Oleh : Fajri, S.Pd.I, M.Ag, Gr
Guru dan Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry
Setiap 8 September dunia memperingati Hari Literasi Internasional. Tahun ini peringatannya terasa berbeda. UNESCO menandai enam dekade Hari Literasi Internasional dengan tema “Literacy for people, the planet and prosperity”. Enam puluh tahun setelah literasi ditempatkan sebagai agenda penting dunia, kita memasuki zaman ketika membaca dan menulis tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan kemampuan manusia, tetapi juga dengan mesin yang semakin pandai membaca, meringkas, menjelaskan, bahkan menghasilkan tulisan.
Di kelas, saya pernah meminta siswa membaca beberapa halaman buku, kemudian menuliskan kembali isinya dengan kalimat mereka sendiri. Tugas itu tampak sederhana. Namun ketika buku ditutup, sebagian siswa justru kesulitan menjawab pertanyaan paling mendasar: apa sebenarnya yang ingin disampaikan penulis?
Ada yang menyalin kalimat dari buku. Ada yang memilih bagian paling panjang sebagai gagasan utama. Ada pula yang selesai membaca, tetapi kesulitan menceritakan kembali apa yang baru saja dibacanya.
Pengalaman sederhana itu membuat saya berpikir bahwa persoalan literasi mungkin tidak sesederhana membuat siswa mau membaca. Ada jarak antara membaca kata-kata dan memahami maknanya.
Data PISA 2022 memberi gambaran yang lebih luas. Hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam kemampuan membaca. Rata-rata OECD mencapai 74 persen. Pada tingkat minimum itu, siswa setidaknya diharapkan mampu menemukan gagasan utama dalam teks dengan panjang sedang, menemukan informasi berdasarkan kriteria tertentu, serta merefleksikan tujuan dan bentuk teks ketika diarahkan.
Angka tersebut seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Sebab persoalannya bukan semata-mata apakah siswa membaca buku atau tidak. Persoalannya adalah apakah setelah membaca, sesuatu benar-benar terjadi dalam pikirannya.
Membaca seharusnya mengubah cara seseorang melihat sesuatu. Ia membuat seseorang menemukan hubungan antara satu gagasan dengan gagasan lain, mempertanyakan informasi, menemukan kesimpulan, bahkan mengubah pandangan terhadap dirinya sendiri.
Karena itu, kemampuan membaca tidak berhenti pada kemampuan mengenali kata dan kalimat. Hal itu pula yang tercermin dalam TKA Bahasa Indonesia SMP. Kemampuan membaca yang diukur mencakup mengidentifikasi informasi tersurat, menyusun kembali dan membuat ikhtisar, menyimpulkan informasi tersirat, menilai gagasan, fakta atau opini, hingga merefleksikan isi teks.
Dengan kata lain, membaca sebenarnya adalah pekerjaan pikiran. Dan tepat ketika pekerjaan dasar itu belum selesai kita bangun, datang sebuah teknologi yang mampu melakukan sebagian pekerjaan tersebut dalam hitungan detik.
Ketika Mesin Datang Terlalu Cepat
Hari ini sebuah teks panjang dapat diringkas dalam beberapa detik. Konsep yang sulit dapat dijelaskan dengan bahasa sederhana. Gagasan utama dapat diminta muncul dalam beberapa poin. Bahkan sebuah tulisan dapat dibuat seolah-olah telah melewati proses berpikir manusia.
AI memang menawarkan kemudahan yang sulit ditolak. Persoalannya bukan apakah AI baik atau buruk bagi pendidikan. AI dapat menjadi alat belajar yang sangat berguna. Persoalan muncul ketika kemudahan memperoleh jawaban disalahartikan menjadi keberhasilan memahami.
Seorang siswa dapat memasukkan sebuah artikel ke dalam AI, memperoleh rangkuman yang rapi, membacanya, lalu merasa telah memahami isi bacaan. Padahal ia mungkin belum mampu menjelaskan mengapa gagasan tertentu penting. Ia mungkin belum mampu menunjukkan hubungan antara satu gagasan dengan gagasan lain. Ia bahkan mungkin tidak tahu apakah rangkuman yang diberikan mesin benar-benar sesuai dengan teks aslinya.
Di sinilah kita berhadapan dengan persoalan yang lebih halus daripada sekadar menurunnya minat membaca. AI dapat menciptakan ilusi bahwa seseorang telah mengetahui sesuatu hanya karena ia telah memperoleh penjelasannya.
Ilusi Mengetahui
Pengetahuan yang sesungguhnya tidak selalu datang bersama jawaban. Seseorang bisa mengetahui apa jawaban sebuah pertanyaan tanpa memahami mengapa jawaban itu benar. Ia bisa menghafal kesimpulan tanpa memahami bagaimana kesimpulan tersebut dibentuk. Ia bisa membaca rangkuman tanpa pernah benar-benar berhadapan dengan gagasan yang dirangkum.
Dalam pendidikan, perbedaan itu sangat penting. Sebab sekolah bukan hanya tempat siswa memperoleh jawaban. Sekolah adalah tempat siswa berproses belajar bagaimana sampai kepada jawaban.
Ketika siswa meminta AI menemukan gagasan utama sebuah bacaan, pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh pikirannya berpindah kepada mesin. Ketika AI diminta menyusun argumen, siswa kehilangan kesempatan untuk belajar bagaimana sebuah argumen dibangun. Ketika sebuah buku langsung diringkas menjadi lima poin, proses membaca yang seharusnya mempertemukan siswa dengan kerumitan gagasan menjadi semakin pendek.
Tugas memang selesai. Tetapi apakah belajar benar-benar terjadi? Apakah kemampuan kognisinya ikut tumbuh bersama jawaban yang dihasilkan? Pertanyaan inilah yang menurut saya lebih penting daripada sekadar bertanya apakah siswa boleh menggunakan AI.
Guru di Tengah Banjir Jawaban
Perubahan ini juga mengubah pekerjaan guru. Dulu guru banyak menghadapi siswa yang kesulitan menemukan informasi. Sekarang informasi tersedia hampir tanpa batas. Mesin pencari menyediakan jawaban. Media sosial menyediakan video penjelasan. Berbagai platform menyediakan materi belajar. AI bahkan dapat menyusun jawaban sesuai kebutuhan pengguna.
Guru tidak lagi menjadi satu-satunya pintu menuju pengetahuan. Dan memang tidak seharusnya demikian. Yang semakin penting adalah kemampuan guru membantu siswa menghadapi pengetahuan yang datang terlalu cepat dan terlalu banyak.
Pertanyaan guru tidak cukup berhenti pada, “Sudah menemukan jawabannya?” Pertanyaan selanjutnya yang lebih penting adalah, “Bagaimana kamu tahu jawaban itu benar?”
Tugas pun tidak cukup berhenti pada, “Sudah selesai?” Guru perlu bertanya, “Apa yang berubah dalam pemahamanmu setelah membaca dan mengerjakan tugas itu?” Di situlah pendidikan mempertahankan fungsi dan ruangnya.
Membuat AI Bekerja untuk Pikiran
Karena itu, sekolah tidak perlu melarang penggunaan AI. Larangan mungkin diperlukan dalam situasi tertentu, tetapi siswa tetap akan hidup bersama teknologi tersebut setelah meninggalkan ruang kelas.
Yang lebih penting adalah mengajarkan cara menggunakan AI tanpa menyerahkan proses berpikir sepenuhnya kepada AI. Misalnya, ketika siswa membaca sebuah artikel, mereka terlebih dahulu diminta menemukan sendiri gagasan utama dan menjelaskan alasan pilihannya. Setelah itu mereka boleh meminta AI membuat rangkuman. Namun rangkuman tersebut tidak langsung dianggap benar.
Siswa membandingkannya dengan hasil bacaan sendiri. Mereka mencari bagian yang sama, menemukan informasi yang hilang, memeriksa kemungkinan kesalahan, lalu menjelaskan mengapa mereka menerima atau menolak hasil AI.
Dengan cara demikian, AI tidak menjadi mesin pengerjaan tugas. AI menjadi sesuatu yang harus diperiksa. Dalam pelajaran sejarah, siswa dapat membandingkan penjelasan AI dengan buku dan sumber sejarah. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, siswa dapat menguji apakah rangkuman AI benar-benar mewakili gagasan utama sebuah teks. Dalam ilmu pengetahuan, siswa dapat memeriksa penjelasan AI dengan sumber yang dapat dipercaya.
Yang dinilai bukan hanya jawaban akhir. Yang dinilai adalah alasan, sumber, proses, dan kemampuan siswa mempertanggungjawabkan kesimpulannya.
Cara penilaian juga perlu berubah. Tugas yang hanya meminta siswa membuat rangkuman semakin mudah dikerjakan mesin. Sebaliknya, tugas yang meminta siswa menunjukkan alasan memilih gagasan utama, menunjukkan bagian teks yang menjadi dasar kesimpulan, membandingkan beberapa sumber, dan menjelaskan perubahan pemahamannya akan membuat proses berpikir kembali terlihat.
Di tengah kecanggihan AI, proses berpikir manusia justru harus semakin hadir di ruang kelas.
Membaca Sebelum Memercayai
Barangkali inilah ironi pendidikan kita hari ini. Ketika kita masih berjuang agar siswa mampu memahami bacaan dengan baik, teknologi telah bergerak menuju kemampuan yang semakin canggih untuk memahami dan menjelaskan bacaan itu kepada mereka. Namun justru karena itulah literasi menjadi semakin penting. Semakin mudah sebuah jawaban diperoleh, semakin penting kemampuan untuk memeriksanya.
Semakin meyakinkan sebuah penjelasan terdengar, semakin penting kemampuan untuk meragukannya. Semakin banyak informasi tersedia, semakin penting kemampuan untuk memilih mana yang layak dipercaya.
Hari Literasi tidak semestinya hanya menjadi momentum untuk mengingatkan siswa agar lebih banyak membaca buku. Di zaman AI, makna literasi menjadi jauh lebih luas. Kita perlu mengajarkan siswa bukan hanya bagaimana membaca teks, tetapi bagaimana membaca informasi, membaca konteks, membaca kepentingan, dan membaca kemungkinan kesalahan di balik sebuah jawaban. Sebab seseorang yang bisa membaca belum tentu memahami. Dan seseorang yang mampu mendapatkan jawaban belum tentu mengetahui.
Menjaga Manusia Tetap Berpikir
AI akan terus berkembang. Kemampuannya merangkum akan semakin baik, penjelasannya semakin meyakinkan, dan jawabannya semakin mudah dipercaya. Dan mustahil sekolah dapat menghentikan perkembangan itu. Yang masih dapat dilakukan sekolah adalah memastikan bahwa kecanggihan teknologi tidak bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia yang menggunakannya.
Karena itu, tantangan pendidikan di era AI bukan lagi sekadar bagaimana membuat siswa memperoleh pengetahuan. Karena pengetahuan sudah semakin mudah diperoleh. Tantangannya adalah membuat siswa mampu membedakan informasi dan pengetahuan, jawaban dan pemahaman, kemudahan dan kebenaran.
Mungkin inilah makna literasi yang perlu kita renungkan kembali pada Hari Literasi tahun ini. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca apa yang tertulis. Literasi adalah kemampuan untuk memahami apa yang dibaca, mempertanyakan apa yang dipercaya, dan menyadari konsekuensi dari apa yang kita yakini.
Di tengah mesin yang semakin pandai memberikan jawaban, mungkin tugas paling mendesak sekolah justru sederhana: mengajarkan manusia untuk tidak berhenti berpikir.



















