Oleh: Ari J. Palawi
Aneuk Mukim Kayee Adang, Banda Aceh; Akademisi Seni USK
Saya tumbuh bersama koran.
Setiap pagi, sebelum koran yang saya bawa berpindah kepada pembaca, saya membacanya terlebih dahulu. Berita politik, kebudayaan, pendidikan, olahraga, hingga iklan kecil di sudut halaman menjadi jalan pertama saya mengenal dunia yang jauh lebih luas dari lingkungan tempat saya tumbuh.
Saat itu saya belum memahami teori masyarakat, kebudayaan, atau perubahan sosial. Saya hanya seorang anak Banda Aceh yang ingin mengetahui kehidupan melalui lembaran-lembaran berita yang saya jual.
Dari koran itu saya belajar satu hal sederhana: manusia tidak selalu harus menyerah kepada keadaan yang diwariskan kepadanya. Rasa ingin tahu, ketekunan, dan keberanian mencari jalan lain sering membuka kemungkinan yang sebelumnya tidak terlihat.
Saya lahir dari keluarga pendidik. Bapak dan ibu saya menjalani hidup sebagai guru yang percaya bahwa ilmu bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk pengabdian. Mereka menjaga bahasa, tradisi, kebudayaan, dan nilai-nilai yang diyakini penting bagi generasi setelah mereka.
Ketika bapak meninggal saat saya berusia sepuluh tahun, kehidupan berubah. Saya mengenal kerasnya bertahan hidup sejak kecil. Saya pernah menjadi tukang bangunan, loper koran, mengumpulkan barang bekas, dan menjalani berbagai pekerjaan kecil yang tersedia.
Pengalaman itu tidak menjauhkan saya dari pendidikan. Justru dari sanalah tumbuh keyakinan bahwa ilmu bukan sekadar jalan menuju pekerjaan, tetapi jalan untuk menjaga martabat manusia.
Perjalanan kemudian membawa saya memasuki dunia seni dan kebudayaan. Saya bertemu banyak manusia, membaca banyak kehidupan, dan melihat berbagai masyarakat memahami kemajuan dengan caranya masing-masing.
Dari perjalanan itu saya memahami bahwa kemajuan tidak pernah cukup diukur melalui gedung, gelar, jabatan, atau kemeriahan sebuah perayaan.
Ukuran terdalam tetap manusia yang tumbuh dari seluruh proses tersebut.
Masyarakat yang menghargai ilmu akan menjaga proses panjang pembentukan pengetahuan. Masyarakat yang menghormati kerja keras akan memberi ruang bagi kemampuan untuk berkembang. Nilai besar hanya memiliki arti ketika hadir dalam perilaku sehari-hari.
Kegelisahan saya hari ini muncul ketika jarak antara keduanya semakin terasa.
Aceh memiliki warisan nilai yang besar. Sejarah keilmuan, tradisi ulama, kebudayaan, perjuangan, serta identitas keislaman telah menjadi bagian penting dari perjalanan masyarakatnya. Kata marwah bukan sekadar istilah. Di dalamnya terdapat kehormatan, tanggung jawab, dan harga diri.
Akan tetapi, nilai tidak cukup hanya diwariskan melalui ucapan.
Aceh telah menjalani perjalanan panjang pembangunan dengan dukungan sumber daya yang besar. Berbagai program hadir dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Namun kehidupan sehari-hari masih menghadirkan kegelisahan yang sama.
Kemiskinan belum sepenuhnya selesai. Kesempatan kerja generasi muda masih menjadi persoalan. Pendidikan yang semakin luas belum selalu melahirkan manusia yang semakin kuat menghadapi perubahan.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat manusia yang sedang mencari arah, keluarga yang terus berjuang, dan generasi muda yang mencoba menemukan tempatnya.
Kegelisahan lain muncul dari perubahan ukuran keberhasilan.
Masyarakat dahulu memberi penghormatan besar kepada perjalanan panjang seseorang membangun ilmu, karya, dan pengabdian. Kini penghargaan sering bergerak cepat kepada sesuatu yang mudah terlihat: jabatan, gelar, popularitas, dan akses.
Gelar akademik tetap penting. Jabatan publik tetap merupakan amanah. Akan tetapi, masyarakat perlu menjaga satu ukuran yang sehat: apakah simbol masih berjalan bersama kualitas yang seharusnya menyertainya?
Pertanyaan serupa berlaku dalam kepemimpinan. Sebuah posisi akan kehilangan makna ketika kemampuan dan integritas harus berhadapan dengan kedekatan, jaringan, atau kepentingan tertentu.
Dampaknya dirasakan generasi muda. Mereka diminta bekerja keras, meningkatkan kompetensi, dan membangun kualitas diri. Pada saat yang sama, mereka menyaksikan bahwa jalan menuju keberhasilan tidak selalu bergerak melalui kemampuan.
Kegelisahan ini terasa pula dalam dunia pendidikan seni dan kebudayaan.
Banyak anak muda memiliki kreativitas, energi, dan keinginan berkarya. Yang sering kurang adalah ruang yang sehat untuk bertumbuh.
Karya membutuhkan waktu. Keahlian membutuhkan latihan. Pemikiran membutuhkan kesabaran.
Semua itu sulit tumbuh dalam budaya yang terlalu cepat mengagungkan hasil, tetapi lupa menghargai proses.
Hubungan manusia dengan alam memperlihatkan jarak yang serupa. Aceh memiliki hutan, laut, dan ruang hidup yang luar biasa. Kita berbicara tentang manusia sebagai penjaga bumi, tetapi kerusakan lingkungan menunjukkan bahwa hubungan tersebut masih jauh dari keseimbangan.
Saya tidak melihat Aceh sebagai masyarakat yang kehilangan nilai.
Nilai itu masih hidup.
Masih banyak guru yang mengajar dengan ketulusan. Masih banyak orang tua yang membesarkan anak dengan pengorbanan. Masih banyak ilmuwan, seniman, pekerja budaya, dan masyarakat biasa yang menjaga kehidupan melalui kerja yang sering tidak mendapatkan perhatian.
Yang mengusik adalah jarak yang semakin lebar antara keyakinan dan tindakan.
Kita berbicara tentang ilmu, tetapi sering lebih tertarik pada tanda-tanda ilmu.
Kita berbicara tentang kehormatan, tetapi kadang lebih mengejar pengakuan.
Kita berbicara tentang amanah, tetapi lupa bahwa setiap kekuasaan, pengetahuan, dan kekayaan selalu membawa tanggung jawab.
Aceh tidak membutuhkan lebih banyak slogan tentang kebaikan.
Aceh membutuhkan keberanian untuk memeriksa kembali ukuran-ukuran yang selama ini kita banggakan.
Saya menulis ini bukan sebagai seseorang yang telah menemukan seluruh jawaban. Perjalanan hidup justru mengajarkan bahwa semakin jauh manusia belajar, semakin besar kesadarannya tentang keterbatasan diri.
Yang perlu dijaga adalah ukuran kita tentang manusia.
Ketika kemampuan kalah oleh kedekatan.
Ketika kerja panjang kalah oleh pencitraan.
Ketika ilmu kalah oleh simbol.
Yang hilang bukan hanya kesempatan seseorang.
Melainkan, sebuah masyarakat yang sedang kehilangan arah.




















