami maknanya.

Data PISA 2022 memberi gambaran yang lebih luas. Hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam kemampuan membaca. Rata-rata OECD mencapai 74 persen. Pada tingkat minimum itu, siswa setidaknya diharapkan mampu menemukan gagasan utama dalam teks dengan panjang sedang, menemukan informasi berdasarkan kriteria tertentu, serta merefleksikan tujuan dan bentuk teks ketika diarahkan.

Angka tersebut seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Sebab persoalannya bukan semata-mata apakah siswa membaca buku atau tidak. Persoalannya adalah apakah setelah membaca, sesuatu benar-benar terjadi dalam pikirannya.

Membaca seharusnya mengubah cara seseorang melihat sesuatu. Ia membuat seseorang menemukan hubungan antara satu gagasan dengan gagasan lain, mempertanyakan informasi, menemukan kesimpulan, bahkan mengubah pandangan terhadap dirinya sendiri.

Karena itu, kemampuan membaca tidak berhenti pada kemampuan mengenali kata dan kalimat. Hal itu pula yang tercermin dalam TKA Bahasa Indonesia SMP. Kemampuan membaca yang diukur mencakup mengidentifikasi informasi tersurat, menyusun kembali dan membuat ikhtisar, menyimpulkan informasi tersirat, menilai gagasan, fakta atau opini, hingga merefleksikan isi teks.

Dengan kata lain, membaca sebenarnya adalah pekerjaan pikiran. Dan tepat ketika pekerjaan dasar itu belum selesai kita bangun, datang sebuah teknologi yang mampu melakukan sebagian pekerjaan tersebut dalam hitungan detik.

Ketika Mesin Datang Terlalu Cepat

Hari ini sebuah teks panjang dapat diringkas dalam beberapa detik. Konsep yang sulit dapat dijelaskan dengan bahasa sederhana. Gagasan utama dapat diminta muncul dalam beberapa poin. Bahkan sebuah tulisan dapat dibuat seolah-olah telah melewati proses berpikir manusia.

AI memang menawarkan kemudahan yang sulit ditolak. Persoalannya bukan apakah AI baik atau buruk bagi pendidikan. AI dapat menjadi alat belajar yang sangat berguna. Persoalan muncul ketika kemudahan memperoleh jawaban disalahartikan menjadi keberhasilan memahami.

Seorang siswa dapat memasukkan sebuah artikel ke dalam AI, memperoleh rangkuman yang rapi, membacanya, lalu merasa telah memahami isi bacaan. Padahal ia mungkin belum mampu menjelaskan mengapa gagasan tertentu penting. Ia mungkin belum mampu menunjukkan hubungan antara satu gagasan dengan gagasan lain. Ia bahkan mungkin tidak tahu apakah rangkuman yang diberikan mesin benar-benar sesuai dengan teks aslinya.

Di sinilah kita berhadapan dengan persoalan yang lebih halus daripada sekadar menurunnya minat membaca. AI dapat menciptakan ilusi bahwa seseorang telah mengetahui sesuatu hanya karena ia telah memperoleh penjelasannya.

Ilusi Mengetahui

Pengetahuan yang sesungguhnya tidak selalu datang bersama jawaban. Seseorang bisa mengetahui apa jawaban sebuah pertanyaan tanpa memahami mengapa jawaban itu benar. Ia bisa menghafal kesimpulan tanpa memahami bagaimana kesimpulan tersebut dibentuk. Ia bisa membaca rangkuman tanpa pernah benar-benar berhadapan dengan gagasan yang dirangkum.

Dalam pendidikan, perbedaan itu sangat penting. Sebab sekolah bukan hanya tempat siswa memperoleh jawaban. Sekolah adalah tempat siswa berproses belajar bagaimana sampai kepada jawaban.

Ketika siswa meminta AI menemukan gagasan utama sebuah bacaan, pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh pikirannya berpindah kepada mesin. Ketika AI diminta menyusun argumen, siswa kehilangan kesempatan untuk belajar bagaimana sebuah argumen dibangun. Ketika sebuah buku langsung diringkas menjadi lima poin, proses membaca yang seharusnya mempertemukan siswa dengan kerumitan gagasan menjadi semakin pendek.

Tugas memang selesai. Tetapi apakah belajar benar-benar terjadi? Apakah kemampuan kognisinya ikut tumbuh bersama jawaban yang dihasilkan? Pertanyaan inilah yang menurut saya lebih penting daripada sekadar bertanya apakah siswa boleh menggunakan AI.

Guru di Tengah Banjir Jawaban

Perubahan ini juga mengubah pekerjaan guru. Dulu guru banyak menghadapi siswa yang kesulitan menemukan informasi. Sekarang informasi tersedia hampir tanpa batas. Mesin pencari menyediakan jawaban. Media sosial menyediakan video penjelasan. Berbagai platform menyediakan materi belajar. AI bahkan dapat menyusun jawaban sesuai kebutuhan pengguna.

Guru tidak lagi menjadi satu-satunya pintu menuju pengetahuan. Dan memang tidak seharusnya demikian. Yang semakin penting adalah kemampuan guru membantu siswa menghadapi pengetahuan yang datang terlalu cepat dan terlalu banyak.

Pertanyaan guru tidak cukup berhenti pada, “Sudah menemukan jawabannya?” Pertanyaan selanjutnya yang lebih penting adalah, “Bagaimana kamu tahu jawaban itu benar?”

Tugas pun tidak cukup berhenti pada, “Sudah selesai?” Guru perlu bertanya, “Apa yang berubah dalam pemahamanmu setelah membaca dan mengerjakan tugas itu?” Di situlah pendidikan mempertahankan fungsi dan ruangnya.

Membuat AI Bekerja untuk Pikiran

Karena itu, sekolah tidak perlu melarang penggunaan AI. Larangan mungkin diperlukan dalam situasi tertentu, tetapi siswa tetap akan hidup bersama teknologi tersebut setelah meninggalkan ruang kelas.

Yang lebih penting adalah mengajarkan cara menggunakan AI tanpa menyerahkan proses berpikir sepenuhnya kepada AI. Misalnya, ketika siswa membaca sebuah artikel, mereka terlebih dahulu diminta menemukan sendiri gagasan utama dan menjelaskan alasan pilihannya. Setelah itu mereka boleh meminta AI membuat rangkuman. Namun rangkuman tersebut tidak langsung dianggap benar.

Siswa membandingkannya dengan hasil bacaan sendiri. Mereka mencari bagian yang sama, menemukan informasi yang hilang, memeriksa kemungkinan kesalahan, lalu menjelaskan mengapa mereka menerima atau menolak hasil AI.

Dengan cara demikian, AI tidak menjadi mesin pengerjaan tugas. AI menjadi sesuatu yang harus diperiksa. Dalam pelajaran sejarah, siswa dapat membandingkan penjelasan AI dengan buku dan sumber sejarah. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, siswa dapat menguji apakah rangkuman AI benar-benar mewakili gagasan utama sebuah teks. Dalam ilmu pengetahuan, siswa dapat memeriksa penjelasan AI dengan sumber yang dapat dipercaya.

Yang dinilai bukan hanya jawaban akhir. Yang dinilai adalah alasan, sumber, proses, dan kemampuan siswa mempertanggungjawabkan kesimpulannya.

Cara penilaian juga perlu berubah. Tugas yang hanya meminta siswa membuat rangkuman semakin mudah dikerjakan mesin. Sebaliknya, tugas yang meminta siswa menunjukkan alasan memilih gagasan utama, menunjukkan bagian teks yang menjadi dasar kesimpulan, membandingkan beberapa sumber, dan menjelaskan perubahan pemahamannya akan membuat proses berpikir kembali terlihat.

Di tengah kecanggihan AI, proses berpikir manusia justru harus semakin hadir di ruang kelas.

Membaca Sebelum Memercayai

Barangkali inilah ironi pendidikan kita hari ini. Ketika kita masih berjuang agar siswa mampu memahami bacaan dengan baik, teknologi telah bergerak menuju kemampuan yang semakin canggih untuk memahami dan menjelaskan bacaan itu kepada mereka. Namun justru karena itulah literasi menjadi semakin penting. Semakin mudah sebuah jawaban diperoleh, semakin penting kemampuan untuk memeriksanya.

Semakin meyakinkan sebuah penjelasan terdengar, semakin penting kemampuan untuk meragukannya. Semakin banyak informasi tersedia, semakin penting kemampuan untuk memilih mana yang layak dipercaya.

Hari Literasi tidak semestinya hanya menjadi momentum untuk mengingatkan siswa agar lebih banyak membaca buku. Di zaman AI, makna literasi menjadi jauh lebih luas. Kita perlu mengajarkan siswa bukan hanya bagaimana membaca teks, tetapi bagaimana membaca informasi, membaca konteks, membaca kepentingan, dan membaca kemungkinan kesalahan di balik sebuah jawaban. Sebab seseorang yang bisa membaca belum tentu memahami. Dan seseorang yang mampu mendapatkan jawaban belum tentu mengetahui.

Menjaga Manusia Tetap Berpikir

AI akan terus berkembang. Kemampuannya merangkum akan semakin baik, penjelasannya semakin meyakinkan, dan jawabannya semakin mudah dipercaya. Dan mustahil sekolah dapat menghentikan perkembangan itu. Yang masih dapat dilakukan sekolah adalah memastikan bahwa kecanggihan teknologi tidak bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia yang menggunakannya.

Karena itu, tantangan pendidikan di era AI bukan lagi sekadar bagaimana membuat siswa memperoleh pengetahuan. Karena pengetahuan sudah semakin mudah diperoleh. Tantangannya adalah membuat siswa mampu membedakan informasi dan pengetahuan, jawaban dan pemahaman, kemudahan dan kebenaran.

Mungkin inilah makna literasi yang perlu kita renungkan kembali pada Hari Literasi tahun ini. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca apa yang tertulis. Literasi adalah kemampuan untuk memahami apa yang dibaca, mempertanyakan apa yang dipercaya, dan menyadari konsekuensi dari apa yang kita yakini.

Di tengah mesin yang semakin pandai memberikan jawaban, mungkin tugas paling mendesak sekolah justru sederhana: mengajarkan manusia untuk tidak berhenti berpikir.

Tags: AIBerpikirCaraHariLiterasiManusiapendidikan
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Lulusan Seni 2026-2030 Menghubungkan Pendidikan, Profesi, dan Kebudayaan Aceh
Opini

Lulusan Seni 2026-2030: Menghubungkan Pendidikan, Profesi, dan Kebudayaan Aceh

by SAGOE TV
September 7, 2026
Risnawati Ridwan
Opini

Desil di Atas Kertas, Akses Pendidikan dan Kesehatan menjadi Taruhan

by SAGOE TV
September 6, 2026
Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026
Opini

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026

by SAGOE TV
September 2, 2026
Setelah Dislokasi Epistemik Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK
Opini

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

by SAGOE TV
August 31, 2026
Dek Din Syamsuddin
Opini

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

by SAGOE TV
August 23, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Pengurus ICMI Orda Aceh Besar Periode 2026-2031 Resmi Dilantik

Pengurus ICMI Orda Aceh Besar Periode 2026-2031 Resmi Dilantik

September 7, 2026
UTU Gandeng USK Percepat Pembukaan Fakultas Kedokteran

UTU Gandeng USK Percepat Pembukaan Fakultas Kedokteran

September 4, 2026
FISIP USK Perkuat Jejaring dengan Alumni Chapter Jakarta

FISIP USK Perkuat Jejaring dengan Alumni Chapter Jakarta

September 7, 2026
Bank Aceh Syariah Rombak Direksi, Syahrul Diberhentikan dari Jabatan Direktur Operasional

Bank Aceh Syariah Rombak Direksi, Syahrul Diberhentikan dari Jabatan Direktur Operasional

September 3, 2026
Risnawati Ridwan

Desil di Atas Kertas, Akses Pendidikan dan Kesehatan menjadi Taruhan

September 6, 2026
Refleksi Vol. 18 Kru Semangat dan Perjalanan Para Artis Muda

Refleksi Vol. 18 Kru Semangat dan Perjalanan Para Artis Muda

September 7, 2026
Begini Persiapan UIN Ar-Raniry Sebelum Kuliah Perdana Pendidikan Kedokteran Dimulai

Begini Persiapan UIN Ar-Raniry Sebelum Kuliah Perdana Pendidikan Kedokteran Dimulai

September 3, 2026
Refleksi SPS Vol. 17 Bijèh & Pertunjukan Musik Para Tamu

Refleksi SPS Vol. 17 Bijèh & Pertunjukan Musik Para Tamu

September 4, 2026
Aceh Culinary Festival 2026 Digelar 11-14 September, Hadir Lebih dari 500 Variasi Rasa

Aceh Culinary Festival 2026 Digelar 11-14 September, Hadir Lebih dari 500 Variasi Rasa

September 7, 2026

EDITOR'S PICK

Mahasiswi Sendratasik USK Aceh Terpilih Ikuti Program Belajar Bersama Maestro di Yogyakarta

Mahasiswi Sendratasik USK Terpilih Ikuti Program Belajar Bersama Maestro di Yogyakarta

August 1, 2025
psab aceh besar lolos semifinal liga 4 aceh

PSAB Aceh Besar Lolos ke Semifinal Liga 4 Aceh Usai Tahan Imbang Peureulak Raya

March 15, 2025
Mudik 275 km dari Banda Aceh ke Lhokseumawe bukan sekadar perjalanan jarak, tapi perjalanan batin untuk kembali ke akar, nilai, dan romantisme kampung halaman.

Mudik 275 Km; Pulang untuk Menemukan

March 25, 2026
Persiraja vs Penang FC Malaysia Bakal Dipimpin Wasit Berlisensi FIFA

Babak 8 Besar Liga 2: Tiket Persiraja vs PSPS Dijual Online Mulai Malam Ini

January 13, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.